Senin, 13 Februari 2012

Laki-laki Biang Gosip

Senin yang padat. Memulai hari sangat awal. Weekend kemarin membuat hari ini terasa menyebalkan. Harus kembali dengan rutinitas. Kendaraan hari senin sangat padat merayap. Tak sabar rasanya untuk segera melaju dengan kencang. Namun kali ini saya memakai mobil sehingga benar-benar mengikuti arus yang ada tanpa bisa nyalip seperti pake motor. Alhasil saya terlambat 20 menit di kelas.

Setelah dari kelas saya menyelesaikan beberapa urusan. Diantaranya melegalisirkan ijazah keponakan suami yang tinggal di Bogor dan pergi ke kantor. Keponakan suami memang banyak yang seusia saya. Malah ada yang usianya di atas suami dan sudah bergelar Doktor. Dia adalah dosen di IAIN Cirebon. Ketika dalam sebuah pelatihan dosen, saya bertemu dengan teman-teman keponakan suami. Mereka terkejut ketika saya bilang bahwa saya bibi dari senior mereka. Sehingga dalam candaan mereka saya diibaratkan Angel Lelga yang menikahi Rhoma Irama. Saya jadi bahan olok-olokan nyanyian dangdut mereka.Saya tidak terlalu menanggapi olok-olokan teman-teman. Mereka tidak tau kalau usia suami saya justru lebih muda dari keponakannya.

Oh iya terkait menjadi bahan olok-olokan dosen laki-laki, di kampus saya punya beberapa cerita. Saat saya mulai bertugas di UIN Bandung bertepatan dengan hamil anak ke-dua. Ada salah seorang dosen lelaki yang selalu memperhatikan perubahan bentuk tubuh saya. Mungkin karena istrinya tidak pernah hamil, sehingga melihat fenomena perempuan hamil adalah hal yang menarik buatnya. Saya sering merasa risih dengan tatapannya yang memandang betul betul dari atas sampai ke bawah. Meski saat hamil saya selalu memakai gamis tapi tindakannya itu betul-betul mengganggu.

Saya mengadukan permasalahan itu pada dua teman perempuan. Yang satu menyarankan agar sabar dan membiarkan, yang satu lagi malah menganggap saya kegeeran. Ahirnya kedua  teman itu tidak ada yang saya ikuti. Saya langsung menegur dosen laki-laki yang selalu menatap saya dan menyampaikan padanya bahwa saya sangat tidak nyaman dipandang seperti itu. Teguran saya malah bikin dia menjadi-jadi. Saat bersalaman dia malah meraih tangan saya dan berkata. " Bu Hannah kita selingkuh yuk".

Kelakuannya itu terjadi sampai dua kali. Saat pertama kali terjadi saya sangat terkejut dan tidak siap dengan pelecehan yang dia lakukan. Saya hanya membiarkan lalu menghindar. Saat kedua kali dia melakukan pelecehan serupa, saya siap siap dengan menghindar lalu berkata "maaf bapak bukan selera saya, saya lebih suka dengan yang masih muda dan fresh seperti suami saya, kalo bapak sih gak akan tahan lama paling kena encok". Dia sangat terkejut dengan jawaban saya atas ajakan selingkuhnya meski mungkin itu cuma bercanda. Dia cuma bilang "eh jangan dikira...laki-laki itu tua tua keladi, semakin tua semakin jadi". Jawab saya "jadi apa? jadi encok...mana bisa udah tua gitu diajak main akrobat. Kalo masih muda gaya apapun oke so...gak ada yang lebih hebat dari suami saya, maaf ya pak" saya tertawa dan ngeloyor pergi. Puas rasanya bisa membalasnya dengan olok-olokan yang pedas. Dari kejadian itu dia tidak berani lagi mengolok-ngolok saya dan menatap dengan tatapan penuh hasrat.

Itulah salah satu alasan kenapa saya malas berlama-lama duduk di ruang dosen. Karena entah kenapa perempuan dan tubuhnya selalu menjadi bahan pembicaraan yang tidak enak didengar. Terlebih perempuan yang masih muda. Kenapa topik yang dibahas penampilan dan tubuh perempuan, bukan isi kepala, kiprah dan karya seorang perempuan? Obrolan mereka juga kadang terkesan nyinyir dan tak rela perempuan berkiprah di wilayah yang sama dengannya. Kadang mereka juga menyampaikan perselingkuhan dosen senior perempuan yang belum tentu terjadi, belum tentu juga mereka lebih baik dari yang dibicarakan. Pada titik ini saya berkesimpulan ternyata tidak hanya perempuan yang suka ngerumpi dan jadi biang gosip.


Senin, 06 Februari 2012

Perkosaan

Beberapa kasus dilaporkan di lembaga kami terkait perkosaan. Perkosaan yang dilakukan oleh teman dekat merupakan kasus yang paling banyak masuk. Kadang serba salah menanganinya. Secara psikologis, kadang kasihan melihat korban yang dilaporkan masih muda dan belum siap jadi ibu. Sehingga kadang solusi instan yang  diinginkan keluarga   agar beres urusan ialah  dengan aborsi. Tapi sekali lagi apakah itu perlu? mengingat pelaku adalah orang dekat atau pacar korban yang artinya tak mungkin terjadi kehamilan bila relasi itu tidak terlalu dekat. Paling tidak pihak perempuan yang jadi korban memiliki andil dalam kehamilannya dengan membiarkan dirinya menjadi korban. Karena perkosaan dalam sebuah relasi tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada proses yang mendahuluinya.

Tiba-tiba saya teringat dengan perlakuan seorang ibu yang memukuli anakknya di depan umum ketika ia mengetahui anaknya hamil duluan. Sang ibu begitu marah sehingga melakukan kekerasan fisik dan psikis yang sampai hari ini sulit dilupakan sang anak. Saat sang anak dalam kondisi yang lemah karena hamil, sang pacar yang tidak mau tanggung jawab, seseorang yang begitu dekat juga melakukan perbuatan kekerasan kepadanya. Terus terang saat mendengar kejadian itu terjadi di lingkungan yang saya tempati saya betul-betul meyesalkan perbuatan sang ibu.

Saya tidak membenarkan perbuatan sang anak yang hamil duluan. Namun kondisi anak perempuan hamil yang sangat lemah merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dibandingkan kemarahan sang ibu. Selain melindungi fisiknya, sang ibu juga berkewajiban melindungi psikisnya agar tetap sehat dan kembali menjadi lebih baik lagi. Meski marah, kenapa tidak memberikan perlindungan dan kesempatan sang anak untuk memerbaiki dirinya. Perbuatan baik sang ibu bukan berarti setuju atau membenarkan perlakuan sang anak. Melainkan dengan pertimbangan kemanusiaan, bahwa siapapun manusia yang ada dalam kondisi lemah wajib dilindungi.

Kembali pada persoalan perkosaan. Kemarin saya diminta untuk mengeluarkan pendapat terkait aborsi yang     mungkin akan dilakukan oleh seorang gadis yang merasa diperkosa oleh pacarnya. Gadis tersebut sangat lemah secara psikologis. Saat ini dia begitu tertekan dan terlihat depresi. Karena saya termasuk kader ulama perempuan Jawa Barat, saya diminta keputusan terkait hal ini.

Saya menjelaskan bahwa kalau mazhab Syafii, dalam bentuk apapun dan  alasan apapun aborsi diharamkan.  Salah satu ulama yang membolehkan aborsi adalah Iman Hanafi bila sang janin belum 120 hari. Kebolehan ini juga terjadi dengan pertimbangan yang sangat hati-hati yaitu bila sang anak tidak diaborsi, maka hawatir nyawa ibu jadi terancam. Qaidah Ushul fiqih yang saya pahami adalah dharurat yang kecil dibolehkan untuk mencegah darurat yang lebih besar. Nyawa ibu lebih berharga dari nyawa janin yang belum jelas perkembangannya.

Nah kalo pendapat Imam Hanafi ini diprkatekan disini bagaimana? Gadis tersebut ternyata memiliki pacar laki-laki yang sudah menikah. Artinya kemungkinan gadis tersebut dimanfaatkan dan diperkosa cukup besar.  Kondisi sang gadis yang lemah juga jadi pertimbangan. Namun betulkan lemah? penentuan lemah psikologis ini tentu bukan keluar dari orang awam. Namun harus keluar dari psikolog atau psikiater terkait dengan kesehatan jiwa korban.

Kalau hanya dugaan orang awam saja saya tidak berani memakai pendapat Imam Hanafi. Terlebih juga timbul satu pertanyaan kenapa pacaran sampai hamil segala? Bukankah pacaran itu sebuah relasi yang intens dan memerlukan waktu? artinya tidak tiba-tiba berhubungan seksual. Kenapa diam saja saat diajak bermesraan? Kenapa tidak menolak? Bisa jadi jawabannya adalah si perempuan tidak tau bahwa itu adalah perbuatan yang merugikan dirinya. Saat ini rasanya sulit untuk percaya ada gadis perempuan yang tidak tau tentang seksualitas. Atau bermesraan itu sesuatu yang bertentangan dengan budaya (jangan agama dulu deh).  Meski kemungkinan ada gadis perempuan yang benar-benar tidak tahu lalu dimanfaatkan bisa saja terjadi karena budaya kita memang menutup nutupi bahkan menganggap tabu tentang seksualitas.

Saya saat ini memiliki dua anak perempuan usia 9 tahun dan 6 tahun. Perkosaan mengintai perempuan dari kalangan mana saja dan umur berapa saja. Sehingga mau tidak mau saya harus membekali mereka pengetahuan tentang tubuh mereka sendiri. Kadang saya masih memandikan kedua anak perempuan saya dan menjelaskan tentang fungsi tubuh mereka sendiri. Sambil menyabuni mereka sambil melantunkan do'a untuk setiap organ yang saya sentuh. Pada saat menyabuni daerah vitalnya, saya meminta mereka melakukan sendiri dan berkata bahwa "vagina kamu harus dijaga dengan sebaiknya. Jangan sampai ada orang lain yang menyentuhnya sebelum menikah bahkan orang tua atau saudara sekali pun. Kalian harus lapor pada mimi saat ada yang berani pegang-pegang kalian apalagi vagina". Anak saya bertanya memang kenapa mi? jawab saya  "karena ia sangat berharga darinyalah kalian kelak melahirkan anak, harus dibersihkan dengan seksama dan dirawat dengan baik dan hanya kalianlah yang boleh menyentuhnya".

Kemarin saya memberikan anak pertama saya sepucuk surat cinta.  Saya menceritakan bagaimana Allah sudah menciptakan ia dalam bentuk sebaik-baiknya. Fisiknya yang cantik harus diiringi dengan akhlaqnya yang cantik. Saya memberi tahu dia bahwa saat ini dia sudah mumayiz bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Sebentar lagi menjelang aqil baligh. Artinya ialah yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan Allah. Saat aqil baligh juga berarti berlembangnya fungsi reproduksinya dengan membesarnya payudara dan menstuasi. Saya menyelipkan harapan-harapan saya untuknya, untuk lebih rajin lagi belajar, sholat tepat waktu, lebih sayang terhadap adik dan hormat terhadap orang tua. Dia memeluk saya dengan erat dan berkata betapa dia sangat menyayangi saya. Semoga saya bisa terus membekali mereka berdua agar mengerti dan paham tentang tubuhnya. Menjaga dan merawat tubuhnya sebagai sebuah amanah dari Allah. Komunikasi yang intens juga terjalin antara kami berdua tentang hal apapun. Baik hal kecil maupun yang besar. Itu terus kami pupuk dan ciptakan.

Perkosaaan adalah perampokan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seseorang harus berani mengatakan tidak bila mulai ada orang lain yang melecehkan bagian tubuhnya, apalagi sampai melakukan kekerasan terhadapnya. Perkosaan dalam sebuah relasi yang intim pada ahirnya seperti buah simalakama. Di makan mati ayah dibiarkan mati ibu. Fatwa hukum Islam juga tidak bisa diterapkan semena-mena sebelum melibatkan orang yang ahli dalam permasalahan tersebut. Bila memang hasil dari psikolog menunjukan bahwa meneruskan kehamilan adalah hal yang membahayakan bagi kejiwaan si ibu dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkan kejiwaan si ibu selain aborsi, maka mungkin aborsi secara medis yang aman bisa saja dilakukan. Hanya apakah ada aborsi medis yang legal? Karena sampai hari ini kode etik tenaga medis belum berkembang sejauh itu dengan membolehkan aborsi yang aman.

Freire untuk Esok

Malam ini saya belum bisa memejamkan mata. Besok merupakan hari pertama saya mengajar di semester genap. Apa hubungannya tidak bisa memejamkan mata dengan besok mengajar? bukankah hal ini sudah biasa terjadi selama 8 tahun saya mengajar di Kampus. Hehe hubungannya memang tidak signifikan tapi entah kenapa malam ini saya belum juga mau tidur.

Kopi luwak putih memang saya minum ashar tadi. Efek caffeinnya mungkin sudah hilang. Namun entah kenapa kantuk belum juga datang. Malam ini setelah menemani anak belajar saya menemani ayahnya tidur. Lalu mempersiapkan segala hal untuk kemudahan aktifitas esok. Pakaian mulai dari kerudung, rok dan baju sudah saya setrika. Sepatu yang akan dipakai juga sudah saya siapkan dan simpan di ruang depan.

Besok saya mengajar pukul 08.40 di Gedung Y-12. Agenda esok sudah saya tulis di catatan agar efisien dan mudah. Setelah mengajar saya akan membimbing mahasiswa sampai pukul 11.00. Setelah itu saya berencana akan pergi ke kantor di jalan riau no 2. Ngantor untuk mengecek kasus yang masuk dan terus mengkondisikan chemistri di antara para relawan. Pukul 15.00  saya pulang sambil mencari buku Kymlica .

Sebenarnya malam ini saya masih menyiapkan content kuliah yang akan disampaikan esok. Silabus dan SAP sudah ada dari tahun lalu. Bisa saja saya pakai untuk mengajar semester ini, tapi itu artinya konsultasi saya dengan Prof. Bambang Sugiharto tentang silabus Filsafat Sosial sia-sia. Kemarin saya sudah memperlihatkan silabus yang saya buat kepadanya. Saat dia bertanya untuk mahasiswa jurusan apa? dan saya jawab untuk mahasiswa Sosiologi, maka dia bilang apa yang saya tuliskan cukup untuk mereka. Apalagi mahasiswa yang akan saya ajar baru semester 4. Untuk mahasiswa Aqidah Filsafat semester 6 silabus yang saya pakai harus direvisi kembali sesuai dengan hasil konsultasi. Ya saya masih punya waktu malam esok untuk menyiapkannya kembali.

Sepertinya saya tetap akan memakai silabus lama untuk mengajar besok. Namun pengantar kuliah besok saya akan memakai Paulo Freire untuk membuka wawasan mahasiswa bahwa saya bukan sumber kebenaran melainkan hanya fasilitator perkuliahan saja. Perkuliahan merupakan salah satu bentuk dari pendidikan seharusnya berorientasi pada pengenalan realitas dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat objektif atau subjektif, tapi kedua duanya. Kebutuhan objektif untuk merubah keadaan yang tidak manusiawi selalu membutuhkan kemampuan subjektif (kesadaran subjektif) untuk  mengenali  terlebih dahulu keadaan yang tidak manusia, yang terjadi senyatanya, yang objektif.

Objektivitas dan subjektifitas dalam pengertian ini menjadi dua hal yang saling bertentangan, bukan suatu dikhotomi dalam pengertian psikologis. Kesadaran subjektif dan kemampuan objektif adalah suatu fungsi dialektif yang konstan dalam diri manusia dalam hubungannya dengan kenyataan yang saling bertentangan yang harus dipahaminya. Memandang kedua fungsi ini tanpa dialektika semacam itu bisa menjebak kita kedalam kerancuan berfikir.

Freire yang saya pahami mengatakan pendidikan konvensional yang menjadikan pengajar sebagai pusat segalanya hanya akan menciptakan "nekrofili" dan bukan "biofili". Nekrofili adalah rasa kecintaan pada segala yang tidak memiliki jiwa kehidupan. Biofili sebaliknya adalah kecintaan kepada segala yang memiliki jiwa kehidupan yang manawiah (Erich Fromm). Implikasi dari Nekrofili adalah kelak mahasiswa hanya akan menjadi duplikasi pengajar dan akan menjadi penindas-penindas yang baru. Pendidikan hanya akan menjadi status-quo sepanjang masa bukan menjadi kekuatan penggugah (subversive force) ke arah perubahan dan pembaharuan.

Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan bukan penjinakan sosial budaya. Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan karena itu secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total. Karena itu perkuliahan yang akan saya sampaikan satu semester ini akan mencoba mengajak para mahasiswa untuk menari. Mencoba bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi lainnya secara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas.

Tidak hanya kuliah di kelas, saya akan mengajak mereka memperhatikan realitas yang selama ini mungkin luput dari perhatian. Saya akan mencoba mengajak mereka bersentuhan langsung dengan realitas manusia Indonesia yang mayoritas. Dimana manusia mayoritas inilah yang menderita dan tertindas. Perempuan marginal: mulai dari perempuan pemulung dan keluarganya, perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dan keluarganya, perempuan korban trafiking dan keluarganya, perempuan penderita HIV/AIDS dan keluarganya. Perempuan buruh pabrik dan keluarganya yang banyak terdapat di Bandung Timur tempat kuliah kami. Perempuan pembantu rumah tangga dan lain lain sesuai dengan masukan dan pendapat para mahasiswa.

Kenapa perempuan? sebenarnya tidak harus perempuan. Tapi karena jenis kelamin ini yang saat ini secara kuantitas menjadi pihak yang diobjektifikasi maka saya memilih dan menyarankan untuk mencoba belajar dari mereka. Paling tidak subjek yang akan didampingi dan diperhatikan komposisinya 70 % perempuan 30% laki-laki.

Inti dari pembelajaran ini adalah penyadaran. Dengan aktif bertindak dan berfikir sebagai pelaku dengan terlibat langsung dalam permasalahan yang nyata semoga kesadaran yang menjauhkan seseorang dari rasa takut akan kemerdekaan menguap berganti keinginan untuk mengubah hal yang tidak sesuai dengan fitrah.

Langkah awal besok yang ingin saya sampaikan kepada mahasiswa adalah kesadaran seseorang pada realitas dirinya dan dunia sekitarnya merupakan proses yang "menjadi" Proses yang terus menerus, selalu mulai dan mulai lagi. Mulai dari kesadaraan naif sampai kepada kesadaran kritis sampai ahirnya pada kesadaran tertinggi dan terdalam yaitu kesadaran kesadaran. Paling tidak apa yang saya sampaikan sebenarnya untuk diri saya sendiri. Agar terus bisa naik tingkat semakin mendekati Wujud yang Hakiki


Sabtu, 28 Januari 2012

Menjadi Ibu Haruskah Bau?

Ruangan rapat sudah terisi hampir penuh. Saya terlambat 20 menit dari undangan yang diberikan. Segera saya mencari tempat duduk yang kosong di jajaran dosen perempuan. Dosen perempuan di fakultas ini hanya berjumlah 18 orang dari 98 orang. Terlihat mereka duduk berkumpul di sebelah kiri ruangan. Ternyata tempat duduk yang masih kosong terletak paling depan.

Sebelum duduk saya bersalaman cipika cipiki seperti biasa dengan dosen perempuan yang duduk berdekatan. Dari beberapa yang saya salami ada hal menarik yang saya rasakan. Saat saya bersalaman tadi ada satu orang yang saya pikir sangat drastis perubahannya. Sebenarnya saya agak sungkan membahas dan menuliskan hal ini, tapi terus terang masalah ini agak sulit saya abaikan.

Teman saya baru saja melahirkan dan menyusui. Wajar saja kalau bentuk badannya belum kembali pada kondisi semula. Tapi bukan bentuk badan yang mengganggu pikiran saya, melainkan aroma dan penampilannya saat ini. Dulu saat dia masih gadis, saya sering ikut shalat di kostannya samping kampus. Pakaian mengajarnya sangat formal dan berasal dari penjahit profesional yang mahal. Stelan yang begitu pas melekat ditubuh memperlihatkan badannya yang ramping. Seringkali dia mengomentari gaya berpakaian saya yang dinilai terlalu santai dan tidak beda jauh dengan mahasiswi. Padahal menurutnya seorang pengajar yang baik harus memperlihatkan performa terbaik saat mengajar.

Saat memperhatikan meja riasnya saya juga tertegun betapa kosmetik yang dipakainya berharga mahal. Dia juga menyarankan kepada saya untuk mulai memakai make-up karena saat memasuki usia 30 seorang perempuan harus sudah mulai perhatian kepada muka dan tubuhnya. Saya hanya tersenyum saja karena memang kebiasaan kami sangat jauh berbeda.

Setelah bersalaman tadi saya betul-betul tak habis pikir kenapa setiap kali bersalaman bahkan berpapasan dengannya, saat ini saya mencium aroma yang menyengat. Bau tubuhnya begitu tercium dan membuat saya tak nyaman berdekatan dengannya. Make-up yang biasanya dipakai juga nyaris tak berpengaruh. Muka yang tidak terawat ditutupi dengan bedak tebal membuat penampilannya semakin aneh. Mungkin ia tak sempat mengurus dirinya karena mengurus anak dan keluarga pikir saya. Tapi benarkah setelah menikah seorang istri tak memiliki waktu untuk dirinya sendiri? Atau jangan-jangan ia juga sepaham dengan sepupu saya yang mengatakan bahwa "Ah kalo udah laku mah buat apa berdandan, tenang aja kali".

Terus terang saya tidak sepakat dengan pandangan ini. Justru saat gadis dulu saya jarang merawat muka dan badan, karena saya percaya diri dengan karunia yang diberikan-Nya. Untuk apa saya melakukan itu semua saya pikir. Nah saat menjadi istri dan ibulah waktu yang tepat untuk mengurus penampilan. Karena jelas tubuh seorang perempuan diporsir dengan aktifitas reproduksi dengan hamil, melahirkan, menyusui, merawat anak dan keluarga. Otomatis perawatannya harus maksimal. Selain  untuk kenyamanan dan kebutuhan diri juga  ditujukan untuk membahagiakan pasangan dan ini jelas pahalanya.

Saat sudah menikah perempuan tidak boleh mengabaikan dirinya. Bukan sekedar memenuhi keinginan pasangan saja. Namun yang terpenting dari itu semua tubuh ini adalah amanah yang harus dijaga. Sehingga pada saat tubuh kita sehat, kulit sehat dan terawat dengan baik maka kepercayaan diri pun meningkat. Tak usah yang mahal, yang alami dan apa adanya. Semoga menjadi investasi agak dimasa tua nanti masih memiliki tubuh yang sehat.


Rabu, 25 Januari 2012

Mau Perkasa? Senamlah!

Pagi cerah yang berangin duapuluh lima ibu-ibu berkumpul di lapangan. Lapangan ini terletak tepat di depan musholah RT 10 RW 20 komplek Permata Biru Bandung. Di sebelah utara dan timur lapangan ini terdapat sawah yang membentang. Sehingga tidak heran sekeliling lapangan ini dipasangi jala agar bola volly tidak masuk ke sawah. Lapangan dan musholah ini merupakan hasil swadaya masyarakat. Dengan bergotong royong selama kurang lebih setahun setengah kedua fasilitas umum ini selesai dibangun. 

Pukul 07.30 tepat ibu-ibu sudah berkumpul dengan memakai pakaian olahraga. Namun ada pemandangan yang ganjil dari stelan olah raga mereka ini. Mereka tidak menggunakan kaus kaki dan sepatu, namun mengunakan sandal seperti biasa. Selain itu semua ibu membawa sejadah sebagai alat olahraganya. Apa kira-kira yang mereka lakukan ya?


Pagi ini merupakan pertemua ke dua yang kami lakukan dalam kegiatan senam perkasa Indonesia. Senam ini kami lakukan seminggu dua kali setiap hari senin dan rabu setiap pukul 07.30. Senam ini dilakukan di atas matras karena gerakannya  seperti gerakan sholat yang betul-betul mengeksplorasi kerja lutut dan sendi bagian bawah.

Instruktur senam kami sangat istimewa. Dialah mimih haji yang usianya 60 tahun. Mimih haji  merupakan ustadzah yang membimbing majis taklim blok Z yang  berlangsung seminggu sekali. Dulu sebelum mushola ada, kami melakukan pengajian dari rumah ke rumah. Setelah mushola kami berdiri, semua kegiatan pengajian dan kegiatan lainnya dilakukan di musholah. Mimih tahun ini untuk kedua kali sudah berangkat ke Mekah. Setelah pulang, beliau bercerita betapa fitnya kesehatan yang dimiliki sehingga anak muda saja heran melihat betapa fitnya nenek yang satu ini.

Gerakan senam perkasa memadukan pernafasan dan gerakan pergangan otot dan sendi.  Memulai senam ini kami semua berdiri di atas sajadah atau matras dengan posisi kaki berbentuk A. Setelah itu muka ditengadahkan ke atas sambil tangan direntangkan, badan dibungkukan sambil menghirup nafas lewat hidung, setelah itu tangan direntangkan ke atas sambil meregangkan seluruh tubuh, nafas ditahan beberapa saat lalu dilepaskan kembali dengan suara HA. Ini merupakan gerakan dasar yang terus dilakukan sepanjang senam dan dipadukan dengan gerakan lain.

Gerakan kedua adalah gerakan dasar yang dipadukan dengan peregangan yang dimulai dari kepala, telinga, sampai bahu. Dalam melakukannya pernafasan harus teratur dan berirama. Setelah itu gerakan selanjutnya yaitu dengan menghentakan telapak kaki secara berirama dan menahan gerakan dan nafas pada titik-titik tertentu. Selajutnya gerakan tersebut dipadukan dengan gerakan tangan yang memutar seperti sayap dengan hitungan 7, 9 dan 12.

Gerakan inti senam ini adalah setelah kembali melakukan gerakan dasar lalu jatuhkan lutut ke matras sambil tangan terus terentang ke atas, muka terus tengadah lalu terus berdiri lagi. Jatuhkan lagi terus berdiri lagi dari 7 kali, diulang 9 kali sampai 12 kali. Selajutnya gerakan inti kedua setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan, duduk bersimpuh seperti gerakan diantara dua sujud, lalu tumit kaki dipegang oleh kedua tangan, badan di bungkukan dengan muka tetap menghadap ke depan. Ditahan hingga hitungan 7, 9, dan 12 selajutnya posisi jongkok dengan tangan tetap ke depan lalu, gerakan rukuk lalu berdiri lagi dengan meregangkan tangan ke atas sambil menghirup nafas. Gerakan inti ketiga seperti gerakan yang kedua hanya tangan tidak memegang tumit melankan diarahkan ke depan kaki telapak kami yang terbalik diangkat perlahan, tahan pada posisi demikian dengan hitungan7, lalu 9 lalu 12, lalu jongkok, ruku dan kembali berdiri.

Gerakan selajutnya adalah gerakan pompa dragon yang katanya bisa menambah vitalitas seksual ibu-ibu. Gerakannya setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan,  sambil berlutut dengan kaki agak dibuka, tangan memegang tumit belakang lalu badan dikedepankan seperti dipompa naik ke atas dan ke bawah (seperti gerakan kayang hanya sambil berlutut). Gerakan ini tetap dilakukan 7 kali, 9 kali dan 12 kali. Selajutnya gerakan lutut macan. Gerakan dasar, lalu berlutut tangan disimpan di depan lutut badang dimajukan ke depan kepala digoyang kanan dan kiri dilakukan 7 kali diulang lagi lalu 9 kali , lalu 12 kali. Selanjutnya gerakan inti terahir adalah setelah gerakan dasar, lutut dijatuhkan lalu duduk bersimpuh seperti posisi duduk diantara dua sujud, lalu badan direbahkan kebelakang tangan direntangkan ke atas. Posisi tersebut seperti posisi tidur, hanya kaki terlipat. Posisi ini ditahan sampai 2 x 60 hitungan bagi pemula bisa juga 7 x 60 hitungan bagi yang sudah terbiasa.

Setelah selesai gerakan inti kembali berdiri lalu bernyanyi dan melakukan gerakan-gerakan sederhana penutup. Salah satu lagu yang sudah saya hapal  ialah "satu kepal nasi, empat jari ikan, sepuluh jari sayur, satu jari minyak, caca marica hei-hei, caca marica hei hei, caca marica menunya sudah cukup". Setelah selesai senam, ditutup dengan do'a bersama dan kembali ke rumah masing-masing. Badan kami terasa lebih segar dan bersemangat untuk melakukan aktifitas hari ini.









Minggu, 22 Januari 2012

Botram

Kangkung, labu siam, toge dan kacang panjang direbus satu persatu.  Goreng kacang tanah sudah tercium harumnya dan segera diangkat oleh Mama Audya. "Mimi yang ngulek ya saya mau ngangkat rebusan sayurannya dulu. "Oke", jawabku. Segera cengek merah, goreng kacang tanah, gula merah, sedikit terasi aku haluskan. Tak lupa sedikit garam kutambahkan agar rasanya semakin kuat.


Siang ini entah untuk yang keberapa kali saya dan ibu-ibu tetangga sekitar rumah melakukan botram atau makan siang bersama. Kami melakukannya biasanya pada hari libur seperti hari minggu siang ini. Tak suka direncanakan memang, kami melakukannya semau kami. Bila salah satu ibu punya inisiatif dan kebetulan didukung paling tidak 3 ibu yang lain maka botram pun bisa dilakukan.

Makanan yang kami hidangkan sangat sederhana, seperti karedok, liwet, sambal terasi, goreng peda, tempe, tahu dan beberapa lalapan. Meski sederhana dijamin satu piring tidak akan cukup. Biasanya kami semua nambah sampai beberapa kali hehe. 
Selama makan kami berbincang-bincang. Awalnya membicarakan artis di infotainmen. Bagaimana seorang Yuni Shara yang terpaut usia jauh dengan Rafli Ahmad bisa kembali pacaran. Betapa Rafli Ahmad sangat terpukul saat diputuskan Yuni. Mama Audya bilang bahwa, ternyata bukan hanya usia dan fisik saja yang menjadikan seseorang jatuh cinta, melainkan hal yang lebih dalam dari itu. Apa itu tanyaku? "ya...mungkin sesuatu yang dibutuhkan Rafli secara psikologis dan hanya ada di Yuni", jawab mamah Audya. Iya ya kadang cinta memang tidak rasional.

Obrolan kami mengalir begitu saja sampai pada kesewotan ibu-ibu dengan Banggar DPR RI dan jembatan gantung di Lebak Banten. "Gila masa kursi aja sampe 24 juta, WC 2 miliar? pantes aja harga semakin mahal pemerintahnya ngurusin perut sendiri sedangkan bikin jembatan sederhana saja terlupakan" kata mamah Tyas. "Gemes deh...padahal kita yang milih ya...tau gitu kita kosongin aja kemarin pas pemilihan anggota dewan kalo emang kerjanya kayak gitu", ia menambahkan. Trus saat tau kayak gitu gimana bu?, tanyaku. "Ya gak gimana-gimana pokoknya sebel banget deh, pokoknya amit-amit deh anakku kalo kelak jadi orang kayak mereka kata mama Tyas yang juga seorang guru.

Iya ya bu...padahal mereka kan orang berpendidikan? tapi kenapa bekerja sama melakukan pendzoliman seperti itu? mereka duduk di sana kan amanah dari kita. Anggaran yang dipakai juga sebenarnya untuk rakyat, trus gimana caranya agar anak-anak kita kelak tidak seperti mereka? pertanyaanku bertubi-tubi keluar begitu saja. "Udah deeh jangan ngomongin politik mulu, pusing ngedengernya, kita mah rakyat kecil yang penting masih bisa makan dan sekolahin anak", mama Vio menyela. "Nih mimi mau tambah lagi gak karedoknya, saya mau tambahin cengek lagi soalnya bikinanmu kurang pedes". "Oh silahkan aja saya memang kurang suka yang terlalu pedas, cukup mama Vio udah nambah dua kali soalnya hehe" jawab saya.

Mama Tyas kembali berkata, "mama Vio gak boleh kayak gitu kita harus peduli dengan masa depan negri ini, anak-anak kita bisa makan dan sekolah sangat tergantung pada wakil rakyat yang duduk di sana. Kalo mereka terus-terusan korupsi lama-lama kan harga mahal kita bisa enggak bisa makan, sekolah juga kayak gitu". "Wiih mamah Tyas nih memang oke" kataku pantes Tyas sekolahnya pinter. Tapi mama Vio juga gak salah ujar saya, kapasitas kita sebagai perempuan dan ibu rumah tangga sangat tepat untuk mengukur kinerja pemerintah baik ato tidak. Karena kita yang terkena dampak pertama kalau harga-harga naik padahal harus menyajikan makan sehat untuk keluarga. Kita pula yang mengatur laju keuangan keluarga yang prioritas utamanya adalah pendidikan keluarga. "Bu dosen lagi ngisi kuliah nih" celetuk mama Satria yang memang pendiam dan biasanya menjadi pendengar setia.

Obrolan itu berlanjut dengan cerita kami tentang anak masing-masing mulai dari kelucuan mereka, kenakalan mereka sampai kecerdasan mereka. Tak terasa makanan yang tersedia sudah tandas, tinggal teh tawar panas menutup botram kami. "Ya pokoknya gini deh mimi, sesekali luangkan waktu di RT kita untuk ngisi tentang bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, saya mau ngusulin ke ibu Omi agar mimi ngisi di minggu ke 3 di pengajian kita". "Mamah Tyas bisa aja, justru saya harus belajar banyak sama ibu, karena saya baru tau teorinya saja dan prakteknya belum teruji sedangkan mamah Tyas kan sudah terbukti, anaknya pada baik dan pintar, tapi kalau untuk berbagi saya tidak keberatan karena nanti bukan ceramah melainkan kita ngobrol dan berbagi ya", ujar saya.

Hari ini kembali saya tutup dengan senyuman. Komplek perumahan kecil ini membuat kami begitu akrab. Dinding rumah kami menempel satu sama lain. Sehingga kekeluargaan begitu terasa saat berada di sini. Meski jauh dari keluarga baik dari keluargaku maupun suami, aku merasa merekalah keluargaku di kota ini.







Jumat, 20 Januari 2012

Ibu

"Assalamualaikum, damang bu?" sapaku di telefon pada ibu. Ibu penuh kasih yang sudah mengorbankan dirinya untuk melahirkanku kedunia ini. "Alhamdulilah sae, hannah kumaha? jawabnya sambil berbisik.  "Alhamdulilah sehat" jawabku. "Ibu sedang berada dimana? tanyaku karena heran kenapa ia menjawab dengan berbisik. "Ibu sedang berada di rumah pak T anaknya teh Euis meninggal dunia, baru saja jenazahnya tiba dari Serang". "Innalilahi, bukannya teh Euis masih muda dan karirnya cemerlang? aku bertanya dengan terkejut. Ibu menjawab "iya...cuma beda 3 tahun lebih tua dengan kamu, ia sangat kelelahan karena menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi dan aktifitas yang padat. Ibu minta kamu segera chek-up kesehatan dan jangan terlalu capek, karena kamu sangat mirip Euis kalau sudah bekerja ujarnya. Ia menambahkan "Istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak begadang, kurangi minum kopi dan hiduplah dengan pola hidup yang sehat".

Pembicaraan ini membuatku merenung, oh pantas saja menjelang magrib tadi betapaku ingin berbincang dengan ibu. Padahal baru kemarin malam aku cerita panjang tentang kegalauanku terhadap beberapa pekerjaan yang kuhadapi. Ternyata saat itu dengan kesedihan yang sangat terhadap nasib putri temannya ia juga begitu teringat denganku dan menghawatirkan kesehatanku.  Setelah ngobrol dengan ibu aku segera menghubungi temanku seorang dokter untuk melakukan general chek-up. Dia memberikan beberapa refernsi tempat sambil bertanya kenapa aku ingin chek-up. Kujawab bahwa sudah lama aku tidak melakukannya. Terahir kali general chek-up tahun 2009 dan sejauh ini sehat. Namun kadar kolesterol dalam darahku cukup tinggi dan dokter menyarankan melakukan diet. Aku bertanya, kenapa kolesterol darahku tinggi padahal badanku tidak gemuk bahkan agak kurus. Dokter menjawab bahwa pola makanku yang suka dengan yang kering-kering dan berminyak dan kurang makan sayur.

Tahun 2009 setelah general chek-up  aku betul-betul tobat makan mie instan. Selain bukan makanan sehat, ia juga terkait dengan neo-liberalisme yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Negri ini semakin miskin dan berfisik lemah. Pola belanja dan menu keluarga kuubah sedemikian rupa. Tidak ada mie instan dalam menu keluargaku. Sehingga anakku yang terkecil selalu menolak makan mie dimanapun dia menemukannya. Ahir 2011 aku kembali mengkonsumsi mie karena saat itu kerepotan mengurus keluarga karena pengasuh anak-anak tidak ada. Rasa bersalah kembali muncul kenapa kembali pada kebiasaan lama? dan betapa perjuanganku selama dua tahun ini tak ada artinya dengan tindakan ini.

Terimakasih ibu sudah mengingatkanku. Pola hidup sehat akan aku jalani kembali. General chek-up akan ku lakukan minggu depan. Pekerjaan aku hadapi dengan senyuman. Betapa ini adalah sebuah karunia Allah agarku punya lahan untuk beramal shaleh dan beraktualisasi. Rasa syukur hari ini begitu bergema dalam hati karena diingatkan oleh ibu tersayang. Setelah seharian memberikan workshop untuk perempuan pemulung yang kurang beruntung nun jauh disana. Bertemu dengan sosok perempuan tangguh yang berjuang mempertahankan hidup dengan mengais sampah di Tempat Pembuangan Ahir. Hari ini ditutup dengan do'a seorang ibu untuk kesehatan putrinya. Hannah sayang ibu!