<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190</id><updated>2012-02-11T21:56:25.152+07:00</updated><category term='a'/><category term='Happy New Year'/><title type='text'>Mimi Pemikir</title><subtitle type='html'>Ibu Penyayang dan Pembelajar yang Terus Menjadi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>91</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-9078280320554183226</id><published>2012-02-06T15:45:00.001+07:00</published><updated>2012-02-06T15:45:22.481+07:00</updated><title type='text'>Perkosaan</title><content type='html'>Beberapa kasus dilaporkan di lembaga kami terkait perkosaan. Perkosaan yang dilakukan oleh teman dekat merupakan kasus yang paling banyak masuk. Kadang serba salah menanganinya. Secara psikologis, kadang kasihan melihat korban yang dilaporkan masih muda dan belum siap jadi ibu. Sehingga kadang solusi instan yang &amp;nbsp;diinginkan keluarga &amp;nbsp; agar beres urusan ialah &amp;nbsp;dengan aborsi. Tapi sekali lagi apakah itu perlu? mengingat pelaku adalah orang dekat atau pacar korban yang artinya tak mungkin terjadi kehamilan bila relasi itu tidak terlalu dekat. Paling tidak pihak perempuan yang jadi korban memiliki andil dalam kehamilannya dengan membiarkan dirinya menjadi korban. Karena perkosaan dalam sebuah relasi tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada proses yang mendahuluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya teringat dengan perlakuan seorang ibu yang memukuli anakknya di depan umum ketika ia mengetahui anaknya hamil duluan. Sang ibu begitu marah sehingga melakukan kekerasan fisik dan psikis yang sampai hari ini sulit dilupakan sang anak. Saat sang anak dalam kondisi yang lemah karena hamil, sang pacar yang tidak mau tanggung jawab, seseorang yang begitu dekat juga melakukan perbuatan kekerasan kepadanya. Terus terang saat mendengar kejadian itu terjadi di lingkungan yang saya tempati saya betul-betul meyesalkan perbuatan sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak membenarkan perbuatan sang anak yang hamil duluan. Namun kondisi anak perempuan hamil yang sangat lemah merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dibandingkan kemarahan sang ibu. Selain melindungi fisiknya, sang ibu juga berkewajiban melindungi psikisnya agar tetap sehat dan kembali menjadi lebih baik lagi. Meski marah, kenapa tidak memberikan perlindungan dan kesempatan sang anak untuk memerbaiki dirinya.&amp;nbsp;Perbuatan baik sang ibu bukan berarti setuju atau membenarkan perlakuan sang anak. Melainkan dengan pertimbangan kemanusiaan, bahwa siapapun manusia yang ada dalam kondisi lemah wajib dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada persoalan perkosaan. Kemarin saya diminta untuk mengeluarkan pendapat terkait aborsi yang &amp;nbsp; &amp;nbsp; mungkin akan dilakukan oleh seorang gadis yang merasa diperkosa oleh pacarnya. Gadis tersebut sangat lemah secara psikologis. Saat ini dia begitu tertekan dan terlihat depresi. Karena saya termasuk kader ulama perempuan Jawa Barat, saya diminta keputusan terkait hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjelaskan bahwa kalau mazhab Syafii, dalam bentuk apapun dan &amp;nbsp;alasan apapun aborsi diharamkan. &amp;nbsp;Salah satu ulama yang membolehkan aborsi adalah Iman Hanafi bila sang janin belum 120 hari. Kebolehan ini juga terjadi dengan pertimbangan yang sangat hati-hati yaitu bila sang anak tidak diaborsi, maka hawatir nyawa ibu jadi terancam. Qaidah Ushul fiqih yang saya pahami adalah dharurat yang kecil dibolehkan untuk mencegah darurat yang lebih besar. Nyawa ibu lebih berharga dari nyawa janin yang belum jelas perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kalo pendapat Imam Hanafi ini diprkatekan disini bagaimana? Gadis tersebut ternyata memiliki pacar laki-laki yang sudah menikah. Artinya kemungkinan gadis tersebut dimanfaatkan dan diperkosa cukup besar. &amp;nbsp;Kondisi sang gadis yang lemah juga jadi pertimbangan. Namun betulkan lemah? penentuan lemah psikologis ini tentu bukan keluar dari orang awam. Namun harus keluar dari psikolog atau psikiater terkait dengan kesehatan jiwa korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hanya dugaan orang awam saja saya tidak berani memakai pendapat Imam Hanafi. Terlebih juga timbul satu pertanyaan kenapa pacaran sampai hamil segala? Bukankah pacaran itu sebuah relasi yang intens dan memerlukan waktu? artinya tidak tiba-tiba berhubungan seksual. Kenapa diam saja saat diajak bermesraan? Kenapa tidak menolak? Bisa jadi jawabannya adalah si perempuan tidak tau bahwa itu adalah perbuatan yang merugikan dirinya. Saat ini rasanya sulit untuk percaya ada gadis perempuan yang tidak tau tentang seksualitas. Atau bermesraan itu sesuatu yang bertentangan dengan budaya (jangan agama dulu deh). &amp;nbsp;Meski kemungkinan ada gadis perempuan yang benar-benar tidak tahu lalu dimanfaatkan bisa saja terjadi karena budaya kita memang menutup nutupi bahkan menganggap tabu tentang seksualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya saat ini memiliki dua anak perempuan usia 9 tahun dan 6 tahun. Perkosaan mengintai perempuan dari kalangan mana saja dan umur berapa saja. Sehingga mau tidak mau saya harus membekali mereka pengetahuan tentang tubuh mereka sendiri. Kadang saya masih memandikan kedua anak perempuan saya dan menjelaskan tentang fungsi tubuh mereka sendiri. Sambil menyabuni mereka sambil melantunkan do'a untuk setiap organ yang saya sentuh. Pada saat menyabuni daerah vitalnya, saya meminta mereka melakukan sendiri dan berkata bahwa "vagina kamu harus dijaga dengan sebaiknya. Jangan sampai ada orang lain yang menyentuhnya sebelum menikah bahkan orang tua atau saudara sekali pun. Kalian harus lapor pada mimi saat ada yang berani pegang-pegang kalian apalagi vagina". Anak saya bertanya memang kenapa mi? jawab saya &amp;nbsp;"karena ia sangat berharga darinyalah kalian kelak melahirkan anak, harus dibersihkan dengan seksama dan dirawat dengan baik dan hanya kalianlah yang boleh menyentuhnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya memberikan anak pertama saya sepucuk surat cinta. &amp;nbsp;Saya menceritakan bagaimana Allah sudah menciptakan ia dalam bentuk sebaik-baiknya. Fisiknya yang cantik harus diiringi dengan akhlaqnya yang cantik. Saya memberi tahu dia bahwa saat ini dia sudah mumayiz bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Sebentar lagi menjelang aqil baligh. Artinya ialah yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan Allah. Saat aqil baligh juga berarti berlembangnya fungsi reproduksinya dengan membesarnya payudara dan menstuasi. Saya menyelipkan harapan-harapan saya untuknya, untuk lebih rajin lagi belajar, sholat tepat waktu, lebih sayang terhadap adik dan hormat terhadap orang tua. Dia memeluk saya dengan erat dan berkata betapa dia sangat menyayangi saya.&amp;nbsp;Semoga saya bisa terus membekali mereka berdua agar mengerti dan paham tentang tubuhnya. Menjaga dan merawat tubuhnya sebagai sebuah amanah dari Allah. Komunikasi yang intens juga terjalin antara kami berdua tentang hal apapun. Baik hal kecil maupun yang besar. Itu terus kami pupuk dan ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkosaaan adalah perampokan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seseorang harus berani mengatakan tidak bila mulai ada orang lain yang melecehkan bagian tubuhnya, apalagi sampai melakukan kekerasan terhadapnya. Perkosaan dalam sebuah relasi yang intim pada ahirnya seperti buah simalakama. Di makan mati ayah dibiarkan mati ibu. Fatwa hukum Islam juga tidak bisa diterapkan semena-mena sebelum melibatkan orang yang ahli dalam permasalahan tersebut. Bila memang hasil dari psikolog menunjukan bahwa meneruskan kehamilan adalah hal yang membahayakan bagi kejiwaan si ibu dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkan kejiwaan si ibu selain aborsi, maka mungkin aborsi secara medis yang aman bisa saja dilakukan. Hanya apakah ada aborsi medis yang legal? Karena sampai hari ini kode etik tenaga medis belum berkembang sejauh itu dengan membolehkan aborsi yang aman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-9078280320554183226?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/9078280320554183226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/02/perkosaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/9078280320554183226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/9078280320554183226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/02/perkosaan.html' title='Perkosaan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7988751720681305313</id><published>2012-02-06T01:57:00.002+07:00</published><updated>2012-02-06T01:57:59.038+07:00</updated><title type='text'>Freire untuk Esok</title><content type='html'>Malam ini saya belum bisa memejamkan mata. Besok merupakan hari pertama saya mengajar di semester genap. Apa hubungannya tidak bisa memejamkan mata dengan besok mengajar? bukankah hal ini sudah biasa terjadi selama 8 tahun saya mengajar di Kampus. Hehe hubungannya memang tidak signifikan tapi entah kenapa malam ini saya belum juga mau tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi luwak putih memang saya minum ashar tadi. Efek caffeinnya mungkin sudah hilang. Namun entah kenapa kantuk belum juga datang. Malam ini setelah menemani anak belajar saya menemani ayahnya tidur. Lalu mempersiapkan segala hal untuk kemudahan aktifitas esok. Pakaian mulai dari kerudung, rok dan baju sudah saya setrika. Sepatu yang akan dipakai juga sudah saya siapkan dan simpan di ruang depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok saya mengajar pukul 08.40 di Gedung Y-12. Agenda esok sudah saya tulis di catatan agar efisien dan mudah. Setelah mengajar saya akan membimbing mahasiswa sampai pukul 11.00. Setelah itu saya berencana akan pergi ke kantor di jalan riau no 2. Ngantor untuk mengecek kasus yang masuk dan terus mengkondisikan chemistri di antara para relawan. Pukul 15.00 &amp;nbsp;saya pulang sambil mencari buku Kymlica .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya malam ini saya masih menyiapkan content kuliah yang akan disampaikan esok. Silabus dan SAP sudah ada dari tahun lalu. Bisa saja saya pakai untuk mengajar semester ini, tapi itu artinya konsultasi saya dengan Prof. Bambang Sugiharto tentang silabus Filsafat Sosial sia-sia. Kemarin saya sudah memperlihatkan silabus yang saya buat kepadanya. Saat dia bertanya untuk mahasiswa jurusan apa? dan saya jawab untuk mahasiswa Sosiologi, maka dia bilang apa yang saya tuliskan cukup untuk mereka. Apalagi mahasiswa yang akan saya ajar baru semester 4. Untuk mahasiswa Aqidah Filsafat semester 6 silabus yang saya pakai harus direvisi kembali sesuai dengan hasil konsultasi. Ya saya masih punya waktu malam esok untuk menyiapkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saya tetap akan memakai silabus lama untuk mengajar besok. Namun pengantar kuliah besok saya akan memakai Paulo Freire untuk membuka wawasan mahasiswa bahwa saya bukan sumber kebenaran melainkan hanya fasilitator perkuliahan saja. Perkuliahan merupakan salah satu bentuk dari pendidikan seharusnya berorientasi pada pengenalan realitas dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat objektif atau subjektif, tapi kedua duanya. Kebutuhan objektif untuk merubah keadaan yang tidak manusiawi selalu membutuhkan kemampuan subjektif (kesadaran subjektif) untuk &amp;nbsp;mengenali &amp;nbsp;terlebih dahulu keadaan yang tidak manusia, yang terjadi senyatanya, yang objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objektivitas dan subjektifitas dalam pengertian ini menjadi dua hal yang saling bertentangan, bukan suatu dikhotomi dalam pengertian psikologis. Kesadaran subjektif dan kemampuan objektif adalah suatu fungsi dialektif yang konstan dalam diri manusia dalam hubungannya dengan kenyataan yang saling bertentangan yang harus dipahaminya. Memandang kedua fungsi ini tanpa dialektika semacam itu bisa menjebak kita kedalam kerancuan berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freire yang saya pahami mengatakan pendidikan konvensional yang menjadikan pengajar sebagai pusat segalanya hanya akan menciptakan "nekrofili" dan bukan "biofili". Nekrofili adalah rasa kecintaan pada segala yang tidak memiliki jiwa kehidupan. Biofili sebaliknya adalah kecintaan kepada segala yang memiliki jiwa kehidupan yang manawiah (Erich Fromm). Implikasi dari Nekrofili adalah kelak mahasiswa hanya akan menjadi duplikasi pengajar dan akan menjadi penindas-penindas yang baru. Pendidikan hanya akan menjadi status-quo sepanjang masa bukan menjadi kekuatan penggugah (subversive force) ke arah perubahan dan pembaharuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan bukan penjinakan sosial budaya. Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan karena itu secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total. Karena itu perkuliahan yang akan saya sampaikan satu semester ini akan mencoba mengajak para mahasiswa untuk menari. Mencoba bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi lainnya secara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya kuliah di kelas, saya akan mengajak mereka memperhatikan realitas yang selama ini mungkin luput dari perhatian. Saya akan mencoba mengajak mereka bersentuhan langsung dengan realitas manusia Indonesia yang mayoritas. Dimana manusia mayoritas inilah yang menderita dan tertindas. Perempuan marginal: mulai dari perempuan pemulung dan keluarganya, perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan keluarganya, perempuan korban trafiking dan keluarganya, perempuan penderita HIV/AIDS dan keluarganya. Perempuan buruh pabrik dan keluarganya yang banyak terdapat di Bandung Timur tempat kuliah kami. Perempuan pembantu rumah tangga dan lain lain sesuai dengan masukan dan pendapat para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa perempuan? sebenarnya tidak harus perempuan. Tapi karena jenis kelamin ini yang saat ini secara kuantitas menjadi pihak yang diobjektifikasi maka saya memilih dan menyarankan untuk mencoba belajar dari mereka. Paling tidak subjek yang akan didampingi dan diperhatikan komposisinya 70 % perempuan 30% laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari pembelajaran ini adalah penyadaran. Dengan aktif bertindak dan berfikir sebagai pelaku dengan terlibat langsung dalam permasalahan yang nyata semoga kesadaran yang menjauhkan seseorang dari rasa takut akan kemerdekaan menguap berganti keinginan untuk mengubah hal yang tidak sesuai dengan fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal besok yang ingin saya sampaikan kepada mahasiswa adalah kesadaran seseorang pada realitas dirinya dan dunia sekitarnya merupakan proses yang "menjadi" Proses yang terus menerus, selalu mulai dan mulai lagi. Mulai dari kesadaraan naif sampai kepada kesadaran kritis sampai ahirnya pada kesadaran tertinggi dan terdalam yaitu kesadaran kesadaran. Paling tidak apa yang saya sampaikan sebenarnya untuk diri saya sendiri. Agar terus bisa naik tingkat semakin mendekati Wujud yang Hakiki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7988751720681305313?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7988751720681305313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/02/freire-untuk-esok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7988751720681305313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7988751720681305313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/02/freire-untuk-esok.html' title='Freire untuk Esok'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7925067268924155627</id><published>2012-01-28T17:47:00.000+07:00</published><updated>2012-01-28T17:47:03.772+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Ibu Haruskah Bau?</title><content type='html'>Ruangan rapat sudah terisi hampir penuh. Saya terlambat 20 menit dari undangan yang diberikan. Segera saya mencari tempat duduk yang kosong di jajaran dosen perempuan. Dosen perempuan di fakultas ini hanya berjumlah 18 orang dari 98 orang. Terlihat mereka duduk berkumpul di sebelah kiri ruangan. Ternyata tempat duduk yang masih kosong terletak paling depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum duduk saya bersalaman cipika cipiki seperti biasa dengan dosen perempuan yang duduk berdekatan. Dari beberapa yang saya salami ada hal menarik yang saya rasakan. Saat saya bersalaman tadi ada satu orang yang saya pikir sangat drastis perubahannya. Sebenarnya saya agak sungkan membahas dan menuliskan hal ini, tapi terus terang masalah ini agak sulit saya abaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya baru saja melahirkan dan menyusui. Wajar saja kalau bentuk badannya belum kembali pada kondisi semula. Tapi bukan bentuk badan yang mengganggu pikiran saya, melainkan aroma dan penampilannya saat ini. Dulu saat dia masih gadis, saya sering ikut shalat di kostannya samping kampus. Pakaian mengajarnya sangat formal dan berasal dari penjahit profesional yang mahal. Stelan yang begitu pas melekat ditubuh memperlihatkan badannya yang ramping. Seringkali dia mengomentari gaya berpakaian saya yang dinilai terlalu santai dan tidak beda jauh dengan mahasiswi. Padahal menurutnya seorang pengajar yang baik harus memperlihatkan performa terbaik saat mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memperhatikan meja riasnya saya juga tertegun betapa kosmetik yang dipakainya berharga mahal. Dia juga menyarankan kepada saya untuk mulai memakai make-up karena saat memasuki usia 30 seorang perempuan harus sudah mulai perhatian kepada muka dan tubuhnya. Saya hanya tersenyum saja karena memang kebiasaan kami sangat jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersalaman tadi saya betul-betul tak habis pikir kenapa setiap kali bersalaman bahkan berpapasan dengannya, saat ini saya mencium aroma yang menyengat. Bau tubuhnya begitu tercium dan membuat saya tak nyaman berdekatan dengannya. Make-up yang biasanya dipakai juga nyaris tak berpengaruh. Muka yang tidak terawat ditutupi dengan bedak tebal membuat penampilannya semakin aneh. Mungkin ia tak sempat mengurus dirinya karena mengurus anak dan keluarga pikir saya. Tapi benarkah setelah menikah seorang istri tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri? Atau jangan-jangan ia juga sepaham dengan sepupu saya yang mengatakan bahwa "Ah kalo udah laku mah buat apa berdandan, tenang aja kali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya tidak sepakat dengan pandangan ini. Justru saat gadis dulu saya jarang merawat muka dan badan, karena saya percaya diri dengan karunia yang diberikan-Nya. Untuk apa saya melakukan itu semua saya pikir. Nah saat menjadi istri dan ibulah waktu yang tepat untuk mengurus penampilan. Karena jelas tubuh seorang perempuan diporsir dengan aktifitas reproduksi dengan hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak dan keluarga. Otomatis perawatannya harus maksimal. Selain &amp;nbsp;untuk kenyamanan dan kebutuhan diri juga &amp;nbsp;ditujukan untuk membahagiakan pasangan dan ini jelas pahalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sudah menikah perempuan tidak boleh mengabaikan dirinya. Bukan sekedar memenuhi keinginan pasangan saja. Namun yang terpenting dari itu semua tubuh ini adalah amanah yang harus dijaga. Sehingga pada saat tubuh kita sehat, kulit sehat dan terawat dengan baik maka kepercayaan diri pun meningkat. Tak usah yang mahal, yang alami dan apa adanya. Semoga menjadi investasi agak dimasa tua nanti masih memiliki tubuh yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7925067268924155627?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7925067268924155627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/menjadi-ibu-haruskah-bau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7925067268924155627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7925067268924155627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/menjadi-ibu-haruskah-bau.html' title='Menjadi Ibu Haruskah Bau?'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7084462883674678384</id><published>2012-01-25T11:04:00.000+07:00</published><updated>2012-01-25T11:04:21.018+07:00</updated><title type='text'>Mau Perkasa? Senamlah!</title><content type='html'>Pagi cerah yang berangin duapuluh lima ibu-ibu berkumpul di lapangan. Lapangan ini terletak tepat di depan musholah RT 10 RW 20 komplek Permata Biru Bandung. Di sebelah utara dan timur lapangan ini terdapat sawah yang membentang. Sehingga tidak heran sekeliling lapangan ini dipasangi jala agar bola volly tidak masuk ke sawah. Lapangan dan musholah ini merupakan hasil swadaya masyarakat. Dengan bergotong royong selama kurang lebih setahun setengah kedua fasilitas umum ini selesai dibangun.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 07.30 tepat ibu-ibu sudah berkumpul dengan memakai pakaian olahraga. Namun ada pemandangan yang ganjil dari stelan olah raga mereka ini. Mereka tidak menggunakan kaus kaki dan sepatu, namun mengunakan sandal seperti biasa. Selain itu semua ibu membawa sejadah sebagai alat olahraganya. Apa kira-kira yang mereka lakukan ya?&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wbKILyVHMTg/Tx9poUwdNoI/AAAAAAAAACo/b6-FAbi3SEs/s1600/CIMG0221.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-wbKILyVHMTg/Tx9poUwdNoI/AAAAAAAAACo/b6-FAbi3SEs/s320/CIMG0221.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini merupakan pertemua ke dua yang kami lakukan dalam kegiatan senam perkasa Indonesia. Senam ini kami lakukan seminggu dua kali setiap hari senin dan rabu setiap pukul 07.30. Senam ini dilakukan di atas matras karena gerakannya&amp;nbsp; seperti gerakan sholat yang betul-betul mengeksplorasi kerja lutut dan sendi bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instruktur senam kami sangat istimewa. Dialah mimih haji yang usianya 60 tahun. Mimih haji&amp;nbsp; merupakan ustadzah yang membimbing majis taklim blok Z yang&amp;nbsp; berlangsung seminggu sekali. Dulu sebelum mushola ada, kami melakukan pengajian dari rumah ke rumah. Setelah mushola kami berdiri, semua kegiatan pengajian dan kegiatan lainnya dilakukan di musholah. Mimih tahun ini untuk kedua kali sudah berangkat ke Mekah. Setelah pulang, beliau bercerita betapa fitnya kesehatan yang dimiliki sehingga anak muda saja heran melihat betapa fitnya nenek yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FCWGeix4Ci8/Tx9veufMtbI/AAAAAAAAACw/wjfdUo7ZPgk/s1600/CIMG0222.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-FCWGeix4Ci8/Tx9veufMtbI/AAAAAAAAACw/wjfdUo7ZPgk/s320/CIMG0222.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gerakan senam perkasa memadukan pernafasan dan gerakan pergangan otot dan sendi.&amp;nbsp; Memulai senam ini kami semua berdiri di atas sajadah atau matras dengan posisi kaki berbentuk A. Setelah itu muka ditengadahkan ke atas sambil tangan direntangkan, badan dibungkukan sambil menghirup nafas lewat hidung, setelah itu tangan direntangkan ke atas sambil meregangkan seluruh tubuh, nafas ditahan beberapa saat lalu dilepaskan kembali dengan suara HA. Ini merupakan gerakan dasar yang terus dilakukan sepanjang senam dan dipadukan dengan gerakan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan kedua adalah gerakan dasar yang dipadukan dengan peregangan yang dimulai dari kepala, telinga, sampai bahu. Dalam melakukannya pernafasan harus teratur dan berirama. Setelah itu gerakan selanjutnya yaitu dengan menghentakan telapak kaki secara berirama dan menahan gerakan dan nafas pada titik-titik tertentu. Selajutnya gerakan tersebut dipadukan dengan gerakan tangan yang memutar seperti sayap dengan hitungan 7, 9 dan 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan inti senam ini adalah setelah kembali melakukan gerakan dasar lalu jatuhkan lutut ke matras sambil tangan terus terentang ke atas, muka terus tengadah lalu terus berdiri lagi. Jatuhkan lagi terus berdiri lagi dari 7 kali, diulang 9 kali sampai 12 kali. Selajutnya gerakan inti kedua setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan, duduk bersimpuh seperti gerakan diantara dua sujud, lalu tumit kaki dipegang oleh kedua tangan, badan di bungkukan dengan muka tetap menghadap ke depan. Ditahan hingga hitungan 7, 9, dan 12 selajutnya posisi jongkok dengan tangan tetap ke depan lalu, gerakan rukuk lalu berdiri lagi dengan meregangkan tangan ke atas sambil menghirup nafas. Gerakan inti ketiga seperti gerakan yang kedua hanya tangan tidak memegang tumit melankan diarahkan ke depan kaki telapak kami yang terbalik diangkat perlahan, tahan pada posisi demikian dengan hitungan7, lalu 9 lalu 12, lalu jongkok, ruku dan kembali berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan selajutnya adalah gerakan pompa dragon yang katanya bisa menambah vitalitas seksual ibu-ibu. Gerakannya setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan,&amp;nbsp; sambil berlutut dengan kaki agak dibuka, tangan memegang tumit belakang lalu badan dikedepankan seperti dipompa naik ke atas dan ke bawah (seperti gerakan kayang hanya sambil berlutut). Gerakan ini tetap dilakukan 7 kali, 9 kali dan 12 kali. Selajutnya gerakan lutut macan. Gerakan dasar, lalu berlutut tangan disimpan di depan lutut badang dimajukan ke depan kepala digoyang kanan dan kiri dilakukan 7 kali diulang lagi lalu 9 kali , lalu 12 kali. Selanjutnya gerakan inti terahir adalah setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan lalu duduk bersimpuh seperti posisi duduk diantara dua sujud, lalu badan direbahkan kebelakang tangan direntangkan ke atas. Posisi tersebut seperti posisi tidur, hanya kaki terlipat. Posisi ini ditahan sampai 2 x 60 hitungan bagi pemula bisa juga 7 x 60 hitungan bagi yang sudah terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai gerakan inti kembali berdiri lalu bernyanyi dan melakukan gerakan-gerakan sederhana penutup. Salah satu lagu yang sudah saya hapal&amp;nbsp; ialah "satu kepal nasi, empat jari ikan, sepuluh jari sayur, satu jari minyak, caca marica hei-hei, caca marica hei hei, caca marica menunya sudah cukup". Setelah selesai senam, ditutup dengan do'a bersama dan kembali ke rumah masing-masing. Badan kami terasa lebih segar dan bersemangat untuk melakukan aktifitas hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7084462883674678384?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7084462883674678384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/mau-perkasa-senamlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7084462883674678384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7084462883674678384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/mau-perkasa-senamlah.html' title='Mau Perkasa? Senamlah!'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wbKILyVHMTg/Tx9poUwdNoI/AAAAAAAAACo/b6-FAbi3SEs/s72-c/CIMG0221.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6129566088551927986</id><published>2012-01-22T17:42:00.002+07:00</published><updated>2012-01-22T17:42:50.513+07:00</updated><title type='text'>Botram</title><content type='html'>Kangkung, labu siam, toge dan kacang panjang direbus satu persatu.&amp;nbsp; Goreng kacang tanah sudah tercium harumnya dan segera diangkat oleh Mama Audya. "Mimi yang ngulek ya saya mau ngangkat rebusan sayurannya dulu. "Oke", jawabku. Segera cengek merah, goreng kacang tanah, gula merah, sedikit terasi aku haluskan. Tak lupa sedikit garam kutambahkan agar rasanya semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-v4zKa2P348A/TxvX2qtqH8I/AAAAAAAAACY/TftD7aP1vBE/s1600/CIMG3814.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-v4zKa2P348A/TxvX2qtqH8I/AAAAAAAAACY/TftD7aP1vBE/s320/CIMG3814.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini entah untuk yang keberapa kali saya dan ibu-ibu tetangga sekitar rumah melakukan botram atau makan siang bersama. Kami melakukannya biasanya pada hari libur seperti hari minggu siang ini. Tak suka direncanakan memang, kami melakukannya semau kami. Bila salah satu ibu punya inisiatif dan kebetulan didukung paling tidak 3 ibu yang lain maka botram pun bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang kami hidangkan sangat sederhana, seperti karedok, liwet, sambal terasi, goreng peda, tempe, tahu dan beberapa lalapan. Meski sederhana dijamin satu piring tidak akan cukup. Biasanya kami semua nambah sampai beberapa kali hehe.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-fr6b70Pmcgk/TxvcYD7JlAI/AAAAAAAAACg/qy9Z0CwEwXA/s1600/CIMG3817.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-fr6b70Pmcgk/TxvcYD7JlAI/AAAAAAAAACg/qy9Z0CwEwXA/s320/CIMG3817.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Selama makan kami berbincang-bincang. Awalnya membicarakan artis di infotainmen. Bagaimana seorang Yuni Shara yang terpaut usia jauh dengan Rafli Ahmad bisa kembali pacaran. Betapa Rafli Ahmad sangat terpukul saat diputuskan Yuni. Mama Audya bilang bahwa, ternyata bukan hanya usia dan fisik saja yang menjadikan seseorang jatuh cinta, melainkan hal yang lebih dalam dari itu. Apa itu tanyaku? "ya...mungkin sesuatu yang dibutuhkan Rafli secara psikologis dan hanya ada di Yuni", jawab mamah Audya. Iya ya kadang cinta memang tidak rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan kami mengalir begitu saja sampai pada kesewotan ibu-ibu dengan Banggar DPR RI dan jembatan gantung di Lebak Banten. "Gila masa kursi aja sampe 24 juta, WC 2 miliar? pantes aja harga semakin mahal pemerintahnya ngurusin perut sendiri sedangkan bikin jembatan sederhana saja terlupakan" kata mamah Tyas. "Gemes deh...padahal kita yang milih ya...tau gitu kita kosongin aja kemarin pas pemilihan anggota dewan kalo emang kerjanya kayak gitu", ia menambahkan. Trus saat tau kayak gitu gimana bu?, tanyaku. "Ya gak gimana-gimana pokoknya sebel banget deh, pokoknya amit-amit deh anakku kalo kelak jadi orang kayak mereka kata mama Tyas yang juga seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya ya bu...padahal mereka kan orang berpendidikan? tapi kenapa bekerja sama melakukan pendzoliman seperti itu? mereka duduk di sana kan amanah dari kita. Anggaran yang dipakai juga sebenarnya untuk rakyat, trus gimana caranya agar anak-anak kita kelak tidak seperti mereka? pertanyaanku bertubi-tubi keluar begitu saja. "Udah deeh jangan ngomongin politik mulu, pusing ngedengernya, kita mah rakyat kecil yang penting masih bisa makan dan sekolahin anak", mama Vio menyela. "Nih mimi mau tambah lagi gak karedoknya, saya mau tambahin cengek lagi soalnya bikinanmu kurang pedes". "Oh silahkan aja saya memang kurang suka yang terlalu pedas, cukup mama Vio udah nambah dua kali soalnya hehe" jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Tyas kembali berkata, "mama Vio gak boleh kayak gitu kita harus peduli dengan masa depan negri ini, anak-anak kita bisa makan dan sekolah sangat tergantung pada wakil rakyat yang duduk di sana. Kalo mereka terus-terusan korupsi lama-lama kan harga mahal kita bisa enggak bisa makan, sekolah juga kayak gitu". "Wiih mamah Tyas nih memang oke" kataku pantes Tyas sekolahnya pinter. Tapi mama Vio juga gak salah ujar saya, kapasitas kita sebagai perempuan dan ibu rumah tangga sangat tepat untuk mengukur kinerja pemerintah baik ato tidak. Karena kita yang terkena dampak pertama kalau harga-harga naik padahal harus menyajikan makan sehat untuk keluarga. Kita pula yang mengatur laju keuangan keluarga yang prioritas utamanya adalah pendidikan keluarga. "Bu dosen lagi ngisi kuliah nih" celetuk mama Satria yang memang pendiam dan biasanya menjadi pendengar setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan itu berlanjut dengan cerita kami tentang anak masing-masing mulai dari kelucuan mereka, kenakalan mereka sampai kecerdasan mereka. Tak terasa makanan yang tersedia sudah tandas, tinggal teh tawar panas menutup botram kami. "Ya pokoknya gini deh mimi, sesekali luangkan waktu di RT kita untuk ngisi tentang bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, saya mau ngusulin ke ibu Omi agar mimi ngisi di minggu ke 3 di pengajian kita". "Mamah Tyas bisa aja, justru saya harus belajar banyak sama ibu, karena saya baru tau teorinya saja dan prakteknya belum teruji sedangkan mamah Tyas kan sudah terbukti, anaknya pada baik dan pintar, tapi kalau untuk berbagi saya tidak keberatan karena nanti bukan ceramah melainkan kita ngobrol dan berbagi ya", ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kembali saya tutup dengan senyuman. Komplek perumahan kecil ini membuat kami begitu akrab. Dinding rumah kami menempel satu sama lain. Sehingga kekeluargaan begitu terasa saat berada di sini. Meski jauh dari keluarga baik dari keluargaku maupun suami, aku merasa merekalah keluargaku di kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6129566088551927986?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6129566088551927986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/botram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6129566088551927986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6129566088551927986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/botram.html' title='Botram'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-v4zKa2P348A/TxvX2qtqH8I/AAAAAAAAACY/TftD7aP1vBE/s72-c/CIMG3814.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-512756236749714431</id><published>2012-01-20T20:51:00.002+07:00</published><updated>2012-01-20T20:51:52.603+07:00</updated><title type='text'>Ibu</title><content type='html'>"Assalamualaikum, damang bu?" sapaku di telefon pada ibu. Ibu penuh kasih yang sudah mengorbankan dirinya untuk melahirkanku kedunia ini. "Alhamdulilah sae, hannah kumaha? jawabnya sambil berbisik.&amp;nbsp; "Alhamdulilah sehat" jawabku. "Ibu sedang berada dimana? tanyaku karena heran kenapa ia menjawab dengan berbisik. "Ibu sedang berada di rumah pak T anaknya teh Euis meninggal dunia, baru saja jenazahnya tiba dari Serang". "Innalilahi, bukannya teh Euis masih muda dan karirnya cemerlang? aku bertanya dengan terkejut. Ibu menjawab "iya...cuma beda 3 tahun lebih tua dengan kamu, ia sangat kelelahan karena menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi dan aktifitas yang padat. Ibu minta kamu segera chek-up kesehatan dan jangan terlalu capek, karena kamu sangat mirip Euis kalau sudah bekerja ujarnya. Ia menambahkan "Istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak begadang, kurangi minum kopi dan hiduplah dengan pola hidup yang sehat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan ini membuatku merenung, oh pantas saja menjelang magrib tadi betapaku ingin berbincang dengan ibu. Padahal baru kemarin malam aku cerita panjang tentang kegalauanku terhadap beberapa pekerjaan yang kuhadapi. Ternyata saat itu dengan kesedihan yang sangat terhadap nasib putri temannya ia juga begitu teringat denganku dan menghawatirkan kesehatanku.&amp;nbsp; Setelah ngobrol dengan ibu aku segera menghubungi temanku seorang dokter untuk melakukan general chek-up. Dia memberikan beberapa refernsi tempat sambil bertanya kenapa aku ingin chek-up. Kujawab bahwa sudah lama aku tidak melakukannya. Terahir kali general chek-up tahun 2009 dan sejauh ini sehat. Namun kadar kolesterol dalam darahku cukup tinggi dan dokter menyarankan melakukan diet. Aku bertanya, kenapa kolesterol darahku tinggi padahal badanku tidak gemuk bahkan agak kurus. Dokter menjawab bahwa pola makanku yang suka dengan yang kering-kering dan berminyak dan kurang makan sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009 setelah general chek-up&amp;nbsp; aku betul-betul tobat makan mie instan. Selain bukan makanan sehat, ia juga terkait dengan neo-liberalisme yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Negri ini semakin miskin dan berfisik lemah. Pola belanja dan menu keluarga kuubah sedemikian rupa. Tidak ada mie instan dalam menu keluargaku. Sehingga anakku yang terkecil selalu menolak makan mie dimanapun dia menemukannya. Ahir 2011 aku kembali mengkonsumsi mie karena saat itu kerepotan mengurus keluarga karena pengasuh anak-anak tidak ada. Rasa bersalah kembali muncul kenapa kembali pada kebiasaan lama? dan betapa perjuanganku selama dua tahun ini tak ada artinya dengan tindakan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih ibu sudah mengingatkanku. Pola hidup sehat akan aku jalani kembali. General chek-up akan ku lakukan minggu depan. Pekerjaan aku hadapi dengan senyuman. Betapa ini adalah sebuah karunia Allah agarku punya lahan untuk beramal shaleh dan beraktualisasi. Rasa syukur hari ini begitu bergema dalam hati karena diingatkan oleh ibu tersayang. Setelah seharian memberikan workshop untuk perempuan pemulung yang kurang beruntung nun jauh disana. Bertemu dengan sosok perempuan tangguh yang berjuang mempertahankan hidup dengan mengais sampah di Tempat Pembuangan Ahir. Hari ini ditutup dengan do'a seorang ibu untuk kesehatan putrinya. Hannah sayang ibu!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-512756236749714431?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/512756236749714431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/512756236749714431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/512756236749714431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/ibu.html' title='Ibu'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8682826584154710442</id><published>2012-01-18T23:23:00.000+07:00</published><updated>2012-01-18T23:23:54.926+07:00</updated><title type='text'>Lagi...lagi dan lagi</title><content type='html'>Sesuatu yang sederhana. Murah juga mudah. Untuk mendapatkannya bisa dilakukan kapan saja. Namun entah mengapa waktu yang dihabiskan untuk meraihnya lumayan lama. Bahkan menghabiskan seharga biaya sesuatu tersebut. Kejadian ini kerap saya alami. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi..lagi dan lagi...setelah teratasi baru tersadar kenapa tidak dari dahulu saya melakukan A? kenapa tidak dari dahulu saya membeli B? kenapa tidak dari dahulu saya menghubungi C? &amp;nbsp;Mungkin pada saat masalah tersebut datang hal tersebut memang sulit untuk saya karena minimnya pengetahuan yang saya miliki. Saya bilang saat ini mudah &amp;nbsp;karena sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya jadi teringat saat pertama kali belajar matematika terutama perkalian di kelas 3 SD. Saat itu betapa sulit saya mencari tahu hasil perkalian. Saya hapalkan mereka dengan susah payah. Dengan suara yang keras. Saya lakukan sambil main, sambil bantu ibu dan sambil melakukan aktifitas yang lain. Terasa sulit dan saya saat itu berfikir bisakah saya menghapal sebanyak itu? Ternyata dengan proses saya bisa menghapalkannya dan mengerti lebih perkalian bahkan sampai beberapa digit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses belajar apapun ternyata hampir sama dengan kondisi di atas. Awalnya sulit namun sedikit demi sedikit menjadi bisa dan terasa gampang. Jadi mungkin 'waktu' merupakan sebuah keniscayaan dalam proses. &amp;nbsp;Tak usah menyesali 'waktu' yang sudah dihabiskan karena dengannya banyak hal bisa terselesaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain waktu saya kira dalam berproses kita membutuhkan juga tenaga dan hal material lainnya. Mungkin terlihat berlebihan untuk sebuah tujuan sederhana yang ingin diraih. Namun sebenarnya bukan tujuan itu sendiri yang ingin dicapai. Melainkan untuk melalui proses dengan lebih baik lagi. Mau lagi? lagi? dan lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8682826584154710442?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8682826584154710442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/lagilagi-dan-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8682826584154710442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8682826584154710442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/lagilagi-dan-lagi.html' title='Lagi...lagi dan lagi'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1594650319332662238</id><published>2012-01-16T12:34:00.001+07:00</published><updated>2012-01-16T12:46:31.153+07:00</updated><title type='text'>Stop Lingkaran Kecemasan!!!</title><content type='html'>Belakangan ini saya lebih banyak bicara dari pada mendengarkan, apalagi menulis. Rasanya sangat tidak nyaman. Karena tuntutan program mau tidak mau saya jadi pembicara pada beberapa event terkait dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Beberapa program berturut-turut dilaksanakan. Menyita energi dan konsentrasi dan pada ahirnya memunculkan ketegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran kecemasan berputar dengan cepat membuat kesadaran diri semakin berkurang. Kecemasan yang diderita pimpinan lembaga kami ditularkan kepada pengurus inti lalu menularkan pula pada kami di kantor. Berputar menciptakan ketegangan yang membuat siapapun tidak kerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya dalam menghadapi berbagai persoalan, mendengarkan adalah pilihan. Tersenyum meski pihak yang berbicara terlihat kolokan, memaksa bahkan lempar tanggung jawab. Saat itu dalam benak yang terlihat hanya sosok-Nya. Saya melakukan berbagai aktifitas hanya untuk mengagungkan nama-Nya. Tak perlulah diketahui atau diapresiasi apa yang saya lakukan karena bukan itu tujuan utama hidup ini. Sehingga nada bicara saya terkontrol dan jarang terpancing emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengurai betapa sebenarnya saya merasa tidak enak dalam beberapa kondisi belakangan ini. Terkat posisi saya ditempat kerja dan di LSM yang saya rintis. Posisi sebagai pengajar agama di sebuah perguruan tinggi saya pertaruhkan demi berjalannya program LSM yang saya rintis. Saya tau betapa adminstrasi perguruan tinggi tersebut terlihat tidak suka dengan program yang saya gulirkan. &amp;nbsp;Karena mungkin saya tidak pernah melibatkan mereka dalam setiap program saya dan dalam benak mereka &amp;nbsp;saya akan mendapatkan keuntungan dalam program yang dijalankan, namun kenapa saya menutup diri mengajak mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hasil yang saya dapatkan sepenuhnya saya berikan untuk LSM yang saya rintis demi berjalannya program pendampingan masyarakat dan pembinaan relawan. Saya tidak pernah mengambil apapun ditiga tahun merintis LSM. Saya mencari peluang rizqi pribadi &amp;nbsp;lewat penelitian kompetitf dosen, tulisan ilmiah dan konsultan beberapa program pemerintah. Sampai tahun ke 3 ini belum satu pun proyek betulan digarap LSM saya. Semuanya pengabdian kepada masyarakat dengan dana yang berasal dari beberapa kegiatan kecil yang kami lakukan. Betul-betul kami memberdayakan sumber daya lokal dan tidak bergantung pada funding manapun. Baru mau akan sebuah proyek kami tangani di 2012 ini, itupun belum pasti karena belum ada dalam genggaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga terus terang saya tersinggung dengan ucapan seseorang yang mengatakan bahwa LSM yang saya rintis orientasinya proyek semata. Proyek yang mana? bisakan dia menunjukan? Saya menggarap beberapa proyek penelitian tidak menggunakan LSM tapi identitas saya sendiri sebagai seorang akademisi. Dari beberapa proyek pribadi tersebut, saya mengalokasikan dana untuk LSM. Padahal sebenarnya saya tidak memiliki kewajiban tersebut. Namun karena saya ingin berkah dan bermakna, karenanya saya sisihkan sebagian selain saya sisihkan juga untuk lembaga keagamaan yang konsen menangani ZIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus mengepakan sayap menjalin kembali jejaring jejak yang pernah saya torehkan dalam perjalanan hidup. Apakah jejak saya sebagai santri, jejak saya sebagai aktifis KOHATI, jejak saya sebagai mahasiswa aqidah filsafat, jejak saya sebagai aktifis pemberdayaan perempuan, jejak saya sebagai anak daerah Banten dan masih banyak jejak jejak lain yang saya torehkan. Selama ini jejak itu masih terlihat, saya mengukirnya dengan kerja dan tugas yang bertanggung jawab. Ternyata orang-orang yang ada dalam lingkaran jejak-jejak yang saya torehkan adalah orang yang memiliki wewenang dalam menjalankan banyak program di negri tercinta ini. Ahirnya saya banyak dilibatkan dalam berbagai program dan saya hanya memilih program pemberdayaan perempuan yang tidak menyita banyak waktu sehingga keluarga bisa tetap saya perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sepertinya tak usahlah saya terlalu memasukan kedalam hati omongan miring yang hanya membuat langkah ini menjadi berat. Menjadikan saya berargumen dan mengungkit kerja yang sudah saya lakukan padahal bisa jadi pahala yang saya tanam akan menguap dengan sikap demikian. Selalu menghadapi segala hal dengan kepala dingin dan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Saya kembali memfokuskan diri untuk menatap masa depan dengan menyenangkan. Lingkaran kecemasan yang sudah ditularkan atasan saya harus dihentikan. Saya memutuskan untuk tidak terpengaruh dan kembali memfokuskan tujuan bahwa yang saya lakukan semata hanya ingin bermanfaat untuk masyarakat. Sebagai sebuah bekal abadi menghadap-Nya. Semoga Ia kembali &amp;nbsp;menyadarkan saya untuk tetap tersenyum meski derasnya sangkaan dan terpaan badai yang menghadang. Bismillah...saya ingin menjadi pohon yang tinggi...untuk itu saya siap menghadapi badai yang menerpa dengan Kasih-Mu ya Rabb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1594650319332662238?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1594650319332662238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/stop-lingkaran-kecemasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1594650319332662238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1594650319332662238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2012/01/stop-lingkaran-kecemasan.html' title='Stop Lingkaran Kecemasan!!!'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-2686282538365432009</id><published>2011-12-13T14:29:00.001+07:00</published><updated>2011-12-13T14:34:23.183+07:00</updated><title type='text'>Dag Dig Dug</title><content type='html'>Ahir tahun yang sangat padat. Alhamdulilah kali ini saya mulai bisa mendelegasikan beberapa urusan. Sosok teman kantor saya sangat memberikan inspirasi bagaimana caranya mengkordinasi dan mendelegasikan berbagai urusan. Beliau mantan anggota DPRD perempuan dengan berbagai aktfitas dan memiliki keluarga yang harmonis dan sinergis. Selama hampir dua tahun ini membantunya mengurusi berbagai program, saya juga berkesempatan belajar memanaje banyak hal darinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Allah mulai mengajak saya bermain. Dulu saya pernah memanjatkan do'a agar saya bisa mendapatkan penghasilan. Saya sebut jumlahnya saat berdo'a. Ternyata ia mengabulkan do'a saya dan memberi penghasilan puluhan kali lipat dari yang saya minta. Kali ini do'a saya untuk LSM yang saya rintis akan dikabulkan juga, dengan pencapaian yang sangat luar biasa menurut ukuran saya. Sempat agak kaget mendengar tawaran kegiatan yang diberikan waw...semoga kami bisa mengemban amanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini sebelum benar-benar terwujud saya berdo'a dalam hati, semoga hal ini bisa menjadi kebaikan. Bisa mewujudkan impian saya mensejahterakan adik-adik dan masyarakat yang kami dampingi. Kalaupun tidak tentu pilihan Allah selalu yang terbaik buat diri ini. Mudahkan ya Rabb. Berkahkan...Mudahkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-2686282538365432009?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/2686282538365432009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/12/dah-dig-dug.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2686282538365432009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2686282538365432009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/12/dah-dig-dug.html' title='Dag Dig Dug'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6647183724546646763</id><published>2011-11-16T19:55:00.003+07:00</published><updated>2011-11-16T20:38:53.841+07:00</updated><title type='text'>Lemari Plus Partisi</title><content type='html'>Dua bulan sudah saya memesan sebuah lemari buku yang berfungsi tambahan sebagai partisi ruangan. Saya memesan lemari partisi tersebut karena melihat kantor memesannya dan ternyata multi fungsi. Sebagai lemari karena rangkanya terbuat dari besi, maka terlihat kokoh. Sebagai partisi dia bisa dipakai untuk layar persentasi rapat selain juga memiliki roda yang fleksibel mau dipindah-pindah dan juga bisa dikunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memesan saya bercerita pada pegawai pembuat partisi tersebut, bahwa seringkali orang yang lewat depan rumah bertanya apakah ini perpustakaan? karena saat pintu rumah saya terbuka maka yang terlihat adalah lemari yang dipenuhi buku yang saya simpan sebagai partisi ruangan.  Sebagian buku yang saya punya tidak menempati tempat yang layak, karena tiga lemari sudah tidak muat. Maka saya memutuskan untuk memesannya meski harganya cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 1 bulan pemesanan, saya diperlihatkan gambar jadi lemari partisi tersebut lewat email. Tampak depan dan belakang saja tampak samping tidak ada. Saya terkejut kenapa jadinya hanya sebuah partisi yang dipaksakan menjadi sebuah lemari? Untuk lebih jelas ahirnya saya melihat bentuk asli dari lemari tersebut. Betul-betul mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebar samping partisi tersebut hanya 20 cm artinya hanya bisa menyimpan buku-buku kecil, bagaimana dengan kitab-kitab saya yang lebar dan tebal? Sebuah papan albasia ditempelkan dibalik sebuah partisi ruangan dan mereka bilang itu lemari? sebelah mana? saat itu saya bertanya kenapa jadinya partisi yang bisa jadi lemari dan bukan lemari yang bisa jadi partisi? bukankah latar belakang saya memesan juga karena ingin punya lemari buku yang multi fungsi? sekali lagi saya adalah orang yang mudah terbujuk dan sulit bilang tidak pada saat seseorang ingin dikasihani. Ahirnya saya menyetujui dengan syarat ada beberapa yang diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari pemilik tempat pembuatan lemari itu menelfon saya dan menanyakan keputusan. Saya bilang karena sudah 2 bulan lalu saya pesan dan sudah saya kasih uang muka maka saya siap menerima lemari itu meski terus terang saya tidak sreg dengan hasilnya. Dia bertanya "sebelah mana ibu tidak sregnya" saya jelaskan bahwa yang utama buat saya adalah lemari buku bukan partisinya. Fungsi partisi hanya fungsi tambahan bukan yang utama. Selain juga hasilnya terlihat kampungan karena dikerjakan oleh orang yang tidak terbiasa bikin lemari kayu melainkan lemari besi. Sehingga kasar dan norak. Penjelasan saya yang panjang lebar membuat pemilik memahami dan ahirnya membatalkan pesanan saya dan mengembalikan uang muka yang sudah saya pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahirnya hari ini saya punya lemari buku baru yang bisa berfungsi sebagai partisi yang harganya 1/3 dari yang sebelumnya saya pesan. Lega sekali rasanya bisa mendapatkan sesuai keinginan baik model maupun ukuran terlebih ada promo harga karena toko tersebut baru dibuka. Tadinya saya sudah mempersiapkan mental kalau memang partisi kampungan tersebut memang berjodoh dengan rumah saya. Ya sudahlah sekali lagi saya harus tegas bila memang tidak sesuai dengan perjanjian awal maka jangan ragu untuk membatalkan. Karena terus terang selama dua minggu setelah barang jadi saya terganggu dengan rasa kesal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6647183724546646763?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6647183724546646763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/lemari-plus-partisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6647183724546646763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6647183724546646763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/lemari-plus-partisi.html' title='Lemari Plus Partisi'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6318273006786412953</id><published>2011-11-13T11:55:00.002+07:00</published><updated>2011-11-13T13:17:44.260+07:00</updated><title type='text'>Celoteh Ibu Kolokan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari minggu bergelut dengan kemalasan. Tempat tidur sangat berat untuk ditinggalkan. Tapi sms dari sang kekasih cukup membuat saya bangun dan menyelesaikan isi pesan. Uh... kalau mood turun seperti ini, kehadirannya memang sangat saya butuhkan. Untuk selalu mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun pernikahan terlewati dengan perlahan. Tahun kesebelas hadir menumbuhkan harapan. Akankah kami bisa mengisinya dengan kebaikan? Hanya satu yang ingin selalu kami camkan. Bahwa relasi yang mengikat kami adalah sebuah perjanjian. Perjanjian Agung atas nama Tuhan. Relasi yang berkesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok hari segudang tanggung jawab sudah menghadang untuk diselesaikan. Tanggung jawab hidup dari berbagai pilihan. Pilihan yang secara sadar menghiasi sebuah rangkaian. Terjalin sebagai sebuah bentuk penghambaan. Pada-Nya yang selalu mengabulkan semua permohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai...kemalasan maafkan bila kini kau kutinggalkan. Tatap bening dua permata hati begitu mengesankan. Membuat si kolokan berusaha menjadi ibu sesuai dengan yang diharapkan. Meski sulit, tertatih dan perlahan. Belajar, belajar dan terus belajar menundukan ego yang selama ini kerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahirnya...bila semua dikerjakan. Selesailah semua pekerjaan. Tinggal kini internetan. Menuliskan sebuah catatan. Mengukir senyum sebuah perjalanan. Menjadi seorang ibu yang penuh keterbatasan. Namun ingin selalu berusaha menjadikan hidup ini menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6318273006786412953?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6318273006786412953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/celoteh-ibu-kolokan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6318273006786412953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6318273006786412953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/celoteh-ibu-kolokan.html' title='Celoteh Ibu Kolokan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7602929030796864104</id><published>2011-11-11T15:47:00.002+07:00</published><updated>2011-11-11T16:19:43.104+07:00</updated><title type='text'>Menggumpal</title><content type='html'>Masih menyisakan lelah setelah 2 hari full terjun ke lapangan. Allah sangat nyata Kasihnya. Sekarang tinggal memenuhi hak anak-anak setelah seminggu ini mungkin tak seperti biasanya. Weekend minggu ini semoga bisa sedikit rehat mengumpulkan tenaga menghadapi hari-hari yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari tak buka internet ternyata tidak membuat saya kenapa-napa. Biasa aja ternyata. Entah... ada sedikit sesak yang menggumpal. Saya ingin sekali berteriak dengan keras. Agar ada yang terurai. Atau izinkan saya mengepalkan tinju saya dan mengekspresikan kemarahan yang selalu saya tekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flying fox, arung jeram atau latihan kick boxing betul-betul saya butuhkan. Atau street dancing seperti yang saya dengar dari radio selama perjalanan kemarin? Yah...besok semoga gumpalan ini bisa terurai. Rabb bantu hannah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7602929030796864104?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7602929030796864104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/menggumpal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7602929030796864104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7602929030796864104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/menggumpal.html' title='Menggumpal'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6351988703273043991</id><published>2011-11-08T15:46:00.002+07:00</published><updated>2011-11-08T16:07:12.074+07:00</updated><title type='text'>Bohong</title><content type='html'>Sepuluh menit lagi pulang. Seharian berhadapan dengan seorang anak perempuan yang menjadikan bohong sebagai alat untuk bertahan hidup. Kebohongan sudah sedemikian terinternalisasi sehingga tak ada lagi rasa resah meski banyak kebohongannya sudah terungkap. Tes psikologi tak mampu mengungkap identitas sebenarnya meski sudah hampir dua bulan psikolog menanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja laksana detektif. Menyelidiki fesbuk dan menghubungi orang-orang yang sekiranya berhubungan dengan subjek. Beberapa terhubung namun mereka juga merasa jadi korban subjek. Hari ini relawan mengunjungi alamat mantan pacarnya yang mungkin bisa memberikan keterangan. Juga alamat di Bandung yang katanya pernah dia tinggali cukup lama. Huff...semoga ada jalan terang dan terungkap motif sebenarnya kenapa sampai dia merepotkan polda Jabar dan P2TP2A Jabar sedemikian rupa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6351988703273043991?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6351988703273043991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/bohong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6351988703273043991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6351988703273043991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/bohong.html' title='Bohong'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4252912218338472397</id><published>2011-11-07T15:48:00.005+07:00</published><updated>2011-11-07T20:55:30.115+07:00</updated><title type='text'>Digugu dan Ditiru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Amat besar kemurkaan Allah pada orang yang mengatakan kebaikan tapi dia sendiri tidak menjalankan". Teguran-Nya ini terasa begitu keras menampar saya sehingga nyaris tak bisa berkata-kata. Tercekat saat menyampaikan Iman kepada qadha dan qadar Allah. Materi terahir sebelum bedah filem yang menjadi penutup kuliah Pendidikan Agama Islam sebelum UTS minggu depan ini benar-benar mengena buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi seorang guru dalam benak saya bukan sekedar transfer pengetahuan. Melainkan lebih jauh dari itu yaitu transfer pengalaman dan transfer spiritual. Sehingga benarlah adanya falsafah seorang GURU yaitu DIGUGU dan DITIRU. Bukan sekedar pengajaran melainkan pendidikan. Sehingga saat mengatakan suatu hal sebenarnya hal itu berlaku terlebih dahulu buat yang mengatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur merupakan sikap terbaik pada qadha Allah terhadap diri kita saat ini. Sehingga apa pun yang terjadi dalam benak kita yang ada hanyalah Kasih-Nya. Saya mengisahkan sebuah cerita tentang gelas yang terisi setengah yang saya ambil dari buku dengan judul yang sama. Bagi orang yang beriman pada Qadha dan Qadar Allah yang terlihat adalah gelas yang terisi setengah. Bagi yang mengingkari-Nya akan terlihat kosong setengah. Yang terlihat adalah kekurangan dan segala hal yang belum kita dapatkan. Sehingga hati menjadi sesak. Yakinlah saat berada dalam kondisi ini, maka Azab Allahlah yang akan kita dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ketidakpuasan saat menjadi mahasiswa saya uraikan. Ah...mengapa saya menjadi mahasiswa STFB dan bukan mahasiswa PTN Pavorit? Kenapa saya tidak memiliki orang tua kaya dan punya kedudukan? Kenapa wajah saya tidak secantik/seganteng saudara saya? Kenapa masalah selalu menghampiri saya? dan banyak pertanyaan lagi yang muncul. Padahal Allah sudah memberikan kesempatan hingga bisa duduk di kursi mahasiswa disaat orang lain kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih bisa mendengar, jantung yang masih berdetak, nafas yang masih berhembus...sehingga kalau diurai satu persatu betapa banyak nikmat yang telah diberikan-Nya. Hanya beberapa hal saja belum kita dapatkan, namun kekurangan inilah yang menjadi fokus kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qadha merupakan ketentuan Allah terhadap sesuatu pada waktu terjadi. Qadha saat ini mahasiswa yang ada dihadapan saya merupakan mahasiswa STFB yang tentunya sudah melewati tahap-tahap yang tidak mudah dimulai dari waktu, tenaga, pikiran dan tentunya uang yang tidak sedikit. Karena SPP S3 di UIN Bandung tidak semahal SPP S1 di STFB. Saat Qadha ini menyapa, apakah mensia-siakan begitu saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saat berbicara mengenai Qadar atau ketentuan Allah sejak jaman azali apakah memang hanya dua pilihan? Sukses atau gagal? Iman atau Kufur? Hitam atau Putih? padahal Qadar tentang sukses ditentukan Allah dengan sangat banyak, demikian dengan gagal. Kegagalan juga tidak hanya memiliki satu dimensi, berbagai macam dimensi gagal. Untuk menentukan taqdir mubrom yang akan kita pilih maka ada takdir mualaq. Taqdir yang berkaitan dengan kausalitas. Tadir yang terkait dengan kasab manusia/usaha manusia untuk mencapai taqdir tersebut. Sehingga sebenarnya Taqdir Mubrom bisa kita pilih sesuai rumus Taqdir mualaq yang kita tentukan. Kita adalah apa yang kita yakini/imani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian ini saya sampaikan dengan sebelumnya melakukan simulasi hipnosis bagaimana sikap kita saat berada dalam sebuah kondisi yang gelap gulita tanpa sebuah cahaya apa pun. Saat menyampaikan berkali kali hati saya berteriak "kamu belum sepenuhnya melakukan apa yang kamu katakan. Kemarin kamu sempat marah tidak karuan dan orang yang memiliki kuasa lebih lemah dari kamu jadi sasaran".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya saya sempat mengekspresikan kemarahan saya saat perempuan korban diterlantarkan. Tapi bukankah itu baik?. Iya tapi tidak mesti dengan marah. Karena sebenarnya inti dari kemarahan itu bukan pada hal tersebut. Saya merasa marah karena diperlakukan tidak adil. Semula saya merupakan konsultan Agama di lembaga tempat saya bekerja. Sekarang saya menjadi staff divisi advokasi yang menangani seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di seluruh  Jawa Barat. Saya memimpin staff yang lain dan relawan untuk penanganan semua kasus. Tapi selalu diribetkan dengan urusan kordinasi dengan Ketua Divisi dan Pengurus yang lain karena merekalah yang berhak bersuara. Saya hanya punya hak melakukan penanganan. Ketua Divisi saya seorang akademisi yang super sibuk sehingga tak memiliki waktu untuk mengkordinasikan penanganan. Sehingga tanggung jawab itu ada pada pundak saya. Namun hak saya tentu berbeda karena hanya seorang staff. Banyak hal yang saya rasa hal itu merupakan marginalisasi terhadap saya sehingga membuat saya merasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya urai dan ahirnya tersenyum. Ah...betapa saya resah hanya karena jarang diutus mewakili lembaga untuk beberapa kegiatan yang artinya pendapatan dan relasi juga tidak sebanyak mereka yang diutus. Saya disibukan dengan berlelah-lelah mendengarkan perempuan-perempuan korban konsultasi, home visit, kordinasi dengan kot/kab untuk pemulangan dan berbagai teknis lainnya yang tidak dikerjakan oleh pengurus yang lain namun tidak ada bayarannya karena termasuk tugas rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo...kamu yang meyakini bahwa Allah sebagai Rabb...maha pemberi rizqi, maha pencipta dan maha pendidik, kenapa kamu resah dengan hal sekecil itu? Ikhlaslah....biarkan Allah yang memberikan penilaian. Inilah kawah candradimuka yang akan membuat kamu besar. Pengalaman yang ada dihadapan saat ini adalah pengalaman langka, belum tentu terjadi pada orang lain. Kamu selama ini sudah dibekali dengan wacana filsafat dan kesetaraan gender, tentu akan berbeda hasilnya dengan orang yang hanya melakukan saja tanpa mampu berefleksi. Allah sebagai Rabb punya maksud terbaik dengan kondisimu saat ini", suara hati saya mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...kembali saya tersenyum. Insya Allah saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Qadha Allah yang menimpa saya saat ini merupakan akibat dari taqdir muallaq yang saya jalani. Saya sudah memilih jalan ini. Semoga Taqdir mubrom yang akan menimpa saya kelak merupakan taqdir yang indah sesuai dengan keinginan-Nya. Rugi rasanya bila hati ini dikotori oleh hal kecil yang tidak akan menyelamatkan saya dihadapan-Nya. Rasanya nikmat-Nya sangat banyak bahkan tak sebanding dengan amal-amal yang saya lakukan selama ini. Terimakasih Rabb...semoga saya bukan sebatang lilin yang mampu menyinari sekitar namun membakar diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4252912218338472397?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4252912218338472397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/digugu-dan-ditiru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4252912218338472397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4252912218338472397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/digugu-dan-ditiru.html' title='Digugu dan Ditiru'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4621994760425014252</id><published>2011-11-04T12:42:00.002+07:00</published><updated>2011-11-04T13:58:37.021+07:00</updated><title type='text'>Pada Sebuah Elp</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bis dan elp menunggu di perempatan Garut untuk mengantarkan saya sampai di Bandung. Bis ekonomi terlihat masih kosong, sedangkan elp sudah terisi sebagian. Supir elp yang berkacamata hitam terlihat keren dari jauh. Masih muda dengan postur tubuh yang tinggi dan berkulit hitam manis. Saya bingung akan menaiki apa, apakah naik bis yang tua? atau menaiki elp yang masih terlihat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman naik bis yang sudah tua merupakan hal yang kurang menyenangkan. Selain rupanya yang sudah tidak karuan, tenaganya juga kadang lemah sehingga saat tanjakan saya harus menahan nafas karena deg-degan, apakah bis ini bisa melewatinya atau tidak.  Padahal perjalanan Garut-Bandung sangat curam apalagi musim hujan. Ahirnya saya memutuskan untuk naik elp karena tawaran kondektur yang mempersilahkan saya duduk di depan di samping supir. Saya duduk berdua dengan seorang ibu separuh baya yang baru saja menengok kakaknya yang sedang sakit. Kata dokter yang merawat, kakaknya mengalami pecah pembuluh di otak karena selalu memendam masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan saya ditemani lagu nostalgia tahun 90an. Lagu-lagu ini populer saat saya SD. Bahkan mungkin ada beberapa lagu yang populer sebelum 90an. Saya agak heran dengan sang supir kenapa memilih lagu ini, karena kalau melihat penampilan sepertinya usianya baru memasuki usia 20an. Oh, mungkin dia ingin menghibur penumpang yang kebanyakan memang ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menaiki elp Garut-Bandung baru kali ini saya lakukan lagi setelah tahun 2004. Saat menaikinya saya mencoba untuk duduk serileks mungkin. Beberapa tempat saya tandai dan mengingat peristiwa apa saja yang pernah terjadi di tempat itu. Garut adalah kota yang penuh kenangan. 2004 lalu untuk pertama kali saya mengunjungi Garut seorang diri tanpa ditemani keluarga. Mencari rumah dosen pembimbing tesis yang sulit ditemui karena aktifitasnya di tarikat. Rumah beliau terletak di tengah sawah yang terhampar luas. Rumah panggung berbilik bambu dan beratap jerami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya sampai ke rumah dosen pembimbing, saya tersesat sampai ke perkebunan teh Cikijing garut. Ini terjadi karena Tata Usaha Pasca IAIN Bandung keliru memberikan alamat. Sehingga beberapa tempat di Garut sempat saya jelajahi. Panduan yang saya punya hanya no kontak sang dosen. Ahirnya dengan berganti-ganti angkot dan ojek, sampailah saya di tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah panggung yang cukup menampung sekitar 100 orang, saya disambut oleh seorang perempuan yang bersahaja. Perempuan ini memancarkan keteduhan dan kelembutan seorang ibu. Pancaran matanya yang ramah dan senyum yang selalu tersimpul membuat saya nyaman. Saat dipersilahkan duduk dan diberi teh hangat, pandangan mata saya arahkan ke sekililing rumah lalu saya berkata "waah nyaman sekali rumahnya bu...sejauh mata memandang yang tampak hanya sawah...saya bisa betah disini apalagi kalau botram dengan teman-teman tentu asyik". Ibu ini tersenyum dan berkata "memang di sini sangat nyaman apalagi kalau dipake untuk terus berdzikir kepada Allah". Mendengar perkataanya saya menjadi malu, saat melihat pemandangan yang indah pikiran saya refleks ke makanan yang sangat fisik. Perkataan ibu ini seolah menjadi nasihat untuk saya saat itu.  Beliau meminta saya menunggu karena suaminya belum selesai berdzikir katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu sekitar 20 menit, dosen saya langsung menghampiri dan meminta tesis yang sudah saya tulis. Beliau langsung menandatangani tanpa sedikitpun bertanya apa dan bagaimana kelanjutan bimbingan dengannya selama ini. Setelah ditandatangan dia hanya menanyakan kapan saya akan sidang tesis? Saya menjawab kalau tidak ada halangan awal bulan Juni ini. Dia mendo'akan agar saya melaluinya dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang saya alami di rumah dosen tersebut sangat berkesan. Tak sia-sia saya harus tersesat dan berganti-ganti angkot kalau hasilnya seperti ini. Tidak hanya tandatangan saja yang didapatkan, saya juga mendapat pencerahan hidup. Sebuah pencerahan dimana kedekatan pada Allah akan membuat seseorang lebih bahagia dalam hidupnya. Suami dan istri yang memiliki visi dan misi yang sama melengkapi kebahagiaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang berkelebat sepanjang perjalanan di elp tadi. Peristiwa tujuh tahun lalu yang kembali terulang hari ini. Naik elp yang ditemani musik nostalgia duduk di samping supir yang keren. Ah...terimakasih atas pegalaman hari ini Rabb...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4621994760425014252?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4621994760425014252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/pada-sebuah-elp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4621994760425014252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4621994760425014252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/pada-sebuah-elp.html' title='Pada Sebuah Elp'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8609500158983049145</id><published>2011-11-03T04:21:00.003+07:00</published><updated>2011-11-03T04:40:24.077+07:00</updated><title type='text'>Menuju Garut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersiap menuju Garut untuk menjadi fasilitator dalam sebuah pelatihan. Kesibukan ngajar dan mendampingi perempuan korban membuat saya sedikit memiliki waktu untuk mempersiapkannya. Beruntung, malam ini beberapa bahan sempat saya persiapkan. Semoga saya bisa menjadi fasilitator yang baik kamis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi Islam dan Gender memang bukan hal yang asing buat saya. Empat tahun sudah saya mengajar mata kuliah ini. Selain saya juga beberapa kali jadi pembicara untuk tema ini. Tulisan yang saya buat selama ini tidak pernah jauh dari tema tersebut. Namun karena ini betul-betul sebuah pelatihan untuk 30 guru SMA/SMK/MA ada perasaan was was bisakah saya menjadi seorang faslitator masih menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini sebelum berangkat saya mencoba menghipnosis diri bahwa saya akan mengalami hal yang menyenangkan hari ini. Saya merasakan kebahagiaan saat peserta bisa saya kondisikan sehingga menjadi forum menjadi forum yang kondusif sehingga target pelatihan bisa tercapai.  Ah semoga Allah memberikan pertolongan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal praktek ibadah kembali saya pindahkan. Untuk urusan kantor juga saya minta izin tidak masuk. Har jum'at besok saya kembali mempersiapkan diri menyelesaikan beberapa yang saya tunda hari ini. Semangaat semoga kemudahan menyertai saya!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8609500158983049145?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8609500158983049145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/menuju-garut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8609500158983049145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8609500158983049145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/11/menuju-garut.html' title='Menuju Garut'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3806001778161219712</id><published>2011-10-31T21:42:00.002+07:00</published><updated>2011-10-31T22:47:03.387+07:00</updated><title type='text'>Ya Rasulullah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujan deras mengguyur Bandung malam ini. Tapi tetap saja udara panas enggan keluar dari kota kami. Bandung terletak pada sebuah cekungan yang dikelilingi oleh gunung. Saya kurang mengerti penjelasan dari ahli tentang hal ini. Sebenarnya saya sudah membaca kenapa suhu di Bandung semakin panas cuma lupa. Kenapa lupa?  karena banyak istilah yang tidak dipahami. Pokoknya kesimpulannya karena Bandung terletak pada sebuah lembah/cekungan, sehingga udara tidak bisa leluasa untuk keluar masuk. Udara panas terjebak di sini. Kenapa udara panas yang ada? karena suhu udara laut bagian mana gitu yang berhembus ke Bandung memang panas. Ya pokoknya gitu deh...kurang paham saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya bertekad untuk menyelesaikan artikel saya yang akan saya kirimkan. Pokoknya pagi ini harus dikirimkan. Persoalan dimuat atau tidak bukan urusan saya. Pokoknya saya sudah berani mengirimkan ke media yang lumayan di Bandung ini. Sebenarnya saya sudah menemukan benang merahnya dan memetakan mind map yang saya tentang sebuah persoalan yang saya pikir cukup aktual. Namun entahlah pokoknya semangat malam ini harus selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir kopi sudah dibuatkan suami untuk saya. Dia sangat mendukung cita-cita saya untuk jadi penulis yang baik. Support dan do'anya tidak akan saya sia-siakan. Kadang dia seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya. Kadang juga seperti seorang kekasih dengan rayuan mautnya hehe. Kadang juga seperti ayah saya yang suka nyuruh-nyuruh seenaknya. Terlebih nyuruh saya untuk menyimpan sesuatu pada tempatnya dan beres-beres. Padahal dari dulu saya paling sembarangan dalam hal menyimpan barang-barang apalagi beres-beres. Kadang juga dia seperti adik saya yang manja gak karuan. Oke aja deh...mau berperan jadi apa asik aja yang penting gak bosenin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sepanjang jalan sebenarnya saya mengalami kesedihan yang sangat terkait iman saya. Seharian saya berbicara tentang Ma'rifaturrasul kepada mahasiswa. Namun diri saya masih jauh dari berma'rifat kepada rasul. Ya Ibrahim...ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Ya Ismail ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela mengurbankan dirimu disembelih oleh ayah yang baru saja engkau temui. Ya Hajar...ma'rifat seperti apa yang engkau miliki sehingga engkau rela permata hatimu disembelih oleh ayahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata saya berjatuhan saat menaiki jalan layang menuju kiara condong tadi siang. Dalam hati saya mengucapkan kalimah talbiah. Labbaik Allahumma labbaik...labbaika la syarika laka labbaik...Inna hamda wa ni'mata wa mulka la syarika laka. Pengorbanan apa yang saya lakukan untuk-Nya? Keegoan saya masih sangat besar. Saya masih belum mau mengorbankan apa yang saat ini sudah ada dalam genggaman. Padahal semua itu hanya titipan belaka. Terbukti betapa saya tidak bisa seperti kuda yang berlari kencang dalam mengejar ridha-Nya. Pertimbangan rasio saya, seculi ilmu yang saya miliki, anak-anak dan suami...semuanya menambat diri saya sehingga tidak maksimal mengabdi pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah semoga shalawat tercurah padamu dan keluargamu. Saya ummatmu yang ingin berma'rifat padamu. Sehingga tidak hanya memahami fungsi dan peran kerasulanmu di muka bumi. Tapi saya mau tunduk patuh sepenuhnya. Bisakah? materi yang saya sampaikan ke mahasiswa saya buat tiga tahun lalu. Saat itu saya masih sepenuhnya 'patuh'. Hari ini saya merasa apa yang saya yakini bergeser...dan itu menorehkan luka yang cukup dalam di hati saya. Ilmu dan rasio saya menyangkal sedangkan rasa saya masih ada disitu. Sakit rasanya menyampaikan sebuah keyakinan sedangkan hati saya berperang sangat hebat saat menyampaikannya. Saya mencoba menekan sedemikian rupa di depan mahasiswa. Memisahkan rasa dan rasio dan menyampaikan apa yang sudah sata tulis di hand out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahanan saya jebol. Saya menangis ya Rasulullah...menangis cukup deras tadi siang. Teringat  kisah engkau yang memanggil-manggil ummatmu saat hendak bertemu  dengan-Nya. Namun apakah saya pantas menjadi ummatmu? sementara saya  masih seperti ini. Terlena dengan dunia dan kadang masih resah saat  orang lain menilai dengan sebelah mata. Wahai kekasih Allah...izinkan saya bisa berma'rifat padamu...dengan tanpa sebuah keraguan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3806001778161219712?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3806001778161219712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ya-rasulullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3806001778161219712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3806001778161219712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ya-rasulullah.html' title='Ya Rasulullah'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-2308896302924007552</id><published>2011-10-29T13:03:00.003+07:00</published><updated>2011-10-29T13:52:57.099+07:00</updated><title type='text'>Bersih-bersih dulu ah....</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kamar mandi kami yang berwarna putih sepertinya sudah kembali tersenyum. Sabtu ini saya sudah menggosok semuanya dengan kasih. Betul-betul saya pastikan tak ada noda yang hinggap di tubuh kedua kamar mandi tersebut. Setelah itu dengan penuh cinta pula saya mencuci baju semua anggota keluarga. Pakai mesin cuci sih, cuma untuk baju anak-anak saya tetap harus menyikatkan karena pada bagian tertentu mesin cuci tak mempan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain lap di rumah saya razia. Seprai dan sarung bantal juga jadi sasaran. Semua saya kumpulkan dan cuci dengan bersih. Saya hari ini beres-beres dengan penuh semangat. Saya sedang mensyukuri nikmat karena diberikan kesembuhan dari flu yang tiga hari kemarin menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum beres sebenarnya rumah kami. Beberapa hal harus ada yang dibenahi. Tapi tak apa, saya masih punya hari minggu untuk menyelesaikannya. Sekarang saya pengen online sambil nulis apa saja yang terjadi hari ini. Agak lelah sih...tapi dinikmati aja. Semoga jadi pahala. Makan mangga dulu ah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dapat kiriman mangga dari mertua. Mangga yang langsung dipetik dari kebun. Mangga yang memang betul-betul matang di pohon sehingga rasanya mantap. Selama saya membeli mangga, di pasar atau di supermarket, belum pernah saya merasakan mangga seenak mangga kiriman mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertua saya tinggal sendiri. Suaminya sudah lebih dahulu wafat meninggalkannya dengan 5 anak yang masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 1 orang sudah menikah, 3 orang kuliah dan 1 orang lagi masih sekolah. Dia berjuang sendiri menyekolakan ke 4 anaknya sampai semua menjadi sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertua saya merupakan perempuan sederhana yang hanya lulusan SR dan pesantren. Selama 10 tahun ini saya menjadi menantunya, tak pernah sekali pun kami berselisih. Dia selalu penuh kasih terhadap para menantunya. Keikhlasannya terasakan oleh jiwa kami meski tak suka banyak bicara. Saya pernah bertanya bagaimana dia bisa membiayai ke 4 anaknya sendirian sampai bisa menjadi sarjana? padahal hanya mengandalkan uang pensiun yang tidak seberapa juga warisan yang tak banyak. Dia hanya tersenyum dan berkata bahwa Allah sebaik-baik pemberi rizqi. Kita tinggal memintanya dan berusaha jadi hambanya yang baik, pasti dia akan memberikan apa yang kita minta katanya. Jawaban yang sangat sufistik yang hanya bisa di jawab oleh orang yang sampai pada maqam ikhlas....sedangkan saya? masih banyak kotoran di hati cuma teori namun masih sulit untuk beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari ini buku Kang Jalal kembali saya baca. Setelah "the road to Allah" terutama bagian penghalang perjalanan saya baca, betul-betul  hati saya pedih. Masih banyak yang dituliskan disini saya lakukan. Takabur, ujub, riya...sum'ah...ah...terlalu banyak penyakit hati yang mengendap dalam diri ini. Rabb...tuntun Hannah untuk selalu dekat dengan-Mu. Raih...rangkul...dekap dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-2308896302924007552?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/2308896302924007552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/bersih-bersih-yuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2308896302924007552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2308896302924007552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/bersih-bersih-yuk.html' title='Bersih-bersih dulu ah....'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8182762364549133437</id><published>2011-10-28T07:25:00.006+07:00</published><updated>2011-10-28T08:44:16.571+07:00</updated><title type='text'>Kehormatan di Balik Kerudung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemarin badan saya  meriang. Agak demam, bersin-bersin dan sedikit batuk. Mungkin karena seminggu ini saya kurang istirahat. Selain juga kemarinnya saya berenang sampai magrib tiba. Sampai di rumah saya kehujanan, ahirnya kamis pagi praktis tempat tidur jadi pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya gak parah sih, saya hanya sengaja mengistirahatkan badan agar hari jum'at ini bisa lebih fresh untuk kembali beraktifitas. Ditengah istirahat, saya merengek pada suami agar menemani saya nonton sebuah filem produksi Mizan yang berjudul "Semesta Mendukung". Rayuan saya ampuh...meski dia tau saya tidak fit, tetap saja mau mengantar ke bioskop dekat rumah. Saya sebenarnya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya dan mumpung kamis siang ini dia punya waktu luang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata filem yang saya maksud sudah tidak di putar, saya agak bete sebenarnya. Biar tidak kecewa ahirnya filem "Kehormatan dibalik Kerudung" produksi Starvision jadi pilihan. Ternyata filem yang saya maksud baru akan diputar setengah jam kedepan. Ahirnya untuk mengisi waktu kami mengunjungi toko buku Tisera. Saat kami berdua membaca, tiba-tiba di rak buku best seller dia menemukan sebuah buku karangan Kristin Hannah. Suami saya menutupi nama Kristinnya dengan jarinya, dia bilang "coba baca". Saya menjawab " itu namaku". "Iya tahun depan, kalau yang saya tutupi ini dibuka maka akan terbaca NENG bukan Kristin, karena bukumu tahun depan akan ada disini" Saya tertawa mendengar guyonannya dan dalam hati mengaminkan ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filem Kehormatan dibalik Kerudung diangkat dari novel Ma'mun Affani. Filem ini mengangkat tema cinta seperti biasa dimana karena cinta setiap pecinta bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Seperti kisah Laila Majnun yang sama merindunya seperti itulah kisah tokoh utama di filem ini yaitu Syahdu yang diperankan oleh Donita dan Ifand yang diperankan oleh Andhika Pratama. Keduanya bertemu di statsiun saat Syahdu hendak mengunjungi kakeknya di Pekalongan. Pertemuan keduanya sangat singkat, namun sudah membekas begitu dalam. Bukan sekedar fisik saja yang membuat keduanya saling tertarik, namun ternyata jiwa mereka saling mengisi meski hanya dengan pertemuan singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Syahdu ke rumah kakeknya merupakan sebuah upaya untuk menenangkan diri dari segala permasalahan hidup terutama yang berkaitan dengan mantan pacarnya. Di kampung kakeknya yang sangat religius ini Syahdu ternyata bertemu kembali dengan Ifand. Takdir mempertemukan mereka kembali dan disinilah benih cinta tumbuh subur. Ifand ternyata merupakan pemuda yang disegani di kampung halamannya. Ia merupakan pemuda sholeh yang menjadi dambaan setiap gadis, termasuk seorang gadis sholehah yang menjadi kembang desa yaitu Shofia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdu yang terbiasa bergaul terbuka dengan lawan jenis menjadikannya selalu intens mengunjungi Ifand. Interaksi keduanya menjadi gunjingan masyarakat kampung dan membuat gerah kakek neneknya. Kakeknya ahirnya memberikan ultimatum agar Syahdu meninggalkan rumahnya. Syahdu meninggalkan kampung halaman kakeknya, namun cintanya pada Ifand sudah begitu kuat terhunjam demikian pula dengan Ifand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali dari rumah kakeknya, ternyata ibu Syahdu sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan. Syahdu yang sudah tidak memiliki ayah ini, ahirnya dengan terpaksa menerima lamaran mantan pacarnya dengan mahar biaya untuk pengobatan ibunya. Mendengar kabar Syahdu sudah menikah, Ifand merasakan pukulan  yang teramat hebat. Ia menjadi sosok yang pemurung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pernikahan Syahdu dengan suaminya tidak berjalan dengan baik. Rasa cintanya pada Ifand sudah membuat amarah suaminya dan memancingnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Ahirnya pernikahan mereka berantakan dan Syahdu bercerai. Setelah bercerai ternyata Syahdu mendengar kabar bahwa Ifand menikah dengan Sofia. Kabar ini laksana halilintar yang menyambar Syahdu dan menjadikan hidupnya laksana daun kering yang tak berarti. Badan Syahdu semakin kurus dan tak memiliki semangat untuk hidup lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratih adik Syahdu merasa sedih dengan kondisi ini, ahirnya ia memutuskan untuk menyurati Ifand. Ifand meminta izin kepada istrinya Sofia untuk mengunjungi Syahdu. Sofia dengan kebesaran hatinya mengizinkan Ifand menengok Syahdu. Saat Ifand mengujungi Syahdu, Sofia membaca surat yang ditulis Ratih untuk Ifand. Sofia merasa sangat prihatin dengan kondisi Syahdu dan mengizinkan keinginan Syahdu untuk tinggal bersama mereka bila itu menjadi sesuatu yang menyembuhkan Syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalnya Syahdu dengan Ifand dan Sofia telah memancing masyarakat untuk membicarakannya sebagai sesuatu yang tidak pantas. Untuk meredam masyarakat, ahirnya Sofia meminta Ifand untuk menikahi Syahdu. Menikahnya Ifand dan Syahdu yang disaksikan oleh Sofia ternyata tidak membuat masalah selesai. Justru setelah pernikahan ini Syahdu dilanda cemburu yang sangat hebat terhadap Sofia. Saking cemburunya, Syahdu bertengkar dengan Ifand dan ahirnya ia nekat pulang ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta yang ditumpangi Syahdu mengalami kecelakaan. Nama Syahdu tertulis sebagai korban meninggal akibat kecelakaan itu. Setahun setelah kecelakaan, Sofia bermimpi terus tentang Syahdu. Ia ahirnya meminta izin kepada Ifand untuk mengunjungi rumah Syahdu. Ternyata Syahdu masih hidup dan memiliki anak dari Ifand dan dinamai sama dengan nama ayahnya. Syahdu saat ditengok oleh Sofia dan Ifand sedang dalam kondisi kritis akbat kanker rahim setelah melahirkan anaknya. Sesaat setelah kedatangan mereka berdua Syahdu menghembuskan nafas terahirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan gambar filem ini sangat bagus. Pemandangan yang disuguhkan dalam setiap adegan begitu indah. Alam perkampungan pekalongan yang asri. Rumah syahdu yang berada di puncak gunung begitu eksotis. Berbanding terbalik dengan cerita yang di suguhkan begitu klise dan tak memiliki konflik yang berarti. Alur cerita yang monoton ini membuat saya kurang menikmatinya. Apa pesan dari filem ini? Bagian mana yang menjawab kehormatan di balik kerudung? Apakah pada sosok seorang Sofia? Ah...terlalu naif sepertinya kalau semua perempuan berkerudung bermental seperti itu. Sosok Syahdu? Perempuan yang mengutamakan cinta pada seorang manusia yang bernama Ifand sampai dia melupakan segala-galanya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya belum bisa mengerti kalau seorang manusia bisa menomor satukan manusia yang lain karena mencintainya. Bagaimana dengan Tuhannya? Bukankah perintahnya untuk menafikan 'yang lain' selain Dirinya. Kerudung adalah lambang perempuan muslimah yang baik. Kenapa ditampilkan dengan dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama yang notabene hanya manusia. Sehingga untuk laki-laki yang dicintainyalah mereka memiliki alasan untuk hidup bahkan siap menderita. Absurd saya pikir. Saya tidak mau menderita hanya kerena manusia. Itu sebuah tirani. Relasi istri dengan suami bukan relasi pengabdian. Pengabdian hanya pada Tuhan. Keduanya mengabdi pada sang pencipta. Bukan pada pasangan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8182762364549133437?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8182762364549133437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/kehormatan-di-balik-kerudung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8182762364549133437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8182762364549133437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/kehormatan-di-balik-kerudung.html' title='Kehormatan di Balik Kerudung'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3503387523306065726</id><published>2011-10-26T22:12:00.003+07:00</published><updated>2011-10-26T22:57:41.494+07:00</updated><title type='text'>Ngehayal yuk...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padang rumput hijau terhampar luas. Kilauan embun bertaburan disentuh sang mentari. Udara sejuk memenuhi rongga dada. Duduk pada sebuah kursi goyang rotan ditemani beberapa novel pavorit. Di samping kanan segelas susu dan beberapa potong buah tersedia. Tak berfikir tentang pekerjaan. Tak berfikir tentang keluarga. Tak berfikir tentang apa pun melainkan hanya ingin menikmati saat itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rambut panjang saya tergerai bebas dicumbu angin. Bunga biru kecil menghiasi gaun putih yang saya pakai.  Gaun panjang sederhana dengan model rok yang lebar. Sendiri dan sunyi begitu menyenangkan hati. Lembar-demi lembar kisah novel mengajak imajinasi saya berkelana. Melompat dari satu situasi ke situasi yang lain. Merangkai tanya menjawab segala keingintahuan akan dunia. Ah...betapa menyenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor kuda putih ditambatkan pada sebuah pohon tak jauh dari tempat saya duduk. Setelah membaca beberapa novel saya menghampirinya dan mengajak si putih untuk mengitari padang rumput. Di awali dengan berjalan perlahan, kemudian saya memacu si putih berlari kencang. Gaun saya berkibar, rambut saya menari mengikuti gerak si putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkeliling mengitari padang rumput yang berbatasan dengan sebuah hutan kecil.  Hutan yang hijau dan ranum. Hutan yang dibelah oleh sungai jernih berbatu. Saya berhenti sejenak untuk mempersilahkan si putih minum sambil memperhatikan ikan-ikan kecil di dasar sungai. Mereka bergerombol di sela-sela batu. Kilau keperakan memantul saat beberapa ikan membalikan badannya. Saya membasuh muka dengan air sungai yang jernih sambil meminumnya. Kemudian melanjutkan lagi perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang selalu saya bayangkan saat terjebak macet dan memburu waktu untuk sampai di tempat yang dituju. Saya tarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum. Saya bayangkan rasa bahagia saat saya berada dalam situasi di atas. Sangat nyaman membuat aliran darah saya kembali normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa rileks dan nyaman, meski suara klakson terus dibunyikan oleh mobil dan motor di sekitar saya. Meski harus menunggu lama pintu kereta api karena ada dua kereta berlawanan arah yang akan lewat. Meski saya tau jarak yang harus saya tempuh masih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya saat mengalami macet saja saya membayangkan cerita di atas. Saat mengkondisikan akan belajar saya juga sering membayangkannya. Saya yakin suatu saat nanti kondisi ini akan saya alami.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3503387523306065726?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3503387523306065726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ngehayal-yuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3503387523306065726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3503387523306065726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ngehayal-yuk.html' title='Ngehayal yuk...'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7417775484064778752</id><published>2011-10-25T20:07:00.003+07:00</published><updated>2011-10-31T16:00:59.986+07:00</updated><title type='text'>Loe Percaya Gue Juga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam sebuah relasi apa pun. Apakah relasi yang sangat personal maupun relasi sosial. Pada saat seseorang/sekelompok orang mempercayai kita, hal ini merupakan sebuah tanggung jawab untuk bisa memegang amanah terkait kepercayaan yang diberikan. Saat amanah mampu dijalankan dengan baik, maka kepercayaan akan bertambah demikian sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak yang dididik dengan kepercayaan dari orang tuanya, akan tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri dan bertanggung jawab. Sebaliknya jika dari awal pertumbuhannya seorang anak selalu dikhawatirkan segala sesuatunya, maka itulah yang terjadi. Dalam proses mendapatkan kepercayaan, tentu setiap orang melakukan banyak kekeliruan dan kekurangan. Namun berkat kepercayaan yang positif terhadapnya, sedikit demi sedikit perbaikan akan terus dilakukan dan pada ahirnya akan memuaskan pihak yang sudah mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa hari ini saya menuliskan tentang kepercayaan? ternyata dalam hidup yang saya jalani ini hal inilah yang sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang. Berhasil dalam apa? dalam hal apapun. Apakah dalam sebuah pernikahan?Apakah dalam sebuah proses mendidik anak? Apakah dalam sebuah perjalanan hidup menuju hal yang lebih baik lagi. Kepercayaan menjadi penentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegel juga ya nulis dengan serius kayak gini. Pokoknya gitu deh. Saya melihat efek positif sebuah kepercayaan pada anak saya. Ketika saya selalu beri dia sugesti positif bahwa dia mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Saya apresiasi apapun hasil yang diperolehnya, ternyata dia bisa semakin baik prestasinya. Dia terlihat sangat bahagia saat saya percaya padanya. Kepercayaan dirinya mucul sedikit demi sedikit. Semoga terus berproses menjadi lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan yang saya rasakan. Saya merupakan tipe orang yang agak sulit larut dalam sebuah komunitas. Biasanya di awal saya merupakan seorang pengamat. Selama saya tidak merasa aman dengan komunitas tersebut, biasanya saya tidak membuka diri. Saya hanya akan bersikap seperti spons yang menyerap berbagai informasi dan ilmu tanpa bermaksud mengembangkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya berkenalan dengan Rahima sebuah organisasi yang ingin menjadi gerakan sosial tahun 2008, saya pernah menjadi seorang relawan LSM lokal di Bandung, disana saya bersikap seperti spons dan tidak mengembangkan diri. Saya tau itu terjadi karena saya tidak dipercayai sepenuhnya dan saya merasa tidak nyaman dan aman berada di sana.Tiga tahun saya bertahan dan ahirnya memutuskan keluar karena kapasitas saya tidak berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahima yang saya rasakan selalu memberikan kepercayaan kepada saya untuk melakukan banyak hal. Mulai dari menulis, padahal saya belum menjadi penulis dan belum terbiasa menulis. Rahima sebelumnya sudah membekali saya dengan materi tentang penulisan dan menghadirkan seorang penulis perempuan nasional yang berbakat. Saya terinspirasi dan semangat untuk menulis meski baru catatan harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pada sebuah event nasional saya diminta berbagi pengalaman tentang penulisan. Audiens event tersebut adalah orang-orang yang saya kagumi tulisannya. Mulai dari Cicik Farkha, Nurjannah Ismail, Kamala Chandra Kirana, Helmi Ali, Kiai Husain Muhammad, Beberapa aktivis perempuan yang tulisannya kerap mengisi berbagai rubrik berkualitas di beberapa jurnal perempuan. Bahkan dosen saya seorang Ph.D yang menjadi rujukan dan menularkan virus Gender menjadi audiensnya. Nekat!!! Gila!!! tapi itulah Rahima. Memberikan support penuh sehingga tantangan kepercayaan itu saya ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kepercayaan dari Rahima terus mengalir. Kapasitas saya sedikit demi sedikit berproses menjadi lebih baik lagi. Tulisan saya kini bisa mejeng di beberapa koran, jurnal, blog pribadi dan komunitas. Masih banyak kekurangannya. Masih harus banyak yang diperbaiki. Namun selama kepercayaan itu masih ada, saya ingi bertanggung jawab melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya terlibat di sebuah lembaga pemberdayaan perempuan milik pemerintah.  Ini terjadi karena saya meneliti untuk kepentingan studi saya di sana. Saya masih bersifat seperti spons...menyerap dan terus menyerap. Saya merasa tidak aman dan nyaman karena sangat politis dan hirarkis. Saya merasa tidak percaya karena saya juga tidak dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya selama mereka tidak percaya kepada saya jangan harap saya percaya kepada mereka. Terus terang kalau studi ini beres saya ingin segera angkat kaki dari sana. Tidak nyaman rasanya berada di sana. Banyak hal lain yang bisa saya lakukan untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Untuk bisa berproses lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan relasi personal? Kepercayaan antara kami sebagai suami-istri semakin tumbuh kokoh. 10 tahun perjalanan ini kami jalani. Awalnya hanya sebuah kepercayaan bahwa kami berniat sama untuk bisa menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah. Benih itu kami tanam, sirami, dipupuk dan dirawat dengan sebaiknya. Meski kekurangan materi pernah kami alami. Meski berbagai kesulitan pernah menghadang, kami saling mempercayai dan saling membantu satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaannya pada saya dan sugesti positif yang selalu diberikan membuat saya bisa tumbuh seperti ini. Jiwa saya semakin sehat dan terus ingin bersyukur. Padahal dulu saya termasuk orang yang sulit dengan hati yang selalu penuh curiga dengan orang lain. Membuat muka saya terlihat kaku dan ditekuk dan membuat saya terlihat jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belahan jiwa yang saat ini sedang tertidur pulas disamping saya selalu memberikan pujian bahwa saya cantik. Padahal di awal menikah sama sekali saya tidak merasa cantik. Pujian dan kepercayaannya membuat saya merasa cantik. Entah kenapa lingkungan sekeliling ikut-ikutan memberikan penilaian yang sama. (Geer.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya kesulitan mengerjakan sesuatu, dia selalu memotivasi dan mempercayai saya bahwa saya bisa. Karena menurutnya tak ada yang mustahil di muka bumi. Saat saya melakukan sesuatu tidak maksimal jangan pernah merasa kecil hati. Demikian halnya pada saat saya bisa mengerjakan sesuatu jangan pernah merasa karena andil pribadi ada Allah disana. Nasihat yang selau saya pegang darinya adalah "Pujian dari orang lain tidak akan membuat saya mulia di hadapan Allah, hinaan dari orang lain tidak akan membuat saya hina dihadapan Allah." Ya hanya dialah sebaik-baik penilai dan yang sangat berarti adalah ketaqwaan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya diberikah hadiah yang sangat indah. Sesuatu yang sudah sebulan ini saya pikirkan dan tidak sedikitpun saya komunikasikan dengannya. Ternyata semesta mendukung. Allah menyampaikan keinginan saya. Terimakasih atas segalanya terutama kepercayaan yang membuat saya tumbuh semakin baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7417775484064778752?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7417775484064778752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/loe-percaya-gue-juga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7417775484064778752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7417775484064778752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/loe-percaya-gue-juga.html' title='Loe Percaya Gue Juga'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-694449771083788252</id><published>2011-10-24T21:56:00.004+07:00</published><updated>2011-10-29T13:03:18.003+07:00</updated><title type='text'>Padat Semoga Bermanfaat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Air  mata menetes saat mendengar sudah tiga hari mereka mengemis makanan kepada pekerja bangunan. Apa lagi yang sebenarnya terjadi? tak punya hatikah perempuan-perempuan berjilbab lebar itu? Ajaran manakah yang mereka pahami sehingga hal itu boleh dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini memulai hari dengan ritual biasa. Meleburkan diri mempersembahkan yang terbaik untuk seluruh keluarga. Menyediakan sarapan, mengingatkan semua keperluan sekolah dan menyediakan makan siang untuk mereka. Setelah itu bersemangat masuk kelas untuk menjelaskan ma'rifatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang ngajar telfon dari kantor terus berdering menanyakan kesiapan acara untuk hari rabu. Sangat mengganggu konsentrasi mengajar, namun tetap kubiarkan karena memang harus diurusi. Mengajar dua kelas sampai pukul 11.15 kemudian menghadap pimpinan universitas tentang outbond ahir semester ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada sms masuk yang isinya begitu menusuk hati. Dampingan kami sedang kontrak 6 bulan dengan sebuah LPK dan akan berahir  mengalami pengabaian sehingga makan dengan meminta belas kasih orang. Saat mencari solusi dengan akan segera berangkat menuju tempat dampingan tiba-tiba ada pengaduan dari sebuah kabupaten yang memiliki jumlah korban terbanyak, namun Pemda nya sangat tidak bersahabat. Mereka selalu merepotkan dan ingin mempermalukan kami di forum formal. Ini masalah serius harus ditangani dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saya buka file tentang SPM terbaru dari Kemen PP-PA 2011 selanjutnya mencari tau isi UU no 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban. Saya mencoba arahkan sebuah pemahaman bahwa UU lebih tinggi kedudukannya dari sekedar SPM dan di SPM sebenarnya dalam bagian penegakan hukum perlindungan korban dan saksi merupakan urusan Polda/Polres terkait yang di hubungi oleh p2tp2a setempat sebagai simpul utama gugus tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntungnya kepala biro PP Kabupaten memiliki email dan sedang online jadi informasi yang saya cari serta solusi bisa segera tersampaikan. Segera saya menuju tempat Dampingan kami DIPERDAYAKAN ternyata ironis sekali, hanya karena dampingan kami dianggap kurang sopan berakibat pada dikucilkan mereka dari segala macam akses termasuk akses makan. Memang bukan hanya itu salah satu penyebab kemarahannya, dampingan kami merupakan perempuan bodoh buta huruf dan kurang memiliki etika, sehingga kadang mungkin memancing kemarahan. Tapi bukankah mereka sudah tau kondisi 'istimewa' dari dampingan kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bungkus nasi lengkap dengan lauknya saya bawa, sedikit uang juga saya siapkan paling tidak untuk tiga hari ini. Dihadapan mereka saya mencoba menggali informasi dan meminta untuk tidak saling menyalahkan dan mau saja diadu domba. Saya minta mereka kembali bersemangat untuk bekerja dan bersabar semoga bisa pulang karena ternyata kontraknya sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah saya pulang, pengelola LPK datang dan langsung memarahi dampingan kami. Sang pengelola yang notabene disebut akhwat oleh sesama pengurus partai dan dianggap sebagai orang sholehah ternyata mampu melempar kursi untuk mengekspresikan kemarahan kepada kedua perempuan mantan TKW bermasalah yang bodoh dan miskin. Dia yang berkerudung lebar, yang selalu memandang sebelah mata orang di luar partainya. Yang selalu membaca al-matsurat tiap pagi dan sore bisa melakukan hal itu. Kaget saya mendengarnya. Tak pernah seumur hidup saya menyaksikan hal sekasar itu dilakukan orang yang biasa berbusa-busa dengan ayat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menemui mereka masih ada satu kelas lagi yang harus saya ajar. Tepat pukul 16.45 saya selesai mengajar. Terlupa kalau perut saya sepanjang hari ini belum terisi apa pun. Maafkan saya Rabb karena lalai menjaga asupan seimbang untuk tubuh ini. Maafkan saya bila sulit menjaga berat badan tetap di angka ideal. Ya saat ini berat badan saya 3 kilo lebih rendah dari berat badan ideal perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok saya sudah sarankan para dampingan untuk kembali ke shelter kami untuk sementara sebelum mereka pulang. Semoga hal ini bisa terselesaikan dan saya siap dengan berbagai urusan yang lain. Berikan kekuatan Rabb...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-694449771083788252?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/694449771083788252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/padat-semoga-bermanfaat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/694449771083788252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/694449771083788252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/padat-semoga-bermanfaat.html' title='Padat Semoga Bermanfaat'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1998750614535515341</id><published>2011-10-23T16:18:00.004+07:00</published><updated>2011-10-26T19:52:59.416+07:00</updated><title type='text'>Blue Weekend</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Weekend ini terasa begitu singkat. Baru saja merasakan damainya hari sabtu, tiba-tiba hari minggu sudah akan berahir. Sabtu pagi kemarin saya menghabiskan waktu dengan duduk di kursi untuk membaca dan online. Saya pikir sabtu siang saya bisa menghabiskan waktu sambil tidur bersama anak-anak. Ternyata saudara saya mendadak memanggil dan membuat saya mengeluarkan keringat sampai magrib tiba karena berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, saya begitu kelelahan sehingga segera beristirahat. Istirahat saya tidak karuan karena suami yang batuk-batuk dan berisik. Entah kenapa kalau dia sakit selalu berisik. Mungkin itu upayanya mencari perhatian. Karena saya biasanya memang memberikan perhatian lebih pada anak-anak kalau sedang sakit. Ya sudahlah meski lelah saya tidak bisa begitu saya mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu dini hari saya sudah bergegas menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sebenarnya ingin sekali tetap tinggal di balik selimut hangat bersama suami dan anak-anak. Saya pandangi wajah mereka satu persatu dan membetulkan letak selimut mereka. Semoga apa yang saya lakukan ini bisa bernilai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke rumah agak siangan. Alhamdulillah sekitar dua jam saya bisa tidur siang. Tapi rumah sangat kotor dan becek. Anak-anak bermain air di rumah dan memasak di dapur membuat suasana jadi tidak karuan. Emosi agak terpancing terlebih anakku yang pertama beberapakali diminta sholat duhur malah terus bermain. Duh...saya harus menarik nafas menenangkan  diri untuk tidak berkelanjutan emosinya. Saya mengalihkan perhatian dengan membaca buku tentang Rabi'ah dan memposting tulisan di kompasiana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini saya membuka fesbuk dan kompasiana lalu mengisi blog ini sambil terus merenungkan kejadian seminggu ini. Semoga hidup ini berarti ya Rabb...karena waktu berjalan begitu cepat. Baru saja saya menulis dan membaca ternyata magrib sudah mau menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok saya siap menghadapi tiga kelas agama semester 1 dan membaca dua buku baru yang saya pinjam dari perpustakaan untuk menemani setiap langkah saya seminggu ini. Semoga saya bisa menghadapi esok dengan lebih baik lagi. Tidak terpancing emosi orang yang tidak produktif dalam hidupnya yang hanya menjadikan kekayaan dan gaya hidup sebagai aset utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah saya yang selalu ingin sederhana dalam hidup. Bagi saya kebahagiaan yang sejati saat saya bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluarga saya. Saat saya bisa sering menghabiskan malam-malam berdua dengan-Nya. Saat saya membaca buku setiap hari mengisi sela pada setiap aktifitas harian. Saat memiliki ide untuk menuliskan pikiran saya dengan mengalir. Saat saya bisa mendampingi langsung perempuan yang menderita. Saat saya menikmati indahnya gemericik air terjun, hutan...padang rumput yang luas serta sawah....itu sebuah kenikmatan...tak perlu melihat mall...tak perlu berganti-ganti baju...tak perlu berganti sepatu...tak perlu berganti mobil...tak perlu berganti tas...apalagi berganti pasangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1998750614535515341?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1998750614535515341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/blue-weekend.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1998750614535515341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1998750614535515341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/blue-weekend.html' title='Blue Weekend'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-2544298541183159417</id><published>2011-10-20T12:13:00.003+07:00</published><updated>2011-10-20T13:49:25.351+07:00</updated><title type='text'>Debar Gak Karuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siang ini debar jantung belum berpacu seperti biasa. Sedikit kencang dengan suhu badan yang sepertinya agak meningkat. Penyebabnya  belum saya ketahui dengan pasti. Apakah karena tadi nyetir sendiri dan memacu adrenalin karena belum terbiasa? Apa karena tadi pagi saya minum segelas kopi? Atau karena suhu Bandung yang memang belakangan ini meningkat dengan tajam? Entahlah namun yang pasti saya merasakan debaran yang agak meningkat saat ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini saya berencana akan sampai magrib di kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Membuat naskah akademik perjalanan ke Riau Kepulauan, teknikal meeting untuk sosialisasi Anti KDRT dan Traffiking bagi 200 mahasiwa se-Bandung raya, membuat TOR lengkap pelatihan Korban Trafiking awal November ini, TOR Pelatihan Penanganan Korban bagi pengurus P2TP2A Se-Jawa Barat. Untuk urusan anak-anak sudah saya persiapkan dan delegasikan. Pulang dari kantor suami siap menjemput saya jam 8 malam. Ah...semoga bisa memaksimalkan pekerjaan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan saya masih terasa tidak nyaman, uppss sudah pukul 13 lebih ternyata saya belum makan. Mungkin ini penyebab utama kenapa badan saya tidak enak. Capcay goreng pedas sudah saya pesan untuk makan siang kali ini. Semoga setelah makan saya bisa kembali konsentrasi menulis tugas yang belum saya selesaikan. Ya sikap positif dan perasaan enjoy harus saya internalisasikan agar keluarnya dari rumah untuk bekerja bisa bernilai dan tetap membuat saya sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan adalah anugerah yang tak tenilai harganya. Mencegah lebih baik dari mengobati katanya. Artinya saya harus makan dengan teratur dan sehat. Makan diniatkan sebagai ibadah agar memiliki energi yang cukup melakukan aktifitas. Betul saja saat sudah makan kepala jadi ringan tubuh kembali segar...ternyata debar gak karuan  terjadi karena kelaparan...huh...dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-2544298541183159417?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/2544298541183159417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/debar-gak-karuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2544298541183159417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2544298541183159417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/debar-gak-karuan.html' title='Debar Gak Karuan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-9168976502826897234</id><published>2011-10-11T19:59:00.002+07:00</published><updated>2011-10-11T20:26:57.254+07:00</updated><title type='text'>Lanjutan...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pulang ngajar saya memikirkan kenapa belakangan ini saya jadi pelupa. Saya datangi toko kerudung dekat kampus untuk menanyakan barangkali ada kerudung yang jatuh malam kamis lalu. Baru saja mau bertanya si mbak malah mendahului bertanya "teh kerudungnya kemarin ketinggalan gak dibawa pulang". Ya ampun...ternyata tidak jatuh...saya tidak memasukannya ke tas. Saya bertanya kondisi saya malam itu kayak gimana? Jawab penjual katanya saya terburu-buru karena kondisi hujan lebat dan teringat anak dan mau pulang. Gubraak...segitunya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking penasarannya saya datangi warung penjual kopi dingin yang saya beli. Bertanya"teh tadi siang saya beli tali rafia banyak, kemudian beli kopi dingin juga, barangkali tertinggal, liat ngak? Jawab penjual "iya ada di lemari pendingin...tadi teteh ngeloyor aja pergi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...tubuh saya ada di situ waktu beli tapi pikiran saya udah di tempat lain karena waktunya mepet. Dua kejadian ini jadi pelajaran agar saya tuntas memakai pikiran dalam mengerjakan sesuatu. Kejadian pertama malam hari...kondisi hujan dan diluar agenda hari itu. Suara anak-anak di rumah cukup membuat saya gugup karena mati lampu sedangkan saya masih dijalan. Kejadian ke dua, juga di luar agenda. Tiba-tiba saya harus menghadiri undangan pembukaan praktek ibadah dan kegiatannya menyita waktu, padahal lokasi rapat dan lokasi kelas berbeda. Ya...kondisi seperti ini membutuhkan konsentrasi penuh dan saya harus lebih waspada dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-9168976502826897234?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/9168976502826897234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/lanjutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/9168976502826897234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/9168976502826897234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/lanjutan.html' title='Lanjutan...'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4756787472931071603</id><published>2011-10-11T13:02:00.005+07:00</published><updated>2011-10-11T23:07:14.436+07:00</updated><title type='text'>Ngisi Waktu Sela</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beli kerudung ketinggalan entah  dimana. Kunci motor kemarin diamankan pak satpam karena tergeletak begitu saja di koridor kampus. Hari ini nescaffe moca dingin...gak tau ada dimana. Kenapa belakangan ini kembali penyakit lupa menghampiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kerudung misalnya, saya membelinya sesaat sebelum sampai ke rumah. Setelah membayar langsung saya masukan ke tas. Ternyata saya mau mengambil jaket yang ada di dasar tas, kemungkinan kerudung itu terjatuh saat jaket diambil. Saat tiba di rumah, kerudung itu sudah tidak ada. Kunci motor dan sarung tangan saya pegang dengan baik, saya pisahkan dengan helm dan tas dan akan saya simpan husus agar tidak lupa...eh kenapa kok malah saya tinggal di koridor kampus? Demikian juga kopi dingin yang baru saja saya beli. Kopi tersebut saya masukan ke kantong plastik hitam bersama dengan tali rafia untuk simulasi kuliah. Tapi saat tiba di ruang kuliah kok gak ada juga? Duh...haus banget nih...ngileeer inget enaknya kopi dingin hik hik hik....mo nyari lagi jauh ey...motor saya parkir di fakultas...koprasi mahasiswa dah rata dengan tanah...kemanaa kemanaa..kemanaa...saya cari minum...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm...mungkin saya sedang memikirkan hal lain sehingga tidak konsentrasi. Padahal baiknya saya selalu siap dan konsentrasi dengan apa yang sedang dilakukan. Ya semoga tidak terulang dan selalu belajar dari apa yang terjadi. Kata orang tua sih kalo udah keseringan begini artinya saya kurang istighfar. Ya...itu benar...ritual saya agak kendor belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah sebagai pembimbing praktek Ibadah di Fakultas hari ini paling tidak merupakan sebuah pertanda dari-Nya bahwa ia ingin saya rajin bermesraan dengannya. Ok saya siap Rabb...kembali rangkul saya dalam dekapan kasih-Mu...siang seperti Singa dan malam laksana malaikat. Hehe bisa gak ya? Pasti bisa...tapi malaikat berhubungan seksual gak? Jumlah mereka banyak bagaimana mereka bereproduksi? Ah...udahlah gak usah ngurusin malaikat...pokoknya sebisa mungkin mengalokasikan waktu malam hari untuk tidur, belajar dan berkhalwat dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengisi blog ini sambil menghabiskan waktu menunggu jam 14.15 mengajar Agama dan Gender karena kelas sebelumnya ada pertandingan final sepak bola dan kuliah saya di cancel. Pertemuan ke 5 kali ini saya mau membahas tentang faktor pelestari ketidakadilan gender. Simulasi "Mengapa Kokom Mati? sudah saya persiapkan. Mulai dari rafia untuk bikin jaring laba-laba sampai sekenario simulasi...Ya cari minum dan siap-siap ke kelas. Serunya...ngajar topik dan tema kuliah yang saya sukai. Ganbate!!!  Mahasiswa....yuk bermain peran....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4756787472931071603?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4756787472931071603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ngisi-waktu-sela.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4756787472931071603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4756787472931071603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ngisi-waktu-sela.html' title='Ngisi Waktu Sela'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6919794929655923854</id><published>2011-10-06T21:42:00.003+07:00</published><updated>2011-10-06T22:13:59.378+07:00</updated><title type='text'>Ayu Ting-Ting</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi tadi saya baru mendengar lagunya Ayu ting-ting. Terus terang seminggu ini saya memang mendengar nama artis tersebut dibicarakan di fesbuk dan kompasiana dan beberapa web yang lain. Namun hati saya tidak tergerak sedikitpun untuk mencoba mencari tau siapa dia. Dalam hati saya berkata "engga penting banget deh tau siapa dia, tapi... kenapa ya kok orang-orang pada rame emang ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang hampir tidak pernah menonton TV. Pola ini sudah menjadi bagian dari diri saya. Suami dan anak-anak masih suka menonton terutama untuk acara berita, olah raga dan kartun. Informasi saya dapatkan setiap hari bersumber dari internet dan media cetak langganan. Sebelum tidur saya bertanya kepada suami siapa Ayu Ting-ting dan kenapa orang kok heboh sedemikian rupa. Dia tidak menjawab apa-apa hanya meminta saya untuk tidur karena saya bertanya bukan pada waktu yang tepat. Ya iyalah selesai belajar jam 12 malam saya membangunkannya cuma mau bertanya tentang Ayu Ting-ting...gak sopan banget kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pagi hari suami saya mendown load lagu Ayu Ting-ting dan memperdengarkannya kepada saya. "Nih lagu Ayu Ting-ting menurut kamu kira-kira apa kelebihannya setelah mendengarkan?" Saya mendengarkan dengan seksama  dan mengerutkan kening? Apa kelebihannya ya? lalu saya berkata kepada suami "musiknya biasa aja...gak ada yang istimewa...orangnya juga biasa banget g seksi malah terkesan masih polos lagunya juga sederhana jadi kelebihannya dimana? saya malah balik bertanya kepada suami. Ia menjawab :"justru karena minimalis seperti ini orang banyak yang suka. Publik sudah bosan dengan penyanyi dangdut yang seronok dan menjual goyang yang vulgar saat menyanyi, jadi Ayu Ting-ting saat ini dapet momen yang pas. Sebenarnya mahasiswa aa dari tahun lalu sudah menyanyikan lagu ini saat field trip ke Jogja tapi hokinya mungkin baru sekarang kayaknya, duuh istriku kamu kuper banget sih". Mendengarkan penjelasan suami saya cuma bisa bilang OOOH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencukupkan sampai disini pencarian saya tentang Ayu Ting-ting. Tiba-tiba ba'da Isya tadi saya ditelfon ketua WSC (Women Student Center) UIN yaitu Deti untuk menjadi pembicara tanggal 17 Oktober 2011  tentang Dangdut dengan perspektif perempuan. Saya sudah bilang bahwa saya tidak tahu apa-apa tentang Dangdut karena lingkungan saya selama ini tidak berdekatan dengan genre musik tersebut. Bahkan dengan sosok Raja Dangdutpun saya tidak suka. Tentu ini berefek pada hasil karyanya yang juga tidak saya sukai. Tapi Deti meyakinkan saya bahwa saya tidak difokuskan membahas apa itu dangdut melainkan melihat fenomena perdangdutan yang penyanyinya kebanyakan peremupan, gaya berpakaian yang khas, gaya panggung yang khas dan itu sangat menarik kalau dikaji lewat teori yang berperspektif perempuan. Saya menyanggupinya dan mulai malam ini mulai mencari tau lebih banyak tentang Dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6919794929655923854?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6919794929655923854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ayu-ting-ting.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6919794929655923854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6919794929655923854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/ayu-ting-ting.html' title='Ayu Ting-Ting'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8808758147974277526</id><published>2011-10-04T20:52:00.004+07:00</published><updated>2011-10-04T21:30:15.222+07:00</updated><title type='text'>Halal Bihalal AIC 97</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Empat belas tahun bukan masa yang singkat dalam perjalanan hidup manusia. Selama itu kami tak pernah sekalipun berjumpa. Perpisahan merupakan sunnatullah yang harus dijalani. Masing-masing menjalani takdirnya. Menempuh sebuah garis yang tak memiliki siaran ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali kegiatan sudah digelar untuk mempertemukan kami. Namun tak jua takdir bisa mewujudkannya. Selalu ada hal prioritas lain yang lebih utama, dari pada sekedar bertemu tanpa makna. Benarkah tak akan ada makna? untuk apa berbagai keutamaan silaturahmi mengemuka? Mungkin diri inilah yang belum peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi di dunia maya terjalin dengan erat. Membangkitkan berbagai kenangan 14 tahun lalu. Sebuah episode bersama di sebuah Ma'had. Ma'had yang sampai kapan pun kami cintai dengan sepenuh hati. Ashiddiqiyah tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma'had ini telah mematri kami untuk mencintai Ia tanpa syarat. Ma'had ini telah menggembleng kami menapaki hidup dengan berani. Hanya dengan bergantung pada-Nya sumber kekuatan utama. Mengalokasikan sepertiga malam sebagai kewajiban berkhalwat dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin...sebuah pulau menjadi saksi eratnya persaudaraan yang terjalin. Pulau Untung Jawa demikianlah namanya. Kebersahajaan telah mengantarkan kami sampai disana. Ketulusan panitia dan tuan rumah membingkai acara silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semoga silaturahmi yang akan digelar nanti bisa menghadirkan lebih banyak lagi alumni santri. Bergandeng tangan bersama untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Menebar kebaikan dan manfaat untuk sesama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8808758147974277526?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8808758147974277526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/halal-bihalal-aic-97.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8808758147974277526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8808758147974277526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/halal-bihalal-aic-97.html' title='Halal Bihalal AIC 97'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7500958053389903049</id><published>2011-10-03T17:18:00.002+07:00</published><updated>2011-10-04T20:45:51.999+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan</title><content type='html'>Pernahkan keliru mengambil arah di jalan tol Jakarta? Atau terlewat tidak segera berbelok disebuah jalan raya yang padat kendaraan? Bagi yang pernah melakukan hal ini, biasanya tahu bahwa saat kesalahan itu terjadi maka harus siap dengan konsekuensi yang kadang membingungkan. Konsekuensi berupa semakin menjauhnya anda dari fokus tujuan atau malah tersesat dan kebingungan ada dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang kadang saya alami dengan keluarga. Saya meski pernah sekolah Menengah Atas di Jakarta, tetap saja tidak hafal persis bagaimana rute perjalanan. Dalam setiap perjalanan saya berperan sebagai navigator dan suami sebagai pengemudi yang menentukan ke mana kami semua menuju. Sebagai seorang navigator saya selalu memegang peta tol jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski peta selalu berada di tangan, terkadang dalam beberapa kesempatan, kami keluar dari jalan yang seharusnya ditempuh. Hal ini terjadi bisa dikarenakan informasi yang saya kemukakan sebagai navigator telambat diutarakan, sehingga suami sebagai pengemudi tidak bisa dengan cepat memutuskan ke arah yang benar. Terkadang juga sebagai navigator saya termasuk tipe yang otoriter, pengen menang sendiri. Sikap terahir ini kadang menimbulkan kesal sang pengemudi yang pendapatnya menjadi mentah karena kengototan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terjadi sebuah kesalahan, sehingga kami keluar dari jalur yang sebenarnya, kami kadang saling menyalahkan bahkan menyalahkan diri sendiri. Saya sebagai navigator seringnya  merasa bersalah dan menganggap peran ini terlalu berat. Sehingga terkadang menyerahkan peran ini kepada pengemudi. Alangkah enaknya sekedar menjadi penumpang yang tinggal tau beres dan sampai di tujuan dari pada mikirin rute mana yang seharusnya kami ikuti saat ke luar jalur. Namun sang pengemudi selalu membagi peran dan tidak mau membawa mobil ini sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam dalam sebuah perjalanan di tol Jakarta kami sempat keluar dari arah sebenarnya dari fokus tujuan kami. Hati saya menjadi sangat sesak dan pada ahirnya kami berbicara sangat intens tentang sebuah perjalanan. Perjalanan dalam mobil ini kami ibaratkan sebagai perjalanan pernikahan kami selama ini. Dimana sebagai seorang pengemudi (qawwam), suami saya selalu membagi peran dengan saya. Hampir tak ada satu keputusan yang diambil tanpa sepengetahuan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya "kenapa selalu melibatkan saya dalam semua keputusan? padahal alangkah enaknya menjadi istri yang tau beres saja tanpa ikut berfikir dan bertindak penuh dalam semua permasalahan? Karena saya sering salah dalam memutuskan sesuatu dan itu menjadi beban buat saya"  Dia balik bertanya "apakah itu yang sebenarnya kamu inginkan? Atau pertanyaan itu muncul karena rasa bersalah karena keliru memutuskan sesuatu? Padahal untuk apa Allah menganugerahi saya istri yang memiliki kualitas seperti kamu kalau saya harus melakukan segalanya sendirian. Bukankah jadi ringan perjalanan kita saat kita terus berbagi seperti ini? Ya..tapi terkadang dalam melewati prosesnya seringkali saya berpeluh karena harus menjaga emosi karena karakter dan pola yang tertanam dalam diri kita jauh berbeda" ujar saya. Ya dari sinilah kita harus terus belajar saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagai sebuah pembelajaran yang tanpa henti, bukan kah selama ini kita tim yang kompak? tanya pengemudi pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Cibinong Bogor - Bandung melewati tol dalam kota Jakarta yang seharusnya ditempuh cukup 3 jam, kami tempuh selama 5 jam. Beberapa kali kami keluar jalur sebenarnya karena perjalanan malam hari sehingga penunjuk arah terlambat kami lihat dan menyebabkan kami berputar-putar dan dapat bonus tambahan 2 jam.  Bonus 2 jam itu awalnya memancing emosi sehingga saya dan sang pengemudi terlibat perang dingin dan lempar tanggung jawab. Namun setelah saya melakukan self talk dan mempraktekan hypno-NLP sebuah pelatihan yang saya ikuti sehari sebelum melakukan perjalanan, membuat proses berputar-putar itu menjadi sebuah moment yang penting dalam pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pengemudi membiarkan saya mengeluarkan semua unek-unek yang saya punya selama ini. Saya juga mendengarkan dengan seksama keinginannya terhadap perjalanan pernikahan ini dan ternyata tujuan kami masih sama. Ah...terimakasih Allah yang telah memberikan perjalanan yang indah kemarin. Harus ada saat dimana kami bisa mengeluarkan apa yang ada di hati. Sebagai sebuah refleksi perjalanan pernikahan kami untuk selanjutnya menentukan aksi apa yang akan dilakukan dan terus direfleksikan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak keliru rupanya Ia memasangkan kami Yin dan Yang yang terus harus diseimbangkan. Dimana di dalam Yin selalu ada potensi Yang dan di dalam Yang selalu ada potensi Yin dan itu nyata kami alami. Terimakasih Rabb...terus ajari kami melihat ayat-ayatmu dalam relasi yang dijalani ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7500958053389903049?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7500958053389903049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/perjalanan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7500958053389903049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7500958053389903049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/10/perjalanan.html' title='Perjalanan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7794921911277640602</id><published>2011-09-30T07:55:00.003+07:00</published><updated>2011-09-30T09:20:34.159+07:00</updated><title type='text'>Insiden Kamis Sore</title><content type='html'>Dinding depan rumah terlihat tak utuh lagi. Temboknya sedikit hancur dan plester semennya berguguran. Kerusakannya tidak besar memang, mungkin lebarnya sekitar 7 cm panjangnya 15 cm. Kerusakan itu terjadi akibat ulah saya. Saya belum bisa memarkirkan mobil dengan baik. Kejadian ini terjadi sore kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya temboknya sebenarnya, bemper depan mobil juga ada yang retak dan sedikit goresan. Kalau melihat mobil dan tembok rumah yang rusak, sebenarnya saya tidak hawatir. Toh keduanya hanya materi yang tidak akan saya simpan di hati. Namun yang agak menghawatirkan saya adalah hati saya dan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kejadian itu dia bereaksi menasihati saya dan mengatakan bahwa saya masih membutuhkan dia. Saya sudah menyetir tanpa izin darinya. Sebelum dia memberikan lampu hijau untuk saya nyetir sendiri jangan pernah saya melakukannya. Dia bilang saya tidak mentaatinya dan inilah akibat dari perbuatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dia berkata seperti itu, saya hanya bilang bahwa saya akan bertanggung jawab dengan semua kerusakan. Jangan sampai hanya karena masalah duniawi menjadikan relasi saya dan dia menjadi tidak enak. Tolong izinkan saya untuk lebih sering memyetir sendiri. Agar saya bisa terlatih dan aman mengemudikannya. Dia tidak terlalu banyak berkata cuma berpesan agar saya selalu hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan kami setelah insiden itu membuat hati saya tak enak. Terus terang kenapa saya kemarin menyetir sendiri?, karena saya kesal sudah hampir 4 bulan selalu tidak diperbolehkan menyetir sendirian. Padahal mobil itu saya beli dari keringat saya sendiri. Selalu menunggunya mengawasi dan mengajari saya, padahal agenda kita padat dan jarang singkron. Ahirnya saya jarang latihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekesalan ini sebenarnya sudah saya pendam semenjak dia melarang saya kursus nyetir. Berbagai alasan dikemukakannya mulai dari nanti berdua-duaan saja dengan instruktur yang laki-laki. Instruktur nyetir kadang suka cari kesempatan pegang-pegang saat oper gigi. Saya menurutinya dan mengikuti semua saran-sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar nyetir selama 4 bulan dengannya di awal-awal membuat saya tekanan batin. Selain dia sangat cerewet, kadang intruksinya malah membingungkan. Terkadang malah show kemampuan bahwa dialah yang bisa sedangkan saya tidak bisa (ini cuma perasaan saya aja kali?) Pokoknya rasa sayang dan kekhawatirannya membuat saya tidak berkembang. Sempat saya kemukakan hal ini dan dia mengubah gaya ngajarnya. Tapi tetap harus selalu menunggu waktu luang yang dia punya, padahal di awal semester ini dia mengajar di tiga perguruan tinggi, kapan waktu untuk melatih saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya nyetir sendiri, berkeliling-keliling komplek dan komplek tetangga. Nyaman rasanya....saya seolah merasa merdeka. Ternyata saya bisa, bahkan bisa bulak-balik kampus sendiri. Hanya satu kesalahannya saya nekad memasukan mobil ke depan rumah padahal lokasinya sempit dan membutuhkan jam terbang yang cukup untuk itu. Sebenarnya saya juga mau menyimpan mobil tersebut di samping rumah saja, namun karena merasa lancar saya kebablasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menikah suami saya adalah guru kursus TOEFL. Kursus ini saya masuki karena saya berencana studi di luar negri. Ternyata saya malah dilamar dia dan semua impian untuk studi keluar mesti saya simpan dulu atau digantikan dengan hal lain. Saya mengamini takdir ini. Tak ada yang saya sesali sama sekali. Karena dia guru saya, banyak pelajaran kehidupan yang saya tidak tau saya dapatkan darinya. Sebagai guru dia juga selalu menggunakan metode pendidikan orang dewasa yang menganggap murid subjek dan setara dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari responnya kemarin yang tidak banyak bicara, saya tau dia menyayangi saya. Dia tau saya kaget. Sepertinya tidak ingin memperburuk perasaan saya dengan berkata lebih lanjut. Sehingga kata-kata yang keluar adalah pesan agar saya berhati-hati. Ya...ini cuma kejadian kecil yang harus saya alami saat belajar sesuatu. Dari kejadian ini, dia jadi tau bahwa sebenarnya saya tidak sabar. Diam dan tenangnya saya selama ini karena berusaha menghormati dan menghargainya namun ternyata tidak membuat kemampuan nyetir saya berkembang. Kepercayaan darinya sangat saya harapkan. Semoga...Rabb...sentuh jiwanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7794921911277640602?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7794921911277640602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/insiden-kamis-sore.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7794921911277640602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7794921911277640602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/insiden-kamis-sore.html' title='Insiden Kamis Sore'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3000719140104024692</id><published>2011-09-28T07:39:00.003+07:00</published><updated>2011-09-28T14:39:20.500+07:00</updated><title type='text'>M-21 Bisaa!!!!</title><content type='html'>M-21 Bisaa!!! seru saya lalu bertanya ke suami, "a kalo "M-21 Bisa" itu produk minuman energi itu ya? wah keren nih judul yang akan saya tulis". "M-21? emang ada? yang saya tau M-150 bukan M-21 kalo minuman energi mah" jawabnya. "Loh emang ganti ya?" kata saya. "Ganti apaan emang dari dulu 150 dan gak pernah kurang" jawabnya. Ya udah terserah...yang penting buat saya M-21 Bisaa saja hehe...maksa pisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya ngotot dengan M-21 karena saya sedang memperkuat komitmen untuk berubah. "Berubah"...satria baja hitam kalee. Sudah hari ke 3 saya konsisten mengalokasikan waktu untuk serius menggarap studi saya. No...online...no buku gak karuan...no ngobrol saat masuk ke dalam kepompong yang saya siapkan. Kepompong yang nyaman...dengan buku pilihan yang sudah disiapkan dan semangat untuk berubah menjadi kupu-kupu yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M merupakan singkatan dari Misi. Angka 21 saya maksudkan adalah 21 hari berturut-turut melakukan aktifitas serupa agar tumbuh kebiasaan. Saya ingin mengubah kebiasaan saya dengan kebiasaan yang lebih efektif lagi. Kenapa 21 hari ya? saya pernah mendengarnya kalo konsisten selama 21 hari maka kebiasaan baru akan terbentuk. Ahirnya saya searching ke mbah google tentang kenapa 21 hari. Ahirnya jawabannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebiasaan akan terbentuk bila kita mengulang ulang sebuah aktifitas dengan konsisten selama 21 hari”. Pernyataan ini merupakan hasil penelitian yang dipraktekan Will Bowen, Ketua Pendeta dari Satu Pusat Komunitas Spiritual di Kota Kansas, Missouri, AS. Pendeta itu telah menulis 2 buah buku – “Sebuah Dunia Bebas Keluhan” dan “Hubungan Persahabatan yang Bebas Keluhan: Cara untuk secara Positif Mengubah Hubungan Pribadi, Pekerjaan, dan Percintaan Anda (Complaint Free Relationships: How to Positively Transform Your Personal, Work, and Love Relationships).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalani aktifitas konsisten selama 21 hari sepertinya mudah dilakukan. Namun ternyata banyak komunitas jamaahnya merasa kesulitan untuk benar-benar konsisten. Karena bila dalam rentang 21 hari tersebut satu hari saja tidak dilakukan, maka harus mulai lagi dari awal. Sehingga rata-rata orang bisa sukses menjalankannya paling tidak selama 4 - 8 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua paragraf yang saya temukan di google ini saya sarikan ulang agar lebih terekam lagi dalam benak tentang komitmen M-21 yang saya canangkan (wiih pake bahasa pejabat boo) Hehe..pokoknya gitu dweeeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah hari ketiga yang saya jalani dari M-21. Saya berterimakasih kepada diri saya sudah mau mengikutinya. Semoga bisa istiqamah. Karena dalam istiqamah terdapat barakah itu kata Kiai saya. Ayo jiwaku...tetap semangaat...kamu pasti bisa!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M-21 tidak hanya saya peruntukan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk anak-anak saya. Saya juga mengalokasikan waktu khusus untuk mereka. Memanggil teman-teman mereka untuk ikut mengaji dan belajar di rumah seperti yang dahulu ibu saya pernah lakukan. Alhamdulilah rumah kini semakin ramai dengan anak-anak mengaji dan bejalar seusai magrib. Bahagia rasanya melihat anak-anak bergembira saat saya menceritakan sejarah Nabi-nabi yang saat ini hanya bisa ditemui di buku cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap waktu...setiap saat...hanya ingin menjadi lebih baik lagi. Berikan hannah kesungguhan Rabb...untuk menemui-Mu dengan senyuman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3000719140104024692?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3000719140104024692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/m-21-bisaa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3000719140104024692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3000719140104024692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/m-21-bisaa.html' title='M-21 Bisaa!!!!'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1128380079260305522</id><published>2011-09-26T13:26:00.003+07:00</published><updated>2011-09-26T14:19:47.544+07:00</updated><title type='text'>Menari....</title><content type='html'>Bandel!!!itu ocehan teman ketika tau saya punya jadwal tambahan ngajar di Perguruan Tinggi yang lain. Jadwal yang ada aja udah seabrek masih juga mau ditambah yang lain. Kapan kamu mau kelar studinya? Paling tidak minimal, kita butuh waktu 3 jam sehari untuk nulis dan baca untuk disertasi disela-sela seluruh aktifitas kita. Itu minimal non...dengan itu aja entah 7 semester beres atau tidak, apalagi dengan gaya mu yang gak karuan itu. Apasih yang kamu cari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat termenung memikirkan ocehan teman tadi. Iya apa yang saya cari? Duit? engga juga...gajinya gak terlalu besar. Gaji sertifikasi dosen negri cukup buat gaya hidup saya yang minimalis,dari suami juga ada. Trus apa dong? Saya ngajar mata kuliah agama Islam di Perguruan Tinggi Umum ini, ruhnya beda banget saat ngajar filsafat di UIN. Mahasiswa yang saya ajar mata kuliah agama Islam ini begitu antusias, semangat dan menyenangkan. Mereka baru semester awal masih fresh dan belum tercemar. Beda kalo ngajar di UIN yang selalu kebagian anak semester 6 dan 7 yang udah pada kusam dan kadang nihilis abissss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi wajar kan kalau saya menerima tawaran ini? Selain itu juga ngajarnya cuma 8 pertemuan dan salah satu pertemuannya yaitu outbond kan seru...? Ada nilai pulsnya lagi...yaitu saya tidak putus komunikasi dengan mereka dan tetap mengarahkan mereka dengan memakmurkan masjid kampus. Karena kampus umum, mereka jadi antusias saat saya mengaktifkan mahasiswi lewat keputrian. Ya...saya merasa bisa berbuat banyak selain ngomongin wacana melambung gak karuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke saya harus bisa membagi waktu. Keluarga tetap nomor 1. Mengajar no 2. Belajar no 3. Ngurusin korban di kantor no 4. Ngurusin lsm no 5. Semoga bisa menjalaninya dengan enjoy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya sudah berlari...saya pun ingin berlari...berlari dengan gaya saya...sambil menari...semoga saat berlari ini tak membuat saya lelah...namun membuat semakin berseri dan berarti. Karena tiap hentakan langkah selalu berirama....berputar...berputar... berputar  menari...menari kau terbang....tralala tralala...tralalala....Hoo...balerina tetap lah tersenyum walaupun pedih hatimu kan salalu menari....(sherina mode on....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup serupa tarian indah untuk menghadirkan Ilahi disetiap helaan nafas. Menjadi berarti...hanya untuk-Mu...&lt;br /&gt;buka pintu-Mu...&lt;br /&gt;lembah ini ingin aku isi sebanyak-banyaknya semampu yang ku bisa agar kelak Engkau bisa tersenyum untukku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1128380079260305522?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1128380079260305522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/bandelitu-ocehan-teman-ketika-tau-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1128380079260305522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1128380079260305522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/bandelitu-ocehan-teman-ketika-tau-saya.html' title='Menari....'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-5579917196309164479</id><published>2011-09-24T19:35:00.004+07:00</published><updated>2011-09-24T19:47:19.763+07:00</updated><title type='text'>Bangun tidur...tidur lagi</title><content type='html'>Hampir sepanjang hari berada di atas kasur. Habis masak langsung ke kasur, habis ngurusin anak langsung ke kasur pokoknya kasur jadi sentra kegiatan hari ini. Emang ngapain aja di kasur? kebanyakan hari ini aktifitas yang dijalani adalah baca dan tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran tentang kerjaan, disertasi...juga masalah-masalah yang lain untuk hari ini disimpan di lemari es hatiku. Nyaman rasa yang kurasakan saat ini. Mengistirahatkan badan sambil berbalut selimut. Sesekali anakku keluar masuk kamar untuk sekedar melihat ibunya. Mereka berkata "mimi seperti mbah surip bangun tidur tidur lagi bangun lagi tidur lagi banguuun tidur lagi" saya bertanya "kan mimi baca...trus juga masak, masa disamain sama mbah surip?" "iya bangunnya untuk baca sama masak doang...kebanyakan tidurnya" jawab anakku yang pertama. "Iya besok mimi mau rajin lagi...kita gosokin semua kamar mandi...sebelumnya kita senam pagi sambil cari sarapan di pasar pagi", ajak saya. "Hore...asik kita berangkat setelah sholat subuh ya mi? Yo...i jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya merasa santai selain karena hari libur, juga karena suami sedang tidak ada di rumah. Dia mengajar di luar kota sekalian menengok ibunya yang sudah tua. Pagi dia mengajar sampai siang dan jam 4 sore sudah sampai di rumah ibunya. Besok jam 10 pagi semoga sudah sampai lagi di rumah kami dan dia minta agar saya mendo'akan keselamatannya. Ya...saya mendoakan yang terbaik untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi kami saat ini berjalan dengan lebih baik lagi. Dia tidak hanya berperan sebagai suami melainkan juga sebagai sahabat sejati buat saya. Seringkali dia jadi tong sampah cerita saya tentang pekerjaan, perasaaan dan apapun yang saya rasakan dan pikirkan. Saya merasa rasa yang dimilikinya buat saya melebihi apa yang saya rasakan. Memang dari awal dialah yang terlebih dahulu mencintai saya. Sosok Arai sebagai Sang Pemimipi dalam tetralogi Andera Hirata yang mencintai Zakiah Nurmala menurut saya mewakili sosok suamiku saat ini. Meski saya tidak secuek Zakiah Nurmala tentunya. Tapi terus terang kegigihannya untuk memenangkan hati ini patut diacungi  jempol. Dengan kegigihan dan kesabaran itu pada ahirnya saya menyerah dan bersedia mendampinginya seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita dihormati dengan sebuah penghormatan dari yang lain maka balaslah dengan penghormatan serupa atau lebih baik lagi. Perkataan Allah ini tentunya memotivasi saya untuk berusaha lebih baik lagi sebagai istri. Secara syari'at adanya saya di titik hidup saat ini karena kebaikan suami yang mendampingi. Saya bisa tumbuh...berkembang dan semakin menemukan diri. Kekurangan saya yang sangat banyak tidak menjadikannya bosan untuk terus bersabar. Demikian yang bisa saya pelajari darinya. Semoga saya juga bisa memotivasinya untuk juga menemukan dirinya menjadi lebih baik lagi. Semoga...berkahi keluarga ini Rabb...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-5579917196309164479?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/5579917196309164479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/hampir-sepanjang-hari-berada-di-atas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5579917196309164479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5579917196309164479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/hampir-sepanjang-hari-berada-di-atas.html' title='Bangun tidur...tidur lagi'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8019176581550571981</id><published>2011-09-22T22:38:00.004+07:00</published><updated>2011-09-22T23:32:58.254+07:00</updated><title type='text'>Ups...Hampir Saja</title><content type='html'>Malam ini dua buah buku sudah saya pegang setelah mengkondisikan anak-anak untuk tidur. Kedua buku tersebut saya bolak balik, kira-kira yang mana duluan yang akan saya baca. Sepertinya buku yang lebih kecil lebih menarik. Buku yang berjudul "Hak Untuk Malas" menggelitik saya yang sedang merasa malas agar bisa berapologi dengan ilmiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini baru tadi siang saya beli saat diminta kantor untuk belanja buku perpustakaan. Buku ini saya beli untuk menghiasi perpustakaan pribadi yang sebelumnya akan saya kunyah dulu isinya baik-baik. Tentu pake uang pribadi dong...padahal ahir bulan ini budjet saya mulai menipis. Tapi begitulah saya dari dulu saya rela tidak beli apa-apa asalkan dapat buku baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang THR kantor habis bis...juga buat buku. Baju lebaran? yah...seadanya sajalah...toh pake baju apa saja kalo penampilan udah oke...tetep oke kan? iiih narsis abis padahal sedang menghibur diri karena sering diledek temen kantor yang selalu maching. Kalo baju ungu...tas ungu...sepatu nuansa ungu...asesoris dll. Klo saya dari dulu selalu bawa tas ransel. Tas ransel yang baru sekali dicuci seumur saya miliki hehehe jorrok. Biarin...kenapa pula orang repot dengan penampilan trus menghasut yang lain untuk seperti mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun bergaul dengan mereka saya terpengaruh juga sebenarnya. Baru sekarang seumur hidup saya punya sepatu cantik hihihi...itu pun ditengah resepsi pernikahan saudara saya buka dan telanjang kaki karena keram. Nah malu-maluin kan jadinya? Ya ahirnya saya kembali memilih sepatu yang nyaman tidak ikut-ikutan lagi. Cuma sepatu kets  sudah sangat jarang saya pake karena sering menuai protes dari teman sesama pengajar yang gerah dengan gaya saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba untuk memberikan contoh yang baik terutama pada anak pertama saya yang girly (niru siapa ya? dulu saya bergamis...tapi tetep sporty abiiizz). Saya sekarang sering memakai rok meski tetap dalemannya jins hehehe. Soalnya motor adalah teman saya sehari-hari bermobilisasi. Motor bekopling pula gak mungkin kan gak pake celana panjang? Pake mobil?...belum berani ah...kemarin disemprot orang karena dianggap bawa mobil terlalu lambat dan hampir menyenggol mobilnya. Bikin sport jantung aja tuh orang...ya sudahlah harus sering latihan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke buku kecil yang saya baca. Buku kecil tersebut saya baca sekilas...wah seru juga ternyata buku ini disusun oleh menantu Karl Marx yang memiliki ahir hidup tragis yaitu bunuh diri. Pengantar buku ini ditulis oleh komunitas merah-hitam yang juga menamakan diri sosialisliberatian sepertinya bakal seru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...malam jum'at ini saya ingin merasakan kesyahduan bermesraan dengan Kekasih sejati. Jadi kalo baca buku ini diteruskan kayaknya suasananya bakal berbeda. Ya sudah saya beralih ke bukunya Jalaludin Rahmat yang berjudul Road to Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm tiba-tiba saya teringat dengan persyaratan pencairan beasiswa kuliah. Ups...kapan ya tanggal terahirnya. Oh my God...besok terahir persyaratan harus dikumpulkan dan masih ada satu surat yang belum saya buat, yaitu surat pernyataan yang harus ditandatangani rektor. Rektor sedang ada di Australia. Betul-betul kemalasan sangat merugikan. Padahal sampai saat ini beasiswa tersebut adalah nyawa kuliah saya. Tarik nafaas...tenang klo udah rizqi gak akan kemana....besok usaha maksimal bikin surat pernyataan semoga tandatangan Dekan juga bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gak bisa juga insya Allah sekenario Allah lebih indah lagi. Otak saya harus diputer lagi bikin proposal penelitian dan beberapa tulisan ilmiah yang bisa menghasilkan...yaqin if there is a will there is a way...semangaat!!!semangaat! saat menyelesaikan s2 saja saya bisa melepas semua perhiasan termasuk mahar penikahan apalagi ini sekolah terahir yang gak pengen saya ulang lagi seumur hidup. Jadi harus segera beres agar bisa ngurusin yang lain lagi dan tetap punya kesempatan lebih baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga...semoga...semoga...pinjami tanganMu Rabb...mudahkan urusan hamba besok...Amiin....tapi...besok saya jadi MC di kunjungan Rakornas Penanggulangan Perdagangan Orang? Biarkanlah...tugas itu bisa diserahkan pada relawan pendamping yang membantu saya...sipp...lega...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8019176581550571981?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8019176581550571981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/upshampir-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8019176581550571981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8019176581550571981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/upshampir-saja.html' title='Ups...Hampir Saja'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8270745708246064192</id><published>2011-09-22T06:41:00.002+07:00</published><updated>2011-09-22T09:43:35.613+07:00</updated><title type='text'>Rutinitas biasa...biasa aja kaleee</title><content type='html'>Segunung cucian subuh ini sudah menyapa...Ini terjadi karena saya suka menunda pekerjaan. Kebiasaan basi yang sukar diubah. Kebiasaan ini juga berimbas dengan studi yang dijalani. Entah kenapa saya lebih suka mengerjakan sesuatu yang tidak prioritas meski pekerjaan itu penting. Kalo skala pekerjaan itu prioritas utama untuk diselesaikan maka saya merasa tertekan dan malah menghindari pekerjaan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang paling tidak suka melakukan sesuatu dalam sebuah tekanan. Tapi sampai kapan mau gini terus? Ayo Hannah...manajemen waktumu harus lebih perbaiki lagi...Coba tempatkan skala prioritas terutama yang penting dan mendesak. Jangan kamu bikin lubang untuk mengubur dirimu sendiri.Hal kecil kecil inilah yang sebenarnya menentukan keberhasilan dimana pun. Huhh...benar-benar kalo rasa malas datang maka semua kalimat motivasi dari berbagai buku...pelatihan...nasihat menguap semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini anak saya yang TK mogok pergi sekolah dengan alasan sering dimarahi oleh ibu gurunya. Saya bertanya seperti apa ibu guru memarahinya? Dia menjawab bahwa dia selalu diminta mengalah dan ditempatkan pada giliran terahir kalau membaca dan mengerjakan tugas. Saya bercerita tentang kebaikan-kebaikan bu guru yang pernah diceritakannya dan juga mencoba mengajak melihat sisi positif dari perilaku ibu guru kepadanya. Dari penjelasan ibu gurunya di awal semester ini, anak saya memang memiliki kemampuan di atas teman-teman yang lain. Selain dia juga selalu antusias dan selalu ingin memimpin. Ibu guru merasa berkewajiban untuk memotivasi yang lain agar juga bisa antusias dan percaya diri. Dengan seperti ini, maka diharapkan anak saya bisa sabar dan juga menghargai teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dari bu guru ini merupakan hal yang sangat berharga dan saya berhasil meyakinkan anak saya bahwa pada saat dia ingin menjadi anak besar seperti kakaknya maka dia harus bisa mengalah dan sabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil meyakinkannya, dia mogok dengan alasan baru, bahwa dia tidak mau memakai kaus kaki. Kaus kaki membuatnya gerah dan gatal, padahal di sekolah wajib memakai kaus kaki. Saya melihat kaus kakinya dan berkata "ooh ternyata kaus kaki dede kotor...mimi lupa mencucinya jadi pakai kaus kaki kemarin. Kalau kaus kaki bersih pasti tidak gatal. Coba mimi pakein ya..." bujuk saya. Saya mencari-cari kaus kaki anak saya di lemari...ternyata kaus kakinya tinggal yang sebelah sebelah...dan yang lain kotor semua karena saya lupa mencucinya. Saya memeluknya dan meminta maaf membuatnya tidak nyaman. Untungnya tetangga sebelah menjual kaus kaki anak, sehingga kendala ini bisa teratasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang setelah lebaran ini saya benar-benar mengurus rumah sendiri. Ramadhan lalu berat badan saya tidak turun tetap stabil. Tapi di bulan syawal ini sepertinya berat badan saya turun. Saya jadi teringat setahun lalu dalam kondisi seperti ini saya juga menjadi kurus. Semoga meski kurus saya sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah urusan cuci-mencuci tiba tiba saya dapat telfon dari kantor untuk belanja buku tentang gender. Diperpustakaan p2tp2a Jabar saat ini bukunya meski tentang perempuan, anak dan keluarga tetapi cuma ada yang islami fundamentalis saja. Sedangkan buku gender tak ada. Betapa bahagianya saya mendapat perintah ini. Karena dari kemarin saya sudah gemas dengan kondisi perpustakaan kantor kami. Artinya saya bisa nebeng beli beberapa buku yang bagus...hehehehe...bukan untuk dimiliki tapi untuk saya kaji dan telaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm saat saya mau siap-siap berangkat, tiba-tiba saya disergap sedemikian rupa sehingga harus keramas. Dasar...handsome devil kurang ajar...bikin repot aja. Suka siih tapi mbok ya liat2 waktu dong...ditengah berkejaran dengan waktu kok seenaknya aja ngajak. Tapi seru...menegangkan hehe yo wiss mandi dulu deh...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8270745708246064192?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8270745708246064192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/rutinitas-biasabiasa-aja-kaleee.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8270745708246064192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8270745708246064192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/rutinitas-biasabiasa-aja-kaleee.html' title='Rutinitas biasa...biasa aja kaleee'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3861214630688795179</id><published>2011-09-11T10:38:00.005+07:00</published><updated>2011-09-12T21:59:28.323+07:00</updated><title type='text'>Refleksi Kesehatan Reproduksiku</title><content type='html'>Sedikit Caffein semoga bisa mengusir rasa malas. Membangkitkan sedikit semangat yang masih terbias liburan. Menyiapkan sarapan, mencuci piring dan sedikit beres-beres sudah saya lakukan. Namun tiba-tiba perut saya terasa sakit tidak parah memang. Sedikit perih dan sepertinya ada sesuatu yang terjadi di rahim. Berbaring sebentar sambil online namun tetap rasa sakit itu tak mau enyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apakah ini? hari keberapakah dari siklus haid? Hari ini hari ke 25 dari hari pertama haid. Selama ini siklus haid saya antara 25-28 hari. Saat saya periksa, ternyata memang benar haid sudah datang. Ya sudahlah, rasa sakit yang terasa itu karena meluruhnya sel dinding rahim yang sudah menebal. Karena tidak terjadi pembuahan maka ahirnya sel dinding rahim tersebut meluruh dengan ovum yang tidak terbuahi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenungkan proses reproduksi yang terjadi dalam tubuh ini. Bulan ini saya tidak memakai pantang berkala seperti bulan-bulan lalu. Malah saat mengalami masa subur dimana ovum saya matang di hari ke 13-15 dari hari pertama haid, saya melakukan hubungan seksual dengan suami. Rupanya pikiran saya lebih kuat dari tubuh ini. Pikiran saya memang belum tertarik untuk kembali hamil. Saat ini dan setahun kedepan dalam planing rasio saya adalah menyelesakan studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali merenung, selain faktor pikiran apakah kesehatan tubuh juga mempengaruhi terjadinya kehamilan? Tentunya faktor tersebut juga mempengaruhi namun lebih dominan yang mana gak usah terlalu dipikirkan. Jalani saja pola hidup sehat dan seimbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada pertanyaan apakah saya masih mau hamil? jawaban sebenarnya saya belum mau hamil dan kalau bisa cukup dua kali saja. Namun kalau melihat harapan dari orang tua dan keluarga besar juga lingkungan selalu mendorong agar saya hamil untuk yang ketiga kali. Alasan mereka hampir sama, karena saya belum memiliki anak laki-laki. Memang kenapa kalau saya tidak melahirkan anak laki-laki? Apakah jenis kelamin anak, saya yang menentukan? Bukankah kedua putri saya sehat dan cerdas? Rasulullah pun bangga dengan putri-putrinya dan dari merekalah tidak terputus nasab beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menikah di bulan oktober 2001 dan resepsi di bulan november 2001. Benar saja  28 juli 2002 anak pertama saya lahir. Pas 9 bulan dari pernikahan yang saya jalani. Kemudian setelah lahir anak pertama saya mencoba alat kontrasepsi yaitu pil yang ternyata tidak cocok, badan saya semakin kurus, air susu tidak keluar dan selalu mual. Dokter kandungan menyarankan saya memakai IUD Copper T. Ternyata cocok, namun haid saya jadi banyak dari biasanya dan harus hati-hati saat melakukan aktifitas termasuk berhubungan seksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setengah saya memakai Cooper T, setelah dibuka bulan depannya saya kembali hamil anak kedua. Artinya tak ada jeda sama sekali. Saya berkesimpulan bahwa rahim saya sangat subur saat tidak memakai alat kontrasepsi saya langsung hamil. Karenanya setelah lahir anak ke dua kembali saya memakai Cooper T untuk menjarangkan kehamilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu saya mengikuti pelatihan kesehatan reproduksi dan konsen meneliti tentang itu. Ternyata memakai alat kontrasepsi merupakan sebuah hak bukan kewajiban. Industri telah menjadikan perempuan sebagai objek dalam pelaksanaan KB. Seolah hanya perempuan saja yang harus bertanggung jawab dengan proses reproduksi, padahal kalau tidak ada kontribusi laki-laki tentu kehamilan tidak akan terjadi. Artinya menjarangkan kehamilan untuk menciptakan keluarga yang lebih kuat dan sejahtera merupakan tanggung jawab suami dan istri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya menolak menggunakan alat kontrasepsi apapun karena hampir semua alat kontasepsi sebenarnya tidak aman karena mengacaukan sistem hormonal tubuh perempuan. Perempuan harus mengetahui tubuhnya kapan ovumnya matang, karena kalau dibuahi saat ovumnya tidak matang maka kehamilan tidak akan terjadi (menurut science loh lain kalo Allah berkehendak). Untuk mengetahui itu seorang perempuan harus sehat, karena dengan tubuh yang sehat maka siklus haid akan mudah dipelajari. Tanda-tanda masa subur dengan naiknya suhu tubuh sekitar 0,5 -2 derajat celcius, lendir vagina seperti putih telur, naiknya libido perempuan untuk berhubungan seksual dan perasaan bahagia muncul bisa terus dipelajari tiap bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hak reproduksi terpenuhi maka kualitas perempuan akan terjamin. Bisa sehat dan selamat dalam menjalankan proses reproduksi. Dengan sendirinya manusia-manusia yang akan dilahirkan darinya, dididik dari asuhannya dan didampingi oleh kebersamaanya akan sehat dan tinggi kemampuan dan kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas Perempuan atau perempuan berkualitas dalam terminology Islam dikenal dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mar’ah ash-shalihah&lt;/span&gt; atau perempuan shalih. Shalih secara literal diartikan sebagai lawan kata dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fasid&lt;/span&gt; atau rusak. Makna yang menunjukan bahwa sesuatu itu tidak rusak adalah makna-makna shalih seperti sehat, kokoh, kuat, layak, sesuai, tepat bermanfaat, damai dan baik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan hak reproduksi, perempuan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shalihah&lt;/span&gt; adalah yang secara sadar dan mengerti, dapat menjalankan fungsi-fungsi reproduksinya dengan benar, sesuai tepat dan sehat baik fisik-biologis mental maupun social. Dengan kualitas perempuan shalihah akan membuat kehidupan lebih baik lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3861214630688795179?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3861214630688795179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/sedikit-caffein-semoga-bisa-mengusir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3861214630688795179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3861214630688795179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/sedikit-caffein-semoga-bisa-mengusir.html' title='Refleksi Kesehatan Reproduksiku'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6373802165256708661</id><published>2011-09-10T10:10:00.003+07:00</published><updated>2011-09-12T22:02:45.158+07:00</updated><title type='text'>Awal Semester Baru</title><content type='html'>Awal semester ganjil sudah dimulai. Dua mata kuliah kembali saya pegang. Filsafat Sosial serta Agama dan Gender. Lega rasanya hanya kedua mata kuliah itu yang diberikan. Tidak seperti semester ganjil lalu saya mendapat tambahan mengajar Logika dan Kapita Selekta. Tambahan mengajar sebenarnya merupakan tantangan tapi juga sebuah beban. Kenapa beban? karena saya harus mempersiapkan banyak hal dengan banyak membaca, menulis dan menyiapkan mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang kondisi saya yang sedang studi, memiliki dua anak yang masih kecil, aktivitas LSM dan konsultan sebuah lembaga membuat saya selalu berlari agar mendapatkan waktu berkualitas disetiap kesempatan. Kondisi ini membuat hidup ini semakin hidup. Life is never flat...seru nya hidup ini! terimakasih Allah menempatkan saya pada kondisi dimana peluang pahala dan prestasi bisa terus saya raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya ingin mengambil cuti ngajar agar konsentrasi nulis disertasi seperti beberapa teman, tapi mengajar adalah sebuah spirit buat saya untuk terus membaca dan belajar. Ya...nikmati saja apa yang ada dihadapan. Gaya belajar tiap orang berbeda...saya termasuk orang kinestetik, karenanya dari dulu semakin banyak saya bergerak maka otak saya semakin encer, tapi kalo diem malah buntu dan tidak produktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam ke depan saya akan bertemu dengan Prof Bambang Sugiharto. Dosen filsafat yang saya kagumi. Hasil telfon kemarin dia mau bimbing saya untuk disertasi. Sepertinya bu Musdah Mulia mungkin gak akan saya hubungi, selain jarak yang jauh,juga proyeksi ke depan,saya akan lebih fokus ke filsafat. Tentu ini peluang yang baik untuk menyerap ilmu dari orang mumpuni selain juga orangnya asyik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan baju kering sudah meninggi menunggu disetrika. Cucian piring tak henti-hentinya mengalir. Rumah selalu semarak dipenuhi canda tawa anak saya dan teman-temannya. Rumah juga belum selesai dibereskan setelah pulang mudik ......BERANTAKAAAN!!!. Asisten rumah tangga saya tidak balik lagi tergiur kerja di sebuah Pabrik di Purwakarta. Tawaran untuk saya kuliahkan ditepis begitu saja. Tawaran yang saya berikan sebenarnya bukan karena sosok perempuan muda itu. Saya menawarkannya karena kakaknya kemarin sudah tinggal di rumah saya 7 tahun, beres kuliah dan sekarang sudah menjadi seorang guru. Ternyata lain kakak lain adik. Keduanya memang sangat berbeda. 6 bulan saya mencoba mempelajari dan memahami karakternya namun ternyata saya tak berhasil mengajaknya lebih positif menata hidup. Ya sudahlah...semua orang memiliki pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon asisten RT baru saya seorang gadis dari Karawang. Mantan peserta pelatihan bordir yang lembaga saya rekomendasikan. Dari 20 orang yang kami utus selama 4 bulan hanya dia yang bertahan. Meski hanya lulusan paket C tapi semangatnya untuk menjadikan hidupnya lebih baik menggugah saya untuk memberikan kesempatan kuliah. Ya...saya tidak ingin anak saya diasuh oleh manusia yang tidak memiliki semangat untuk hidup. Karena semangat untuk menjadikan hidup ini lebih baik lagi merupakan sebuah kunci keberhasilan. Semoga saya bisa bersinergis dengannya menata hidup ini lebih baik lagi. Berkahi hidup Hannah Rabb...untuk terus berbagi dan mendapatkan makna dari setiap detik usia yang Kau berikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6373802165256708661?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6373802165256708661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/awal-semester-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6373802165256708661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6373802165256708661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/awal-semester-baru.html' title='Awal Semester Baru'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8746472506031140177</id><published>2011-09-05T16:05:00.003+07:00</published><updated>2011-09-05T16:58:19.731+07:00</updated><title type='text'>Sunset 1 Syawal 1432 H</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-IlWdQ6MVlig/TmSYWYPaD0I/AAAAAAAAACU/gCmIckQ94zI/s1600/CIMG7412.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-IlWdQ6MVlig/TmSYWYPaD0I/AAAAAAAAACU/gCmIckQ94zI/s320/CIMG7412.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648807342861061954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-uvtf8jcf0x4/TmSVxPmX0KI/AAAAAAAAACM/qZhIp37KCeA/s1600/CIMG7408.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uvtf8jcf0x4/TmSVxPmX0KI/AAAAAAAAACM/qZhIp37KCeA/s320/CIMG7408.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648804505863049378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-yxW6sbufI00/TmSRr1NlM1I/AAAAAAAAACE/eAIFHfeY4FU/s1600/CIMG7407.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-yxW6sbufI00/TmSRr1NlM1I/AAAAAAAAACE/eAIFHfeY4FU/s320/CIMG7407.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648800014833890130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati sunset 1 syawal di Pasir Putih Carita jadi pilihan keluarga kami. Mumpung yang lain sibuk berbuka karena lebarannya jadi hari rabu artinya pantai akan sepi. Benar...hanya beberapa orang saja yang bermain di pantai. Selebihnya keluarga besar kamilah yang meramaikan pasir putih ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setengah tahun saya tak menikmati air laut yang menyehatkan. Sehingga saat ada kesempatan meski sudah ibu-ibu saya tak melewatkannya Tapi ibu-ibu yang lain juga ikutan ding...kakak saya, ibu dan adik ipar juga ikut berenang. Setelah berenang ditutup dengan makan bersama di pantai. Alhamdulilaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa besar karunia Allah kepada manusia yang senantiasa memberikan banyak hal indah menakjubkan yang tersedia di alam. Lautan syukur  menyeruak dalam dada...betapa Ia betul berperan sebagai Rabb..., duh malunya hati ini karena belum bisa optimal mencintai-Nya dan taat pada-Nya. Amal saya baru setitik kecil namun kasihnya selalu meliputi diri ini Rabb...ampuni kesalahanku...terimakasih atas nikmat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga syawal ini semangat kesyukuran terus mengkerangkai langkah agar senantiasa terus berusaha mempersembahkan yang lebih baik lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8746472506031140177?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8746472506031140177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8746472506031140177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8746472506031140177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/09/blog-post.html' title='Sunset 1 Syawal 1432 H'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-IlWdQ6MVlig/TmSYWYPaD0I/AAAAAAAAACU/gCmIckQ94zI/s72-c/CIMG7412.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3545196145578572912</id><published>2011-08-29T20:57:00.002+07:00</published><updated>2011-08-29T21:44:41.212+07:00</updated><title type='text'>Shaum hari ke 29</title><content type='html'>Hari terahir shaum. Menyediakan makanan buka di menit-menit terahir. Bingung dan malas, menu apa lagi yang akan dihidangkan. Buka dengan baso yang tak pernah sekalipun menghiasai hari-hari shaum sebelumnya. Semoga menjadikan kami tetap sehat meski saya tau mungkin zat penyedap, pengawet, pewarna dan yang lain-lain tidak baik untuk tubuh. Sesekali tak mengapa saya pikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharian tadi mempersiapkan perlengkapan mudik juga ngebut dua juz terahir. Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Tak dibantu asisten membuat semua PR saya kerjakan sendirian. Kalo lagi libur kayak gini tak terasa lelah. Beda ceritanya kalo hari biasa. So...nikmati saja jadi ibu RT full.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kami memutuskan berlebaran esok hari, meski pemerintah RI mengumumkan lebaran hari rabu. Malam ini rute mudik dari Bandung menuju Cilegon. Setelah mengantarkan saudara di jalan dekat ke Anyer saya menjemput adik di Cilegon timur untuk sekalian berlebaran di Rangkasbitung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik yang saya jemput di Cilegon ini sedang mengalami badai rumah tangga yang tidak kecil. Adik saya laki-laki sudah berumah tangga sekitar 8 tahun. Di tahun ke delapan saat Allah menganugerahi pekerjaan tetap yang lumayan ternyata tidak sejalan dengan kondisi relasi antar mereka. Sang istri mengaku telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Ia mengatakan sebelum shaum agar dimaafkan. Kalau dimaafkan dan adik saya mau menerimanya kembali maka dia bersyukur, kalau tidak dimaafkan dia rela diceraikan katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal shaum adik saya menceritakan hal tersebut. Saya kembalikan seluruhnya kepadanya, karena dia adalah seorang pemimpin keluarga. Saya juga menyarankan untuk mengecek sejauh mana perselingkuhan istrinya, agar dia siap apapun yang diputuskan. Syukur-syukur kalau perselingkuhan itu baru sebatas telfon dan jalan. Lain ceritanya kalau sudah ML.Kalu sudah seperti itu saya pikir harus End. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kecil saya berkata sekecil apapun tetap perselingkuhan, entahlah kalau itu terjadi pada saya mungkin agak sulit bagi saya untuk memaafkan. Saya lebih memilih untuk berpisah pada saat sebuah komitmen sudah tidak dihargai lagi. Kesetian bagi saya adalah segalanya. Lahir dan Bathin. Mungkin terdengar naif bagi orang lain, kadang saya pun ditertawakan oleh teman-teman kerja perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan dalam sebuah pernikahan, sebelum menikah juga saya tidak pernah memiliki komitmen dengan seorang laki-laki pun. Saya pernah menyukai seorang laki-laki, namun ternyata dia tidak menyukai saya. Ya sudah selesai tanpa ucapan dan relasi apapun hanya dalam hati saja. Komitmen pertama saya seumur hidup adalah dengan suami saat ini. Saya mungkin miskin pengalaman, tapi biarlah kalau pengalaman itu memang akan menyelamatkan. Saat ini saya terus membangun cinta agar tumbuh cinta. Karena jatuh cinta itu sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya mulai memasuki dunia kampus 6 tahun lalu, banyak informasi berkeliaran bahwa dosen perempuan yang sudah mapan sering memiliki affair. Beberapa teman menyebutkan siapa saja yang memiliki affair tersebut. Saat ini saya malah dekat dengan dosen-dosen perempuan yang dikatakan memiliki affair tersebut. Meski saya melihat indikasi tersebut mungkin ada tapi saya pikir selama bergaul dengan saya mereka selalu menampilkan hal positif untuk saya. Saya bertekad sayalah yang akan memberikan pengaruh baik pada mereka bukan tertulari hal yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah lama bekerjasama dan bergaul, dosen-dosen perempuan teman saya hanya heboh di ucapan. Pada dasarnya mereka perempuan baik dan bertanggung jawab. Anak-anak mereka baik dan sholeh dan beberapa ada yang hafidz qur'an. Saya pikir tak mungkin itu muncul dari ibu yang tidak baik. Rumor yang saya dengar mungkin keliru. Itu hanya bentukan masyarakat kampus untuk menganggap bahwa perempuan kuat dan sukses itu hal yang bertentangan dengan kebenarah. Ah emang gue pikirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam kedepan saya berangkat mudik...wajah ibu...bapa...sudah terbayang dipelupuk mata. Saya menyayangi mereka berdua. Kalau ibu selalu saya peluk dan ciumi setiap kali bertemu, karena pertemuan kami sangat jarang. Kalu boleh bapak juga, tapi sejak Aliyah kelas 1 saya sudah tidak boleh lagi mencium bapa, saya dimarahi ibu saat melakukan terahir kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...semoga saya mendapatkan makna dan menjadi lebih baik lagi dalam perjalanan mudik kali ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3545196145578572912?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3545196145578572912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3545196145578572912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3545196145578572912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-29.html' title='Shaum hari ke 29'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4043563684483029511</id><published>2011-08-28T13:12:00.003+07:00</published><updated>2011-08-28T14:06:32.494+07:00</updated><title type='text'>Shaum hari ke 28</title><content type='html'>H-2 dari lebaran. Masih di Bandung. Menunggu saat yang tepat untuk mudik. Sebuah aktifitas yang melelahkan namun tetap selalu dirindukan. Momen dimana semua anggota keluarga besar kumpul. Menyambung silaturahmi yang mungkin tak kan diketahui bila tidak ada moment ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenung di penghujung Ramadhan. Sejak subuh tadi sudah saya lakukan. Sambil berkejaran dengan kucing kesayangan. Entah kenapa ada yang retak dan resah di hati. Ada yang salah, apa yang salah? Entahlah... positif feeling agak sulit saya lakukan. Saya tau hati saya merasakan ada yang salah namun kembali saya bertanya apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau fokus dengan keresahan. Masih banyak yang bisa saya lakukan. Rumah yang harus dibereskan. Menu buka yang harus disiapkan. Juga pakaian mudik yang harus dimasukan ke tas. Mungkin karena selama ini saya selalu fokus pada positif feeling sehingga beberapa kesalahan terlewatkan. Saya tidak sensitif dan mengabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hal ini berkaitan dengan konsep penghambaan. Sebuah konsep yang bergeser cukup besar. Bahkan mungkin bukan hanya bergeser tapi mungkin berbalik. Ke arah manakah? Kalau memakai kacamata lama tentu ke arah kemunduran. Namun kalau memakai kacamata baru ke arah kearifan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah...sekali lagi saya hanya mampu berdo'a semoga Ia memberikan kembali keyakinan. Keyakinan yang membuat saya selama ini bertahan. Namun bukan sebuah keyakinan yang membuat saya bodoh dan terasingkan. Karena kalau Ia sebuah kebenaran, maka tak kan mungkin Ia memerangi orang yang menggunakan akalnya dengan optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya berserah dengan perkataan orang yang mengkategorikan yang lain. Mengatakan bahwa yang dilakukan adalah sebuah kemunafikan. Yahudi, nasrani bahkan ahlul kitab dialamatkan. Bersembunyi dibalik firman Tuhan. Yang diinterpretasi sesuai dengan keinginan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehampaan &lt;br /&gt;Ketiadaan&lt;br /&gt;Kekosongan&lt;br /&gt;Terasakan&lt;br /&gt;di ahir Ramadhan&lt;br /&gt;Hanya Tuhan&lt;br /&gt;Yang mengetahui Kebenaran&lt;br /&gt;Ia yang bisa dijumpai dimanapun&lt;br /&gt;kapanpun &lt;br /&gt;Tak perlu birokrasi yang melelahkan&lt;br /&gt;Berujung sebuah Kebijakan&lt;br /&gt;Namun disikapi laksana sebuah Firman&lt;br /&gt;Apakah ini pengingkaran?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4043563684483029511?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4043563684483029511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4043563684483029511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4043563684483029511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-28.html' title='Shaum hari ke 28'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1844719728983456450</id><published>2011-08-27T21:49:00.004+07:00</published><updated>2011-08-28T14:13:54.074+07:00</updated><title type='text'>Shaum hari ke 27</title><content type='html'>Hari-hari terahir Ramadhan menguras kesabaran saya. Betapa tidak? Efek dari sikap saya yang mempertanyakan kenapa sekertaris jurusan mengeluarkan nilai dan meloloskan mahasiswa untuk sidang komprehensif berujung jawaban sudah melakukan prosedur SP (Semester Pendek). Padahal SP harus memiliki prosedur tersendiri, dimana harus ada pertemuan dan Ujian. Saat saya tanyakan langsung pada mahasiswa bersangkutan ternyata prosedur itu tidak dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap protes saya disikapi dengan rapat pimpinan fakultas untuk membahas masalah ini. Mereka berlindung dibalik SP dan malah menyalahkan saya karena lancang memprotes jurusan. Opini yang berkembang di kalangan teman-teman yang saya tangkap, saya dosen perempuan yang over acting dan tak sepantasnya mensikapi hal remeh temeh seperti itu dengan sebuah tulisan apalagi di publish. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang saya publish sama sekali tidak saya maksudkan untuk menyinggung fakultas apalagi jurusan. Saya lebih memfokuskan kepada mahasiswa yang mengecewakan saya. Perasaan tersinggung fakultas dan jurusan sudah saya mintai maaf secara lisan saat saya dipanggil pihak dekanat untuk menghadap. Saya merasa seperti akan maju ke medan perang saat dipanggil oleh mereka. Seorang perempuan kecil yang tak berdaya menghadapi 5 orang laki-laki yang notabene pejabat fakultas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah mencoba menghipnosis diri membayangkan saya seperti bola lampu (bohlam) yang sangat rapuh namun karena fokus dan flow bisa memecahkan lantai keramik. Simulasi brain power yang saya ikuti memandu saya menghadapi ke lima laki-laki tersebut dengan santai.Ya semua sudah berlalu dan ahir dari pembicaraan itu adalah kami sepakat untuk memperbaiki kinerja kami dalam mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di fakultas belum nyaman saya rasakan. Entahlah saya belum memiliki keyakinan dengan Dekan yang baru terpilih akan seperti apa. Namun sepertinya tidak lebih baik dari yang lalu. Lebih baik saya memfokuskan diri pada studi saya dan langkah saya memberdayakan perempuan dan anak. Semakin menguat komitmen dalam diri untuk selalu menjadi oposan selain meningkatkan kualitas diri menjadi pengajar yang kompeten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari lalu kesabaran saya juga diuji. Muka saya merah menahan marah. Air mata tak terasa keluar. Namun tidak dihadapan pihak yang menyebabkan semua ini terjadi. Dihadapan mereka saya menampilkan sosok yang kuat. Permasalahannya berawal dari tawaran untuk memasukan proposal pendampingan LSM yang saya ketuai. Sebagai tugas ketua salah satunya adalah dengan mencari sumber pendanaan untuk berjalannya program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dari awal hati saya sudah ragu untuk bekerja sama. Malah saat prosedur berbelit yang harus saya lewati, saya tidak mau menyelesaikannya namun menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang mengusahakan. Ternyata mereka memang mengusahakan agar proposal itu gol. Nah tanggal 25 kemarin itu dana tersebut cair di rekening LSM kami. Ternyata setelah kami cairkan, LSM saya hanya mendapat 3,5% dari 100% dana yang masuk. Padahal pendampingan yang kami lakukan real di masyarakat. Saya benar-benar merasa terhina dan marah dengan sistem kerja sama seperti ini. Dana tersebut saya kembalikan seluruhnya. Lebih baik saya tak mendapatkan apa-apa dari pada terhina dan marah. Karena saya yakin pintu rizqi yang halal dan berkah akan terbuka tanpa proyek pemerasan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak marah kepada teman-teman yang mengusahakan proyek ini.Karena mereka pun ada dalam posisi yang serba salah. Sistem korup yang sudah akut di negri ini membuat orang-orang baik terjebak menjadi penadah dana-dana yang sebenarnya masuk ke rekening pribadi para penjahat yang ingin balik modal karena dana kampanye yang sudah dikeluarkan saat pemilihan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba melupakan masalah ini. Menganggap tidak pernah terjadi meski sulit. Karena kalau saya kembali protes dan mencoba membongkar semua ini saya pikir saya tak punya kekuatan apa-apa. Malah bisa jadi saya jadi perkedel. Seperti Image saya di Fakultas saat ini. Semoga saya bisa tetap memegang yang benar meski mungkin hal tersebut bisa melukai tangan saya. Tak apa asal jangan hati dan iman saya. Ah semoga kelak saya bisa jadi martir seperti mereka yang sudah menemui Engkau.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1844719728983456450?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1844719728983456450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1844719728983456450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1844719728983456450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-27.html' title='Shaum hari ke 27'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-5916419629675289296</id><published>2011-08-19T09:05:00.002+07:00</published><updated>2011-08-28T14:20:12.280+07:00</updated><title type='text'>Shaum hari ke 19</title><content type='html'>Saat ini saya sedang duduk di depan mesjid agung Ujung berung.  Waktu menunjukan pukul 8.40 menit. Sinar mata hari pagi langsung menyapa saya. Hangat rasanya. Sudah lama saya tidak melakukan hal ini. Entah kapan terahir bisa duduk-duduk di depan mesjid Ujung berung pada pagi hari. Hal ini saya lakukan karena ternyata waktu janjian saya dan teman di undur dari jam 8 ke jam 9. Padahal sebelum jam 8 saya sudah sampai di tempat janjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengisi waktu tadi saya ke bank BRI dulu untuk menukarkan uang receh buat lebaran. Ternyata BRI ujung Berung tidak menyediakan uang receh 2000 hanya menyediakan 5000. Ya ahirnya saya hanya menukarkan uang sebagian saja. Setelah dari bank ternyata masih ada waktu untuk sampai di jam 9 ahirnya duduk di depan mesjid sambil nulis dan online jadi pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masij raya Ujung berung terletak sebelah kanan pasar tradisional dan alun-alun kecil. Bangunannya tidak terlalu besar mungkin sekitar 50 m x 60 m. Warna cat dominannya kuning pucat meski ada sedikit sentuhan coklat dan kusen jendela yang juga coklat. Mesjid ini berlantai putih dengan lantai pembatas shaf berwarna hijau. Bentuk Bagunannya tidak jelas bergaya arsitektur apa namun seperti mesjid pada umumnya berjendela besar dan banyak. Tempat parkir berada di sekeliling mesjid dengan area yang tidak terlalu luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid Ujung berung terletak dipinggir jalan raya yang biasa dilewati angkutan dalam dan luar kota. Arus kendaraan yang padat membuat suara gaduh. Aktifitas masyarakat yang melewatinya juga cukup ramai. Mulai dari yang berjalan kaki, naik motor juga mobil. Mungkin karena ada beberapa komplek yang terletak di belakang masjid ini dimana akses mereka untuk keluar masuk harus melewati mesjid sehingga mesjid ini selalu ramai. Belum lagi karena bersebelahan dengan pasar tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pasar tradisional Ujung berung sudah tidak lagi nyaman untuk dikunjungi. Selain selalu macet juga bangunan lamanya membuat saya malas mengunjunginya. Sudah beberapa kali sebenarnya pasar ini mau di relokasi, tapi semua pedangan selalu bertahan. Saya jadi bingung kenapa sih kok seperti itu, padahal tempat baru yang yang akan dijadikan pengganti juga strategis. Padahal kalau sekiranya pasar itu pindah maka lalu lintas dan tata kota Ujung berung akan lebih indah dan bersih.  Kata pihak pemkot sih area pasar tradisional tersebut akan dipakai untuk memperluas alun-alun dan taman kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama saya tinggal di Bandung timur  masjd ini hanya saya kunjungi beberapa kali saja. Karena tidak ada yang menarik yang bisa saya nikmati di sini. Oh iya dulu sewaktu saya tinggal di Komplek Taruna sekitar 500 meter dari mesjid setiap pagi saya belanja di pasar tradisional dan sesekali saya mampir untuk ke tolilet mesjid. Hehe...cuma ke toilet aja. Saya berangkat habis subuh dengan naik motor untuk kemudian belanja bahan-bahan untuk saya masak di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hari kedua saya tidak shaum. Kemarin siang sebelum shalat duhur, haid saya datang. Saya hanya sempat minum saja, karena anak saya selalu ingin bersama dan saya tidak memiliki kesempatan untuk makan. Sebenernya sih mending shaum. Tapi semoga tidak shaum ini juga merupakan sebuah bentuk ketaatan pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini rencananya saya akan berangkat ke Studi Wanita UI untuk memfotocopi beberapa tesis dan disertassi untuk melengkapi disertasi yang sedang saya garap. Beberapa judul yang akan difotocopy sudah saya tulis dan semoga saja metodologi penelitian saya lebih jelas dari kemarin. Karena promotor saya minta agar saya menuliskan sampai bab 3 dan setelah syawal nanti saya sudah bisa pergi ke lapangan. Sebenarnya setiap hari saya pergi ke lapangan, karena yang saya teliti adalah perempuan korban yang saya dampingi di P2TP2A.  Ya biar sajalah memang desain riset saya belum jelas dan untuk memperjelaslah saya berangkan ke UI hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-5916419629675289296?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/5916419629675289296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5916419629675289296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5916419629675289296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-19.html' title='Shaum hari ke 19'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1649602759493755760</id><published>2011-08-17T13:21:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T13:21:31.440+07:00</updated><title type='text'>Shaum hari ke 17</title><content type='html'>Alhamdulillah sampai hari ke-17 ini kasih sayang-Nya masih melimpahi keluarga ini. Kemarin seorang teman mengkonsultasikan pernikahannya kepada saya di kantor. Saya tak menyangka ternyata teman laki-laki saya yang ceria dan baik itu sering menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan oleh istrinya. Saya belum mengkros cek kebenaran informasi ini.Hanya kalau mendengar cerita dan pengakuannya bisa jadi itu memang teralami olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dan anak memang rentan mendapatkan pelakuan kekerasan. Tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki pun menjadi korban, seperti yang dialami teman saya. Sebagai seorang laki-laki, saya pikir apa yang kurang dari teman saya? penampilan cukup manis dengan tinggi badan yang ideal. Gaji dan penghasilan sebagai PNS di kantor pajak yang sudah 11 tahun bekerja saya pikir cukup untuk membiayai rumah tangga dengan 2 anak yang masih kecil. Rumah dan kendaraan pun sudah mereka miliki. Ternyata kondisi ini selalu dikeluhkan oleh istri teman saya. Keluhan yang selalu berujung pertengkaran ini terjadi hanya karena si istri merasa bahwa ekonomi keluarganya lebih baik dari sang suami dan apapun yang dilakukan sang suami itu tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsultasi ini berlangsung selama hampir 1 jam. Keinginan teman saya adalah segera mengahiri pernikahan yang sudah berjalan 8 tahun. Namun merasa tidak tega bila menatap bola mata kedua anaknya bila itu terjadi. Saya bertanya tentang hubungan seksual yang terjadi antara teman saya dan istrinya untuk melihat seberapa parah permaslahan yang mereka hadapi. Jawab teman saya baik-baik saja. Saya bertanya setiap hari pulang kerja dia ke mana? dia menjawab langsung pulang ke rumah bertemu dengan istri dan anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isrinya merupakan lulusan s1 Hukum yang selama 8 tahun ini hanya di rumah saja. Lingkungan yang ia miliki hanya sekitar rumah dan sekolah anak-anak. Seorang ibu yang tidak suka membaca dan sangat suka dengan sinetron. Latar belakang keluarga kaya membuatnya mengeluarkan energi banyak untuk bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini dimana suaminya hanya seorang PNS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kebutuhan teman saya sebagai suami selalu dipenuhi istrinya. Mulai dari urusan dapur sampai urusan anak-anak dia hanya tau beres. Malah teman saya mengatakan kalau istrinya itu sebenarnya adalah seorang yang perhatian, hanya kalau marah sering memukul dan melemparkan benda-benda yang ada di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba mengajak teman saya berempati terhadap kondisi istrinya yang 24 jam mengurusi rumah tangga dengan lingkungan yang itu-itu saja. Sedangkan teman saya memiliki pekerjaan yang disukainya, teman-teman yang berwawasan luas dan jenjang karir yang baik. Setidaknya istrinya butuh sebuah aktualisasi diri yang mengakibatkan dia merasa berharga sebagai manusia. Tidak melulu harus keluar rumah dan bekerja. Dia harus diajak bertemu dengan konselor keluarga agar saat menyalurkan kekesalan dan kemarahan tidak dengan melakukan kekerasan. Konselor juga akan mengajaknya menemukan apa sebenarnya permasalahan yang selalu diributkan kedua pasangan ini. Selain menemukan aktualisasi seperti apa yang baik untuk perkembangan jiwa sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba bertanya pada teman laki-laki saya? "jangan-jangan kamu sudah punya cadangan untuk mengganti istri kamu sehingga apapun adanya istri kamu itu jelek dan kamu anggap sampai kapan pun tidak akan berubah?" Dia menjawab dengan jujur "sebenarnya ada, hanya saya masih berat pada kedua anak saya". Saya mencoba mengajaknya merenung apakah sang cadangan ini akan lebih baik dari istrinya? padahal secara spiritual kalau kita belum bisa sukses dalam satu permasalahan biasanya Allah akan terus memberikan permasalahan yang secara garis besar sama sampai kita benar-benar bisa mengatasi masalah tersebut dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan teman saya adalah ia ingin dihormati sebagai imam dalam keluarga. Saya kembali bertanya seperti apa kongkritnya? dia menjawab ia ingin istrinya menjadi istri yang bersyukur dan tidak membanding bandingkan dirinya dengan keluarga besarnya dan tidak menghina suaminya dan keluarganya apalagi sampai memukul suaminya.  Saya mengusulkan agar istrinya di bawa ke tempat kami untuk konsultasi agar informasi berimbang untuk kedua belah pihak. Karena saya pikir lebih baik memperbaiki yang ada dari pada membuka rumah baru yang belum tentu seperti apa. Karena kalau dari cerita teman saya tersebut, ia dan istrinya masih punya kesamaan yang menganggap bahwa kedua anak mereka harus mendapatkan hal yang terbaik baik dari sisi materi maupun kasih sayang. Saya pikir dari mereka berdualah itu bisa didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 3 saya pulang dari kantor di jemput suami. Konsultasi teman saya ini menginspirasi saya untuk berbicara dari hati-ke hati dengan suami. Semoga hal ini mengurai permasalahan keluarga kami dan semakin mengeratkan kasih sayang. Semua bisa diatasi dengan syukur, sabar dan ikhlas. Dimana ketiganya tidak memiliki batas. Ah puisi yang sebelumnya saya tulis sepertinya menguap begitu saja setelah berbincang dari hati ke hati ini dia puisi yang saya tuliskan sehari sebelumya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin berkata kata&lt;br /&gt;Bila hanya membuatmu berujar jangan pandang sebelah mata&lt;br /&gt;inginku hanyalah tenggelam dalam lautan sujud bersama&lt;br /&gt;menggetarkan arasy dengan perjanjian agung  kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin apa-apa&lt;br /&gt;Bila Ia sudah menopang dengan teguh dan nyata&lt;br /&gt;Sandaranku melewati titian tasbih menggelora&lt;br /&gt;Menundukan mauku akan dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin bertanya tanya&lt;br /&gt;Bila jawaban bukanlah segalanya &lt;br /&gt;Cukup biarkan hati bicara &lt;br /&gt;Membisikan cinta menyatukan asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog itu sangat perlu. Dalah sebuah relasi apapun. Darinya banyak hal bisa terurai. Tak ada satu masalahpun yang tak bisa dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1649602759493755760?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1649602759493755760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1649602759493755760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1649602759493755760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-17.html' title='Shaum hari ke 17'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4840408258011925073</id><published>2011-08-12T06:19:00.002+07:00</published><updated>2011-08-12T06:22:27.046+07:00</updated><title type='text'>shaum hari ke 12</title><content type='html'>Perubahan hormonal menjelang haid membuat perasaan campur aduk. Kalau diperhatikan skema campur aduknya sebenarnya ada benang merah yang terlihat yaitu menjadi sensitif dan melankolis. Kupakai pengetahuanku tentang kesehatan reproduksi untuk memahami mau tubuhku. Tentu agar semuanya tidak menjadi batu sandungan dalam melakukan semua aktiiftas keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya setidaknya saat perasaan campur aduk itu muncul aku sudah siap menggunakan pikiranku untuk menciptakan perasasaan tandingan yang menyenangkan. Dengan membayangkan hal yang menyenangkan yang akan kujalani ke depan berharap menjadi sugesti agar kelak hal menyenangkanlah itulah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh ini setelah sahur saya tadinya hendak meresensi sebuah buku yang sudah selesai dibaca. Buku tersebut hadiah dari seorang sahabat. Saat mencari gambar buku tersebut di google ternyata pengarangnya sudah meninggal dunia. Saya terpaku dan tak memiliki kata untuk menulisakan apa pun. Rasa sedih mengingat saya adalah salah satu penggemar karya-karya beliau. Bisalkah hidup saya sepertinya? Banyak menghasilkan karya abadi yang mencerahkan orang lain? Menulis sebagai sebuah perjalanan spiritual ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa saya memang nyaman bergaul dengan buku daripada dengan yang lain. Karenanya berbagai inspirasi hidup sering saya temukan dari buku. Dengan buku saya bisa bertanya apapun. Dengan buku saya bisa mendapatkan cerita yang beraneka warna dan rasa. Dengan buku hidup saya menjadi indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku juga menjadi penyembuh saya saat sedang sakit sekarat. Sakit yang diakibatkan oleh masih sempitnya saya dalam memandang hidup ini. Sedikit demi sedikit buku membukakan pintu kebijakannya buat saya. Membuat saya bisa merasakan bahwa hidup tak sendiri. Masih banyak orang yang mau peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua belas Ramadhan ini saya berdo’a semoga Ia senantiasa memberikan hidayah. Menjadikan sepenuhnya ada dalam ridha-Nya. Terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi sampai saya menemuinya kelak. Saya mohon ampun atas segala kelalaian yang diperbuat. Semoga ia masih memberikan kesempatan untuk bisa memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdo’a untuk penulis “Hingga Detak Jantungku Berhenti” yang saat ini sudah bertemu dengan-Nya. Semoga ia diampuni dosanya. Diterima amal ibadahnya. Karyanya menjadi amal jariyah tak terputus mengalir. Dua permata hati yang ditinggalkan menjadi generasi sholeh dan sholehah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah inspirasi buat saya. Saat Engkau memberikannya keterbatasan, ia tak menganggap itu sebuah keterbatasan. Langkahnya....karyanya...optimisme hidupnya melebihi manusia sehat seperti saya. Mengapa saya cengeng dan mengeluh pada saat terkena flu yang belum juga sembuh? Mengapa saya belum juga bersyukur dengan bekerja dan berkarya sebaik mungkin? Mengapa saya belum juga bisa memaknai hidup ini dengan selalu berpikiran positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan saya Rabb...berikan kekuatan dan ketabahan yang telah engkau berikan kepada Nurul F Huda  untuk saya. Hanya Engkau yang mampu memberikannya untuk saya. Hingga Detak Jantungku Berhenti...saya tak ingin berhenti untuk menjadikan hidup ini terus bermakna dan menjadi lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4840408258011925073?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4840408258011925073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-12.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4840408258011925073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4840408258011925073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-12.html' title='shaum hari ke 12'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3076628821638721145</id><published>2011-08-10T14:58:00.005+07:00</published><updated>2011-08-10T15:28:18.570+07:00</updated><title type='text'>Shaum hari ke-10</title><content type='html'>Alhamdulilah sudah memasuki hari kesepuluh di bulan shaum. Pagi tadi diawali dengan menghadiri silaturahmi orang tua murid di Yayasan Zakaria Education Center yang diisi oleh tausiah bapak KH Miftah Faridl. Tausiahnya begitu menyejukan dan mengingatkan agat tidak lalai dan bersegera dalam beribadah di bulan shaum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya rasa terimakasih saya sampaikan kepada beliau dan untaian do'a semoga beliau senantiasa ada dalam kesehatan agar terus bisa berkhidmat kepada umat manusia. Ceramah yang begitu renyah namun sangat mendalam dengan pemaparan ayat dan hadis namun tetap membuat kita tidak bete karena diselingi oleh joke yang syar'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengadiri silaturahmi tersebut bersama suami. Semoga ia juga kembali merasa bersemangat untuk mengisi ramadhan kali ini dengan banyak berdzikir, shalat sunnah dan baca qur'an. Kemarin saya sempat mengingatkannya untuk lebih rajin lagi tadarus, karena dari awal ramadhan saya jarang sekali mendengar suara merdunya melantunkan kalam ilahi. Mengingatkan sambil mengancam akan melaporkan kepada ibunya kalau dia tidak berubah. Hehe...mungkin saya kekanakan tapi sebenarnya saya ingin melakukan hal tersebut. Karena belakangan ini sholat sunnahnya, shaumnya dan tadarus qur'annya jarang terdengar. Padahal karena faktor inilah dulu saya mau menerimanya sebagai seorang suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang silaturahmi saya langsung menuju kampus untuk mengantarkan undangan buka bersama di p2tp2a Provinsi untuk PSW se Bandung dan intansi yang konsen dengan pemberdayaan perempuan. Setelah itu pulang ke rumah. Setelah duhur saya membaca buku stolen innocent yang sudah dua hari ini saya baca. Alhamdulilah bisa selesai dan saya tidur siang sampai pukul 13.40. Meski hanya tidur sekitar setengah jam namun saya merasa begitu segar. Mungkin karena saya menerapkan teknik brain power pak Risman Purba sehingga jadi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dua sampai jam tiga saya tadarus qur'an dan kemudian menulis catatan ini, sambil buka email dan fesbuk. Ya setengah jam kedepan saya harus masak untuk buka kami sekeluarga. Menu pesanan suami pengen nasi uduk, anak saya ingin ayam kecap dan sayurnya sayur bayam. Berarti tinggal menambahkan emping goreng, tahu goreng dan sambel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya tergetar saat KH Miftah Faridl mengatakan bahwa para ulama di bulan Ramadhan ini justru banyak menghasilkan karya yang brilian. Hmm bisakan saya menghasilkan tulisan yang berkualitas yang bisa menjadi amal jariyah saya kelak. Bismillah...proyek buat buku akan saya lanjutkan lagi. Semoga saya selalu dilimpahi keberkahan dan semangat dalam hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3076628821638721145?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3076628821638721145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3076628821638721145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3076628821638721145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-10.html' title='Shaum hari ke-10'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8809275563171980029</id><published>2011-08-07T10:56:00.002+07:00</published><updated>2011-08-07T11:22:39.168+07:00</updated><title type='text'>shaum hari ke-7</title><content type='html'>Sebenarnya shaum hari ke-5 sudah saya ketik untuk entri baru, tapi koneksi modem terputus dan saya belum menyimpannya.Jadi hilang begitu saja. Saya lebih suka langsung menulis dari pada diketik dulu di laptop. Karena yang diketik di laptop itu merupakan pilot project catatan harian saya untuk kesehatan jiwa saya secara pribadi dan tidak layak dibaca di muka umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk shaum hari ke-6 saya tidak menulis apa-apa karena seharian berkeliling Bandung untuk menengok Bibi yang sedang diklat, mengantar anak-anak ke salon dan buka di Jatos. Sesekali buka di luar rumah saya pikir tidak mengapa, sekalian mengenalkan dunia kepada kedua putri saya. Agar kelak mereka tidak kuper dan memiliki filter dalam hidup yang semakin kompetitif ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulilah saya bersyukur bisa memberikan yang lebih baik lagi untuk keluarga. Uang dari kantor yang saya dapat di hari jum'at lalu begitu tak terduga. Semoga uang tersebut berkah dan menjadi investasi saya kelak di hari ahir. Makna berkah adalah saat uang itu benar-benar terpakai untuk hal yang bermanfaat, saat uang itu dari awal sudah dizakati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-7 ini kondisi tubuh terasa agak lemah. Flu yang menyerang mulai menjadikan kepala pening. Selain tenggorokan sakit, mampet dihidung juga bikin g nyaman. Semoga Allah memberikan saya dan keluarga ini kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah setengah perjalanan membaca buku Dani Ronnie yang berjudul The Power of Emotional &amp; Adversity Quotient for Teacher. Kemarin saya juga sudah mencoba merefleksikannya hanya karena belum selesai, maka saya pun belum secara utuh melihat buku tersebut. Hari ini pengennya menyelesaikan buku tersebut, cuma pening dikepala bikin g nyaman. Tetap akan saya coba, namun saya tidak akan memaksakan diri. Paling-paling saya menambah tadarus saja. Semoga bisa segera khatam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya di Mall kemarin melihat sebuah gaun putih. Indah sekali. Sebuah gaun sederhana dengan bordir mungil berwarna perak. Sepertinya gaun itu pas buat saya. Saat saya menghampiri manekin yang memakai gaun itu, anak-anak saya menarik tangan dan meminta saya mengantar mereka ke mushalla di mall. Ahirnya saya terlupa untuk melihat harganya dan baru teringat sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-7 ini saya berdo'a semoga dengan shaum ini saya, keluarga dan umat Islam seluruhnya diberikan kesehatan dan keberkahan dalam hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh saat menulis catatan ini saya agak terganggu karena anak tetangga depan rumah sedang latihan terompet. Berisik sekali. Biasanya mereka latihan hari rabu. Tapi kok hari minggu ini latihan juga. Kepala saya jadi nambah puyeng. Eh...g ding kepala saya sehat...segar...(sedang menghipnosis diri biar sehat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah seadanya saja saya postingkan catatan untuk hari ini. Semoga hidup saya bisa lebih produktif dan bermanfaat untuk kehidupan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8809275563171980029?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8809275563171980029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8809275563171980029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8809275563171980029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-7.html' title='shaum hari ke-7'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-24427106399359734</id><published>2011-08-04T11:27:00.003+07:00</published><updated>2011-08-04T11:41:15.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a'/><title type='text'>Shaum hari ke-4</title><content type='html'>Shaum hari ke empat belum membuat saya berlari kencang. Masih tertatih menyambut hadirnya bulan mulia ini. Apa kira-kira indikasinya sehingga saya berpikiran seperti itu? Apakah karena tadarus yang belum sepanjang waktu? Atau amalan sunnah yang belum sepenuhnya menghiasi shaum ini?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, namun di hari ke empat ini saya masih menyesuaikan diri dengan ritme Ramadhan. Mengkondisikan anak-anak untuk kuat shaum dan mencoba menyajikan menu sehat agar mereka kuat berpuasa. Juga bersilaturahmi dengan keluarga besar menjadikan saya belum sepenuhnya tenggelam dalam aktifitas ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai...lagi-lagi kau masih memisahkan amal dunia dengan ahirat. Apakah saat menyajikan makanan sehat untuk keluarga bukan amal ahirat? Apakah saat menjalankan peran sebagai menantu yang shaleh bukan amal ahirat? apakah saat menjalankan fungsi sebagai ibu, istri dan anak bukan amal ahirat?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena amal yang sudah disebutkan di atas sudah biasa dilakukan pada bulan lain, sehingga terasa tidak istimewa. Ya, semoga hal perasaan tersebut merupakan sebuah perasaan haus akan dekat dengan Allah. Sehingga ritual pun semakin meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke empat ini saya bersyukur karena tidak kembali tidur setelah sholat subuh. Saya bisa melakukan hal produktif dalam hidup. Maha kasih Allah yang telah menciptakan Caffein. Satu zat ini telah membuat saya terbantu menyelesaikan berbagai karya. Semoga kelak karya ini menjadi abadi dan menjadi amal jariyah buat saya kelak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-24427106399359734?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/24427106399359734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/24427106399359734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/24427106399359734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/08/shaum-hari-ke-4.html' title='Shaum hari ke-4'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3540185958122786988</id><published>2011-06-09T03:56:00.002+07:00</published><updated>2011-06-09T04:27:33.445+07:00</updated><title type='text'>Mandi?</title><content type='html'>Hidung saya dini hari ini mampet. Memang sudah tiga hari gejala flu mulai mengganggu. Awalnya hanya gatal-gatal tenggorokan. Langsung saya antisipasi dengan vitamin C dosis tinggi dan makan dengan baik. Virus flu ini sepertinya malu-malu datang. Siang hari saya masih bisa beraktifitas seperti biasa. Namun saat udara dingin seperti ini sepertinya virus itu mulai menguatkan dirinya mengganggu imunitas tubuh saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi...itu yang harus saya lakukan saat ini. Hal yang sebenarnya sangat tidak saya sukai. Kenapa pula saya harus mandi ditengah dingin kota Bandung yang menusuk. Uh...sepertinya saya harus masak air agar bisa mandi dengan air panas. Terbayang rambut panjang saya akan basah dan ah...tak usahlah dibayangkan. Cukup lakukan saja. Toh ritual menyebalkan yang saya lakukan ini juga karena diakibatkan oleh ritual yang menyenangkan. Hehe...kenapa ya orang Islam harus mandi setelah berhubungan seksual? bikin repot aja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat perkataan teman saya seorang Doktor lulusan Qum. Saat kami membicarakan hal ini dia berpendapat bahwa, Allah maha pencemburu.Saat seorang mahluk mengalami orgasme saat berhubungan seksual, maka saat itu pula dia mengalami titik lepas mengalami sebuah kenikmatan yang disebabkan oleh makhluk. Meski hanya beberapa detik saja, namun hal tersebut harus dibersihkan agar semua orientasinya kembali kepada sang Khalik. Karena orgasme sendiri sebenarnya merupakan pemberian-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rasa cemburunya kah Dia merepotkan hambanya? atau apa maksudna? Bukankah berhubungan seksualpun sebenarnya sebagai sebuah representasi dari penyatuan kembali dua jiwa yang telah terpisah? Karena asal dari segala sesuatu adalah satu. Orgasme merupakan sebuah gambaran indahnya kalau berTauhid. Saat semuanya menjadi satu dalam titik Keabadian maka itulah Tuhan. Gambaran sekilas tentang keindahan Abadi dalam orgasme ini setidaknya bisa membuat motivasi bahwa kenikmataan yang tak terhingga dan tak berbatas akan bisa di raih seorang manusia bila memang berTauhid pada-Nya. Ya setidaknya alasan ini bisa membuat saya tidak keberatan untuk mandi dan keramas dini hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya air mandi sudah mendidih...saya harus mandi dulu untuk mendapatkan kenikmatan lain. Kenikmatan yang bukan indrawi. Kenikmatan sejati bercumbu dengan Kekasih Tertinggi. Semoga juga jadi terapi agar flu ini segera menyingkir...Yuk ah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3540185958122786988?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3540185958122786988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/06/mandi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3540185958122786988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3540185958122786988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/06/mandi.html' title='Mandi?'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4948692132414713324</id><published>2011-05-05T10:43:00.002+07:00</published><updated>2011-05-05T11:33:47.121+07:00</updated><title type='text'>Merah Marah</title><content type='html'>Merah baju yang saya pakai hari ini. Marah rasa yang hinggap masuk sejak dua hari. Hari ini memuncak karena opini publik sudah mulai juga dipagari. Pagi buta tadi sistem itu juga menzolimi saudari yang sedang menuntut ilmu di luar negri. Terlambatnya beasiswa sudah cukup membuatnya kesulitan harus pula kena sunat lagi. Sampai kapan rumah yang menghasilkan para intelektual Islam ini dikendalikan orang-orang oportunis tak berhati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada saya sangat sesak saat mendengar money politik dan jualan posisi memenangkan suara terbanyak. Dia yang sama sekali tak punya nyali untuk sekedar menghadiri debat publik. Hanya karena merupakan pion catur penguasa berjiwa kerupuk. Yang lebih suka tidur di kasur empuk. Membuat kultur akademis  semakin memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmmhhh saya marah...karena itu memakai baju merah. Saat marah biasanya air mata tumpah. Tapi kali ini jangan sampai jatuh. Air mata saya terlalu berharga untuk mengeluh. Semoga perjuangan kami masih bisa berpengaruh. Kepada-Nya saya bersimpuh. Penuh Seluruh...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4948692132414713324?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4948692132414713324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/05/merah-marah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4948692132414713324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4948692132414713324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/05/merah-marah.html' title='Merah Marah'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1293836202681299589</id><published>2011-04-26T15:11:00.002+07:00</published><updated>2011-04-26T15:59:00.068+07:00</updated><title type='text'>Villa Lemon</title><content type='html'>Lemon adalah buah pavorit saya. Selain suka dengan rasa asamnya yang segar,harum lemon juga membangkitkan semangat bila sedang merasa lelah. Khasiat vitamin C yang terkandung didalamnya juga membuat lebih tertarik untuk menikmatinya. Lemon squash adalah minuman yang biasanya saya pesan kalau makan di restauran. Pokoknya segala hal yang berkaitan dengan lemon biasanya saya sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya berada di sebuah tempat yang bernama Villa Lemon yang terletak di Jalan Holtikultura No 18 Lembang. Hadirnya saya disini sebagai peserta pelatihan pendampingan perlindungan perempuan dan anak yang diselenggarakan oleh BPPKB Provinsi Jawa Barat. Bersama empat teman dari P2TP2A jawa Barat saya mengikuti pelatihan yang akan diselenggarakan selama dua hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sampai di Villa Lemon,kami membutuhkan waktu sekitar 40 menit dari kantor dengan menggunakan taksi. Saat di taksi saya merasa sangat mual karena ternyata belum makan siang. Untunglah saat sampai di lokasi makan siang masih tersedia meskipun sudah memasuki pukul 14.20 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Villa Lemon terletak di pinggir sebuah lembah yang indah. Udara dan pemandangan Lembang yang sejuk dan segar mulai mewakili kenapa villa ini dinamakan lemon. Kamar-kamar yang disediakan di sini terdapat di bungalow-bungalow yang gedungnya masih baru. Terdapat banyak fasiltas bermain untuk anak-anak juga sebuah kolam renang. Sayang kali ini saya tidak membawa baju renang jadi hanya bisa melihat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah makan siang, saya memasuki ruangan pertemuan untuk mengikuti materi pertama pelatihan tentang pendampingan terhadap anak. Materi ini dibawakan oleh bapak Hamas Ichsan dari LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Jawa Barat. Beliau menyampaikan tentang apa itu pendampingan berdasarkan Undang-undang dan definisi dari disiplin ilmu yang dia pelajari dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak berusia 59 tahun ini menyampaikan materi dengan ceramah dan entah kenapa membuat saya mengantuk. Agar tidak mengantuk, saya menulis catatan ini. Hal ini bukan berarti saya tidak menghargai apa yang beliau sampaikan. Karena materinya sudah ada di power point yang sudah dibuat, artinya saya tidak usah mencatatnya hanya tinggal menyimak apa yang beliau sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah memprediksi akan membosankan seperti ini, karena entah kenapa kalau badan pemerintah mengadakan pelatihan, maka yang ada didalamnya adalah parade ceramah. Mereka ngerti gak sih dengan makna pelatihan? dari sekian banyak kegiatan dari dinas pemerintah yang sudah saya ikuti selalu saja mereka membosankan seperti ini. Lain kalau yang mengadakan kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka sangat paham apa beda pelatihan dengan seminar, lokakarya ataupun workshop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mebayangkan coba bapak yang berbicara ini 30 tahun lebih muda,mungkin saya bersemangat melihat kegantengannya hehehe...Soalnya sepertinya dulu dia bekas orang ganteng. Ih...kok pikiran saya ngelantur gini. Biarin ah...biar gak bete...dan bikin ngantuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memperhatikan peserta yang hadir di ruangan ini. Baru berjumlah delapan belas  orang. Enam belas orang perempuan dan dua orang laki-laki. Peserta laki-laki juga tidak ada yang menarik. Hampir semua peserta terlihat ngantuk,lesu dan tak bersemangat. Kasur dikamar sudah melambai-lambaikan tangannya untuk saya temui. Juga pemandangan indah sekitar villa yang membuat saya sudah tidak betah duduk di ruangan ini. Untunglah saya bisa online jadi mebuat tidak bete. Materi yang saya ikuti masih akan berlangsung 30 menit kedepan. Tampaknya saya harus menyiapkan pertanyaan agar bisa memecah kebisuan sesi ini. Yuk ah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1293836202681299589?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1293836202681299589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/04/villa-lemon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1293836202681299589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1293836202681299589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/04/villa-lemon.html' title='Villa Lemon'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8407460351984710335</id><published>2011-04-20T15:50:00.002+07:00</published><updated>2011-04-20T16:27:01.600+07:00</updated><title type='text'>Selera Udik</title><content type='html'>Berkeliling Jawa Barat adalah aktivitas yang belakangan ini sering saya lakukan. Ini terkait dengan pekerjaan baru di P2TP2A Provinsi Jawa Barat yang mengkordinasi 26 kota/kabupaten terkait perlindungan perempuan dan anak. Irama hidup seperti ini baru saja kembali saya lakukan setelah lama bekerja dibalik komputer, papan tulis dan perempuan sekitar tempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saat mahasiswa saya memang juga memiliki mobilitas yang cukup tinggi, namun karena masih gadis jadi semua itu dilalui dengan happy and fun. Saat ini pun tetep happy and fun sih...cuma dengan persiapan yang sangat matang bila hendak bepergian karena sudah ada keluarga yaitu anak-anak dan suami yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berkunjung ke berbagai wilayah di Jawa Barat tentunya saya juga berkenalan dengan berbagai macam kuliner yang ada. Menjelajahi restoran dari kaki lima sampai hotel bintang lima. Beberapa kali saya tidak menikmati kuliner yang disajikan. Kenapa bisa terjadi? karena kadang kami memesan menu andalan restoran tersebut untuk dicicipi yang ternyata asing untuk lidah saya. Selain memesan juga kadang kami dijamu oleh pemerintah daerah setempat yang ingin menyajikan makanan yang menurut mereka merupakan khas daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang termasuk orang yang konservatif dalam makanan.  Kurang suka dengan makanan yang berbumbu kuat, bersantan, ataupun berminyak. Apalagi dengan makanan impor seperti pizza, hamburger dan makanan olahan lain yang dari dahulu saya memang tidak menyukainya. Selama ini saya menyukai segala hal yang direbus, sayur yang bening dan masakan yang berbumbu minus. Mungkin karena selera seperti inilah masakan saya tidak disukai oleh keluarga besar dan tidak diizinkan untuk memasak kalau ada kumpul keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... selera udik saya terhadap makanan membuat saya tidak menikmati kuliner yang disajikan. Beberapa kali saya coba paksakan lidah untuk menikmati layaknya orang lain. Tetapi sulit...dan biarlah saya memilih menu standar yang kadang mungkin ditertawakan karena udik dan kampung. Sekali lagi yang penting SEHAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8407460351984710335?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8407460351984710335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/04/selera-udik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8407460351984710335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8407460351984710335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/04/selera-udik.html' title='Selera Udik'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7617103159080511650</id><published>2011-04-08T15:47:00.003+07:00</published><updated>2011-04-08T16:08:08.731+07:00</updated><title type='text'>Hand Over Penanganan Kasus</title><content type='html'>Penanganan Kasus Korban Kekerasan merupakan sebuah pelatihan yang saat ini sedang saya jalani. Hmmm betapa beratnya tanggung jawa seorang pendamping.Pendampingan dalam tugas sebagai pekerja sosial akan menyita 75% kehidupan normal. Siapkah saya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diukur secara kuantitatif memang akan terlihat seperti itu. Karenanya jalani saja apa yang memang saat ini sudah menjadi pilihan hidup dengan enjoy. Melakukan pendampingan sebagai sebuah panggilan hidup. Mencoba untuk terus berbagi dan bermanfaat bagi sesama. Ahh...konsen lagi menyimak paparan bu Caroline tentang hand over penanganan kasus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hand Over bermakna mengulurkan tangan untuk membantu, mengupayakan klien menjadi nyaman, memotivasi klien untuk bersedia dibantu agar mampu memahami klien untuk memperoleh informasi sebagai dasar untuk melakukan assesmen. Kita tidak akan mencapai  keberhasilan sebelum hand over berhasil karena kunci dari proses selanjutnya dari penanganan kasus dasaranya ada pada hand over.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Base on pengalaman yang ia paparkan begitu mengena...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7617103159080511650?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7617103159080511650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/04/hand-over-penanganan-kasus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7617103159080511650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7617103159080511650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/04/hand-over-penanganan-kasus.html' title='Hand Over Penanganan Kasus'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7867258440907793680</id><published>2011-03-06T11:08:00.002+07:00</published><updated>2011-03-06T11:39:31.156+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Dua gadis itu memutuskan untuk tinggal bersama saya. Gadis pertama sudah lima bulan dan yang kedua baru saja tiga bulan. Rumah yang mungil ini menjadi selalu meriah dengan kehadiran mereka. Gadis pertama merupakan mantan TKW dari Yordan yang pernah mengalami tindak kekerasan dan kabur dari lantai 3 rumah majikannya. Berjuang untuk sampai kembali ketanah air dan ahirnya bisa mengikuti beberapa program pemerintah terkait pemberdayaan para korban trafiking. Untuk gadis pertama ini saya pernah membuat catatan tentangya dalam sebuah artikel tentang "Perdagangan Perempuan: Antara Realitas dan Perspektif Islam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kedua merupakan lulusan SMU. Dia berasal dari desa dimana orang tua saya berasal. Dia adalah adik dari pengasuh anak saya terdahulu yang kini sudah menjadi guru TK dan sudah lulus dari PGTK. Kakak gadis kedua ini tinggal bersama saya semenjak anak saya berusia dua bulan sampai usia tujuh tahun. Memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rumah saya karena tempatnya mengajar saat ini menyediakan tempat tinggal dan ingin mencari pengalaman lain katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kedua ini sebenarnya merupakan prioritas saya untuk menjadi pengasuh anak-anak. Karena saya mempunyai program menyekolahkannya sambil mengasuh anak-anak saya seperti kakaknya terdahulu. Namun karena beberapa tawaran kerja yang menggiurkan yang ia terima di Jakarta mengakibatkan ia awalnya tidak menerima tawaran saya. Setelah berkelana hampir setengah tahun lamanya mencari kerja yang tak kunjung jelas, ahirnya dia memutuskan untuk menerima tawaran saya mengasuh anak-anak sambil kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya saya bingung karena di rumah sudah ada gadis pertama dan saya tak mungkin menggaji keduanya. Namun karena dia sudah datang jauh-jauh dari Banten dan saya tak tega untuk membiarkannya maka ahirnya dia tetap tinggal di rumah saya hanya tidak saya gaji untuk sementara. Untuk mengisi waktu luangnya saya kursuskan dia menjahit. Setelah tiga bulan ini sepertinya dia sudah menguasai menjahit tingkat dasar, semoga saja bisa bermanfaat kelak. Semoga tahun ajaran baru dia sudah bisa meneruskan kembali sekolahnya dan semoga ada beasiswa untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kedua mendapatkan tawaran untuk bekerja pada sebuah Caffe dan Salon yang merupakan program dari Pemerintah Provinsi untuk memberdayakan korban trafiking. Ia menerima tawaran itu meski sebenarnya saya agak ragu mengingat Caffe itu baru dan dia juga sedang kursus menjahit. Tapi sebagai sebuah pembelajaran saya pikir tak apa-apa. Meski saya lebih sepakat kalau dia melatih skill nya agar kelak bisa mandiri tanpa harus bekerja pada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sudah gadis pertama meninggalkan rumah saya untuk bekerja. Saya begitu terkesan dengan kebaikan dan kesholehannya. Semoga di tempat yang baru ini dia mendapatkan apa yang memang ingin di raihnya. Saya pun tetap menyediakan tempat bila kelak dia ingin kembali ke rumah. Terimakasih Allah telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik dalam hidup ini. Semoga kelak saat bertemu Engkau kami bisa saling menyaksikan dan menguatkan bahwa kami saling mencintai dalam ketaatan pada-Mu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7867258440907793680?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7867258440907793680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/03/dua-gadis-itu-memutuskan-untuk-tinggal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7867258440907793680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7867258440907793680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/03/dua-gadis-itu-memutuskan-untuk-tinggal.html' title=''/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3206247905575578825</id><published>2011-01-25T12:52:00.002+07:00</published><updated>2011-01-25T14:03:25.482+07:00</updated><title type='text'>Antara Islam KTP dan Fathiya Si Cemong</title><content type='html'>Libur semester masih berlangsung. Saya memiliki waktu senggang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Pekerjaan yang berkaitan dengan profesi sebagai seorang pengajar dan peneliti. Sebagai ibu adakah suasana liburan ini berpengaruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, suasana libur yang santai berpengaruh terhadap fungsi saya sebagai seorang ibu terutama dalam mendidik kedua putriku. Sebulan sudah saya agak longgar mengizinkan mereka menonton sinetron di televisi. Ada dua sinetron yang saya bolehkan mereka menontonnya yaitu Islam KTP dan Fathia si Cemong. Awalnya saya pikir sinetron Islam KTP seperti sinetron Para Pencari Tuhan yang sarat akan muatan agama dengan landasan Tauhid yang kuat. Setelah saya menemani mereka menonton hampir sebulan ini saya berkesimpulan bahwa pesan moral yang disampaikan kadang tidak natural dan mengada-ada. Bahkan hal yang yang tidak prinsip justru menjadi fokus pembahasan sinetron ini. Percintaan tokoh yang ada di sinetron ini tak ubahnya seperti percintaan sinetron biasa yang begitu mengagungkan cinta. Meski dikemas dalam bentuk yang Islami tapi tetap saja berdua-duaan dengan calon suami (kalau tidak boleh dibilang pacar) adalah hal yang tidak baik secara syari'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya mulai tadi malam mencoba mengalihkan kebiasaan menonton sinetron ini dengan aktivitas yang lain yaitu menulis. Menulis cerita agar bisa diterbitkan sebagai sebuah karya anak saya. Kebetulan dia memang terobsesi menulis buku. Tak mudah memang, selama setengah jam dia marah-marah mempertanyakan kenapa dia tidak boleh menonton dan temannya boleh. Saya hanya menjadi pendengar setia sambil mengalihkan perhatiannya. Setelah emosinya mulai menurun saya mencoba mengajak bicara bahwa menonton sinetron itu sedikit sekali manfaatnya. Banyak hal lain yang lebih menyenangkan dan lebih bermanfaat untuk dilakukan. Selanjutya dia sudah asik menggambar dan menulis cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku yang pertama melakukan negosiasi bagaimana kalau sinetron Fathiya si Cemong bisa tetap dia tonton. Saya membolehkannya untuk yang satu ini dengan syarat saya atau orang dewasa lain atau menemaninya menonton. Agar bisa menjadi fiter saat masuk ke kepalanya.  Semoga saja dalam sebulan ke depan saya bisa mengembalikan kebiasaan keluarga ini untuk tidak menonton sinetron. Tak mudah memang menjadi seorang ibu. Tapi saya ingin terus belajar menjadi ibu. Semoga Allah memampukan saya, menjadi seorang ibu pekerja. Semangat lagi ah...sudah banyak waktu yang saya sia-siakan belakangan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3206247905575578825?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3206247905575578825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/01/antara-islam-ktp-dan-fathiya-si-cemong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3206247905575578825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3206247905575578825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/01/antara-islam-ktp-dan-fathiya-si-cemong.html' title='Antara Islam KTP dan Fathiya Si Cemong'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8212208084474782322</id><published>2011-01-24T14:48:00.003+07:00</published><updated>2011-01-24T15:07:24.154+07:00</updated><title type='text'>Riau 2 Kantor Baruku</title><content type='html'>Hampir tiga bulan saya tidak memposting apa-apa di blog ini. Sebuah blog komunitas yaitu Kompasiana lebih menarik perhatian untuk diperhatikan. Karena interaksi lebih intens dan kadang tanggapan kompasianer lain memacu untuk terus berkarya. Tapi sesekali baiknya saya juga memperhatikan blog ini. Dari dulu tampilannya tidak berubah. Entah bagaimana memenejnya saya tidak mengerti dan tidak mempunyai waktu untuk mempelajari bagaimana membuat blog saya lebih menarik dan lebih banyak di baca orang. Mungkin bila ada waktu yang senggang ada baiknya saya meperbaiki tampilan blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Tahun 2011 ini saya masuki dengan semangat untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga usia yang diberikan Allah bisa saya gunakan dengan sebaik-baiknya. Tahun 2010 kemarin adalah tahun dimana saya banyak bertemu dengan orang-orang hebat. Memasuki komunitas baru dan membuka cakrawala berfikir yang ternyata sangat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menulis saya berada di sebuah kantor yang baru setengah tahun ini saya tempati. Sebuah kantor dengan Gedung Gaya belanda dan kemarin sempat dinominasikan untuk mendapat penghargaan dari Bandung Heritage sebagai gedung antik yang terawat. Kantor ini terletak di Jalan Riau No 2 sebelah kiri kantor masuk ke jalan Wastukancana. Kantor ini sangat nyaman dan sejuk. Kalau sedang tidak terlalu banyak aktivitas dan kegiatan, sebenarnya nyaman bila dijadikan tempat membaca dan menulis. Kalau sedang banyak kegiatan dan korban yang harus ditangani suasana jadi riuh dan membuat potensi diri yang dinamis bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sebentar lagi suasana riuh akan kembali memenuhi kantor ini. Korban perdagangan orang yang berjumlah 17 perempuan dan anak akan dikembalikan dari Kucing. Saatnya menyingsingkan lengan baju untuk melayani mereka agar bisa kembali masuk ke lingkungannya setelah melewati peristiwa yang mungkin akan sukar dihapus dari benak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semangat untuk terus bermanfaat terus berkobar. Agar hidup ini bukanlah sebuah kesia-siaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8212208084474782322?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8212208084474782322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/01/riau-2-kantor-baruku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8212208084474782322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8212208084474782322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2011/01/riau-2-kantor-baruku.html' title='Riau 2 Kantor Baruku'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3371424033135924475</id><published>2010-10-29T10:06:00.004+07:00</published><updated>2010-10-29T10:15:38.086+07:00</updated><title type='text'>Jumsih</title><content type='html'>Hari ini hari jum’at.  Di hari ini banyak kebahagiaan yang telah saya peroleh. Tadi malam saya melakukan hubungan seks dengan suami dengan berkualitas. Saya juga bisa tidur dengan nyenyak setelah sebelumnya menyelesaikan sebuah tulisan untuk di kirim di kompasiana. Kedua putri saya sehat dan cerdas. Ya Allah nikmat mana lagi yang telah saya dustakan? Hmmm…kemarin saya memiliki dua agenda yang bersamaan waktunya. Saya lebih memilih agenda yang tidak berkaitan dengan hal yang menyebalkan diri saya. Hal seperti itu sesuai dengan hawa nafsu? Mungkin ya…ampuni Hannah ya Allah karena sedang sebal dan malas dengan program-program yang digulirkan yang itu-itu saja. Kapasitas kami tidak dipertimbangkan. Semua mengerjakan program yang sama. Tapi kalau memang itu sebuah keharusan, bimbing Hannah untuk kembali mendapatkan hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at disebut sebagai sayyidul ayam...penghulu hari-hari yang lain. Hari yang utama. Saya masih belum bisa sepenuhnya taat. Masih banyak intervensi rasio dalam menjalankan tugas kekhalifahan dimuka bumi. Di hari mulia ini semoga Allah membersihkan pikiran saya dari hal-hal yang menjauhkan diri dari-Nya. Membersihkan langkah saya untuk senantiasa ada di jalurnya. Menjadikan saya sungguh-sungguh mengabdikan diri padanya sebagai bukti syukur atas limpahan berbagai nikmat yang telah diberikan. &lt;br /&gt;Allah selautan syukurku....hanyalah setitik... yang tak kan mungkin bisa membalas kasih sayang dari-Mu. &lt;br /&gt;Sekali lagi terus rengkul aku.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3371424033135924475?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3371424033135924475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/jumsih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3371424033135924475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3371424033135924475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/jumsih.html' title='Jumsih'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1753773797221285421</id><published>2010-10-18T20:03:00.002+07:00</published><updated>2010-10-18T20:06:08.825+07:00</updated><title type='text'>Perempuan Bekerja: Keluar dari ajaran Islam?</title><content type='html'>“Apakah ada dalil al-qur’annya yang memerintahkan seorang perempuan untuk bekerja? Tolong sebutkan! Saya rasa tidak ada, jadi jangankan wajib, sunnah pun tidak. Jadi untuk apa seorang perempuan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh-Nya. Malah karena perempuan bekerja banyak kekacauan-kekacuan yang terjadi di masyarakat”.  Pertanyaan yang berisi sanggahan ini dilontarkan oleh seorang peserta saat saya menjadi narasumber dalam sebuah diskusi mahasiswa. Pertanyaan dan sanggahan ini bukan yang pertamakali dia ajukan kepada saya. Pada kesempatan yang lain sekitar setengah tahun lalu ia mengajukan hal yang sama. Nampaknya jawaban yang telah saya berikan dahulu dianggap tidak menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban atas pertanyaan yang berisi sanggahan yang pertamakali dilontarkan, saya jelaskan dengan singkat. Bahwa Rasulullah saw. menikah pertama kali dengan seorang perempuan yang bekerja yaitu Ibunda Khadijah. Apakah mungkin pilihan Rasulullah salah? Kalaulah seorang perempuan yang bekerja adalah keburukan tentu tidak akan mungkin Rasul memilih Ibunda Khadijah. Saya memaklumi kenapa hal tersebut muncul. Pertanyaan dan sanggahan di atas sebenarnya adalah gambaran dari banyaknya orang, mazhab, budaya dan hukum yang berkeyakinan bahwa yang bekerja (menafkahi/kepala keluarga) adalah laki-laki dan bukan perempuan.  Mereka semua mengatakan bahwa ini adalah aturan normative. Ia berlaku dimana saja, kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Islam di mana saja ketentuan laki-laki/suami sebagai kepala rumah tangga yang menafkahi selalu merujuk kepada teks alquran dan hadis Nabi saw. Keduanya merupakan sumber utama dan paling otoritatif untuk menjadi dasar hukum pengaturan kehidupan manusia. Tak terkecuali dalam rumah tangga. Ayat Alquran yang membicarakan ketentuan ini sudah dikenal banyak orang yaitu surat an-Nisa ayat 34 yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Q.S An-Nisa (4): 34) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Qawwam” ditafsirkan oleh sejumlah ahli tafsir terkenal seperti Zamakhsyari, Alusi dan Sa’id Hawa yang sepakat mengartikannya dengan “memimpin” atau ”menguasai”. Menurut penafsiran Zamakhsyari: “yaqumuna alaihinna amrina nahina kama yaqumu al-wulatu ‘ala ar-riaya, summu qawwaman lidzalik” (Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil , Beirut:Dar el Fikr,  1977 jilid 1:523) (kaum laki-laki berfungsi sebagai yang memerintah dan melarang kaum perempuan sebagaimana pemimpin berfungsi terhadap rakyatnya.) Dengan redaksi yang berbeda Alusi menyatakan hal yang sama : “ai sya’nuhum al-qiyamu ‘alaihinna qiyama al-wulati ‘ala ar-ra’yati bi al-amri wa an nahyi wa nahwi dzalik” (Al-Alusi: Ruh al-Maani fi Tafsir al-Quran an’Azhim wa as-Sab’I al-Matsani, t.t.p: Dar alFikr, t.t jilid 3:23) (maksudnya tugas kaum laki-laki adalah memimpin kaum perempuan sebagaimana pemimpin memimpin rakyatnya yaitu dengan perintah, larangan dan yang semacamnya…). Sedangkan Said Hawa menafsirkan redaksi yang persis sama dengan Zamakhsyari (Said Hawa, Al-Asas fi at-Tafsir Kairo: Dar as-Salam, cet II, 1989 jilid 2: 1053).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Zamakhsyari menafsirkan bi ma fadhalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dh wa bi ma anfaqu min amwalihim (oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka) menjelaskan dengan dua alasan. Pertama, kelebihan laki-laki  itu ialah kelebihan akal, keteguhan hati, kemauan keras, kekuatan fisik, kemampuan menulis pada umumnya, naik kuda, memanah dll. Alasan Kedua karena laki-laki membayar mahar dan mengeluarkan nafkah keluarga. (Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil , Beirut:Dar el Fikr,  1977 jilid 1:523-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ayat di atas telah menyebutkan dua alasan mengapa laki-laki diberikan otoritas dan tanggung jawab atas perempuan dan keluarganya. Kedua alasan itu adalah kemampuan nalar dan fisik, kedua fungsi tanggung jawab financial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanya adalah apakah kedua alasan tersebut merupakan factor-faktor kodrati, bawaan dan terberi begitu saja dari Tuhan? Sehingga tidak bisa berubah atau diubah? Hal ini tentu saja berbeda dengan fakta perkembangan sosial yang ada dan yang selalu berubah dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ketempat yang lain. Saat ini semakin banyak kepermukaan bahwa perempuan memiliki tingkat kecerdasan dan kekuatan yang setara dengan laki-laki. Betapa tidak sedikit perempuan berprestasi dalam banyak aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa perempuan memiliki kecerdasan yang setara atau melebihi laki-laki sudah ditemukan saat zaman Nabi. Kaum muslimin sedunia tentu mengetahui sabda nabi saw. bahwa Aisyah adalah perempuan paling cerdas dan ulama terkenal: “Kanat ‘Aisyah a’lam al Nas wa afqah wa ahsan al Nas Ra’yan fi al ‘Ammah” . Al-Dzahabi, pakar hadis terkemuka juga menginformasikan bahwa lebih dari 160 ulama laki-laki terkemuka berguru pada siti ‘Aisyah. Selain siti ‘Aisyah tercatat lebih dari 1200 sahabat perempuan tercantum sebagai perempuan yang meriwayatkan hadis dan memiliki kedudukan yang penting dalam khasanah intelektual Islam. (Ruth Roded, Kembang Peradaban, Bandung:Mizan, 1995:44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua  fakta di atas menunjukan bahwa factor kecerdasan, nalar, kedalaman ilmu pengetahuan, keberanian, ketabahan mental, emosionalitas dan sebagainya baik laki-laki maupun perempuan adalah sesuatu yang relative belaka, bisa diusahakan dan dipelajari dan dipertukarkan satu sama lain. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa memimpin komunitas dan lembaga apa pun jenisnya. Pendeknya apa yang dipikirkan dan dikerjakan laki-laki bisa pula dipikirkan dan dikerjakan perempuan. Ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan bersama di mana-mana di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga soal nafkah. Kerja untuk mencari nafkah dan menafkahi tidak khas laki-laki. Tidak dapat diingkari siapa pun bahwa perempuan juga bisa mencari nafkah dan menafkahi. Kenyataannya hari ini justru memperlihatkan betapa banyak perempuan yang mencari nafkah dan menafkahi keluarganya, termasuk untuk suaminya sendiri. Bahkan sampai ke luar negeri. Di pasar-pasar tradisional lebih banyak perempuan dari laki-laki. Data yang dikemukakan oleh PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) bahwa data Susenas Indonesia tahun 2007 menunjukan bahwa jumlah rumah tangga yang dikepalai  oleh perempuan mencapai 13,60 % atau sekitar 6 juta rumah tangga yang mencakup lebih dari 30 juta penduduk. (http://www.pekka.or.id/8/index.php?lang=in diakses pada tanggal 17 Oktober 2010 pukul 21.30 WIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya kalau pertanyaan yang mengawali tulisan ini diajukan kepada para perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga? Tentu mereka akan kesulitan dan merasa sedih karena apa yang dilakukan ternyata tidak diperintahkan Tuhan kepada mereka. Padahal perjuangan mereka untuk menghidupi paling tidak 30 juta jiwa bukanlah pekerjaan mudah dan sedikit. Karena tidak setiap perempuan memiliki nasib yang baik dengan memiliki suami yang menafkahi akibat ditinggal mati, ditinggal pergi maupun ditelantarkan. Bukankah Nabi Muhammad saw. bersabda “Penanggung anak yatim, keturunannya atau keturunan orang lain, saya dan dia akan seperti dua hal ini kelak” sambil menunjuk pada jari telunjuk dan jari tengah (Riwayat Imam Malik dan Imam Muslim, lihat;Ibn al-Atsir Jami al-Ushul min alhadits ar-Rasul juz 1 no hadis 222). Jika kita memberikan penghormatan kepada perempuan yang mengepalai dan menanggung beban hidup anggota keluarga, maka tidak ada lagi alasan untuk merendahkan mereka apalagi menganggapnya keluar dari ajaran Islam. Wallahu’alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1753773797221285421?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1753773797221285421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/perempuan-bekerja-keluar-dari-ajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1753773797221285421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1753773797221285421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/perempuan-bekerja-keluar-dari-ajaran.html' title='Perempuan Bekerja: Keluar dari ajaran Islam?'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-2439649037326606664</id><published>2010-10-18T19:56:00.001+07:00</published><updated>2010-10-18T20:00:24.687+07:00</updated><title type='text'>Perdagangan Perempuan : Antara realitas dan Perspektif Islam</title><content type='html'>Sudah dua minggu ini pekerjaan rumah saya agak ringan. Saya berbagi tugas dengan N seorang gadis lulusan SMP yang menginjak usia 20 tahun. Pertama kali saya bertemu dengannya dalam program pemantauan P2TP2A  Jabar bulan Juni 2010 di Cirebon. Ia adalah salah satu mantan Tenaga Kerja Wanita yang mengalami tindak kekerasan oleh majikannya. Dia sempat menjadi pekerja rumah tangga di Yordan. Bekerja pada sebuah keluarga yang memiliki usaha pembuatan kramik dan gypsum. Majikannya tinggal bersama istri dan seorang anak mereka yang sudah dewasa. N mengalami kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa berbahasa arab. Ia kerap dimarahi karena dianggap keliru dalam menjalankan perintah majikannya. Pada awalnya ia hanya diteriaki saja kalau dianggap keliru. Namun lama-kelamaan majikan perempuannya berani memukulnya. Saat N tak melakukan perlawanan, majikan perempuan kerap melakukan tindakan kekerasan ada atau tidak ada kesalahan yang dibuat oleh N. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan hanya karena majikan laki-lakinya mengajaknya mengobrol, sang majikan perempuan terlihat sangat marah dan memukulnya saat suaminya tak ada. Tidak hanya dipukuli, tendangan, tamparan, tonjokan dan jambakan rambut kerap dia terima. Setelah dua bulan bekerja dan sering diperlakukan tidak manusiawi, N berfikir untuk menyelamatkan diri. Saat liburan Iedul Adha, rumah majikannya dalam kondisi sepi karena mereka bersilaturrahmi ke keluarga besarnya. N tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan tali jemuran, ia meloloskan diri dari lantai 3 apartemen majikannya. Dengan tangan yang berlumuran darah karena terluka oleh tali jemuran, ia berjalan menuju Kedubes Indonesia di Yordan yang dia sebut dengan nama Safara. Ia ternyata menghafalkan jalan menuju Kedubes saat pertama diantarkan ke rumah majikannya. Baru saja 15 menit ia berjalan, tiba-tiba seorang supir taksi berkebangsaan Jordan bertanya mau kemana? Dia menjawab bahwa ia hendak menuju Safara. Supir Taxi yang baik itu mengantarkannya ke tempat yang dia tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya N di Safara dia disambut oleh petugas dengan baik. Setelah itu N diperiksa, diobati dan diminta menceritakan kejadian sebenarnya. Petugas di Safara berjanji akan mengurusi permasalahan N dengan baik. Selanjutnya, N dipersilahkan beristirahat di ruang bawah tanah sebuah gedung berlantai 3. Pagi hari N terbangun dan hendak pergi ke kamar mandi. Ternyata untuk masuk kamar mandi saja ia harus mengantri sampai setengah hari. Saat sarapan, N terkejut bahwa yang bernasib sama dengan dirinya di Safara ini bukan puluhan orang, melainkan hampir 500 orang. Pantas saja dia harus mengantri lama untuk masuk kamar mandi yang berjumlah 2 untuk hampir 500 orang perempuan. Di Safara, petugas menghubungi orang tua N dan mengabarkan bahwa anaknya berada dalam kondisi sehat dan aman. Mereka mengatakan untuk bersabar karena sedang mengurusi permasalahannya dan diminta berdoa agar bisa secepatnya pulang ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendapat informasi tentang keberadaan anak mereka, keluarga N pernah menghubungi sebuah LSM yaitu Banati di daerah Cirebon dan berjanji akan membantu kepulangan N. Setelah menunggu hampir satu tahun lamanya barulah N bisa kembali ke tanah air dengan selamat. Ini  berkat kerjasama yang baik dari semua pihak pikir N baik Safara di Yordan, LSM Banati dan Pemerintah di Indonesia. Meski tak membawa apapun sesuai dengan harapan saat berangkat bekerja menjadi TKW, N tetap bersyukur   karena masih bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dalam kondisi sehat tak kurang suatu apa pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus N di atas hanyalah satu diantara banyak kasus lain yang menimpa tenaga kerja kita di luar negeri. Rendahnya posisi tawar menyebabkan tenaga kerja kita menjadi bulan-bulanan banyak pihak. Tidak hanya pada saat bekerja pada majikan, tetapi mulai dari proses perekrutan mereka pun telah diperdaya. Maraknya biro-biro jasa pemberangkatan tenaga kerja kita ke luar negeri membuat peluang-peluang munculnya kasus-kasus seperti yang dialami N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) hanyalah satu dari sekian banyak peluang untuk terjadinya trafficking. Persoalan kemiskinan yang tidak kunjung usai, membuat masyarakat tidak punya banyak pilihan untuk menyambung hidupmya. Dalam posisi yang serba sulit inilah sekali lagi perempuan kemudian menjadi pihak yang dirugikan. Persentase TKW selalu lebih besar dari tenaga kerja laki-laki yang berangkat ke luar negeri. Jumlah  Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri dari 450 ribu sampai dengan 700 ribu selama 2005–2008. Tahun 2005, jumlah TKI perempuan mencapai 68,5%. Persentase itu meningkat pada 2008 menjadi 77 persen. (http://ariyanto.wordpress.com/2010/05/16/2010-tahun-bangkitnya-kesadaran-gender-di-indonesia/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya akses pendidikan bagi perempuan, serta iming-iming untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, mudah (pekerjaan domestik yang biasa mereka lakukan) dan pendapatan yang tinggi membuat perempuan seringkali tergiur untuk mencari pekerjaan di luar daerahnya, bahkan di luar negeri. Dengan berbekal niat dan keinginan untuk membantu keluarga, maka seringkali mereka pun mau untuk melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya mereka tak sadar bahwa mereka telah menjadi sasaran empuk para calo yang mencari dan mengeruk keuntungan bagi kepentingan pribadi. Dengan janji-janji manis dan segala bujuk rayu dari calo, mereka pergi meninggalkan daerah tempat asalnya dengan penuh harapan. Para calo ini mempunyai erbagai macam cara untuk bisa menyakinkan korban-korbanya. Modus operandi yang mereka pakai adalah dengan mengiming-imingi mereka untuk bekerja sebagai pelayan restoran, penjaga toko, pekerja rumah tangga, bekerja di pabrik dengan upah yang besar, bahkan ada juga yang berkedok sebagai duta pertukaran kebudayaan antar bangsa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Trafiking, seringkali korban mendapat eksploitasi yang berada di luar batas kewajaran. Trafiking atau perdagangan manusia menurut  UU RI no 21 tahun 2007 PTPPO yaitu tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman,  pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut definisi di atas, suatu kegiatan dapat dikategorikan kasus trafiking atau perdagangan orang bila memenuhi tiga unsur penting. Pertama mulai dari Proses pemindahtanganan seseorang dari satu pihak ke pihak yang lainnya meliputi kegiatan (perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman,  pemindahan, atau penerimaan). Kedua Jalan/Cara bisa berupa kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan. Ketiga Tujuan bisa berupa prostitusi, pornografi, kekerasan, eksploitasi seksual, pedofilia, kerja paksa, kerja dengan upah yang tidak layak, pengedaran obat terlarang, pengemis, pengantin perempuan dalam perkawinan transnasional, perbudakan/praktek-praktek sejenisnya. Persetujuan dari korban perdagangan manusia tidak lagi relevan bila salah satu dari tiga unsur yang tercantum dalam kategori tersebut digunakan. Tak lain maka kegiatan tersebut dapat dikatakan perdagangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dan Perdagangan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena trafiking  saat ini sungguh mengingatkan kita kembali pada praktik-praktik perbudakan yang pernah terjadi sebelum Islam lahir. Meski secara hukum internasional perbudakan sudah dihapuskan, tetapi praktik trafiking secara substansial tidak berbeda dengan praktik perbudakan itu sendiri. Islam sejak awal telah meletakan dasar-dasar bagi pembebasan dan penghapusan perbudakan, karena ia bertentangan dengan prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan). Teologi ini selalu mengajarkan kepada manusia tentang makna kebebasan, kesetaraan dan penghargaan manusia terhadap manusia yang lain. Bahkan terhadap alam. Karena itu tidak ada keraguan sedikitpun bahwa trafiking dalam segala bentuknya adalah bertentangan dan melanggar nilai-nilai Islam dan melawan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam manusia adalah mahluk tuhan yang terhormat. Tuhan menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh Kami benar-benar memuliakan anak-anak Adam (manusia). Kami sediakan bagi mereka sarana dan fasilitas untuk kehidupan mereka di darat dan di laut. Kami berikan mereka rezeki yang baik-baik, serta Kami utamakan mereka atas ciptaan Kami yang lain (Q.S al-Israa (17): 70).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad saw. dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan ummatnya di Arafah pada Haji Perpisahan, antara lain menyatakan: Ingatlah bahwa jiwamu, hartamu dan kehormatanmu adalah suci seperti sucinya hari ini. Tiga kata ini yang didalam bahasa Inggris disebut Life, property dan dignity merupakan kata-kata kunci dan mendasari Deklarasi Universal Hak-hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ditempat yang sama beliau juga menyampaikan: “Camkan benar-benar, perlakukanlah perempuan dengan sebaik-baiknya karena dalam tradisi kalian dianggap sebagai layaknya budak. Kalian tidak berhak atas mereka kecuali memperlakukan mereka secara baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan baik dan penghormatan kepada perempuan sebagai bentuk menghormatan martabat kemanusiaan merupakan hal prinsip dalam Islam. Prinsip kemanusiaan ini dianggap lebih utama dibandingkan kemuliaan Hajar Aswad (Batu Hitam) di Ka’bah Abdullah bin Umar ra. Meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. mencium hajar aswad di ka’bah beliau bersabda di hadapan Hajar Aswad:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah yang menguasai diriku, martabat dan kehormatan seorang mukmin lebih mulia di hadapan Allah dibanding martabat dan kehormatanmu (wahai Hajar Aswad) karena itu haram atas harta dan jiwanya (Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, no 3932 dan as-Suyuti, ad-Durr al-Mantsur, 7/565).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kemanusiaan ini menjadi basis dari relasi sosial dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi apa pun seseorang tidak boleh bertindak secara zalim terhadap yang lain. Sebaliknya harus saling berbuat baik dan membantu satu sama lain. Yang kuat membantu yang lemah. Dalam hbungan buruh dan majikan misalnya, nabi menganjurkan agar majikan berbuat baik, memberi makan, tempat tinggal, segera memberikan upah sang buruh sebelum keringatnya kering. Dalam hubungan suami istri misalnya al-Qur;an mengumpamakan keduanya laksana pakaian bagi yang lain.  Suami adalah pakaian buat istri begitu pula sebaliknya. Tidak boleh ada kesewenang-wenangan oleh pihak yang satu terhadap pihak yang lain. Karena kesewenang-wenangan adalah tindakan biadab yang tercela dan merendahkan matrabat kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam seperti yang ditegaskan dalam sebuah teks hadis, pelaku kejahatan perdagangan orang dianggap sebagai musuh Allah. Dalam sebuah teks hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Allah swt. Berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga kelompok orang yang kelak di hari kiamat akan menjadi musuh-Ku: orang yang bersumpah lalu berkhianat, orang yang memperdagangkan orang yang merdeka dan orang yang mempekerjakan seseorang tetapi tidak memberikan upahnya ketika ia telah selesai menunaikan pekerjaanya”. (Shahih Buhari no 2227 dan 2270)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman ini  tentu saja jauh lebih dalam dari sekedar dosa atau maksiat. Pesan dan ancaman ini seharusnya menjadi dorongan kuat untuk mencegah segala bentuk tindakan yang mengarah pada kejahatan trafiking.  Pada saat yang sama pula melakukan upaya-upaya perlindungan, pemberdayaan dan bantuan hukum terhadap mereka yang menjadi korban kejahatan ini harus terus dilakukan. Baik perlindungan yang praktis yang dibutuhkan langsung oleh korban, maupun perlindungan kebijakan-kebijakan jangka panjang yang memberikan jaminan bagi seluruh warga dari segala kemungkinan yang menistakan kemanusiaanya. Perjuangan masih panjang dan harus terus diwujudkan. Wallahu ‘alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-2439649037326606664?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/2439649037326606664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/perdagangan-perempuan-antara-realitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2439649037326606664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2439649037326606664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/perdagangan-perempuan-antara-realitas.html' title='Perdagangan Perempuan : Antara realitas dan Perspektif Islam'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8646822209176304864</id><published>2010-10-16T10:04:00.001+07:00</published><updated>2010-10-16T10:07:56.235+07:00</updated><title type='text'>Kuku Panjang dan Gaun Kaos</title><content type='html'>Dua minggu sudah saya memanjangkan kuku jari tangan kiri. Belum terlalu panjang memang, mungkin hanya sekitar 3 mili meter. Semakin panjang kuku jari tersebut kok ya terlihat semakin jelek. Padahal saya melihat ada keindahan di kuku jari yang panjang pada tangan teman saya. Dengan kukunya  yang panjang, jemari teman saya terlihat  lebih panjang dan lentik. Kenapa kok hal itu tidak terjadi pada saya? saya mencoba merenung kapan saya pernah memanjangkan kuku selain saat ini? Rasanya hampir tak pernah. Kuku jari tangan saya selalu pendek dan rapi. Bila terlihat panjang sedikit saya pasti memotongnya. Untuk urusan mengingatkan sampai memotong kuku anak yang terlihat agak panjang sedikit, ibu saya jagonya. Selain ibu, kakek saya juga dahulu sering mengingatkan bahwa yang dikatakan manusia itu apabila memotong rapih dan bersih kukunya maksimal  dalam 40 hari. Kalau tidak melakukan hal tersebut maka dia seperti kucing garong. Serem ya, perkataan kakek saya ini he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengawasi, merazia sampai mengeksekusi kuku panjang saat ini menjadi warisan ibu dan kakek yang terus saya jalankan. Saya senantiasa bersemangat untuk memotong kuku jari anak-anak saya, suami , adik atau sekedar mengingatkan orang lain bahwa kuku panjang itu tidak baik untuk kesehatan. Apa hubungannya kesehatan dengan kuku panjang ya? Toh teman-teman perempuan saya yang berkuku panjang sehat-sehat saja. Karena dorongan ingin tampil cantik seperti mereka saya memutuskan untuk bersabar menanti tumbuhnya kuku jari tangan kiri saya. Ya jadinya seperti saat ini tidak jelas bentuknya dan terganggu dengan semakin panjangnya mereka. Apalagi setelah saya merazia torn penampungan air yang membutuhkan tangan untuk membersihkannya. Hasilnya kuku saya pecah-pecah penuh goresan dan tak karuan. Hiii benar-benar seperti kuku kucing garong yang kakek saya ceritakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah kuku, saya juga bereksperimen dengan pakaian. Padahal selera berpakaian saya termasuk konservatif. Saya tidak terlalu suka dengan berbagai macam aplikasi baik corak maupun warna. Cukup yang natural, sederhana dan menutup aurat. Sampai pada satu kondisi dimana saya benar-benar terbujuk untuk memakai sebuah gaun yang terbuat dari kaos yang memang membuat tubuh saya terlihat perempuan. Saya merasa seperti Cinderella dengan gaun kebesarannya hehe…lebih tepatnya gaun kepanjangannya sampai-sampai saya merasa seperti si Manis Jembatan Ancol. Begitu pedenya saya memakai baju itu, sehingga saat diminta menjemput pengasuh anak-anak yang baru tiba dari Cirebon, saya mengenakan gaun baru itu untuk menyambutnya. Baru saja 100 meter saya naik ojek, tiba-tiba saya merasa ada yang menarik saya kebelakang. Saya segera menyetop tukang ojek untuk berhenti. Ternyata ujung gaun yang indah itu masuk kedalam jari-jari motor. Saat saya tarik…gaun kaos nya bolong-bolong. Saya tertawa terbahak-bahak…kok bisa gaun baru yang indah dan belum sempat di cuci ini jadi seperti kain pel. Gaun ini saya beli saat pelatihan tentang seksualitas dan mungkin hal inilah yang membuat pede saya berpakaian agak seksi. Ya sudahlah sepertinya saya harus berpakaian dan berkuku yang nyaman, bukan ikut-ikutan. Be your self Hannah…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8646822209176304864?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8646822209176304864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/kuku-panjang-dan-gaun-kaos.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8646822209176304864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8646822209176304864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/kuku-panjang-dan-gaun-kaos.html' title='Kuku Panjang dan Gaun Kaos'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-5142027229414857314</id><published>2010-10-15T08:41:00.002+07:00</published><updated>2010-10-15T08:45:57.272+07:00</updated><title type='text'>Dua Bidadari</title><content type='html'>Selepas mengantar kedua bidadari berangkat sekolah, kembali saya mengisi catatan harian. Keduanya merupakan pribadi yang begitu unik. Yang pertama namanya Isyqie baru saja menginjak 8 tahun. Kemarin sore sepulang sekolah tiba-tiba dia memeluk saya dan berkata “mimi doain ya, isyqi pengen sekali punya buku KKPK yang diterbitkan”. Saya  membalas memeluknya dan menggendongnya sambil membelai kepalanya dan melantunkan do’a untuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah setengah tahun ini dia sangat terobsesi menulis sebuah buku untuk diterbitkan. Hampir semua buku tulis yang saya belikan untuknya selalu dia gambari tokoh-tokoh utama yang akan mengisi buku yang ia tulis. Beberapa judul sudah dia tulis diantaranya The twin Birthday, Princess  Rose dan Princess Syahidah dan kalau tidak salah yang terahir adalah tentang Clara dan Clarina. The Twin Birthday adalah yang pertama kali dia tulis dan dia menanyakan kalimat bahasa Inggris tersebut kepada saya. Dia  bilang biar keren dia pengen bukunnya dijuduli dengan bahasa Inggris. Belum selesai dia membuat buku pertamanya, dia sudah beralih mengarang yang lain yaitu Princess Rose dan Princess Syahidah dan ahirnya buku ketiga pun dia tulis dan semuanya belum selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merenung dalam satu semester ini dia sudah merencanakan 3 buah buku berbeda yang kalau diseriusi dan diteruskan akan jadi sebuah karya yang bagus untuk anak seusianya. Duh malunya saya sebagai ibu…yang belum bisa menghasilkan satu buku pun di usia 31 tahun ini. Sepertinya saya harus belajar pada anak saya. Belajar untuk terus memupuk semangat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ya ternyata kebiasaan membaca dan menulis sepertinya sudah menulari anak pertama saya. Sebagai seorang ibu tentu itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang isyqi berdasarkan hasil laporan di sekolah termasuk anak pengamat dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sebuah komunitas. Dia lebih suka duduk menulis dan menggambar dibandingkan menghabiskan waktu bermain di lapangan. Awalnya saya agak hawatir dengannya karena setiap pulang sekolah saat tahun pertama selalu bercerita tidak menyenangkannya sekolah di sekolah dasar. Setelah saya berkonsultasi dengan walikelas ternyata dia bisa juga bermain dengan teman-teman yang lain kalau diajak. Sehingga wali kelasnya selalu mengingatkan teman-teman sekelasnya untuk melibatkan isyqi dalam setiap permainan. Tahun ketiga sekolah dasar yang dia jalani saat ini kelihatannya lebih menyenangkan. Dia banyak bercerita tentang teman-temannya tentang betapa menyenangkannya punya banyak teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah anak pertama saya ini setiap kelas memiliki perpustakaan. Perpustakaan ini selain sebagian bukunya dari sekolah juga dari sumbangan anak-anak kelas tersebut. Sebagian besar buku yang ada adalah buku cerita anak-anak. Buku cerita ini ada yang ditulis oleh orang dewasa ada juga yang sebagian di tulis oleh anak-anak. Dua ibu guru  dalam kelas ini telah berhasil mengkondisikan muridnya bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ya saya bersyukur mendapatkan sekolah yang sejalan dengan prinsip saya mendidik anak. Semoga saja kelak do’a-do’a saya untuk isyqi terkabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kedua saya baru saja 6 hari lalu berulang tahun yang ke 5. Ain itu panggilannya. Selain fisiknya lebih padat dan berisi dibanding kakaknya, dia juga termasuk anak yang santai. Sangat kontras dengan kakaknya yang serius. Ain senang dengan sesuatu yang sporty, dari mulai pakaian juga permainan. Setiap orang yang dia kenal melewati rumah pasti dia sapa. Sangat senang bila rumah ada dalam kondisi yang ramai dengan sanak saudara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ain baru bisa membaca beberapa hari lalu menjelang usianya 5 tahun hanya beda 1 tahun lebih lambat dibanding kakaknya. Itu terjadi karena dia termasuk anak yang santai dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Bersyukurnya saya ia pun bisa seperti kakaknya yang suka dengan buku. Sampai pernah seminggu lalu tiba-tiba tengah malam dia bangun lalu berjalan dalam tidur menuju perpustakaan untuk mengambil buku dan selanjutnya tidur kembali sambil memeluk buku. Saya merenung kenapa bisa terjadi seperti itu? Apakah dalam benak bawah sadar Ain buku sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya? Ah semoga saja itu benar dan tentu saya sebagai seorang ibu ingin memberikan banyak hal agar kelak mereka dapat memilih sesuatu yang berguna yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ain saat ini sekolah di TK yang sangat unik. Sebuah TK yang dikepalai oleh kandidat Doktor UPI di bidang pendidikan. TK yang Ain masuki ini memiliki perpustakaan dengan buku-buku yang beragam. Sangat jarang saya melihat TK yang murah dengan fasilitas seperti ini. Ini terjadi karena dedikasi seorang kepala sekolah yang memang ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Kepala sekolah tersebut teman mengajar saya di UIN. Konsep-konsep mendidik anak begitu dia kuasai dan ingin mengaplikasinkannya dalam lebaga yang telah ia buat. Ini merupakan persiapan yang dia lakukan selama hampir 7 tahun untuk menanti kehadiran seorang anak yang tak kunjung tiba. Ah…semoga Allah mengabulkan do’a-do’a teman saya tersebut untuk dianugerahi keturunan yang sehat dan sholeh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-5142027229414857314?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/5142027229414857314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/dua-bidadari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5142027229414857314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5142027229414857314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/dua-bidadari.html' title='Dua Bidadari'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-797460803115562844</id><published>2010-10-14T17:49:00.001+07:00</published><updated>2010-10-14T17:53:54.688+07:00</updated><title type='text'>Mencoba Memahami Multikulturalisme dan Perempuan</title><content type='html'>Seharian ini saya tak beranjak dari rumah. Beberapa artikel dan buku saya baca. Mulai  artikel tentang “Apakah pandangan multikultur berbahaya untuk kaum perempuan?”, “Feminis multicultural; seperti apa? , “Minoritas, multikulturalisme, modernitas” sambil diselingi membaca buku Habermas; Menuju Masyarakat Komunikatif dan Demokrasi Deliberatif”. Apa yang saya peroleh dari bacaan hari ini? Sebenarnya saya sangat ingin memahami apa itu multikulturalisme makanya membaca ketiga artikel di atas. Namun saya juga tergoda untuk memahami Habermas sebagai bahan mengajar yang akan saya share minggu depan. Mumpung semangat baca sedang baik. Tapi apa yang terjadi? Banyak hal jumping dan lagi-lagi saya membaca sesuatu yang entah saya pahami atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tidak begitu peduli apakah saya loncat-loncat atau tidak. Mengerti atau tidak. Pokoknya saya membaca dan mencoba memahami setiap kata yang tertulis  sesuai dengan kesanggupan dan suka-suka saya itu saja. Hal ini menurut saya lebih baik dari pada tidak membaca sama sekali. Karena jujur saja, sudah dua bulan ini saya tidak membaca buku dengan baik. Buku selalu saya bawa ke mana-mana dari yang tipis sampai yang tebal. Namun hanya bagian-bagian tertentu saja yang saya baca agar setidaknya tidak membuat saya terlihat bodoh saat mengajar. Hmmm sekali lagi saya tidak menyukai sikap ini. Apakah harus menunggu apresiasi orang lain untuk membuat saya rajin baca? Tidakkah sesuatu yang  terlahir dari dalam diri lebih bertahan lama dari pada pandangan orang. Ya saya meyakini hal itu. Motivasi  diri ini tentunya harus tumbuh agar bisa memberikan kemanfaatan untuk diri dan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah pandangan multikultur berbahaya untuk kaum perempuan?” judul artikel Susan Moller Okin ini sangat menggelitik ingin tahu saya.  Multikulturalisme yang saya pahami sebagai sebuah CARA menyikapi atau operasionalisasi dimana berbagai kelompok yang beragam dapat hidup bersama dan setara apakah mungkin berbahaya? Padahal sepintas yang saya pahami justru dalam pandangan multikulturalisme sangat mungkin perempuan dapat hidup dan dianggap setara. Tapi pengertian multikulturalisme yang saya pahami  ini ternyata belum lengkap menurut Susan karena selain adanya pengakuan yang dibuat dalam konteks demokrasi liberal yang mendasar, bahwa budaya atau cara hidup minoritas tidak secara memadai dilindungi oleh praktek perlindungan hak individu sebagai bagian dari masyarakat, konsekuensinya kelompok-kelompok seperti ini juga harus dilindungi dengan memberikan hak-hak istimewa untuk mereka sebagai kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja tiga paragraph saya menulis sebuah artikel kembali saya terhenti. Ini karena saya belum memahami apa sebenarnya inti dari artikelnya Susan Moller. Ya tulisannya begitu hidup dan luas mengaitkan multikulturalisme dengan feminism dan pergulatannya juga dengan realitas yang ada dalam berbagai agama, budaya dan Negara-negara di dunia ini. Sebenarnya saya sudah selesai membaca artikel tersebut. Namun lagi-lagi saat saya belum bisa merefleksikannya dalam tulisan. Tidak apa-apa saya pikir, nanti malam saya akan mencoba menyempurnakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Susan Moller membahas bahwa multikulturalisme memberikan hak-hak istimewa terhadap kelompok-kelompok tertentu untuk menjalankan identitas mereka. Dalam  menjalankan identitas ini tentu terkait dengan budaya bahkan agama yang mendasari kelompok tersebut. Dia membahas bagaimana hubungannya kebudayaan dan gender dan sampai pada kesimpulan bahwa kebanyakan budaya dan agama sangat bersifat patriarki. Sehingga banyak kelompok-kelompok yang ternyata mempraktekan diskriminasi terhadap perempuan dengan bersembunyi di balik multikulturalisme. Ia juga menghantam keuniversalam feminis yang ternyata juga memberikan ruang represi terhadap gerakan perempuan lain. to be continued ah…adzan magrib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-797460803115562844?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/797460803115562844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/mencoba-memahami-multikulturalisme-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/797460803115562844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/797460803115562844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/10/mencoba-memahami-multikulturalisme-dan.html' title='Mencoba Memahami Multikulturalisme dan Perempuan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4016258985647764755</id><published>2010-05-17T23:18:00.000+07:00</published><updated>2010-05-17T23:20:48.489+07:00</updated><title type='text'>Dimanakah Kepercayaan?</title><content type='html'>Sore ini menjelang menjemput anak-anak pulang sekolah saya memasak nasi uduk. Kakap krispy sudah tersedia sejak tadi siang. Soto ayam panas melengkapi kami menutup hari senin. Malam ini saya hanya bersama anak-anak di rumah. Suami sudah dua hari berangkat ke Jogjakarta memandu mahasiswanya. Kenapa saya merasa tak karuan ditinggal beberapa hari ini? Apa karena keluar kotanya bersama mahasiswa? Tapi kan mereka dua bis jadi saya seharusnya tenang. Ya, saya percaya dengannya. Dia pun percaya saya sanggup memegang amanah menjadi istri dan ibu buat anak-anaknya. Kepercayaan telah mengikatkan kami setidaknya selama 9 tahun ini. Bagaimana sebenarnya kondisi kepercayaan dikalangan muslimin saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaaan menurut saya merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan apapun. Tapi anehnya pikiran saya ini terbantahkan begitu saja oleh  sebuah survey yang dilakukan oleh Inglehart dan diteruskan oleh Syaiful Mujani. Inglehart (1999) menunjukan hal yang menarik berkaitan dengan kepercayaan antar satu individu dengan individu lainnya. World Value Survey menunjukan bahwa kurang dari 2 orang dari 10 penduduk Negara muslim percaya kepada orang lain pada umumnya. Ini menunjukan bahwa betapa rendahnya kepercayaan yang dimiliki oleh  setiap muslim saat ini. Survey ini dilakukan di Turki, Bangladesh, Azerbaijan dan Nigeria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dalam World Value Survey tersebut kemudian diajukan kepada kaum muslimin Indonesia melalui survey pada tahun 2001 dan 2002. Persentasenya ternyata hampir sama. Hanya sekitar satu dari 10 muslim Indonesia yang percaya pada orang lain pada umumnya. Ini temuan Syaiful Mujani dalam rangka menyelesaikan disertasinya di Ohio Amerika. Sedemikian rendahkah saling percaya antar sesama muslim di negri ini? Bahkan lebih rendah dari rata-rata Negara muslim lainya.. Menurut Syaiful rendahnya saling percaya ini tidak hanya diakibatkan oleh factor Islam saja. Melainkan factor lain terutama factor social dan politik yang semakin menurun drastis.  Kerusuhan, tindak criminal, kekerasan dan terror dalam skala luas seringkali menghiasi berita di media massa nasional kita. Keamana individu terancam. Kesalahpahaman banyak yang berujung hilangnya nyawa. Pencuri yang tertangkap basah seringkali mengundang respon brutal dari massa. Tidak jarang pencuri tersebut mati di tangan massa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membenarkan pengamatan yang dilakukan Saiful  di sebuah desa di Provinsi Banten yang cenderung memperkuat asumsi tentang meningkatnya kondisi tidak aman ini. Pengamatan Syaiful ini sama persis dengan pengalaman yang terjadi di kampong halaman nenek saya di sebuah desa di Banten Selatan. Kami seringkali tidak jadi memanen hasil kebun dan ladang karena sudah dicuri orang duluan. Kami tidak dapat melindungi hak milik kami. Sehingga solusinya pada ahirnya dengan mengorganisasikan pasukan keamanan sendiri karena tidak ada perlindungan efektif dari pihak kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan criminal meningkat karena kesulitan ekonomi. Orang-orang merasa lebih tidak aman dan tidak saling percaya, bahkan kepada tetangga mereka sekalipun. Keadaan ini menurut Syaiful mengingatkan kita pada studi hasil Banfield tentang masyarakat Italia. Ia menemukan bahwa “seseorang akan merasa lebih aman untuk percaya kepada orang lain jika ia memiliki keleluasaan secara ekonomi. Di bawah kondisi kemiskinan yang luar biasa, salah percaya pada orang lain bisa berakibat fatal” (inglehart, 1999:89). Lagi-lagi ekonomi yang rendah selalu menjadi pemicu berbagai keburukan. Tepat rasanya Rasulullah berkata bahwa kefakiran (kondisi sangat miskin) sangat dekat dengan kekufuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan  sejatinya tidak mejadi penghalang seseorang  untuk saling mempercayai demikian pula dengan kecukupan. Banyak  cerita yang kita dengar tentang orang miskin yang bisa saling mempercayai dan orang berkecukupan yang juga saling mempercayai, juga cerita sebaliknya. Ini menunjukan bahwa keduanya hanyalah kondisi material yang merupakan pelengkap bukan subtansi. Namun bagaimana dengan fakta-fakta yang dikemukakan oleh Inglehart, Syaiful atau yang teralami di kampong halaman? Kondisi ini justru memperlihatkan bahwa apabila kepercayaan sudah menjadi barang langka maka kondisi tidak amanlah yang terjadi. Karenanya menurut saya membangun kepercayaan sangat penting dalam sebuah hubungan apapun. Apakah itu dalam keluarga, institusi, organisasi dan masyarakat pada umumnya.  Untuk membangunnya banyak PR yang harus kita selesaian bersama. PR yang sangat penting adalah membangun mental positif yang terlahir dari keyakinan positif sebagai dasar utamanya. Mari!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4016258985647764755?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4016258985647764755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/05/dimanakah-kepercayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4016258985647764755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4016258985647764755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/05/dimanakah-kepercayaan.html' title='Dimanakah Kepercayaan?'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-6017772108470971655</id><published>2010-05-09T22:03:00.002+07:00</published><updated>2010-05-09T22:07:57.684+07:00</updated><title type='text'>Jerat Filsafat</title><content type='html'>Kembali ke laptop…tak hanya identik dengan si Tukul. Kata-kata itu juga menjadi rutinitas dalam keseharian hidup saya. Mulai dari bangun tidur, kuliah, ngajar, nonton bahkan menjelang tidur. Benda ini saat ini menjadi teman dekat yang tanpa kehadirannya membuat hari ini seolah tak berarti. Menulis sambil diiringi lagu Agnes monica berjudul Awan dan Ombak…indah banget…malem ini pengennya sih nulis tugas pak bambang. Mood saya lagi bagus nih. Anak-anak juga ada yang jagain. Mudah-mudahan malam ini bisa efektif. Loh…loh…diiringi lagu kok malah nyanyi bukan nulis, saya malah pengen dengerin setiap lagu sebenarnya bercerita tentang apa? Kok jadi melo…? Huh…kalo gini ceritanya sih musti di matiin tapi ntar aja deh…kalo anak-anak emang udah tidur beneran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ngonsep dan baca beneran saya pengen merenungkan kejadian hari ini. Hari ini perisiwa yang sangat membahagiakan terjadi. Saya kembali bertemu dengan sahabat saya di pondok pesantren dulu. Ternyata kami sidang skripsi di bulan yang sama, wisuda di bulan yang sama dan nikah di bulan yang sama he he he. Nama kami hampir sama saya Hannah dia anah…secara fisik juga katanya kami gak terlalu jauh berbeda. Sehingga seringkali para ustadz dulu ketuker kalo berurusan dengan kami berdua. Selain persamaan nama dan fisik, juga prestasi kami hampir sama. Kami selalu cepat dan duluan dalam menghafal qur’an dan nadzam dibanding yang lain. Indah sekali waktu yang pernah kami lalui. Selama di pondok selama itu pula saya sekamar terus dengan dia. Kalau orang lain selalu berpindah kamar. Khusus untuk saya dan dia kami selalu bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ahirnya dia merasa sedikit gerah karena selalu disamakan dan dikaitkan terus dengan saya. Demikian pula halnya dengan saya yang kadang bête diidentikkan dengan dia. Kelas 6 kami memutuskan untuk berpisah. Dia mengambil jurusan IPS, saya mengambil jurusan IPA. Sebenarnya saya juga ingin sekali mengambil jurusan IPS, karena saya sangat suka dengan pelajaran sosiologi dan sejarah. Tapi demi harga diri kami masing-masing kami mencoba melakukan pilihan yang berbeda. Meski demikian kami tetap tinggal di kamar yang sama. Hmm indahnya masa yang telah lalu. 13 tahun bukan waktu yang sebentar banyak hal sudah terjadi dengannya dan juga dengan diri saya. Semoga persahabatan kami tetap abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja bila kita menyukai sesuatu maka kita akan bersemangat menghadapinya. Segala rintangan akan dihadapi. Energy yang dimiliki senantiasa terisi penuh dan semua hal akan menyenangkan. Sebaliknya bila dari awal kita sudah merasa tak nyaman maka hasil yang diinginkan pun biasanya tak nyaman. Itulah mungkin ahir perjalanan saya di pondok. Saya memaksakan diri masuk ke kelas IPA, meski kecenderungan saya adalah ilmu social. Tidak terlalu buruk, saya tetap masuk jajaran 10 besar, bahkan di akhir di raport depag, saya meraih peringkat pertama. Tetap saja itu bukan diri saya. Saya melakukan belajar mati-matian bukan karena suka, tapi karena orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya saya merasa bersyukur pada akhirnya bisa kuliah di jurusan yang saya sukai dan disini saya selalu merasa bersemangat mengetahui dan membaca hal-hal baru.&lt;br /&gt;Jurusan yang saya masuki adalah aqidah filsafat. Jurusan yang dari dulu jarang diminati oleh kaum saya. Sehingga saya dan teman-teman perempuan seringkali merasa istimewa karena selalu diperhatikan dan didahulukan. Kenapa saya memasuki jurusan ini? Dulu di pondok saya sangat suka membaca. Perpustakaan selalu jadi tempat pavorit saya.  Selain itu saya juga suka berdiskusi atau melihat santri putra melakukan proses bahsul masail. Mengkaji sebuah masalah dengan membawa kitab sebanyak-banyaknya. Siapapun yang paling banyak referensinya dialah yang akan menguasai forum dan bisa menentukan kesimpulan terhadap permasalahan tersebut. Saya juga sangat suka mendengarkan ustad –ustad muda yang baru pulang dari kairo, dimana gagasannya selalu baru dan menarik hati saya.  salah satunya adalah Ustadz Tohirin yang mengenalkan kepada saya sosok Hassan Hanafi sehingga saat itu pemikirannya sempat menari-nari di kepala. Buku dunia shopie juga sempat memukau saya…sehingga bertanya apa itu filsafat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat liburan pondok, biasanya saya menghabiskan liburan di Bandung. Di kostan sepupu saya yang kuliah di jurusan sastra Indonesia. Saat itu juga saya berkenalan dengan Nawal el-Sadawi dengan novel-novelnya. Lagi-lagi saya merasa terpukau tercengang. Betapa menariknya membaca tulisan dan pemikiran seseorang yang unik dan tak biasa dengan dunia yang saya hadapi saat itu. Selain itu juga saya melahap habis buku-buku sepupu saya yang senang mengoleksi karya said hawwa, sayid qutub, abul a’la al-maududi, Muhammad qutub dan beberapa karya lain yang pada ahirnya saya ketahui mereka di kategorikan sebagai para pemikir fundamentalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat daftar di IAIN Bandung, saya terpukau dengan sebuah nama jurusan yaitu “aqidah dan filsafat” wah saya fikir sepertinya akan asik kuliah di jurusan ini, seasik saya membaca buku dunia shopie dan membaca perjuangan-perjuangan  ihwanul muslimin yang menuntut aqidah yang kuat. Pikiran naïf saya saat itu berkata demikian. Dengan mantap saya memilih jurusan ini sebagai pilihan pertama. Tak salah rupanya saya memilih jurusan ini. Di sini saya menemukan diri saya, meski derai tangis ibu sempat memecah kesungguhan untuk terus bertahan kuliah di jurusan ini. Masih teringat saat itu di angkot jurusan leuwi panjang, ibu meminta saya keluar dari jurusan ini dan menyarankan masuk jurusan bahasa Inggris karena anak sahabatnya sempat tidak sholat dan tak suka mandi. Ia berkata “mumpung baru semester dua, ikut lagi aja test masuk, ambil jurusan bahasa inggris, masa depannya lebih cerah, kamu perempuan lebih baik seperti ibu jadi guru, kalau jurusan aqidah filsafat mau jadi apa? Gak jelas”, saya hanya terdiam tak berkata apa-apa. Ibu saya sampai berulangkali mengulang perkataan yang sama. Saat itu dengan lirih saya berkata ”saya mau seperti ibu mengajar…tapi bukan jadi guru melainkan jadi dosen”. Saya tak meneruskan dengan perkataan apapun. Saya hanya terus terdiam sementara ibu berbicara panjang lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  merasa betah di jurusan ini. Membaca hal yang unik, aneh dan absurd kerap menambah asiknya berlama-lama tinggal di sini. Meski sempat terluka hebat oleh tajamnya filsafat, lagi-lagi magnet nya sangat kuat meraih saya untuk tetap tinggal di sini.  Bukan berarti saya tidak sempat melarikan diri. Saya sempat melarikan diri masuk ke dunia tasawuf…lagi-lagi saya bertemu dengan tasawuf falsafi dan kembali menyeret saya ketengah pusaran filsafat dan sampai saat ini tak bisa keluar dari jeratnya. Karena teryata hidup saya juga sebuah catatan filsafat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-6017772108470971655?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/6017772108470971655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/05/jerat-filsafat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6017772108470971655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/6017772108470971655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/05/jerat-filsafat.html' title='Jerat Filsafat'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1947595193865498155</id><published>2010-05-03T09:41:00.000+07:00</published><updated>2010-05-03T09:43:33.411+07:00</updated><title type='text'>Ibu Gurita</title><content type='html'>Masih belum beranjak dari kasur. Setelah sebelumnya berjibaku menyiapkan anak-anak untuk sekolah dan sarapan bersama. Setiap hari sekolah rutinitas inilah yang kujalani. Bangun paling pagi, langsung ke dapur, memeriksa air minum, makan buat hari ini, pakaian yang dipakai semua anggota keluarga, pergi ke warung sayuran, memasak, mencuci, memandikan, menyapu, beres-beres…wih andai tangan saya seperi gurita mungin banyak hal secara bersamaan bisa saya lakukan. Saat ini, saat semua rutinitas itu berlalu, saya terpaku pada layar monitor berfikir ulang apa yang telah saya lakukan? Apa yang telah saya rasakan ? untuk apa semua hal tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu rumah tangga yang kadang mengajar memang sudah jadi pilihan hidup saya. Bersyukurnya saya tidak seperti ibu saya seorang guru SD yang tiap hari pergi ke sekolah. Saya teringat bahwa rutinitas yang saya jalani selama ini mirip apa yang terjadi dahulu saat saya kecil. Ibu saya yang cekatan membereskan semua hal sendiri tanpa bantuan siapapun, termasuk ayah saya. Biasanya ayah saya cuma tau beres dan konsen dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan saya. Saya tak pernah melihat ibu mengeluh. Tidak seperti saya saat ini yang selalu meminta pengertian suami untuk membantu dan agar anak saya juga mandiri mengerjakan keperluannya. Tapi saya bukan mengeluh, justru untuk kebaikan hubungan kami sekeluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pada dasarnya memang meneruskan pola yang selama ini ibu saya jalankan. Hanya mungkin dalam bentuk yang berbeda. Betapa dahulu saya tidak terlalu dibebani oleh pekerjaan rumah. Ibu saya tidak berani menganggu saya yang sedang membaca atau sedang asik menulis di kamar. Padahal yang saya baca mungkin hanya majalah bobo, novel wiro sableng, sapta siaga, pasukan mau tau, tin-tin atau bacaan lain yang saya sukai lainnya. Nah saya tidak ingin anak saya seperti saya. Mereka harus tau waktu kapan membaca buku kapan bertanggung jawab membereskan segala hal yang telah mereka lakukan. Tapi saya juga saat ini masih memiliki pola yang sama. Membaca kapan saja, di mana saja, tak peduli rumah masih berantakan kalau saya penasaran dengan sebuah buku maka buku itulah yang terpenting buat saya. Tapi saya tetap bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan. Kenapa pula saya bawel mengatur-ngatur anak saya? ya…ya sudahlah saya ikut saja pola yang sudah ibu saya jalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang ibu di satu sisi memang menyenangkan. Saya bisa membuat aturan main buat semua anggota keluarga. Saat ini anak-anak saya hampir tidak pernah menonton TV. Mereka lebih suka menggambar, membuat cerita, menggunting kertas-kertas yang ada dirumah dan bermain sepeda bersama temannya. Kalaupun mereka mau menonton, maka itu hanya bisa dilakukan di ahir pekan dengan CD yang mereka pilih sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah konsep seperti apa yang saya jalankan untuk mendidik anak-anak saya. Namun yang terpenting bagi saya adalah pendidikan agama. Sehingga dalam urusan shalat dan mengaji tak ada kata tidak. Namun untuk urusan sekolah saya belum terlalu konsen membimbing isyqi dan ain mempelajari berbagai mata pelajaran. Karena konsep sekolah dasar yang anak saya masuki sangat berbeda dengan konsep sekolah konvensional. Anak saya tidak pernah dibebani mengerjakan PR. Mereka belajar dengan bermain. Anak saya belajar matematika bukan karena saya yang mengajaknya untuk belajar, tapi karena keinginan dia sendiri yang sedih karena kehabisan waktu mengisi soal padahal dia sangat ingin menyelesaikannya. Sehingga dia meminta saya mengajarkannya dan melatih agar bisa cepat mengerjakan soal.  Ya semoga belajar dalam benaknya adalah hal yang menyenangkan sehingga dia tetap suka belajar sampai ahir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh…mungkin itu jawaban kenapa selama ini saya pun sangat suka belajar. Mungkin karena ibu saya tidak pernah melarang, mengganggu atau membebani saya saat saya membaca. Meskipun ibu saya tau yang saya baca bukan pelajaran melainkan buku cerita. Namun dia berkeyakinan kalau saya sering membaca apapun itu dan merasa itu adalah sesuatu yang menyenangkan, maka saya akan menyukai aktifitas itu meski buku yang dibaca merupakan buku yang berat. Ya semoga saja saya bisa melanjutkan pola positif yang telah ia tanamkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saat ini saya rasakan dengan berbagai aktifitas dan rutinitas yang dijalani? Saya merasa menikmatinya. Setiap saat saya mengamini bahwa disinilah peran saya harus saya jalankan. Dan saat menjalankan berbagai peran bukan berarti diri saya hilang. Saya justru ada saat berada di dunia rumah tangga yang real. Di sini saya menemukan diri saya. Ya seperti apapun pasangan hidup saya, seperti apapun anak-anak saya. Saya tetaplah saya. Yang memiliki kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Hidup yang saya jalani ini merupakan sebuah pilihan sadar. Sebuah pilihan yang harus dihadapi berbagai konsekuensinya. Saat saya menikmati hidup ini maka berbagai macam rasa harus saya coba, pahit, getir, asam, manis semua menjadi satu dalam meningkatkan pengenalan terhadap diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa? Tentunya sebagai bekal perjalanan abadi menghadap-Nya. Selain sebagai istri dan ibu, saya juga masih menjadi anak buat orang tua saya dan fungsi social lain yang menghubungkan saya denga dunia. Saya hadir tidak sekedar untuk keluarga kecil saya, melainkan juga untuk keluarga besar  juga untuk manusia pada umumnya. Kalaulah hidup saya ini bisa bermakna dan memberikan warna yang indah dalam kehidupan ini maka semoga Allah memberikan usia yang berkualitas. Karena hidup lebih berharga dari pada mati, bila seseorang mengetahui untuk apa dia hidup. Ya…inilah yang membuat hidup saya lebih bermakna…jadi jangan takut hidup…hiduplah dengan menorehkan prestasi amal kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blue Diamond 3 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1947595193865498155?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1947595193865498155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/05/ibu-gurita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1947595193865498155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1947595193865498155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/05/ibu-gurita.html' title='Ibu Gurita'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3483118390211896278</id><published>2010-04-18T11:26:00.001+07:00</published><updated>2010-04-18T11:28:27.414+07:00</updated><title type='text'>Minggu pagi</title><content type='html'>Minggu pagi menikmati secangkir capucino panas yang sudah saya tambahi susu bubuk instan dan coklat van houten. Rasa capucino ini sangat mantap. Capucino hotel bintang lima pun sulit menyaingi minuman buatan saya ini. Kali ini saya bingung harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang mana. Cucian menumpuk, piring kotor berserakan, rumah juga berantakan. Suasana hati yang belum membaik mungkin karena pikiran saya yang ngejlimet tak karuan. Pokok pangkalnya adalah keyakinan yang agak goyah dan mempertanyakan segala hal yang selama ini terlihat baik-baik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit perut…ke kamar mandi dulu ah…terus sholat dhuha dan berdoa pada yang membuat hati ini agar diberikan petunjuk dalam menjalani hidup. Sebelum sholat ada baiknya saya menyapu dan membereskan yang berantakan sambil menyalakan mesin cuci. Ya sekarang…sholat dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat kembali duduk di depan monitor dan kembali mengisi catatan harian. Uh…andai hidup ini cukup hitam dan putih. Mungkin kebingungan ini tak kan menyapa ku. Cukup memilih putih yang aman yang bersih dan yang lurus, mudah bukan? Putih sangat berbeda dengan hitam. Garis demarkasi antar mereka mudah terlihat. Seperti baju-baju yang saya pakai saat kuliah s1 dulu. Cukup 2 warna putih dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini mau tidak mau kedewasaan menyapa saya. Meski sebenarnya terserah saya mau menyambutnya atau tidak. Warna-warni melambaikan….(anak perempuan saya menginterupsi dengan kejailannya memeluk dan menarik-narik daster….ya sudah…main dulu) sensasinya. Spektrum warna warni terpancar begitu saja mejikuhibiniu berpendar…kilauannya menyilaukan mata. Saya ternyata boleh memilih lebih dari satu warna, bahkan semua warna pun boleh. Siapa yang akan melarang? Karena ternyata batasan itu hanya ada di kepala yang terindoktrinasi di hati dan langkah. Ya…siapapun tak kan berani memasuki akal budi saya. Perintah…ancaman… hukuman tak kan berhasil mengkrangkeng akal budi untuk terus bekerja. Bahkan terkadang saat fisik seseorang terkrangeng justru saat itu akal budi mengalir deras menghasikan karya yang brilian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya suka memakai pakaian dengan aneka warna. Mulai dari warna yang soft sampai yang ngejreng. Saya perhatikan respon sekeliling dan suasana hati saat memakai warna tertentu. Ternyata effek warna tersebut ada dan nyata. Saya seringkali merasa semangat dan bergairah saat memakai baju merah meski awalnya agak sedih.  Memakai  warna oranye pun kadang membuat saya merasa memiliki energy tambahan dan merasa seperti matahari yang bersinar. Kalau warna pink membuat saya merasa awet muda dan girly, sehingga dalam beberapa event orang tak ada yang mengira bahwa saya seorang ibu dari 2 putri. Saya suka bermain dengan warna. Bagaimana dengan warna kehidupan saya? Masihkah hitam putih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pada sebuah prisma yang putih bening. Prisma tersebur bila dipancarkan cahaya kearahnya akan membiaskan gradasi warna pelangi yang indah. Ya saya tak ingin beranjak dari putih. Namun putih yang saya pilih adalah putih yang bisa membiaskan berbagai macam warna yang indah. Bukan sekedar putih. Untuk itu saya membutuhkan cahaya. Cahaya di atas cahaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3483118390211896278?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3483118390211896278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/04/minggu-pagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3483118390211896278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3483118390211896278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/04/minggu-pagi.html' title='Minggu pagi'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1639653875534305731</id><published>2010-04-05T15:14:00.000+07:00</published><updated>2010-04-05T15:16:58.444+07:00</updated><title type='text'>Embun KKN 2010</title><content type='html'>Pagi ini seperti biasa udara sejuk menyapa kota tempat tinggal saya. Kesejukan kota ini memang sudah terkenal sejak dahulu. Meski sudah tak sedingin seperti 13 tahun yang lalu saat saya pertama kali menginjakan kaki, namun tetap saja udaranya lebih sejuk dari kota lain yang pernah saya tinggali. Kesejukan udaranya terasa memasuki hati, semua ini karena keramahan dan kebaikan para penghuninya. Bandung memang kota impian semenjak saya kecil. Mimpi itu sedikit demi sedikit sedang saya wujudkan di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengantarkan kedua anak saya  bersekolah, saya memacu sepeda motor menuju kampus tempat mengajar. Beberapa panggilan telefon tak sempat saya angkat menemani perjalanan. Sampai di fakultas tempat saya mengajar, saya disambut senyum manis dan tatap mata ceria seorang mahasiswa yang hendak bertemu. Bagi saya, dia merupakan mahasiswa yang istimewa. Darinya pagi ini sebuah semangat mengaliri tubuh dan menyejukan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dindin Saepudin nama mahasiswa itu. Komunikasi dan Penyiaran Islam merupakan jurusan yang ia tekuni selama hampir empat tahun ini. Dia adalah mahasiswa KKN yang saya bimbing tahun ini. Sepasang kruk kayu menjadi penyangga setia tubuhnya. Kedua kakinya mengecil akibat polio semenjak ia bayi. Namun kondisi ini tak menyurutkannya mengikuti semua proses pembelajaran termasuk KKN tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini merupakan kali terakhir saya bertemu dengannya setelah rangkaian program KKN dijalankan. Karena keterbatasan fisiknya dia tak dapat berangkat menuju tempat KKN yang ditentukan kampus. Tahun ini, Bogor Timur dan Garut Selatan menjadi tempat lokasi KKN yang mengusung tema “Mengabdi dan Memberi Solusi dengan Gerakan Pembangunan Berbasis Lingkungan Masjid”. Dindin mendapatkan dispensasi yang istimewa dengan tetap menjalankan KKN dilingkungan tempat tinggalnya yaitu di Kelurahan Antapani Kidul Kota Bandung khususnya di mesjid at-Taqwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membuat saya terkesan adalah bagaimana buku laporan harian ia tulis dengan terperinci dan menggambarkan jelas apa yang telah dia lakukan selama sebulan ini. Dari catatan harian KKN nya saya diajak melihat bagaimana kondisi tempat tinggal dan bagaimana seseorang yang memiliki keterbatasan fisik ternyata mampu melakukan apa yang mungkin sulit bagi seorang yang normal sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan harian itu mengisahkan kepada saya bagaimana ia mencoba untuk berbaur dengan jamaah masjid mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu serta bapak-bapak. Mengajar anak-anak yang lincah dan menguras energi, pertanyaan remaja yang kritis, ibu-ibu yang meminta agar dia memberikan tausiah dan bapak-bapak yang juga mengharapkan terus kehadirannya di masjid. Kelelahan ia tuliskan dengan jelas dalam catatannya, namun semangat yang dimilikinya terus berkobar karena merasa hidupnya bermakna. Semangatnya terus tumbuh saat melihat tatap bening bola mata anak-anak TPA. Membuat keterbatasan fisik  bukanlah apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu terangkai dalam perjalanan KKN yang ia lakukan seorang diri. Yang paling membuat saya terkesan adalah ternyata selama ini dia sudah tidak bergantung secara materi kepada orang tuanya. Semua biaya kuliah dan hidup ia usahkan sendiri. Meski kedua kakinya tak bisa menyagga tubuhnya namun bagi saya ialah manusia yang bisa berdiri sendiri dengan kedua kaki kesungguhan yang dimilikinya. Dari dindin  saya belajar bahwa fisik atau hal material bukanlah hal utama dalam menempuh perjalanan hidup. &lt;br /&gt;Blue Diamond 17 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1639653875534305731?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1639653875534305731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/04/embun-kkn-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1639653875534305731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1639653875534305731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/04/embun-kkn-2010.html' title='Embun KKN 2010'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1582704601782590237</id><published>2010-02-22T08:34:00.002+07:00</published><updated>2010-02-22T08:37:16.770+07:00</updated><title type='text'>Anakku Totto-chan</title><content type='html'>Hari minggu adalah hari yang menyenangkan karena banyak hal bisa saya lakukan. Mulai dari bermain dengan anak-anak di rumah, beres-beres, sampai kegiatan silaturahmi dengan beberapa sahabat. Malam harinya saya sempat membaca buku Totto-chan. Buku itu belum selesai saya baca, baru tiga perempatnya saja, tapi buku itu sangat berkesan buat saya.   Lima tahun lalu isi buku ini sudah pernah diceritakan seorang teman pada saya, namun membaca sendiri saat ini memberikan sensasi yang berbeda yaitu saya merasakan sesuatu yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totto-chan seorang anak 7 tahun yang aktif dan cerdas. Selalu ingin tahu dan senang melakukan hal-hal baru dan penuh tantangan. Sempat dikeluarkan dari sekolah karena membuat keonaran di kelas hanya karena tertarik  membuka dan menutup meja belajarnya, berbicara dengan sepasang burung wallet yang sedang membuat sarang dan memanggil pengamen jalanan untuk menyanyikan lagu mereka disamping kelasnya. Ibu guru totto-chan menganggap kejadian- kejadian yang berulang tersebut tidak bisa ditolelir lagi dalam proses belajar mengajar dan hanya akan mengganggu murid lain yang belajar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dikeluarkan Totto-chan bersekolah di Tomoe Gakuen sebuah sekolah yang unik. Sebuah sekolah yang mempergunakan gerbong kereta sebagai kelas mereka. Sebenarnya bukan hanya gerbong kereta yang membuat unik sekolah itu, justru prinsip pendidikannya. Sekolah Tomoe Gakuen menjadikan anak didik mereka sebagai subjek dalam hidupnya. Saat Totto-chan pertama kali datang ke sekolah itu, kepala sekolah menempatkan dirinya sejajar dengan Totto-chan dan memancing Totto-chan untuk mengungkapkan dirinya dengan mendengarkan semua cerita Totto-chan dengan tulus dan penuh perhatian. Waktu yang dihabiskan hampir setengah hari hanya untuk mendengar cerita seorang anak kecil yang baru dikenal. Luar biasa saya pikir, saya pun kadang merasa bosan bila anak pertama saya yang seusia Totto-chan terus bercerita tanpa mengenal waktu. Saya harus belajar banyak dari kepala sekolah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan belajar di Tomoe Gakuen sangat menarik. Semua anak dibebaskan untuk memilih pelajaran apa yang ingin dipelajari. Boleh duduk di mana saja. Boleh bermain apa saja. Boleh menari dan menyanyi. Setiap anak memiliki pohon yang akan mereka rawat sebagai milik mereka. Sangat menyenangkan saya pikir. Saat itu juga terlintas pengalaman masa kecil yang saya alami dimana belajar di sekolah bukanlah hal yang menyenangkan. Saya harus memakai seragam rapi, duduk dengan manis dan belajar sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saya pikir saat ini pendidikan seperti inilah yang sebagian besar masih diberlakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beberapa sekolah yang sudah mengadopsi   prinsip pendidikan seperti Tomoe Gakuen namun hanya sedikit dan itupun mahal. Kata mahal sebetulnya sangat relative tergantung dihubungkan dengan seperti apa prinsip pendidikan dan fasilitasnya. Atas dasar prinsip pendidikan seperti inilah saya memasukan anak saya ke sebuah sekolah yang paling tidak saya anggap memahami psikologis seorang anak. Sehingga anak saya tidak usah mengalami nasib malang yang dialami ibunya. Terpasung kreatifitasnya dan menjadi robot yang dikendalikan oleh guru-guru mereka. Menjadi manusia yang menyebalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku Totto–chan dengan kondisi saya sebagai seorang ibu yang memiliki anak seusianya membuat buku ini serasa hidup. Sangat nyata saya rasakan. Ekspresi totto-chan adalah ekpresi anak saya sendiri. Namun sedihnya saya belum bisa bersikap seperti ibu Totto-chan yang begitu memahami anaknya. Ibu Totto-chan selalu menganggap penting apa yang dilakukan anakknya. Menghargai dan mendengarkan pendapat dan keinginan anaknya. Mempercayai keputusan yang dilakukan anakknya sambil terus membimbing dan mengarahkan. Saya saat ini kadang masih bersikap otoriter. Kurang mau mendengarkan dan menghargai suara anak saya. Bahkan beberapa saat kami terlibat perdebatan panjang dalam memutuskan suatu hal, dan bisa dipastikan sebagian besar saya yang memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus terus belajar menjadi seorang ibu. Melihat anak-anak saya sebagai  seorang individu otonom dan unik. Mendengarkan mereka untuk mengetahui apa yang mereka inginkan agar saya bisa mengarahkan mereka pada hal yang baik dan benar. Merasakan kehadiran mereka sebagai anugerah yang harus saya rawat dengan sebaiknya. Agar kelak mereka bisa jadi generasi yang lebih baik dari orang tuanya saat ini. Semangat meng-ibu harus tetap dikobarkan. Semoga!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1582704601782590237?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1582704601782590237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/anakku-totto-chan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1582704601782590237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1582704601782590237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/anakku-totto-chan.html' title='Anakku Totto-chan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3840676960211319152</id><published>2010-02-17T15:12:00.005+07:00</published><updated>2010-02-17T15:39:26.429+07:00</updated><title type='text'>Autothelic</title><content type='html'>Kata ini pertama kali saya dengar dari senior saya di aqidah filsafat. Saat itu ia mengisi in house training yang pertama kali digelar pada LSM yang saya rintis bersama beberapa sahabat. Autothelic entah bagaimana cara penulisan yang benarnya, namun makna yang dijelaskan oleh seniorku tadi sangat berkesan dalam hatiku. Menurutnya autothelic adalah mendasari semua pekerjaan karena cinta. Berorientasi pada tujuan dengan tidak meninggalkan proses. Cinta menjadi kerangka dan fondasi dalam melakukan apapun. Maka apapun yang akan kita kerjakan akan terasa menyenangkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sudah hampir dua tahun saya dan teman-teman merintis LSM yang kami berni nama RESIC. Suka duka mewarnai perjalanannya. Kalau diibaratkan bayi maka LSM yang kami rintis ini baru bisa berjalan dengan tertatih. Masih belum seimbang dan masih sangat tergantung. Namun dalam waktu yang terus berjalan ini RESIC terus bergerak dan belajar. Menguatkan kaki untuk memperkokoh langkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini sebuah tawaran menyelenggarakan sebuah event outbond RESIC terima. Ini adalah kali ketiga buat kami melaksanakannya. Sekali lagi kami ingin berusaha dan belajar profesional.Dan untuk itu uang bukanlah prioritas utama. Prioritas utama adalah membangun kekompakan antara anggota resic dan memberikan kesan baik pada pengguna jasa kami. Kami yaqin dengan pelayanan yang optimal, maka mereka akan menginformasikan keberadaan kami dengan positif. Ini bisa menjadi strategi pengiklanan secara gratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksud tulisan ini ya? tulisan ini saya tulis karena baru saja saya selesai negosiasi harga yang ternyata lebih rendah 5000 perorang yang kami anggarkan. Tidak rugi memang, keuntungannya masih ada, hanya tidak leluasa kalau mau mengajak teman-teman RESIC sekalian refresing. Hmmm saya yaqin esok akan mendapatkan project yang lebih baik dari hari ini. Bismillah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3840676960211319152?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3840676960211319152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/auto-helic.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3840676960211319152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3840676960211319152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/auto-helic.html' title='Autothelic'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-5136759180321778999</id><published>2010-02-14T01:15:00.002+07:00</published><updated>2010-02-14T01:20:22.848+07:00</updated><title type='text'>Malam Minggu Yang Panjang</title><content type='html'>Lewat tengah malam saya belum bisa tidur. Sebenarnya bukan karena tidak ngantuk, rasa ngantuk itu ada…namun entah kenapa otak saya masih terus semangat berfikir. Berfikir tentang berbagai hal yang ada di dunia ini. Pernah mungkin sekitar 3 bulan lalu saat saya mempraktekan sebuah metode mengaktifkan alam bawah sadar dengan panduan sekedar buku psikologi yang kebetulan saya temukan di perpustakaan komersial. Beberapa malam saya tidak tidur seperti biasa. Fisik saya tidur namun entah kenapa jiwa saya tetap terjaga. Dalam kondisi itu saya mampu membaca hafalan qur’an saya dengan lancar. Lebih lancar dari pengulangan hafalan yang biasanya saya lakukan pada saat tahajud.  Saat tahajud kadang ada jeda dan otak saya berfikir untuk menyambungkan ayat yang dihafal. Tapi saat saya mengaktifkan alam bawah sadar saya…betapa jernih semua terasa. Esok harinya saya tetap fresh dan semangat. Saya agak takut juga dengan pengalaman yang baru dijalani ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya sempat berkonsultasi dengan beberapa orang yang faham psikologi dan tasawuf. Ada yang menyarankan dihentikan. Ada yang menyarankan diteruskan sampai saya menemukan dan mengendalikan pengaktifan alam bawah sadar tersebut. Karena ternyata energy alam bawah sadar lebih dahsyat dari sekedar energy sadar yang hanya mengaktifkan pikiran kita. Kunci mengupgrade otak ternyata dengan mengistirahatkannya dan menggantinya dengan  alam bawah sadar seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah konon kabarnya kunci dari kesehatan dan kesegaran fisik. Lagi-lagi tanpa sengaja saya menemukan buku yang terselip di bagian buku novel chiklit buku itu berjudul Inner beauty….he he sebagai perempuan penasaran dong dengan buku semodel begitu.  Saya baca dengan semangat….buku itu tidak sistematis…berputar-putar sampai membuat saya pusing. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis buku. Mengapa hanya untuk mebicarakan inner beauty saja mesti berbicara tentang berbagai simbol huh…tapi seolah saya menemukan jawaban dari buku yang tanpa sengaja juga saya temukan. Dan saya sepakat…isi hati lah yang mencerminkan seseorang terlihat seperti apa. Energy kebaikan ini yang akan memancar dan dirasakan oleh hati kecil manusia yang lain. Tersambung frekuensinya dengan frekuansi yang sama…au ah…jadi kebawa lieur….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya…ya…berburu buku-buku yang unik dan menarik memang menyita perhatian saya. Untuk menjadi selingan ditengah aktifitas ritual sebagai ibu, istri dan pengajar. Meski hanya perpustakaan komik yang kecil dan usang saya suka sekali mengunjunginya. Saya sering anggap itu sebuah petualangan mencari harta karun dan saya tidak usah mengeluarkan terlalu banyak uang untuk mendapatkan buku-buku unik dan bagus yang bisa saya temui. Saat saya menemukan perpustakaan baru…serasa saya mendapatkan augerah melebihi permata. Saat membaca buku bagus seolah saya bertemu dengan penulisnya. Bercakap-cakap dalam berbagai tanya yang memenuhi kepala saya. Atau terpana karena indah serta bagusnya tulisan yang dibuat oleh sang penulis. Itulah dunia yang menyenangkan. Saya bisa berkelana sampai kemanapun juga. Seolah saya lah yang mengadakan perjalanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi saya berkelana mengikuti alur setiap buku yang saya baca. Dimana sebenarnya letak imajinasi? Apakah ia ada dalam pikiran atau ada dalam jiwa? Atau antara keduanya…ah…biarkanlah ia ada dimana. Tak  penting itu menentukan imajinasi ada di sebelah mana atau masuk dalam kategori apa. Lepaskan saja…kalau masih memikirkan itu apa bedanya dengan seseorang yang masih memakai teralis modernism untuk melihat berbagai hal. Stop think just feel, can I? Hmmmm…I don’t think so&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya malam ini baru saja saya menonton filem kartun yang diproduksi oleh Walt Disney. Filem tersebut berjudul “UP”. Filem keluaran tahun 2009 ini menceritakan tentang pengalaman seorang kakek tua bersama seorang anak mewujudkan mimpinya. Mimpi ini sebenarnya sebuah mimpi yang dibangun kakek Frederickson dengan Istrinya ellie. Sebuah mimpi yang telah menyatukan mereka berdua dalam sebuah pernikahan yang romantis meski tanpa kehadiran seorang anak. Namun ternyata ellie lebih awal menemui Sang pencipta. Saat ellie tak ada justru keinginan untuk mewujudkan mimpi itu semakin berkobar. Tanpa sengaja seorang anak terlibat dalam proses mengejar mimpi tersebut. Dengan balon gas yang jumlahnya ribuan, kakek tua ini menerbangkan rumahnya dan berpetualang mewujudkan mimpinya dengan perjuangan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata ada yang lebih berharga dari sekedar mewujudkan mimpi pribadi kakek Frederickson dan ellie istrinya. Hal tersebut adalah menyelamatkan persahabatan dan nyawa teman yang terancam. Kakek Frederickson telah memutuskan sebuah keputusan terbaik. Sebuah keputusan mulia. Ya…filem ini sangat bagus ditonton anak-anak. Besok aku akan menemani kedua anakku menonton filem ini betapa karena mengejar sebuah mimpi, seseorang yang tua…sakit-sakitan bisa melakukan berbagai hal yang  mungkin tidak masuk nalar sehat. Apalagi seseorang yang masih sangat muda tentunya peluangnya akan lebih besar kalau mereka memiliki pola piker yang positif dan baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-5136759180321778999?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/5136759180321778999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/malam-minggu-yang-panjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5136759180321778999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/5136759180321778999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/malam-minggu-yang-panjang.html' title='Malam Minggu Yang Panjang'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1545221390619407617</id><published>2010-02-08T05:16:00.002+07:00</published><updated>2010-02-08T05:22:52.480+07:00</updated><title type='text'>Mengawali Semester Genap</title><content type='html'>Baru kali ini dapat jadwal ngajar yang menyenangkan di UIN. Selama satu semester ini cuma dikasih satu kelas. Satu kelas yang saya ajar ini mahasiwanya cuma 1 orang. Ai Rosmiati nama mahasiswa yang akan saya ajar semesteri ini. Seorang mahasiswi aqidah filsafat yang kritis, cerdas tapi pemalas. Saya pernah mengajarnya selama setahun lalu. Sepertinya saya harus memikirkan cara yang kreatif agar perkuliahan dengannya menyenangkan dan bisa membuat saya dan dia bersemangat belajar bersama meski hanya berdua. Hmm...thanks God...saya bisa konsen sekolah dan keluarga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1545221390619407617?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1545221390619407617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/mengawali-semester-genap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1545221390619407617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1545221390619407617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/mengawali-semester-genap.html' title='Mengawali Semester Genap'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-2623602642706172104</id><published>2010-02-07T18:05:00.002+07:00</published><updated>2010-02-07T18:12:27.000+07:00</updated><title type='text'>Semangat Baru</title><content type='html'>Kemarin baru saja mimi mengikuti sebuah pelatihan motivasi Man Jadda Wajada dengan Motivator Akbar Zainudin. Pelatihan ini cukup men-charge mimi untuk lebih konsisten lagi mengisi dan menjalani Action Power yang setahun ini sudah dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimi kembali membuka buku mimpi yang sudah dituliskan 4 tahun lalu untuk dilihat dan diperbaharui lagi menuju mimpi selanjutnya. Kembali mengecek resolusi untuk tahun ini...juga menuliskan action power perbulan untuk mencapai resolusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini mimi kembali bersemangat untuk melakukan muhasabah sebelum tidur untuk menuliskan Action power esok hari. Agenda yang tersusun rapi setidaknya bisa membuat sifat pelupa mimi berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismilah ya Allah...Man Jadda Wajada&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-2623602642706172104?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/2623602642706172104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/semangat-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2623602642706172104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/2623602642706172104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/02/semangat-baru.html' title='Semangat Baru'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8474763789326216039</id><published>2010-01-31T16:49:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T16:50:30.634+07:00</updated><title type='text'>Menjadi pada Sebuah Ruang</title><content type='html'>Sebuah ruang mengisi ruang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciut meleburkan bayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menahan untuk tidak melintasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentri petal juga sentri fugal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma Kuasa yang bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak butuh belas akal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penuh keyakinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup semua tanpa celah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitam tanpa setitik pun putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bermain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini...kini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapuan warna menyajikan nuansa berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keceriaan juga kecemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali menatap tanpa kejap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metamorfosa ribuan helaian nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami untuk tidak menghakimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua saat membutuhkan ruang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8474763789326216039?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8474763789326216039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/menjadi-pada-sebuah-ruang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8474763789326216039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8474763789326216039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/menjadi-pada-sebuah-ruang.html' title='Menjadi pada Sebuah Ruang'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4161045237620762763</id><published>2010-01-31T16:45:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T16:46:53.177+07:00</updated><title type='text'>Sejenak Berjarak</title><content type='html'>Memang betul apa yang dikatakan Ayu Arman, seseorang butuh waktu dan tempat untuk mengasingkan diri dari dunia untuk bisa menuliskan apa yang terlintas dalam pikiran. Karena dunia ini begitu hiruk pikuk dan kadang kita tak bisa mendengar suara apa yang muncul dalam kepala ini. Hiruk pikuk dunia sudah meredam banyak hal. Semua orang serta merta memiliki minat yang sama. Semua orang tumpah ruah melakukan hal yang sama, padahal belum tentu hal itu sebenarnya yang mereka inginkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sangat tepat juga perkataan Mernissi agar memiliki waktu khusus untuk menulis sebagai obat awet muda, meskipun hanya 10 menit dari keseharian kita. Dengan memiliki waktu yang khusus, artinya kita memiliki perhatian khusus dengan jiwa kita. Karena menulis bukanlah sekedar berfikir. Menulis adalah mengeluarkan apa yang ada dalam jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu waktu dan tempat khusus. Lagi-lagi saya termenung kemana saya akan pergi untuk mewujudkan itu semua? Dua bocah perempuan mungil memaku saya di dunia mereka. Demikian juga rutinitas keseharian saya memainkan peran-peran yang sudah saya pilih. Tapi saya membutuhkan sesuatu yang membuat saya tetap bisa berdiri tegak dalam menjalani panggung sandiwara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenyapan adalah sesuatu yang saya butuhkan. Sebuah kondisi yang bisa mendengarkan jiwa saya berbicara. Tentunya pergi ke bulan atau tempat yang sunyi saat ini bukanlah pilihan terbaik yang bisa saya ambil. Saya akan menciptakan ”bulan” saya sendiri. Setelah sekian lama saya mencari dan menciptakan ”bulan” saya, ternyata sepertiga malam terakhir adalah “bulan” terbaik saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saat inilah suara apapun yang muncul menjadi sangat jelas, jernih dan benar benar menyeleksi siapapun yang memiliki kesungguhan menemui-Nya. Menuliskan suara jiwa itu yang ada dalam benak saya saat ini. Betapa keseharian dan hiruk pikuk telah menjauhkan dari asalnya.  Saatnya kembali dan bersatu dengan-Nya dan berjarak dengan hal yang fana. Saat jarak tercipta maka semakin mudah berefleksi dan mengurai segala kusut yang ada. Karenanya mari sejenak berjarak untuk bisa kembali menuliskan berbagai hal tentang kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4161045237620762763?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4161045237620762763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/sejenak-berjarak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4161045237620762763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4161045237620762763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/sejenak-berjarak.html' title='Sejenak Berjarak'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-7448504328474236404</id><published>2010-01-31T15:18:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T15:28:34.182+07:00</updated><title type='text'>Tubuh Kartini</title><content type='html'>Beberapa malam yang lalu tanpa sengaja saya menemukan CD lama filem Kartini yang diperankan oleh Yeni Rachman pada tahun 1982.  Setelah menonton CD tersebut yang membuat pertanyaan buat saya bukan perjuangan Kartini ataupun bagaimana budaya yang begitu feodal menindas rakyat kecil dan perempuan. Justru pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah kenapa kok tubuh Yeni Rachman yang begitu sintal dan cantik  saat ini terlihat sangat jauh berbeda? Kenapa pertanyaan tentang tubuh Yeni Rachman yang mengusik benak saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh perempuan merupakan topic menarik untuk diperbincangkan. Karena tubuh perempuan inilah berjuta-juta karya dihasilkan. Media cetak dan elektronik terus menerus mewacanakan tubuh perempuan yang cantik, menarik dan diinginkan lelaki di dalam masyarakat. Wacana tentang tubuh perempuan cantik saat ini adalah yang berkulit putih, berpayudara besar, tidak kurus kerempeng tapi sintal. Wacana ini mungkin mengendap di alam bawah sadar saya sehingga pertanyaan tentang tubuh Yeni Rachman lah yang mengusik benak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Representasi tentang tubuh perempuan ideal yang diwacanakan terus menerus ini pada akhirnya menjadi ideology ‘cantik putih’. Ideology inilah yang mempengaruhi pandangan dan prilaku masyarakat untuk menjadi objek. Bagi perempuan yang tidak memiliki kriteria pelaku wacana ’cantik putih’, dia akan tereksklusi dari wacana tersebut. Idiologi cantik putih ini sebenarnya sangat mengandung idiologi rasisme. Kulit sawo matang yang dimiliki sebagian besar perempuan Indonesia menjadi “the other”. Idiologi Barat pun menjadi acuan, ras Kaukasoid yang putih adalah cantik, yang normal. Sedangkan kulit berwarna termasuk sawo matang tidak  normal dan tidak cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana sebenarnya tidak membentuk kelas antara dominan dan marginal tetapi setiap wacana bermain secara strategis berdasarkan kepentingan tertentu yang membawa beragam ideologi kata Foucault menjelaskan. Kepentingan Ideologis kapitalis terus mempropagandakan ideology cantik putih ini. Untuk apa mereka terus mempropagandakan hal tersebut? Tentunya untuk tujuan uang dan kekuasaan penundukan Barat atas Timur.  Wacana ini tanpa sadar memasuki kepala tiap orang termasuk saya. Pada ahirnya banyak perempuan di negri ini yang merasa resah dengan kondisi warna kulitnya dan menguras kantong mereka hanya untuk memenuhi kepentingan para kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya termenung memangnya kenapa dengan tubuh perempuan yang seperti Yeni Rachman saat ini? Toh Oprah Winfrey pun tetap berprestasi, berkualitas dan menjalani hidupnya dengan bahagia tanpa memasuki wacana ‘cantik putih’ seperti yang saat ini banyak dipropagandakan media.  Banyak pula perempuan-perempuan hebat yang menikmati tubuhnya sebagai miliknya. Bukan milik publik, bukan milik media juga bukan milik Negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blue Diamond  31 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-7448504328474236404?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/7448504328474236404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/tubuh-kartini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7448504328474236404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/7448504328474236404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/tubuh-kartini.html' title='Tubuh Kartini'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-944793176953897301</id><published>2010-01-11T08:46:00.000+07:00</published><updated>2010-01-11T08:58:19.087+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Semalam Action Power untuk hari ini dah dibuat. Lagi-lagi saya tidak mengikutinya...Meski secara substansi berjalan sesuai rencana, tapi kok  enak betul melanggar sesuatu yg dibuat dan disepakati oleh diri sendiri. Hufh...ayo mimi...konsisten...kamu pasti bisa. Ingat kan hukum panen? ya...semua ada prosesnya...ayo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini selalu berjalan diatas rel...bisa gak ya? keluar dari rel? ah...gak usah aneh-aneh kali. Hidup cuma sekali ya...hanya mengabdi pada Ilahi...bismillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumam Nirmala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertahan.... &lt;br /&gt;Saat ini. &lt;br /&gt;Sensasi yang tak terfahami&lt;br /&gt;Membatik indahnya pelangi. &lt;br /&gt;Cakrawala terbentang memukau. &lt;br /&gt;Terbelalak &lt;br /&gt;Tersentak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selintas ingatan melesat &lt;br /&gt;Menyusun kepingan masa yang berserak. &lt;br /&gt;Menggambar perempuan dengan sederet resolusi   &lt;br /&gt;Memahat diri dengan palu dan besi. &lt;br /&gt;Menjadikan hitam dan putih sebagai pola abadi.&lt;br /&gt;Memakai kaca mata kuda dengan pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua malaikat mungil mengajak menari &lt;br /&gt;Teguhkan pikir mewujudkan tanya&lt;br /&gt;Oh... Nirmala akan kau ajak kemana Oki&lt;br /&gt;Sementara si Sirik tak mudah berlalu melampaui&lt;br /&gt;Mari temui Ratu Bidadari&lt;br /&gt;Karena berkelit tak menghasilkan solusi&lt;br /&gt;Terus hadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blue Diamond 10 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-944793176953897301?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/944793176953897301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/semalam-action-power-untuk-hari-ini-dah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/944793176953897301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/944793176953897301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2010/01/semalam-action-power-untuk-hari-ini-dah.html' title=''/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3862965046853469401</id><published>2009-11-26T10:36:00.000+07:00</published><updated>2009-11-26T10:40:18.632+07:00</updated><title type='text'>Secangkir Kopi Panas</title><content type='html'>Secercah cerah menghiasai maya pada&lt;br /&gt;Semburat keemasan singgah di tepian rerumputan&lt;br /&gt;Kilauan embun mempercantik suasana pagi &lt;br /&gt;Termenung menatap secangkir kopi panas&lt;br /&gt;Setelah berjibaku menunaikan pilihan hidup sebagai seorang ibu&lt;br /&gt;Pilihan sadar yang membawa konsekuensi yang tak mudah&lt;br /&gt;Sebagai proses mengamini hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm…secangkir kopi panas ini tak boleh disia-siakan&lt;br /&gt;Ia lah yang kadang menemani sela&lt;br /&gt;Menemani letih yang berujung senyum&lt;br /&gt;Mengingatkan pada sebuah kisah tentang sang perempuan.&lt;br /&gt;Yang ingin menikmati secangkir kopi panas tanpa kecemasan&lt;br /&gt;Sambil duduk bersama kolega membicarakan masa depan&lt;br /&gt;Masa depan yang ramah buat perempuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir kopi panas ini tak boleh disia-siakan&lt;br /&gt;Satu hirupannya merasuki diri dengan sebuah semangat&lt;br /&gt;Semangat kesyukuran meneruskan perjuangan sang perempuan&lt;br /&gt;Menjadikan apa yang belum diraihnya menjadi sebuah kenyataan&lt;br /&gt;Kenyataan yang mampu membuat siapapun tersenyum&lt;br /&gt;Tersenyum dalam keharmonisan &lt;br /&gt;Seluruh manusia dan alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir kopi panas ini sekali lagi tak boleh disia-siakan&lt;br /&gt;Ia hadir membangkitkan sebuah keharuan&lt;br /&gt;Sebuah kasih ibu yang tak sempat menimang buah hati &lt;br /&gt;Tak sempat melihat dunia yang terbuka untuk dinikmati para perempuan &lt;br /&gt;Tak sempat menjalin relasi seimbang dalam indahnya mahligai&lt;br /&gt;Akibat perangkap budaya yang membuat siapapun sesak&lt;br /&gt;Terengah…hingga batas penentuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir kopi panas ini tinggal satu hirupan&lt;br /&gt;Disambut oleh lambaian kelabu menghiasi langit&lt;br /&gt;Menjadikan akhir perjalanan bagi segerombolan cucian di jemuran&lt;br /&gt;Sebelum butiran permata berhamburan &lt;br /&gt;Membawa berkah bagi kemanusiaan&lt;br /&gt;Menjadi awal bagi kehidupan&lt;br /&gt;Sang perempuan…saat ini kami sudah bisa menikmati secangkir kopi panas tanpa kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blue Diamond, 24 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3862965046853469401?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3862965046853469401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/11/secangkir-kopi-panas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3862965046853469401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3862965046853469401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/11/secangkir-kopi-panas.html' title='Secangkir Kopi Panas'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4072303429699230758</id><published>2009-10-22T11:23:00.000+07:00</published><updated>2009-10-22T11:25:22.936+07:00</updated><title type='text'>Resah Yang Mengusik Kesadaran</title><content type='html'>“Anak-anak dengan siapa kalau ibu pergi ke luar kota beberapa hari?. Pertanyaan ini mengusik perasaan saya ketika hendak berangkat. Perasaan yang awalnya ringan tiba-tiba menjadi berat. Saya termenung memikirkan pertanyaan ini. Mencoba untuk mengurai, kenapa saya merasa resah? Sebenarnya perasaan ini bukan kali ini saja saya rasakan. Beberapa kali kondisi ini menghampiri, namun saya selalu menyimpannya dan tidak memikirkannya. Bagi saya selama kegiatan yang saya lakukan positif kenapa tidak saya mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai   seorang ibu yang mengajar kadang kala ada beberapa tugas yang menuntut saya pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Tidak sering memang, mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Setiap kali saya hendak meninggalkan keluarga saya akan mempersiapkan segala halnya, mulai dari urusan dapur, anak, suami dan hal-hal lain yang akan saya tinggalkan. Sebenarnya setiap kali akan pergi mengajar pun saya melakukan hal yang sama. Saya jadi berfikir kenapa hal tersebut saya lakukan? Apakah itu memang kewajiban saya? Kenapa suami saya tidak sesibuk  saya kalau hendak mengajar dan bebergian ke luar kota. Dia lebih bebas melakukan aktivitas yang dijalaninya. Padahal aktivitas kami sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya teringat dengan pembagian kerja secara seksual yang dijelaskan oleh Arif Budiman. Ia mengatakan bahwa pembagian kerja secara seksual memang sudah terjadi semenjak jaman berburu dan meramu. Sebelum jaman itu perempuan dan laki-laki memiliki pekerjaan yang sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di alam. Sumber makanan di alam melimpah sehingga perempuan dan lelaki mudah mendapatkannya. Tiba-tiba jumlah manusia semakin banyak sedangkan sumber daya alam semakin terbatas. Munculah kompetisi untuk medapatkan bahan makanan. Perempuan dengan potensi reproduksinya mengandung dan melahirkan anak. Pada saat itu gerak perempuan terbatas. Lama kelamaan penguasaan perempuan terhadap alam juga terbatas bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa reproduksi perempuan tergantung dengan laki-laki. Muncullah ketergantungan yang pada akhirnya melahirkan dominasi laki-laki terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak jaman berburu meramu itu perempuan memiliki peran domestic, sedangkan laki-laki memiliki peran public. Pembagian kerja ini terus di lanjutkan selama perjalanan sejarah manusia. Sampai hari ini di mana saya merasakan keresahan akibat pertanyaan di atas. Pembagian kerja ini menjadi sesuatu yang dianggap baku oleh masyarakat. Sehingga bila ada perempuan yang berperan di dunia public tetap saja dia peran utamanya adalah peran domestic. Peran public lebih dianggap berharga karena domestic merupakan bagian dari public. Selain itu juga peran public menghasilkan uang sehingga diangap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pelanggengan kerja secara seksua ini juga dikuatkan oleh pemahaman masyarakat tentang agama. Dimana perempuan dianggap sholehah kalau sepenuhnya berada di rumah dan tidak melakukan apa-apa selain mengurusi keluarga. Saya jadi teringat sebuah syair Syeikh Nefzawi yang merepresentasikan perempuan Ideal Islam  di Timur Tengah pada  abad pertengahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang jarang bicara atau ketawa&lt;br /&gt;Dia tak pernah meninggalkan rumah, &lt;br /&gt;Walaupun untuk menjenguk tetangganya atau sahabatnya.&lt;br /&gt;Ia tidak memiliki teman perempuan&lt;br /&gt;Dan tidak percaya terhadap siapa saja&lt;br /&gt;Kecuali kepada suaminya&lt;br /&gt;Dia tidak menerima apapun dari orang lain&lt;br /&gt;Kecuali dari suami dan orang tuanya&lt;br /&gt;Jika dia bertemu dengan sanak keluarga &lt;br /&gt;Dia tidak mencampuri urusan mereka&lt;br /&gt;Dia harus membantu segala urusan suaminya&lt;br /&gt;Tidak boleh menuntut atupun bersedih&lt;br /&gt;Ia tak boleh tertawa selagi suaminya bersedih&lt;br /&gt;Dan senantiasa menghiburnya&lt;br /&gt;Dia menyerahkan diri hanya kepada suaminya.&lt;br /&gt;Meskipun control itu akan membunuhnya&lt;br /&gt;Perempuan seperti itu adalah yang dihormati semua orang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya bertanya apakah memang seperti itu perempuan ideal dalam Islam? Harus selalu berkutat dalam peran domestiknya? Kalau pun dia berperan di wilayah public maka peran domestic tetap utama? Alangkah beratnya kalau itu harus dilakukan seorang perempuan. Ah…saya kira pembagian peran merupakan hal yang sangat fleksibel. Sangat mungkin dikompromikan sebagai bentuk kasih sayang antara suami dan istri. Siapa yang sempat dan mau dia bisa saja mengambil peran itu. Karena peran apapun juga semuanya sama berharganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali merenung bagaimana dengan Khadijah istri nabi? Apakah seperti perempuan yang digambarkan dalam syair di atas? Menurut sejarah yang pernah saya dengar dia adalah seorang saudagar  yang sukses. Apakah mungkin seorang saudagar sukses mengisolasi dirinya dan berperan di wilayah domestic saja? Padahal khadijahlah perempuan yang selalu mendapat pujian dari nabi bahkan setelah kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil nafas lega. Untuk apa saya merasa resah? Bukankah selama ini saya terbiasa berbagi peran dengan suami? Kalaupun seorang laki-laki suatu saat berperan di wilayah domestic atau rumah, bukankah itu juga rumahnya? Siapapun yang tinggal di rumah, ia wajib merawatnya? Untuk urusan anak, bukankah anak juga anak bersama dan sebagai orang tua kami berkewajiban merawat bersama? Ya sudahlah saya hentikan saja keresahan ini dan focus pada materi pelatihan yang sedang saya jalani. Semoga saya tidak resah lagi kalau pertanyaan ini kembali muncul. Mungkin orang yang melontarkan pertanyaan ini masih mengikuti pola lama yang sebenarnya juga tidak menguntungkan buat dirinya apakah dia perempuan atau lelaki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4072303429699230758?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4072303429699230758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/10/resah-yang-mengusik-kesadaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4072303429699230758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4072303429699230758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/10/resah-yang-mengusik-kesadaran.html' title='Resah Yang Mengusik Kesadaran'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8702034573504905984</id><published>2009-10-22T11:21:00.002+07:00</published><updated>2009-10-22T11:22:39.860+07:00</updated><title type='text'>Ada Uang Abang Sayang, Gak Ada Uang Abang Saya Tendang</title><content type='html'>“Ada uang abang sayang, gak ada uang abang saya tendang”, perkataan ini sering saya dengar baik di sinetron maupun kehidupan keseharian. Perkataan yang menjadi stereotype seorang perempuan yang orientasi hidupnya hanya untuk uang. Sterotype ini begitu melekat pada perempuan. Seolah untuk tujuan inilah perempuan hadir dimuka bumi. Tak segan-segan perempuan menggadaikan hak dan harga dirinya hanya untuk mendapatkan uang. Kenapa pemahaman seperti ini yang muncul? Benarkah stereotype tersebut hanya bisa dialamatkan pada perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengungkap kenapa pelebelan negative ini ditujukan pada perempuan, saya teringat pada kondisi perempuan dalam sejarah yang selalu menjadi property dan didominasi oleh laki-laki. Seperti dijelaskan oleh Ashgar Ali Engineer (1994:55):&lt;br /&gt;Secara historis telah terjadi dominasi laki-laki dalam semua masyarakat di sepanjang zaman, kecuali dalam masyarakat-masyarakat matriakhal, yang jumlahnya tidak seberapa. Perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki. Dari sini muncullah doktrin ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang dimiliki laki-laki, karena dianggap: tidak setara dengan laki-laki. Laki-laki harus memiliki dan mendominasi perempuan, menjadi pemimpinnya dan menentukan masa depannya, dengan bertindak sebagai ayah, saudara laki-laki ataupun suami. Alasannya untuk kepentingannyalah dia harus tunduk kepada jenis kelamin yang lebih unggul. Dengan dibatasi di rumah dan di dapur, dia dianggap tidak mampu mengambil keputusan di luar wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi  peran kaum laki-laki itu menurut Ashgar dibenarkan oleh norma-norma kitab suci yang ditafsirkan oleh kaum laki-laki untuk mengekalkan dominasi mereka. Secara umum semua agama menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dari kaum laki-laki (Muhammad Asadi, 2002: 7-34), termasuk di antaranya Islam. Meski di awal kedatangannya Islam dianggap sebagai kabar gembira karena merubah pandangan terhadap perempuan. (Muhammad Anis Qasim Ja’far, 1998:16-17). Namun selanjutnya posisi perempuan hampir tidak berubah bahkan semakin terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi ini mengakibatkan munculnya pemahaman bahwa laki-laki menjadi sumber pengetahuan (the knowers). Pemahaman tentang perempuan baik diri maupun lingkungannya juga berasal dari pandangan laki-laki.  Akibatnya pengalaman dan pengetahuan perempuan ditiadakan. Dari sinilah menurut saya pelebelan negative bahwa perempuan adalah makhluk yang matrealis muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang membuat saya lebih meyakini bahwa pelabelan negative ini muncul dari kaum laki-laki yang memang ingin mengekalkan dominasi dan membuat perempuan tergantung kepadanya. Ini tergambar dalam syair lagu Indonesia tempo dulu yaitu:&lt;br /&gt;Wanita d jajah pria sejak dulu.&lt;br /&gt; Dijadikan perhiasan sangkar madu.&lt;br /&gt; Namun ada kala pria tak berdaya.&lt;br /&gt; Tekuk lutut dibawah kerling wanita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lagu ini merupakan satu dari sekian banyak syair yang menceritakan kondisi ketertindasan perempuan. Pencitraan perempuan yang lemah. Kalaupun perempuan dianggap kuat maka itu adalah karena keutamaan tubuhnya. Laki-laki akan bertekuk lutut hanya karena kerlingan mata seorang perempuan. Bukan karena kualitas perempuan tersebut. Perempuan dianggap memiliki nilai hanya karena fisiknya&lt;br /&gt;Nilai perempuan hanya karena fisik ini berdampak pada orientasi perempuan pada materi. Seolah untuk mendapatkan uang/materi, perempuan hanya membutuhkan potensi fisik semata. Ini tergambar dalam kegeraman yang diucapkan oleh Nawal el-Saadawi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pria Arab  dan dalam hal ini kebanyakan laki-laki, tidak suka kepada perempuan yang berpengalaman dan cerdas. Seolah-olah laki-laki  takut kepadanya. Karena… ia tahu betul bahwa kelaki-lakiannya tidak real, bukan kebenaran hakiki, tetapi hanya kulit luar disematkan dan dipaksakan atas perempuan oleh masyarakat yang didasarkan atas diskriminasi tekstual dan kelas. Pengalaman dan kecerdasan perempuan adalah ancaman bagi struktur kelas patriakal ini. Pada  gilirannya, suatu ancaman bagi posisi palsu yang ditempati laki-laki, posisi raja atau wakil Tuhan berhadapan dengan perempuan. (Ghada Karm, 2000: 105-106). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegeraman ini menurut saya sangat beralasan. Kegeraman yang muncul karena pelebelan negative bahwa perempuan adalah makluk matrealis. Sehingga dicitrakanlah dalam sejarah bahwa perempuan yang disukai adalah perempuan yang tidak berpengalaman (kalaulah tidak disebut bodoh) asalkan cantik. Ia bisa saja mendapatkan materi yang diinginkannya. Karena kalau perempuan cerdas dan berpengalaman, maka ia hanya kan jadi ancaman bagi dominasi laki-laki.&lt;br /&gt;Pemahaman ini juga mengendap dalam bawah sadar perempuan dan terus-menerus dikonstruk secara social lewat media. Sehingga yang terpenting bagi perempuan adalah penampilan bukan isi kepala apalagi kualitas spiritual. Pemahaman perempuan yang seperti ini sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dibandingkan pemahaman budaya. Karena musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang ada dalam diri. Bukan di luar diri. Karenanya sebelum kita membenahi pemahaman yang bersliweran di luar diri, alangkah lebih baiknya kita benahi pemahaman diri bahwa perempuan adalah makhluk yang samam mulianya di hadapan Tuhan. Yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya.Wallahu ‘alam&lt;br /&gt;(Tulisan ini di buat untuk menjawab perlakuan diskriminasi yang penulis alami saat mengikuti ekspose hasil penelitian diktis depag RI di puncak tanggal 16 Oktober 2009, yang penulis alami hanya karena penulis perempuan muda di forum itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ashgar Ali Engineer, Hak-Hak Perempan Dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994&lt;br /&gt;Asadi, Muhammad, Penulisan Ulang Sejarah Perempuan: al-Qur’an dan Masalah Kebebasan Perempuan, Jurnal al-Huda vol.2 No 5, 2002 &lt;br /&gt;Anis, Muhammad Qasim Ja’far, Perempuan dan Kekuasaan Menelusuri Hak Politik dan Persoalan Gender dalam Islam, Bandung : Zaman, 1998&lt;br /&gt;Ghada Karm, “Perempuan, Islam dan Patriarkalisme” dalam Mai Yamani (ed.), Feminisme dan Islam, Bandung : Yayasan Nuansa Cendekia, 2000.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8702034573504905984?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8702034573504905984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/10/ada-uang-abang-sayang-gak-ada-uang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8702034573504905984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8702034573504905984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/10/ada-uang-abang-sayang-gak-ada-uang.html' title='Ada Uang Abang Sayang, Gak Ada Uang Abang Saya Tendang'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-4076812301917489023</id><published>2009-10-22T11:18:00.001+07:00</published><updated>2009-10-22T11:19:42.271+07:00</updated><title type='text'>Perubahan Sebuah Kemestian</title><content type='html'>“100 orang aktivis adalah pemberontakan, satu orang terdidik merupakan awal dari perubahan”. Kata-kata  Chiko Mendes ini terus terngiang-ngiang di kepala saya. Mengedor-gedor kesadaran  untuk tidak selalu mementingkan kepentingan diri. Menjalari semangat untuk bertindak melakukan perubahan. &lt;br /&gt;Chiko Mendes anak seorang penyadap  getah karet di Brazil telah menorehkan tinta emas dalam sejarah dunia. Dia berhasil mengorganisir masyarakat untuk sebuah perubahan. Bukan kedudukan dan materi yang ia dapatkan dalam hidupnya, melainkan kembalinya hak rakyat yang telah dibayar dengan nafas terakhirnya. Akankah perjuangannya bisa  menjadi inspirasi dalam hidup ini?. Hmm…butuh perjuangan mewujudkannya.&lt;br /&gt;Seorang pengorganisir masyarakat itulah julukan orang bagi seseorang yang memutuskan untuk terjun langsung mewujudkan perubahan social yang transformative dengan berangkat dari apa yang dimiliki masyarakat. Pengorganisir masyarakat bukanlah “Kerja Cari Makan”, bukan semacam hobi yang bisa berubah, bukan proyek pribadi yang bisa kita permaklumkan dan akui sebagai milik. Bahkan seorang pengorganisir masyarakat memang telah disiapkan ke arah suatu proses ‘bunuh diri’. Perkataan ini terujar begitu saja dalam sebuah buku yang ditulis oleh Jo Hann Tan dan Roem Topatimasang yang telah melakukan pengorganisasian masyarakat selama lebih dari 20 tahun di Malaysia, Indonesia dan di beberapa Negara Asia Tenggara.&lt;br /&gt;Mengapa harus ada perubahan? Mengapa tidak menerima apa adanya kondisi saat ini? Mengapa harus mengambil resiko dalam kehidupan? Pertanyaan ini menjejali kepala saya yang biasa hidup di zona status quo di dunia akademis. Saya teringat dengan filsafat Freire yang bertolak dari kenyataan bahwa ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa. Sebagian lagi justru menikmati jerih payah orang lain dengan cara yang tidak adil. Kenyataan di dunia ini, kelompok manusia pertama adalah kelompok mayoritas dan yang kedua adalah minoritas. Kondisi ini merupakan kondisi yang tidak seimbang. Inilah yang disebut situasi penindasan. Pada saat kita mengetahui adanya situasi ini apakah kita akan berdiam diri saja?&lt;br /&gt;Situasi penindasan bisa terjadi di mana-mana. Terjadi dalam berbagai relasi di dunia ini. Namun yang jelas situasi ini sangat tidak memanusiakan manusia. Apakah ia perempuan atau lelaki. Situasi ini menjadikan pihak yang di tindas menjadi objek karena hak-hak mereka dinistakan. Sedangkan penindas menjadi subjek yang telah mendustai hakekat keberadaanya dan hati nuraninya dengan memaksakan penindasan bagi sesama manusia.&lt;br /&gt;Kembali pada kata-kata Chiko Mendes di awal tulisan, “100 orang aktivis adalah pemberontakan, satu orang terdidik merupakan awal dari perubahan”. Di sini kunci perubahan terletak pada satu orang terdidik. Apa makna terididik disini? Apakah seseorang yang memiliki berderet gelar namun tak melakukan apa-apa yang disebut terdidik? Freire mengatakan sistem pendidikan harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebasan umat manusia. Sistem pendidikan mapan selama ini telah menjadikan anak didik sebagai manusia yang terasing dan tercerabut dari realitasnya sendiri dan realitas dunia sekitarnya. Karena ia telah dididik menjadi ada dalam artian menjadi seperti  yang berarti menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Pendidikan menurut Freire memang harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakan social budaya. Pendidikan bertujuan mengarap realitas manusia dan karena itu secara metodologis bertumpu atas prinsip-prinsip aksi dan reffleksi total, yakni prinsip bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas. Pada stimultan lainnya seecara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas itu. Jadi si terdidik disini dimaknai seseorang yang memanunggalkan karsa, kata dan karya atau bersifat “praxis”. Praxis juga sudah  bermakna emansipatoris atau pemberdayaan. &lt;br /&gt;Situasi penindasan dengan si tertindas adalah perempuan banyak terjadi di masyarakat. Meski bukan satu satunya objek dari situasi penindasan dan masih banyak objek-objek penindasan lainnya. Namun karena saya memang  focus pada permasalahan perempuan, maka hal  inilah yang sedang menari-nari di kepala saya.&lt;br /&gt;Kondisi  perempuan yang menjadi objek penindasan bisa kita lihat pada Suseda Jawa Barat tahun 2006 yang menggambarkan rendahnya kualitas hidup perempuan dibanding patnernya laki-laki. Dalam bidang pendidikan rata-rata tingkat partisipasi sekolah perempuan dalam jenjang SMA masih rendah hanya 50,46% dibanding laki-laki 52,48%. Dalam bidang ekonomi tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 27% dibanding laki-laki 73%. Jumlah perempuan yang mengurus rumah tangga 7.528.132 orang dan laki-laki 232.236 orang, (BPS Jawa Barat Tahun 2006)&lt;br /&gt;Rendahnya kualitas hidup perempuan ini semakin diperburuk dengan munculnya berbagai persoalan yang menindas perempuan. Diantaranya adalah meningkatnya perempuan yang menjadi korban tindak kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Seperti laporan yang dimiliki Komnas Perempuan  dimana sepanjang tahun 2005 dari 20.391 kasus kekerasan terhadap perempuan, 82%nya (16.615) merupakan KDRT. (Komnas Perempuan, 2006:3-5). Angka kematian ibu di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara yaitu 307/100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002/2003). Dari seluruh penduduk buta huruf di atas 10 tahun, 67,9% adalah perempuan (Republika Onine.Com 2006). 48.8% penduduk Indonesia adalah miskin dimana sebagian besarnya adalah perempuan (Sinar Harapan.com 2005)&lt;br /&gt;Kondisi ini jelas tak bisa didiamkan saja dan menerima apa adanya. Harus ada perubahan.  Perubahan bisa dilakukan dengan pendidikan yang membebaskan. Inti dari pendidikan ini menurut Freire adalah dengan penyadaran. Penyadaran bahwa perempuan merupakan subjek dalam hidupnya. Sebagai subjek, perempuan harus aktif bertindak dan berfikir dengan terlibat langsung dalam permasaahan yang nyata, dalam suasana yang dialogis. Sehingga perempuan memang benar-benar telah menyadari realitas dirinya dan dunia sekitarnya. Inilah yang disebut dengan penyadaran kritis. &lt;br /&gt;Penyadaran kritis merupakan hal yang harus dilakukan bila ingin menciptakan kondisi ideal yang dicita-citakan. Tanpa kesadaran bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan lelaki dalam berbagai bidang, maka perjuangan perempuan untuk membebaskan dirinya serta masyarakatnya dari ketertindasan sukar dilakukan.  Perjuangan perempuan untuk membebaskan dirinya serta masyarakatnya dari ketertindasan tidak mungkin berhasil jika perempuan tidak mampu mengorganisir diri mereka. Karenanya dibutuhkan pengorganisir untuk perjuangan ini. Saat ini saya masih berusaha berjuang untuk mengasah kesadaran kritis saya agar kelak saya bisa menjadi pengorganisir masyarakat, khususnya perempuan. Semoga !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-4076812301917489023?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/4076812301917489023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/10/perubahan-sebuah-kemestian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4076812301917489023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/4076812301917489023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/10/perubahan-sebuah-kemestian.html' title='Perubahan Sebuah Kemestian'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8908199916720611491</id><published>2009-09-26T23:06:00.000+07:00</published><updated>2009-09-27T00:25:36.247+07:00</updated><title type='text'>Sepenggal Kenangan Mudik Bagi Seorang Perempuan</title><content type='html'>Mudik tahun ini berjalan sesuai rencana yaitu di tempat saya menghabiskan masa kecil. Sebuah kota di propinsi banten yang terkenal dengan suku Badui. Kota ini bernama rangkasbitung. Seperti biasanya...saat saya menginjakan kaki di kota ini udara panas menyambut. Meski saya tiba malam hari, tapi tetap saja udara panas setia menemani. Mungkin karena sudah 12 tahun lebih saya sudah terbiasa dengan udara bandung yang sejuk. Ya...sepanas apapun, kota ini telah menorehkan banyak kenangan dalam lembaran hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan keluarga adalah berkah tersendiri dalam hidup. Mudik kali ini telah mempertemukan saya dengan banyak saudara. Silaturahmi yang dijuduli mudik, telah mampu mengingatkan saya bahwa saya tidak sekedar menjadi ibu dan istri. Melainkan juga seorang anak, cucu, bibi, bu de, keponakan, ipar dan juga sebagai perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbir Iedul Fitri menyambut kedatangan saya malam itu. Rasa lelah menempuh perjalanan selama hampir 4 jam sirna ketika keluarga besar menyambut kedatangan kami. Semua bergembira menyambut hari kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan mudik tahun ini saya memperhatikan betapa tampak perbedaan peran yang dibentuk masyarakat terhadap jenis kelamin. Semua tugas domestik hampir semua yang mengerjakan keluarga saya yang berjenis kelamin perempuan. Termasuk saya sendiri. Saya yang sudah terbiasa berbagi peran dengan suami menjadi mengikuti arus mereka. Ada kekhawatiran bila kami melawan arus, kami menjadi kurang di terima. Alhasil...mudik kali ini menguras banyak energi saya dan menjadi pergulatan batin tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Silaturahmi keluarga besar di gelar, suami saya menjadi pembawa acara. Ia menunjuk saya sebagai pemimpin doa untuk menutup acara rutin tersebut. Sebagian besar anggota keluarga terlihat heran, karena biasanya yang menutup doa adalah sesepuh keluarga yang tentunya berjenis kelamin laki-laki. Keheranan mereka kami netralkan dengan alasan bahwa saya sedang belajar memimpin doa. Sebenarnya saya dan suami hanya ingin membiasakan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam hal apapun. Allah pun akan mengabulkan doa hambanya tanpa mempertimbangkan jenis kelamin orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Ramadhan tetap ingin saya kobarkan dalam program mudik kali ini. Saya berusaha sebaik mungkin menjadikan akhirat sebagai orientasi dalam hidup. Namun sesekali orientasi tersebut tergoda oleh pola fikir beberapa sanak saudara yang matrealis. Bagi mereka yang terpenting dalam hidup ini adalah bagaimana memiliki rumah yang bagus, uang yang banyak, kendaraan keluaran terbaru meskipun mungkin kehidupan spiritual mereka sangat kering, juga kering secara intelektual. Tapi tindakan-tindakan mereka cukup mengusik saya dan suami dan membuat kami jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bertemu dengan keluarga besar, saya pun sempat bertemu dengan teman-teman perempuan masa kecil saya yang usia pernikahannya lebih lama dari saya. lagi-lagi saya merasa berbeda, merasa asing dan dianggap aneh. Semua hal diukur dengan materi. Betapa bangganya mereka dengan apa yang diperoleh suaminya. Mereka beranganggapan bahwa kunci sukses dalam hidup ialah diamnya seorang perempuan di rumah. Saat itu saya tak banyak berbicara. Hanya bertanya dan sekedar mengomentari cerita mereka. Akhirnya mereka menanyakan aktifitas saya selama ini dan jawaban saya membuat bingung mereka. Untuk apa perempuan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...saya tidak menganggap bahwa rumah bagus, uang banyak serta kendaraan bagus tidak penting. Semua hal tersebut penting. Namun bukan hal terpenting. Dan bukan tujuan dalam hidup. Semua hal itu hanya sarana. Sarana yang bisa dioptimalkan untuk mendekatkan diri pada Allah. Karena hanya sebagai salah satu sarana, maka ketiadaanya tidak menjadikan hidup seseorang tidak bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban saya yang membuat bingung temen-teman perempuan yang bertanya, sebenarnya keluar dari pemikiran yang hati-hati agar jangan sampai menyinggung mainstream mereka saat silaturahmi. Alih-alih tidak menyinggung yang ada malah dianggap aneh ya  sudahlah semoga kelak mereka mengerti bahwa mereka bukan sekedar pelengkap saja. Mereka juga merupakan subjek yang bisa menentukan kehidupan mereka. Bukan mengantungkan pada selain Allah yang membuat mereka tanpa sadar menjadi budak manusia yang bernama suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam hari sudah perjalanan mudik yang dilewati. Semoga bukan sebuah kesia-siaan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Banyak untaian syukur dipanjatkan atas anugerah pemahaman bahwa perempuan adalah manusia.Saat seorang perempuan menyadari bahwa dirinya adalah manusia. Maka ia tak kan rela menjadi budak seorang manusia. Hanya kepada Tuan Sejatilah kerelaan itu hendaknya dialamatkan. &lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8908199916720611491?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8908199916720611491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/09/sepenggal-kenangan-mudik-bagi-seorang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8908199916720611491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8908199916720611491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/09/sepenggal-kenangan-mudik-bagi-seorang.html' title='Sepenggal Kenangan Mudik Bagi Seorang Perempuan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8089934783195473442</id><published>2009-09-17T21:36:00.001+07:00</published><updated>2009-09-17T21:44:43.982+07:00</updated><title type='text'>Membongkar Kodrat Perempuan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEMACHI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEMACHI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEMACHI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;“Perempuan bisa saja berkarir, berprestasi dan berkarya, tapi ingat! Jangan melanggar kodratnya”. Kata-kata ini sering kita dengar dan jumpai dalam keseharian kita. Kata-kata ini ditujukan kepada perempuan agar selalu ingat akan kodratnya. Di dalamnya terdapat pembolehan yang menempatkan perempuan sebagai manusia. Sebagai subjek otonom yang bisa menentukan kemana arah hidupnya. Namun kenapa pembolehan ini diikuti oleh sebuah batasan yang bernama “kodrat”? bahkan pada akhirnya batasan inilah yang mendominasi setiap langkah perempuan. Apakah sebenarnya kodrat itu? Kenapa akhirnya ia selalu digunakan untuk mengecilkan peran sosial perempuan?.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Kata kodrat sering digunakan untuk merepresentasikan peran perempuan menurut agama, terutama Islam. Sehingga daya ikatnya begitu kuat. Bila agama sudah mengeluarkan suatu larangan, maka hal tersebut bila dilanggar dihukumi haram. Seperti yang terdapat dalam kaidah Ushul Fiqh &lt;i&gt;al-ashlu fi al-Nahyi li al-tahrim &lt;/i&gt;(asal dari larangan adalah haram). Larangan melanggar kodrat bagi seorang perempuan terus dipertahankan sampai saat ini. Pemahaman kata kodrat yang dihubungkan dengan norma agama dipandang telah memapankan “ketidakadilan” peran berdasarkan jenis kelamin. Tradisi pemahaman ini mengendap di alam bawah sadar masyarakat. Sehingga pada saat seorang perempuan ingin mengaktualisasikan dirinya di ranah publik, maka secara otomastis larangan melanggar kodrat menyertainya. Pemahaman kata kodrat ini akhirnya menjadi salah satu factor langgengnya budaya patriarki.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Pemahaman kata kodrat berpengaruh pada konsepsi perempuan tentang dirinya. Perempuan cenderung menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki. Hadirnya perempuan hanyalah sebagai pelengkap saja. Eksistensi perempuan hanya untuk laki-laki. Sehingga wajar saat ini di layar TV sering kita saksikan perempuan-perempuan yang mempercantik dirinya dan berlomba-lomba hanya untuk menarik perhatian laki-laki. Bahkan sampai terlibat konflik antar sesama perempuan demi mendapatkan laki-laki yang dicintai. Seolah itulah tujuan hidup dan kodrat seorang pempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Konsepsi diri perempuan di atas semakin menguatkan pandangan dunia yang ada tentang perempuan. Bahwa perempuan memang mahluk yang lemah, emosional, irasional, matrealis, licik, suka pamer, penggoda dan pencitraan negative lainnya. Sehingga wajar bila ada satu ungkapan “di balik kesuksesan seorang laki-laki ada cinta yang sukses dan di balik kesuksesan seorang perempuan ada cinta yang gagal”.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kesuksesan seorang laki laki dalam kehidupan berbanding lurus dengan kesuksesan cintanya karena sesuai dengan kodrat. Sedangkan kesuksesan seorang perempuan dalam kehidupan berbanding terbalik dengan kesuksesan cintanya. Seolah hanya laki-laki yang boleh sukses di segala bidang kehidupan dan kesuksesan perempuan hanya akan menjadi biang masalah dalam hubungan pribadinya. Karena kesuksesan perempuan bisa dianggap factor yang melanggar kodrat. &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Perempuan dan laki-laki secara genetick memang berbeda. Kesimpulan ini bila tidak dijelaskan secara tuntas maka bisa dijadikan legitimasi terhadap realitas sosial yang menempatkan perempuan sebagai jenis kelamin kedua (&lt;i&gt;the second sex&lt;/i&gt;). Pandangan yang membedakan perempuan dan laki-laki secara biologis memberikan implementasi dalam kehidupan sosial buidaya. Seolah persepsi yang mengendap di bawah alam sadar seseorang tentang atribut biologis berupa &lt;i&gt;vagina&lt;/i&gt; pada perempuan dan &lt;i&gt;penis&lt;/i&gt; pada laki-laki merupakan atribut gender sekaligus beban gender. Padahal sesungguhnya atribut gender dan beban gender tidak mesti ditentukan oleh atribut biologis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Atribut biologis dalam pandangan masyarakat sangat menentukan artibut gender dan beban gender. Sehingga pada saat seseorang masih dalam kandungan dan di perkirakan jenis kelaminnya perempuan maka atribut gender sudah disiapkan. Mulai dari baju dan perlengkapan lainnya harus feminine. Bisa dengan warna-warna yang lembut, berenda dan berbunga, boneka, pita dan lain-lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perempuan juga diharapkan bersikap lembut, mengalah, pasif, cantik, sensititif, berkewajiban mengurus anak, harus tinggal di rumah, harus dinafkahi, harus melahirkan, harus menyusui dan bila tidak sesuai dengan bentukan masyarakat ini maka dianggap bukan perempuan dan melanggar kodrat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebenarnya artibut gender yang menentukan jenis kelamin sosial yang dibentuk masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki tidak menjadi persoalan bila tidak terdapat anggapan salah satu jenis kelamin istimewa dibanding yang lain. Karena bila terjadi maka akan terjadi hubungan yang tidak seimbang. Hubungan yang ada adalah hubungan kekuasaan. Yang satu lebih tinggi dan yang lain lebih rendah. Yang satu menguasai dan mendominasi sementara yang lain dikuasai dan didominasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Perempuan secara umum ditempatkan di bawah laki-laki dan didominasi. Perempuan dianggap tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan seperti laki-laki. Laki-laki harus memiliki, mendominasi, menjadi pemimpinnya dan menentukan masa depannya dengan bertindak sebagai ayah, saudara laki-laki ataupun suami. Alasannya, semua itu untuk kepentingan perempuan sehingga ia harus tunduk pada jenis kelamin yang lebih unggul. Dengan dibatasi di rumah dan di dapur, perempuan dianggap tidak mampu mengambil keputusan di luar wilayahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Agar pemahaman-pemahaman yang keliru tentang kodrat perempuan ini tidak berlanjut maka perlu adanya pemahaman yang utuh tentang makna kodrat itu sendiri. Dalam pembahasan mengenai kodrat perbedaan perempuan dan laki-laki perlu dibahas lebih cermat dan hati-hati karena kesimpulan keliru tidak hanya akan berdampak pada persoalan ilmu semata-mata. Tapi lebih jauh berdampak pada asasi kemanusiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kodrat perempuan seringkali dihubungkan dengan norma agama yang dipandang sebagai pelestari ketidakadilan peran berdasarkan jenis kelamin. Ini terlihat dalam lintasan sejarah umat manusia. Bahkan dianggap sebagai asal-usul ketidakadilan tersebut. norma agama cenderung terikat oleh doktrin agama. Menyikapi “menganaktirikan” kodrat perempuan yang terlanjur meluas perlu adanya pembongkaran terhadp kata kodrat itu sendiri dan analisia gender tentang tafsir agama untuk menghasilakan pemahaman yang utuh dan benar. Karena dengan pemahaman yang utuh dan benar berimplikasi pada kehidupan pada kehidupan yang berkeadilan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;Pengertian Kodrat Menurut Bahasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kodrat berasal dari bahasa Arab &lt;i&gt;qadara/qadira- yaqduru/yaqdiru- qudratan&lt;/i&gt;. Dalam kamus&lt;i&gt; al-munjid fil-al-Lughah wa al-a’lam&lt;/i&gt; kata ini diartikan dengan &lt;i&gt;qawiyyun ‘ala al-syai&lt;/i&gt; (kuasa mengerjakan sesuatu), &lt;i&gt;ja’alahu ‘ala miqdarih &lt;/i&gt;(membagi sesuatu menurut porsinya) atau &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;qash-shara &lt;/i&gt;(memendekan/membatasi). Dari akar kata &lt;i&gt;qadara/qadira&lt;/i&gt; ini juga lahir kata &lt;i&gt;taqdir&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;qaddara-yuqaddiru-taqdir&lt;/i&gt;) yang berarti menentukan (ketentuan) atau menetapkan. &lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Demikian pula dalam kamus al-Munawwir yang mengartikan &lt;i&gt;qudrah&lt;/i&gt; sebagai kekuatan, kekuasaan dan kemampuan.&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dari akar kata ini kaitu kodrat (&lt;i&gt;qudrah&lt;/i&gt;) dan taqdir (&lt;i&gt;taqdir&lt;/i&gt;) dalam bahasa Indonesia sering dipakai dalam penegrtian yang sama. Menunjuk pada “apa yang telah ditentukan Tuhan”. Sehingga kata kodrat dan takdir bermuara pada kekuasaan mutlak Tuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kata kodrat dalam arti kemampuan, kekuasaan atau sifat bawaan menunjukan adanya keterlibatan aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dilakukannya sendiri. Tanpa bergantung /terkait dengan selain dirinya. Kata kodrat kemudian lebih bermakana kemampuan yang bersumber dari dalam individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (&lt;i&gt;free will&amp;amp;free act&lt;/i&gt;). Sementara kata takdir (&lt;i&gt;taqdir&lt;/i&gt;) dalam arti ketentuan/ketetapan menunjukan adanya sebuah garis kekuasaan harus tunduk patuh (bahkan tidak mampu mengelak dari) ketentuan yang berasal dari atas. Seperti pemberian alat kelamin pada manusia oleh Tuhan yang menentukan seseorang secara biologis laki-laki atau perempuan tanpa bisa ditawar kalaupun bisa itu pun hanya bisa karena operasi.itupun tidak akan pernah bisa menyamai yang alami. Dalam konsep agama Islam seperti kematian yang tak ada seorang pun bisa mengelak dari takdir ini. Yang menentukan kematian bukan dirinya. Ia hanyalah menerima apa yang telah ditentukan atas dirinya. Dengan pengertian ini terlihat jelas bahwa dalam kata “takdir” terdapat 2 pelaku sekaligus. Pertama adalah yang membuat keputusan. Kedua adalah yang menjalankan keputusan. Disinilah letak perbedaan kata ‘kodrat” dan “takdir”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Perbedan makna kodrat dan takdir dalam penggunaan bahasa sehari-hari seringkali diabaikan. Hal inilah yang melahirkan kekeliruan. Inilah yang terjad ketika tak sadar memahami”kodrat perempuan” sebagai takdir perempuan”. Akibatnya perempuan terjebak pada batasan-batasan yang sesungguhnya bukan ketentuan mutlak. Kemudian mengabaikan untuk melihat jauh secara seimbang persepsi kemampuan individual perempuan. Dari pengertian ini kodrat perempuan tidak mesti selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang penuh dengan daerah terlarang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEMACHI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEMACHI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEMACHI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-ascii-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/EMACHI~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Pemahaman tentang “kodrat“ yang disamakan dengan pemahaman “taqdir” membawa akibat pada terjadinya ketidakadilan gender. Karena kata kodrat bukan sesuatu yang di dasarkan factor biologis. Kodrat bukan pula sesuatu yang terberi begitu saja dari Allah (&lt;i&gt;given&lt;/i&gt;) yang harus dilakukan dan tak ada seorang pun yang bisa menghindarinya. Tetapi ada unsur-unsur budaya yang membentuknya. Kodrat perempuan pada ahirnya sarat dengan muatan-muatan lokal. Dari pengertian ini, kodrat bisa berubah dan bukan sebuah ketentuan. Perubahan kodrat dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Pengertian kodrat seperti ini ternyata mempunyai kesamaan dengan definisi gender. Dimana gender diartikan sebagai “pembedaan antara perempuan dan laki-laki berdasarkan jenis kelaminnya dalam hal sifat, peran, posisi, tanggung jawab, akses, fungsi, control, yang dibentuk secara sosial yang dipengaruhi oleh berbagai factor: budaya, penafsiran agama, sosial, politik, hukum, pendidikan dan lain-lain yang bisa berubah sesuai dengan konteks waktu, tempat dan budaya”.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tafsir al-Qur’an mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam melanggengkan ketidakadilan gender maupun sebaliknya. Untuk itu usaha pengkajian ulang terhadap keseluruhan tafsir agama harus terus dilakukan begitu juga dengan implikasinya terhadap ajaran dan perilaku keagamaan. Karena agama bukanlah biang keladi ketidakadilan gender. Pemahaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bersumber dari tafsir lah yang menjadi factor ketidakadilan tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;Pelanggaran terhadap kodrat bukan merupakan hal yang haram. Karena kodrat sendiri bisa bermakana &lt;i&gt;inner power&lt;/i&gt; (kemampuan yang bersumber dari dalam diri individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Karenannya mari kita terus mengkritisi ulang segala persoalan yang tersebar dan mengakibatkan ketidakadilan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam kehidupan. &lt;i&gt;Wallahu ‘alam&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Yanti Muchtar (ed), &lt;i&gt;Modul Pendidian Adil Gender Un tuk Perempuan Marginal&lt;/i&gt;, Jakarta: KAPAL Perempuan, 2006, hal 115.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ungkapan ini di tuliskan Quraish Shihab untuk memperlihatkan betapa subordinatifnya pandangan masyarakat terhadap perempuan. Qurais Shihb, &lt;i&gt;Tafsir Perempuan&lt;/i&gt;, Jakarta: Lentera Hati, 2006, hal.24.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nassaruddin Umar, &lt;i&gt;Kodrat Perempuan dalam Islam&lt;/i&gt;, Jakarta : LKJA, 1999. hal. 4.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ali Ma’shum dan Zainal Abidin Munawwir, &lt;i&gt;Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap&lt;/i&gt;, Surabaya: Pustaka Progresif , 1997. hal. 1095.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8089934783195473442?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8089934783195473442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/09/membongkar-kodrat-perempuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8089934783195473442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8089934783195473442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/09/membongkar-kodrat-perempuan.html' title='Membongkar Kodrat Perempuan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1816903808570505823</id><published>2009-09-17T21:04:00.000+07:00</published><updated>2009-09-17T21:20:39.892+07:00</updated><title type='text'>Selamat Tinggal Ramadhan</title><content type='html'>Baru sekejap saja ku kecap Ramadhan tahun ini. Baru saja terbangkitkan gairahku untuk senantiasa khusyu mencumbu-Nya. Baru saja kuresapi surat-surat cinta-Nya. Kini...ia akan pergi meninggalkanku. Akankah kita akan bertemu lagi? Meski ku tahu medan perang sesungguhnya telah menanti di depan mata. Sebelas bulan kedepan membutuhkan energi yang sangat hebat. Energi yang hanya akan terpenuhi bila perjalanan di Ramadhan diterapkan setiap saat. Ah...sesak hati ini mengingat perpisahan yang akan terjadi...dalam harap...semoga tahun depan kita dipertemukan kembali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1816903808570505823?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1816903808570505823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/09/selamat-tinggal-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1816903808570505823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1816903808570505823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/09/selamat-tinggal-ramadhan.html' title='Selamat Tinggal Ramadhan'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-3671487143753643174</id><published>2009-04-24T08:49:00.000+07:00</published><updated>2009-04-24T08:50:57.476+07:00</updated><title type='text'>Memangnya Kenapa Dengan Perempuan?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sepasang bidadari kecil tersenyum di balik selimut hangatnya. Setelah cerita seekor anak lebah mencari induknya mengantar mereka tertidur lelap. Keduanya putih bersih menunggu tinta apa yang akan digoreskan untuk mengisi lembaran yang masih kosong. Sepasang bidadari kecil itu anak perempuanku. Anak perempuan yang akan menghadapi dunia yang tidak bersahabat dengan mereka. Kelak kondisi inilah yang akan membuat mereka kuat menghadapi apapun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kenapa dunia tidak bersahabat dengan perempuan? Sejarah mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan sudah dilakukan bahkan pada perempuan yang baru lahir. Ini terabadikan dalam al-Quran surat al-Hijr ayat 58-59:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i style=""&gt;Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuannya, hitamlah mukanya dan ia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menaggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu&lt;/i&gt;”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sejarah juga menceritakan bahwa salah seorang sahabat utama yaitu Umar bin Khattab r.a. pernah melakukan kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa anak perempuannya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan setelah masuk Islam dia sangat menyesalinya. Sejarah selalu berulang, saat ini pun di abad modern anggapan hinanya memiliki anak perempuan masih ada. Sebuah surat kabar di Jepang pernah menuliskan bahwa pasangan suami istri di sana tidak segan-segan mengaborsi janin yang ada dikandungan bila sudah diketahui ternyata janin tersebut perempuan. Mereka tetap melakukan hal itu sampai mendapatkan janin berjenis kelamin laki-laki. Di negeri kita pun anggapan tersebut masih ada. Sebuah keluarga dianggap belum lengkap kalau belum memiliki anak laki-laki. Sehingga ada seorang ibu yang terus-terusan melahirkan karena belum mendapat anak laki-laki.&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kekerasan terhadap perempuan yang di ceritakan di atas saat ini masih ada dengan berbagai bentuk yang semakin beragam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual sampai pada penelantara ekonomi. Para pelaku kekerasan pun beragam, namun justru yang paling banyak adalah orang terdekat dari perempuan itu sendiri. Kekerasan ini semakin mencengkram hidup perempuan. Dunia seolah semakin berbahaya buat perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di samping kekerasan di atas, sebetulnya ada bentuk kekerasan lain yang tak kasat mata. Kekerasan ini oleh Pierre Bourdieu di sebut kekerasan simbolik.&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kekerasan semacam ini oleh korbannya (kaum perempuan) bahkan tidak dilihat atau dirasakan sebagai kekerasan. Tetapi sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar. Bahwa hidup perempuan harus tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga sebagai sesuatu yang sudah semestinya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jauh sebelum seorang manusia lahir, lingkungan sudah membentuknya. Lingkungan masyarakat sudah menyiapkan harus seperti apa menjadi perempuan dan laki-laki. Sehingga berbagai sifat, peran, fungsi dan posisi dilekatkan kepada dua jenis kelamin ini. Perempuan diantaranya dibentuk dengan sifat yang lembut, halus, &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pasif, emosional dan sabar. Lelaki diantaranya dibentuk dengan sifat kasar,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;berani, aktif, rasional dan lincah. Untuk fungsi keduanya pun dibagi secara ketat. Dimana perempuan memiliki fungsi reproduktif yang berperan sebagai ibu rumah tangga. Kalau pun mencari nafkah ia hanya dianggap pencari nafkah tambahan. Lelaki memiliki fungsi produktif yang berperan sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah utama. Bentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat ini sebenarnya tidak menjadi permasalahan bila tidak terjadi muncul ketidakadilan. Namun yang terjadi adalah maraknya ketidakadilan yang berbentuk kekerasan terhadap perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pembedaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;laki-laki dan perempuan merupakan proses social yang sangat kompleks dan lama. Menurut Arif Budiman dalam bukunya Pembagian Kerja Secara Seksual sebenarnya pembedaan ini bisa dilacak sampai ke zaman prasejarah. Pada saat zaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pra-sejarah berburu dan meramu perempuan mempunyai akses yang sama terhadap penguasaan alam. Makanan masih tersedia banyak, belum ada kompetisi dan penguasaan satu pihak terhadap pihak yang lain. Lambat laun persediaan makanan menipis sedangkan manusia semakin banyak. Munculah kompetisi untuk mendapatkan makanan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena perempuan memiliki alat reproduksi, otomatis ia hamil, melahirkan dan menyusui anaknya. Aktifitas reproduksi ini mengkondisikan perempuan untuk lebih banyak tinggal di rumah (gua). Sehingga perempuan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Laki-lakilah yang memenuhi kebutuhan hidup perempuan selama masa reproduksi. Semakin lama akses perempuan terhadap alam semakin sedikit. Sebaliknya dengan laki-laki yang tidak hanya penguasaan alam saja yang semakin besar tetapi juga semakin besar control terhadap perempuan dikarenakan tergantungnya perempuan pada apa yang diperoleh laki-laki.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Zaman berburu dan meramu yang diceritakan di atas memunculkan pembagian kerja secara seksual. Perempuan bekerja di lingkungan tempat tinggal (domestic). Semantara laki-laki bekerja dilingkungan luar tempat tinggal (public). Pembagian kerja yang ketat ini sebenarnya tidak menguntungkan baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki karena masing-masing tidak bebas memilih peran lawan jenisnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun dampak tersebut lebih tidak menguntungkan lagi bagi perempuan karena adanya perbedaan status antara domestic dan public. Ruang domestic merupakan bagian dari public sehingga yang dimilikinya pun lebih rendah. Konsekuensinya pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di ruang domestic/rumah kurang dihargai masyarakat karena tidak memberikan nilai ekonomis, padahal jenis pekerjaanya begitu beragam, padat dan menguras tenaga. Lain hal dengan pekerjaan di ruang public/luar rumah karena bernilai ekonomis maka dipandang lebih berharga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan pandangan ini sangat terlihat di masyarakat. Dimana seorang ibu rumah tangga merasa minder saat ditanya apa pekerjaanya. Kebanyakan ibu ini berkata, “saya tidak bekerja, saya di rumah saja yang bekerja bapak, saya &lt;i style=""&gt;mah gimana&lt;/i&gt; bapak saja”. Pekerjaan rumah yang mulia dianggap tidak sebanding dengan apa yang dilakukan di luar rumah merupakan bentukan masyarakat tentang pekerjaan yang berjenis kelamin. Pekerjaan rumah tangga yang berat dianggap bukan pekerjaan. Sehingga banyak ibu rumah tangga yang malu dan ingin keluar rumah agar dihargai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula dengan ibu yang bekerja di luar rumah yang seringkali didera oleh rasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan rumah. Sehingga ia menganggap pekerjaan rumah yang dia kerjakan adalah tanggung jawabnya padahal dia juga harus bekerja di luar. Sehingga semakin beratlah beban yang harus dia tanggung. Padahal hal ini sangat mungkin di kompromikan dengan pasangan sebagai bentuk kasih sayang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pembagian kerja secara seksual yang dibentuk masyarakat cenderung menguatkan satu pihak dan melemahkan yang lain. Hubungan yang tidak berimbang ini merupakan bentuk hubungan kekuasaan. Karena ada pihak yang berdaya ada yang kurang atau tidak berdaya. Munculah kondisi ketidaksetaraan. Kondisi ketidaksetaraan yang diakibatkan oleh pembagian kerja secara seksual ini berlaku universal, namun dalam masyarakat yang pembagian kerja secara seksualnya tidak tegas, ketidaksetaraan ini tidak terlalu tampak. Oleh karena itu agar tercipta suasana keseimbangan kekuasaan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki maka perubahan system pembagian kerja seksual seharusnya terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada saat sistem pembagian kerja secara seksual berubah, maka ruang public tidak tertutup untuk perempuan. Apakah sudah selesai masalah ketidaksetaraan ini? Jawabnya belum tentu. Bergesernya peran perempuan dari ruang domestic ke public memang memberikan harapan pada perempuan untuk lebih berdaya, karena terbukanya berbagai akses. Namun pergeseran tersebut tidak berarti banyak tanpa diikuti dengan pergeseran peran laki-laki.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pembagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerja secara seksual yang tak adil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap perempuan termasuk ke dalam kekerasan simbolis yang berurat akar sangat lama. Hal ini merupakan bentuk pembedaan bukan perbedaan. Pembedaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan proses sengaja untuk membeda-bedakan atau diskriminasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan perbedaan terberi begitu saja sebagi ketentuan Tuhan. Pembedaan inilah yang mengkrangkeng perempuan sehingga sulit untuk melakukan apapun. Selain itu pembedaan ini juga melahirkan penilaian yang merendahkan perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebuah lagu negeri kita tempo dulu menggambarkan kondisi ini:&lt;i style=""&gt; wanita di jajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut dibawah kerling wanita”.&lt;/i&gt; Lagu ini merupakan satu dari sekian banyak syair yang menceritakan kondisi ketertindasan perempuan. Pencitraan perempuan yang lemah. Kalaupun perempuan dianggap kuat maka itu adalah karena keutamaan tubuhnya. Laki-laki akan bertekuk lutut hanya karena kerlingan mata seorang perempuan. Bukan karena kualitas perempuan tersebut. Perempuan dianggap memiliki nilai hanya karena fisiknya. Tidak yang lainya. Apa bedanya dengan hewan? Atau memang dianggap bukan manusia?. Anggapan ini muncul diantaranya berangkat dari pemahaman bahwa keberadaan perempuan adalah untuk laki-laki. Sedangkan keberadaan laki-laki untuk dirinya sendiri. Karenanya bila ada perempuan yang berusia belum menikah maka dianggap hidupnya belum lengkap dan salah. Ketidaklengkapan dan salah ini juga bisa juga dialamatkan pada keluarga yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya memiliki anak perempuan saja. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setiap manusia perempuan dan laki-laki memiliki potensi dan kesempatan yang sama dalam hidupnya. Lingkunganlah masyarakat telah membentuk yang satu lebih istimewa dari yang lain. Sehingga untuk membuktikan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perempuan pun bisa berkualitas, membutuhkan energy dua kali lebih banyak dari laki-laki. Karena selain berperang melawan konsep diri yang lemah akibat bentukan budaya, juga berperang melawan budaya itu sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika perempuan berjuang untuk menciptakan kondisi adil yang diidamkan dengan memasuki wacana laki-laki, dia tunduk pada kategori-kategori yang telah ditetapkapkannya. Bila perempuan menerapkan skema pemikiran yang merupakan hasil dominasi, maka dia kalah sebelum berperang. Ketika pemikiran dan persepsi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perempuan terstruktur dengan stuktur dominasi, upaya untuk mengetahui sama saja dengan sebuah pengakuan dan ketertundukan. Karena itu maka perempuan mesti belajar menilai apaun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Calibri;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pierre Bourdieu, &lt;i style=""&gt;La Domination Masculine&lt;/i&gt;, Paris: Seuil, 1998 hal 7.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-3671487143753643174?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/3671487143753643174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/04/memangnya-kenapa-dengan-perempuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3671487143753643174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/3671487143753643174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/04/memangnya-kenapa-dengan-perempuan.html' title='Memangnya Kenapa Dengan Perempuan?'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-1073635965995550937</id><published>2009-04-24T08:46:00.000+07:00</published><updated>2009-04-24T08:48:38.053+07:00</updated><title type='text'>Kartini dan Kesehatan Reproduksi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;25 tahun usia Kartini saat ia menutup matanya untuk terakhir kali. Hanya empat hari setelah melahirkan ia bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Atau mungkin Kartini belum sempat merasakan kebahagiaan itu diakhir hidupnya. Muncul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertanyaan dibenak penulis kenapa Kartini meninggal dalam usia yang begitu muda dan habis melahirkan? Jangan-jangan kematian kartini berhubungan erat dengan peristiwa melahirkan yang dialaminya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melahirkan merupakan peristiwa reproduksi perempuan, dimana pertaruhan hidup dan mati seorang ibu ditentukan. Setelah mengandung selama 9 bulan, seorang ibu harus berjuang sekuat tenaga mengeluarkan seorang bayi yang dikandungnya. Kesehatan reproduksi tidak sekedar berkaitan dengan hamil dan melahirkan. Kesehatan reproduksi merupakan keadaan kesejahteraan fisik, mental dan social yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi serta proses-prosesnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kondisi mental dan social sangat berkatan erat dengan kondisi fisik seorang perempuan dalam proses kehamilan dan melahirkan. Bila kita membaca surat kartini yang menceritakan kondisi social di jaman itu betapa kondisi social yang feodal telah merampas kebebasan dan kesehatan mental setiap individu. Sebagai contoh, Kartini sebagai anak perempuan tertua seringkali merasa tidak enak bila adik-adiknya berpapasan dengannya maka mereka harus berjalan dengan berjongkok. Tindakan berjalan jongkok merupakan symbol penghormatan dan kepatuhan kepada yang lebih tua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia mengakhiri semua itu dan membolehkan adik-adiknya berjalan sejajar bila berpapasan dengan Kartini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua adik perempuan Kartini sudah menikah. Tinggal kartini yang belum menikah. Sudah beberapa kali ayahnya menjodohkan Kartini namun semua ditolaknya dan ia tetap berkonsentrasi mengajar para perempuan disekitar rumahnya. Sampai suatu saat usia Kartini memasuki 24 tahun, ayahnya sakit. Saat itupula seorang adipati yang beristri 3 melamar Kartini sebagai istri ke-4. Dengan terpaksa Kartini menerima lamaran itu karena khawatir dengan kesehatan ayahnya. Hanya 10 bulan pernikahan itu berlangsung karena harus dihentikan yang Kuasa dengan memanggil Kartini dipelukan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Usia singkat kartini ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia. Dimana Indonesia pernah memiliki perempuan terbaik di zamannya yang telah membaktikan dirinya untuk pendidikan terutama pendidikan perempuan. Dimana pendidikan kaum perempuan menurut Kartini bukan untuk menyaingi kaum laki-laki. Pendidikan bagi perempuan sangat besar artinya untuk kehidupan. Karena bila perempuan sudah terdidik maka dia akan mudah melaksanakan kewajibannya mendidik anggota keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Realitas Kesehatan dan Reproduksi Perempuan di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saat ini bermunculan Kartini-Kartini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Indonesia. Jumlah mereka tertinggi seAsia Tenggara. Lho apa maksudnya? Ya perempuan Indonesia yang meninggal setelah melahirkan tenyata sangat tinggi. Setiap 100.000 kelahiran 307 perempuan meninggal di negri yang katanya makmur ini . Sebagai perbandingan di Singapura AKI (Angka Kematian Ibu)6/100.000 kelahiran, Malaysia 39/100.000 kelahiran, Thailand 44/100.000 kelahiran, Vietnam 160/100.000 kelahiran Filipina 170/100.000 (Kompas 21 Juni 2005). Menurut Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) penyebab utama AKI adalah pendarahan (46,7), eklamsia (14,5) dan infeksi.(Kompas 3 November 2003). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hampir semua perempuan di belahan dunia tak terkecuali Indonesia menerima berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan yang berakibat tidak sehatnya sistem dan fungsi reproduksi mereka. Seperti dalam kasus kekerasan seksual yang terjadi dalam rumah tangga (&lt;i style=""&gt;marital rape&lt;/i&gt;). Banyak Istri yang mengeluh mengalami sakit di vagina mereka akibat hubungan seksual yang dipaksakan. Menurut penelitian Dr. Wimpie Pangkahila, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana terdapat sedikitnya 17 kasus kekerasan seksual dalam pernikahan (1989-1997). Sementara yang masuk ke LBH Apik Jakarta 12 kasus (1998-2003)antara lain: suami memasukan balsam cincau kedalam vagina istri, memaksa istri melayani hubungan seksual dalam keadaan haid ataupun suami dalam keadaan mmabuk memaksa istri berhubungan seksual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Faktor Penyebab Tingginya AKI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beranjak pada tingginya Aki di Indonesia, penulis menyadari bahwa masalah AKI merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan multidimensi. Semestinya masalah kesehatan reproduksi perempuan membutuhkan keterlibatan dan kepedulian banyak pihak, keluarga, masyarakat, agamawan, ahli medis, aparat hokum, maupun para pembuat kebijakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setidaknya ada empat aspek yang menyebabkan tingginya AKI di Indonesia. &lt;i style=""&gt;Pertama, &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;budaya patriarki. Budaya ini menempatkan laki-laki sebagai pihak yang sangat diuntungkan, diutamakan bahkan dilayani, atau lebih sebagai makhluk yang aktif dalam hubungan seksual. Hal ini tercermin dari pola asuh anak laki-laki yang dididik aktif dan bekerja keras. Hal itu terkait anggapan bahwa anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab member nafkah keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan perempuan diposisikan sebagai pihak yang harus melayani, berbakti dan patuh. Implikasi dan penerapan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;budaya ininanak perempuan senantiasa dididik untuk melayani segala kebutuhan ayah, kakak dan adik laki-laki. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bersikap sabar, lemah lembut dan pasrah. Pola sasuh ini terkait dengan pelebelan bahwa anak perempuan nantinya akan menjadi ibu rumah tangga yang mendapat nafkah dari suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena pola asuh seperti itu yang terinternalisasi dan menjadi budaya, maka saat perempuan hidup berumah tangga, akan melakukan hal yang sama yang menurutnya merupakan kewajaran untuk dilakukan. Misalnya karena dididik untuk menghormati dan melayani suami maka dalam mengkonsumsi makanan, istri senantiasa mendahulukan suaminya. Kebiasaan ini juga terjadi saat hamil, sehingga suami mengkonsumsi makanan yang bergizi lengkap sedangkan istri hanya mengkonsumsi sisanya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Selain itu keputusan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu atau perencanaan memiliki anak ditentukan suami. Akibatnya istri dipaksa untuk terus hamil dan melahirkan jika ketentuan jumlah anak dan jenis kelamin tertentu belum didapat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, factor kesehatan. Hal ini ditandai dengan minimnya fasilitas kesehatan. Misalnya biaya kesehatan yang mahal, minimya tenaga medis, akses informasi atau penyuluhan kesehatan belum kasimal, minimnya puskesmas didaerah-daerah terpencil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, Sistem hukum dan kebijakan public yang tidak berpihak pada perempuan. Misalnya keberadaan UU no 23&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahun 1992 tentang Kesehatan pada pasal yang melarang aborsi dalam segala bentuknya. Sehingga semakin banyak aborsi illegal. AKI yang sangat tinggi ini diantaranya juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;35-50% disumbang oleh praktek aborsi yang tidak aman. (Sumber: Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat Depkes). Diperkirakan setiap tahun terjadi 1 juta aborsi akibat kegagalan KB maupun karena tidak pakai alat KB. Selain itu factor seperti larangan laki-laki (pasangan) untuk hamil, keluarga, masyarakat, atau aturan hukum (KUHP), kurang informasi dan akses kepada layanan kesehatan, menyebabkan banyak perempuan pada kasus Kehamilan yang Tidak Diinginkan(KTD) melakukan upaya sendiri atau minta bantuan tenaga yang tidak kompeten sehingga terjadilah aborsi yang tidak aman yang kemudian mengakibatkan kematian ibu. Sesungguhnya aborsi banyak dilakukan oleh perempuan yang terikat dengan pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Keempat&lt;/i&gt; pemahaman agama yang bias gender. Misalnya masih kuatnya anggapan bahwa kematian ibu akibat peproduksi adalah semata karena takdir tuhan sehingga dianggap mati syahid. Mati syahid ini termanifestasi dari hadis nabi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menyebabkan 7 kategori mati syahid, terbunuh dalam perang fisabilillah, orang yang mati karena keracunan lambungnya, tenggelam dalam air, pinggangnya terkena virus, terkena lepra, terbakar api, tertimbun bangunan dan perempuan yang mati karena melahirkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika kita melihat konteks hadis secara detail maka yang tampak 5 unsur diatas antara penyakit dan musibah adalah factor ketidak sengajaan, atau setelah dilakukan upaya penyembuhan yang maksimal. Begitu juga dengan perang, seperti latihan perang, strategi dan persiapan fisik. Sedangkan kematian perempuan yang melahirkan disebabkan oleh hak-hak perempuan hamil yang diabaikan atau tidak dipenuhi, misalkah kurangnya asupan gizi, beban ganda (mengerjakan pekerjaan rumah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tangga juga bekerja keras mencari nafkah di luar) atau secara psikologis tertekan karena pernikahan atau kehamilan. Sehingga apakah kematian yang diciptakan dengan sengaja layak disebut syahid?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: arial;"&gt;230 tahun sudah Kartini meninggalkan bumi pertiwi. Namun namanya masih terus diingat oleh bangsa Indonesia. Semoga bukan cara kematian kartini yang diikuti oleh para perempuan di Indonesia, melainkan semangatnya untuk terus menjadikan kaum perempuan di negeri ini mendapatkan kondisi kehidupan yang lebih baik. AKI yang tinggi harus kita hentikan. Hal ini bisa diwujudkan mulai dari keluarga. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan berbagi peran seimbang antara suami, istri, anak perempuan dan anak laki-laki. Selain pembagian peran yang seimbang, juga poisis tawar istri harus diperjuangkan. Selanjutnya peningkatan pelayanan dan akses informasi kesehatan reproduksi perempuan, menciptakan peraturan hukum terutama mengamandemen UU no 23 tahun 1992 dengan pembahasan yang mengikutsertakan anggota masyarakat diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak. Yang tak kalah penting juga melakukan reinterpretasi terhadap tafsir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ayat-ayat keagamaan dengan kacamata yang lebih ramah perempuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-1073635965995550937?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/1073635965995550937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/04/kartini-dan-kesehatan-reproduksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1073635965995550937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/1073635965995550937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/04/kartini-dan-kesehatan-reproduksi.html' title='Kartini dan Kesehatan Reproduksi'/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://1.bp.blogspot.com/_tcXNWFQxLus/Siir7fjZZ5I/AAAAAAAAAAM/kKD23R1wXUM/S220/IMG_11718.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6913050338993902190.post-8457077454162792487</id><published>2009-04-14T16:27:00.000+07:00</published><updated>2009-04-14T16:44:23.499+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mewujudkan Hidup Penuh Makna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat buat manusia yang lain. Hadis nabi ini setidaknya menjadi inspirasi buat saya dalam menjalani hidup. Saya ingin hidup ini bisa memberikan manfaat positif bagi orang lain sehingga saya bisa mendapatkan makna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makna disini hadir bukan karena dianggap berjasa oleh manusia lain, melainkan makna itu hadir karena secara spiritual saya menjalankan kehidupan dengan baik sesuai dengan keinginan Zat yang menciptakan semua makhluk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebagai seorang yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan, saya merasakan pengalaman yang unik karena keperempuanan saya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa saya katakan unik? Karena dalam hal apapun juga jenis kelamin ini sangat mempengaruhi orang lain memandang saya. Sebagai contoh sejak kecil saya sudah ditugasi membantu ibu mengurus rumah mulai dari mencuci, menyapu dan lain-lain. Sedangkan adik laki-laki saya bebas bermain tanpa di tugasi apapun, bahkan dia sering diistimewakan dengan selalu dipenuhinya segala keinginannya. Saat dewasa pun hal itu terulang lagi. 6 tahun lalu saat saya masih kuliah di pasca, saya mengajukan diri mengajar di jurusan almamater saya. Keinginan ini ditolak mentah-mentah hanya karena saya seorang perempuan. Adik tingkat yang laki-laki boleh mengajar meski dia baru lulus sebagai seorang sarjana. Selalu saya mencoba berfikiran positif. Mungkin inilah proses Allah mendidik saya agar menjadi orang yang senantiasa bersungguh-sungguh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada satu perkataan yang saya ingat bahwa untuk menjadi seorang perempuan dibutuhkan energi dua kali lipat dibanding menjadi seorang laki-laki. Selain seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perempuan harus bisa mengatasi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;budaya yang tidak bersahabat, ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga harus mengatasi konsep diri yang lemah akibat bentukan budaya tersebut. Saya merasakan kebenaran dari perkataan itu. Semakin usia saya bertambah, pengalaman-pengalaman sebagai perempuan yang saya alami ternyata juga dialami oleh semua kaum perempuan. Tak heran kalau kita lihat dari 48,8% penduduk miskin Indonesia mayoritas adala perempuan. 67,9% penduduk buta huruf adalah perempuan. Ini baru data yang mungkin kebenarannya masih bisa diragukan. Tapi sebuah kenyataan telah saya temukan, alami dan rasakan. Kenyataan ini terungkap saat saya menjadi relawan di sebuah LSM yang konsen mendampingi korban KDRT. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dari 90 kasus yang ditemukan selama 6 bulan hampir 70% hanya lulusan SD. Jangan tanya berapa penghasilan mereka. Untuk bertahan hidup mereka rela melakukan apa saja meski harga diri sebagai manusia sudah tak mereka perdulikan. Mereka banyak yang cedera, cacat, dipisahkan dari orang yang dicintai dan penderitaan lainnya. Diantara korban ada yang akhirnya menyadari bahwa dia manusia yang tak pantas diperlakukan semena-mena Perempuan korban yang berani memutuskan siklus kekerasan ini dan mencoba terus menjalani hidup tanpa suaminya, meski penuh perjuangan dan penderitaan. Dia menyadari bahwa perempuan adalah manusia dan tak boleh mengalami perbuatan semena-mena dari siapapun. Bila kesadaran seorang perempuan bisa dibangkitkan maka ia tak akan tak kan rela dirinya disakiti, dinomorduakan, dipinggirkan, dianggap negative, dibedakan atau diberikan beban berlebih dalam hidupnya. Karenanya sebagai seorang perempuan yang ingin bermanfaat untuk orang lain saya ingin mencoba membangkitkan kesadaran perempuan dilingkungan yang saya tempati. Sehingga makluk dengan jumlah lebih banyak ini juga bisa lebih banyak memberikan kontribusi positif dalam kehidupan. Ini adalah sebuah perjuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebuah perjuangan menyadarkan dan memberdayakan orang lain khususnya perempuan, tak bermakna tanpa memberdayakan diri sendiri. Ibarat lilin yang mampu menerangi sekitarnya namun membakar diri dan akhirnya mati. Saya tak ingin demikian. Perjuangan menyadarkan dan memberdayakan perempuan yang ingin saya lakukan juga berarti menyadarkan dan memberdayakan diri saya sendiri. Karenanya mengikuti PUP sampai akhir bagi saya adalah sebuah keniscayaan. Semoga hal ini bisa menjadi bekal bagi saya menjadikan hidup penuh makna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6913050338993902190-8457077454162792487?l=nenghannah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nenghannah.blogspot.com/feeds/8457077454162792487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/04/mewujudkan-hidup-penuh-makna-sebaik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8457077454162792487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6913050338993902190/posts/default/8457077454162792487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nenghannah.blogspot.com/2009/04/mewujudkan-hidup-penuh-makna-sebaik.html' title=''/><author><name>Ibu pemikir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01501931882154748620</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2
